Tampilkan postingan dengan label Kediri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kediri. Tampilkan semua postingan

3.10.09

Kediri vs kota lain

Penulis: Ariningsun P Cinantya
Domisili: Taipei, Taiwan
Blog: http://cinantya.blogspot.com/


Tinggal di Kediri selama beberapa bulan, nenengceriwis jadi bisa membandingkan beberapa habit kota Kediri dengan kota-kota lainnya.

Misalnya nih:

  1. orang-orang Kediri masih jarang makan di luar. Kalaupun ada restoran di Kediri yang penuh dengan selai, alias jam packed... (mulai ngegaring), biasanya itu karena ada dua hal wajib: MURAH dan ENAK. Kalau enak tapi ngga murah, jarang penuh. Kalau murah tapi ga enak, juga jarang penuh.
    berbeda dengan kota Jakarta, Yogya, Bandung, atau Singapore. Enak doang sudah cukup untuk membuat resto itu penuh. Kalau murah dan penuh? Wah... bisa habis terjual dalam beberapa jam. Setuju ngga? ... ko jadi inget mang Oyo sih?
    Tapi khusus Bandung, kadang makanan ngga enak pun tempatnya bisa penuh. Tempat yang kayak gini kan biasanya tempat-tempat yang jual view. Ya kan, Kampung Daun? ... hehehehhehehehe...
  2. Sepadat-padatnya lalu lintas kota Kediri, adalah sama dengan kondisi di Jakarta saat lancar. Atau Bandung saat off rush hour di weekdays. Atau Jogja di Sabtu dan Minggu pagi sebelum jam 9.
  3. Angkot (mikrolet) di Bandung dan di Jakarta ada beberapa yang 24 jam. Kalaupun ngga 24 jam, biasanya last departure (keren amat istilahnya?) adalah jam 8-9 malam. Surabaya... ngga tahu, belum pernah coba. Yogya ngga ada angkot, adanya minibus dan mikrobus. Kediri? angkot (mikrolet) lenyap jam 4 sore.
  4. Variasi kendaraan umum di Jakarta begitu lengkap. untuk dalam kota, ada KRL, busway, bus kota (damri dan swastah), minibus (macam kopaja), bajaj, ojek, taksi, en becak (yang belum kesebut jangan ngamuk). Bandung, tahu sendiri lah... angkot, kereta, Damri, mikrobus (belum pernah naik, yang lewat deket rumah teh kpad-antapani kalo ga salah), becak, ojek. Kediri? angkot, kereta, becak dan bajaj. kalaupun ada bus, itu bus AKAP/AKDP. Ada taksi, tapi armadanya bisa dihitung jari
  5. Salah satu hal yang istimewa dari Kediri adalah saat Rush Hour. Rush hour di Jakarta, Bandung, Yogya, dan Surabaya adalah saat jam masuk sekolah, jam masuk kantor, jam keluar sekolah siang (jam 1-2) dan jam pulang kantor. Bandung yang kota kecil, rush hour akibat sekolah bisa bikin kemacