Tampilkan postingan dengan label Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surabaya. Tampilkan semua postingan

3.10.09

Dunia Saya, Panggung Sherly Arsita

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur

Sesaat saya serasa ada di konser ala Megadeth ketika seorang biduanita di panggung Taman Ria Surabaya (TRS), 21 September malam, asyik ber-head bang-ria, memutar lehernya 360 derajat, lompat kiri dan kanan tanpa terganggu celana kulit pendek superketatnya. Saya pikir ini bakal jadi malam metal pertama saya hanya dengan Rp 10.000 di Surabaya. Tapi Sherly Arsita, biduanita itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya meluncur lagu “Cinta Terlarang” dari The Virgin. Oalah...

Saya memang tidak suka The Virgin sama tidak sukanya pada Ahmad Dani. Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan Sherly malam itu. Biduanita cum penari itu tahu betul menyenangkan mayoritas penonton lelaki yang berada di garda paling depan. Ratusan penonton malam itu memuja satu dewi: Sherly. Mereka mengimani satu agama: dangdut. Yah, walau kadang berselingkuh dengan pop dan melayu.

Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah Sherly? Siapakah ratusan orang-orang ini? Apa yang membuat di malam Idul Fitri mereka lebih tersedot menuju tempat hiburan ketimbang selonjoran di rumah?

Yang lebih dahsyat, manajer taman ria ini mengaku dia dan sekitar 150 pegawainya justru berlebaran di TRS ini. Setelah shalat ied, semuanya kembali bekerja, mesin-mesin bergerak, tiket-tiket dirobek, dan uang-uang berpindah tangan. Demi melayani warga yang selalu haus hiburan, mereka menggadaikan sedikit waktu senggang. Demi sebuah Lebaran yang sudah kadung lekat dengan 'Liburan'.

Lebaran = Liburan? Ini konsekuensi sebuah kota mungkin. Surabaya, yang katanya kota terbesar kedua di Indonesia, menjadi salah satu destinasi mudik terbesar. Hari kedua Lebaran, mal-mal dan tempat hiburan sudah dijejali oleh pemudik. Padahal apa juga gunanya menjejali mal di Surabaya, batin saya. Semua kota sekarang punya mal, mereka punya tempat hiburan, mereka punya apapun yang bisa dibeli oleh uang. Apa yang tertinggal dari sebuah kota?

Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. Kota adalah sebuah pengalaman. Liburan tiga hari saja tidak akan pernah cukup menangkap nyawa sebuah kota, hanya ibarat menonton panggung hiburan dua jam yang menyisakan senang sesaat.

Dunia panggung

Setahun di Surabaya bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein.

Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.

Saya tidak suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan Sherly Arsita yang begitu menjiwai perannya di panggung. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?

Pukul 22.30 taman hiburan ini tutup, terlambat setengah jam dari biasanya. Sherly pun turun panggung dengan senyuman terakhir di wajah berbedak tebalnya. Tapi saya masih di sini, di panggung saya menunggu pertunjukkan berikutnya.

Sejenak saya iri pada Sherly yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka.
Yah, suatu saat ketika kembali bertemu Sherly, akan saya tanyakan nama aslinya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Surabaya.

16.7.09

Pesta Pora Para Paria

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur

Semua kota punya 'anak tiri'-nya masing-masing. Mereka yang luput (atau diluputkan) dari kemilau kota yang terus menuntut mereka menjadi lebih menarik, lebih wangi, lebih konsumtif. Tapi, percayalah bahkan Surabaya yang selalu saya maki ini ternyata masih menyediakan ruang bagi paria-paria macam kami untuk berpesta.

Destinasi saya untuk menjelajahi kota selalu tidak jelas. Begitu juga pada akhir pekan 11 Juli lalu. Jalanan sudah kian menor dan memabukkan. Tapi justru saya dan kawan saya malah melangkahkan kaki di tempat yang lebih menor lagi : Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya!

Anda tahu Dunia Fantasi (Dufan)? Baiklah, THR seperti imitasinya. Model taman hiburan dengan aneka permainan. Hanya saja tingkat kengeriannya lebih masuk kategori 'siaga satu'. Maklum waktu naik rollercoaster-wannabe saya serasa naik bus Sumber Kencono dengan supir mabuk plus ngantuk dengan rem nyaris blong!

Kalau kata kawan saya, hanya dengan Rp 6.000 untuk satu wahana saja kami bisa menuju tapal batas antara kesenangan dan kematian (haha!). Yang jelas, empat belas penumpang belia mendarat dengan selamat tanpa protes. Termasuk kami yang berencana mencoba rollercoaster gila itu lagi. Suatu saat.

Bersama ratusan warga dari kota antah-berantah kami merayakan luapan adrenalin. Dengan biaya masuk THR Rp 10.000, mata dijejali kegembiraan liar yang tidak saya lihat di Time Zone. Di sini, anak-anak dengan logat Surabaya, Blitar, hingga Madura merengek-rengek minta naik komidi putar yang bikin pusing itu.

Ini memang liburan, dan Surabaya termasuk magnet yang menarik penduduk dari kabupaten/kota yang rindu hiburan. Atau mayoritas dari mereka tengah menghadiahi anaknya liburan seru karena nilai rapor memuaskan. Sebagai bagian dari promosi, THR memang memberi potongan untuk anak yang punya nilai rata-rata 7,5. Lucunya.

Mimpi kota anak desa

Entah kenapa semua ini begitu nyata buat saya. Lebih nyata dari jembatan terpanjang Suramadu, toko kopi favorit, atau mal-mal yang seakan berhasrat merampok saya. Semua warga THR yang berkumpul pekan lalu melupakan hiruk-pikuk kehidupan sejenak.

Tidak ada yang peduli suara SBY masih tertinggi, uang untuk tahun ajaran baru harus disiapkan, dan uang terkuras demi beberapa jam kesenangan di THR. THR seperti prozac untuk melupakan sedikit gilanya rutinitas.

Remaja-remaja tanggung yang saya lihat di THR dengan bangga mengimitasi gaya Charlie, vokalis ST 12 hingga Giring Nidji. Rambut miring tak beres dipadu dengan celana skinny hitam dan sepatu ala Converse. Setidaknya semua tampak bahagia, menjadi bagian dari 'mode besar' di kota yang juga besar.

Ini sebuah pesta yang mampu mereka biayai. Mimpi-mimpi para paria yang terhipnotis gebyar kota namun tak kuasa menguras lebih banyak isi kantong. Tapi kesenangan harusnya tidak mengenal kelas sosial, tidak dibedakan antara 'norak' dan 'berkelas'.
Meski dicap 'kampungan' oleh rekan sekantor karena menjajal THR, saya mulai menemukan oase lain di kota ini. Entahlah, ditemani kawan terbaik dan tahu petis seharga Rp 500, saya menemukan inilah Surabaya yang sebenarnya. Kota menor yang bermimpi jadi Jakarta, tapi gagal.

17.6.09

Surabaya, Sebuah Makian yang Lain...

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur

Hampir setiap hari saya mencaci-maki seisi dunia, juga begundal dengan raungan mesin bermotor di kota ini. Tapi Surabaya, kota dengan sembilan matahari ini, menyodorkan keajaiban yang lain. Ini mungkin yang harus dibayar seorang pejalan jauh manapun: indahnya perjalanan dengan waktu-waktu yang terus memenjara.

Surabaya, 9 Juni 2009. Sudah sepuluh bulan sejak kedatangan saya pertama kali ke kota di Provinsi Jawa Timur ini. Atas nama sebuah vocatio alias panggilan di sebuah media, saya ditahbiskan menjadi prajurit yang siap dikirim ke medan manapun. Saya hanya tidak menyangka, medan perangnya begitu berat.

Surabaya sebetulnya persinggahan ketiga selama dua tahun menjadi ‘pengembara’. Enam bulan di Jakarta berlanjut ke Yogyakarta yang tak lagi berhati nyaman. Ketiganya bagi saya punya kesamaan, lalu lintas yang karut-marut dan tentu jagoan bermotor yang selalu kesetanan. Ah ya, setelah sepuluh bulan, saya pun salah satu dari mereka.

Kalau perbedaan? Wah, ini cukup membikin frustasi. Sempat kuliah dan hidup di Yogyakarta hampir enam tahun membuat saya membanding-bandingkannya dengan Surabaya. Mulai dari acara kebudayaan, acara musik, diskusi menyegarkan, dan angkringan yang saya rindukan, tidak terpuaskan di sini.
Pentas teater teramat minim. Pementasan terakhir yang saya lihat (itupun karena tugas) adalah ‘Miss Kadaluwarsa” yang dihelat di gedung megah dengan penonton bergaun dan berjas dan tiket ratusan ribu. Lalu, saya membayangkan pertunjukkan teater yang saya saksikan di Yogyakarta dengan penonton bersandal jepit.

Setidaknya Jakarta punya Taman Ismail Marzuki dan kantong-kantong kebudayaan urban yang menggeliat. Di sini, mal-mal mengambil kasta tertinggi. Kalau saya tidak salah hitung, ada enam mal yang menjadi magnet penduduk Surabaya baik untuk makan, belanja, bersosialisasi, ngopi-ngopi, sekaligus tempat dugem.

Bahkan seorang sopir taksi yang mengantar saya ke bandara bertanya. “Sampeyan tau mal-mal di sini gak? Orang-orang kalau ke sini tanyanya mal.”

Perempuan dan warung kopi

Persoalan lain ialah tempat nongkrong. Yang saya maksud nongkrong bukan selalu coffee shop sejuk sambil hot spotan gratis. Saya rindu angkringan tempat saya biasa ngopi sendirian sambil sedikit bercanda dengan manusia-manusia anonim yang sama-sama menikmati sore, malam, hingga subuh.

Di Surabaya, nongkrong seperti di angkringan dikenal dengan sebutan cangkrukan. Warung tenda beratap terpal yang berdiri di tepi jalan dengan menu mie rebus, gorengan, dan minuman hangat. Hanya saja cangkrukan seakan mengenal jender.

Beberapa kali saya dan kawan perempuan memutuskan ngopi sambil ngobrol di sebuah warung kopi. Ketika sedang asyik bercerita, seorang pria paruh baya mendekati dengan senyum menggoda dan bertanya hal-hal yang membuat saya ingin menuangkan kopi panas ke mukanya.
Barulah dari penjaga warung, kami mendapat sedikit bocoran. Si penjaga warung memetakan tiga jenis perempuan yang kerap berada di warung kopi semacam itu. Pertama, yang memang hanya nongkrong. Kedua, yang bisa disentuh tapi tidak bisa ‘dipakai’. Ketiga, bisa disentuh dan ‘dipakai’.

Ketika mengitari kota malam-malam, saya pun menyadari warung kopi di pinggir jalan lebih banyak diisi kaum adam yang dengan bebas menyesap rokok tanpa harus dinilai dan dicurigai. Untuk pertama kalinya, saya iri pada privilese yang dimiliki pria.

Bilang saja ‘Jancukkk!’
Saya tidak bermaksud kasar. Tapi coba perhatikan makian khas setiap daerah yang bukan hanya berhasil melukai ego tetap juga merekatkan pertemanan. Di Bandung, makian anjing (maaf) ‘dihaluskan’ menjadi anjjriit. Saking ‘halusnya’ adik laki-laki saya selalu menyisipkan kata itu di setiap kalimat yang dia ucapkan.

Kalau di Yogyakarta, varian makian bisa asu (anjing), matamu, bajigur (bajingan), basuki (bajingan asu ki). Dengan teman-teman yang sudah akrab, akhiran ‘su-kependekan dari asu- bukan bertujuan sebagai pisau untuk menyakiti.

Di Surabaya, makian khasnya ialah ‘jancuk’ yang sering dihaluskan jadi diancuk, diamput, jamput, jangkrik. Menurut kawan saya, jancuk awalnya berasal dari encuk yang artinya persetubuhan alias fuck dalam Bahasa Inggris. Makian ini ‘lahir’ dari kelas bawah Surabaya sebagai penegas identitas arek.

Tapi jujur saja, sepuluh bulan di kota ini saya belum mengenal apa sebetulnya kultur arek. Bahkan seorang pemuda berusia 24 kelahiran Surabaya saja meminta maaf karena tidak bisa menjelaskannya pada saya. Saya juga belum bisa menjelaskan apakah kultur arek juga diadopsi oleh masyarakat menengah dan kelas atas. Yah, saya masih belajar.

Sepakbola, pertaruhan identitas

Kultur arek ini yang kerap dianggap warna dari perjuangan para bonek klub Persebaya Surabaya yang memang supernekat. Seorang senior saya sempat bercerita betapa kultur Surabaya dan kultur Malang begitu berbeda.

Orang Malang menyebut diri mereka arema singkatan dari arek malang. Di Malang, orang membuat lingo-nya sendiri dengan cara membaca kata secara terbalik. Arek Malang pun diubah menjadi Kera Ngalam. Perbenturan paling seru antara kultur Suroboyoan dengan Malangan kentara pada sepakbola. Surabaya punya Persebaya, sedangkan Malang punya Persema.

Kedua klub sepakbola pelat merah ini sama-sama berada di Divisi Utama Liga Indonesia. Rivalitas sengit bukan hanya membakar jajaran pemain, namun lebih-lebih supoter yang menggila dan membawa petasan ke dalam stadion. Darah pernah mengalir akibat perseteruan demi sebuah identitas yang abstrak.

Di penghujung musim kompetisi 2008/2009, perburuan ke puncak klasemen makin panas. Persebaya yang jadi raja klasemen di putaran pertama justru terjungkal di putaran kedua. Laga terakhir Persebaya melawan Persema yang berlangsung 16 April menjadi momentum bagi Persema melaju ke puncak. Begitulah. Di Surabaya, sepakbola adalah darah yang membuat orang-orang kembali bergairah juga marah.

Senja penawar marah
Tapi saya percaya semua kota di dunia punya lorong gelap sekaligus surganya. Di Surabaya, marah dan penat itu pelan-pelan mereda waktu senja turun. Saya tidak bohong, tapi Surabaya merupakan satu kota yang memiliki senja terindah.

Untuk menikmati sore, warga Surabaya beruntung memiliki taman-taman kota yang bersih dan terawat. Beberapa di antaranya, Taman Bungkul, Taman Flora, Taman Surya, Taman Apsari. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya Tri Rismaharini adalah dalangnya. Perempuan satu ini berhasil menghijaukan Surabaya dan menghidupkan kembali taman kota.

Taman Bungkul yang selalu padat di malam hari seperti oase setelah seharian menikmati Surabaya yang terus-terusan menderu. Melewati deretan pepohonan di kawasan ini, saya seperti berada di sebuah sore yang magis di dalam puisi Pablo Neruda.

Sama halnya ketika berhenti sejenak di pinggiran Kali Jagir sambil melihat aktivitas pengayuh rakit (gethek) yang masih saja bertahan hidup. Di antara mesin-mesin yang serba bergegas di kota ini, menyenangkan rasanya melihat masih ada yang asyik dalam gerak lambat.
Saya memang belum mengalami banyak. Baru saja sepuluh bulan dan masih memendam selaksa makian juga keterkaguman. Mungkin inilah keajaiban kota ini. Akhirnya saya hanya bisa bilang, I dont’t like this city, but I can live in this city.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails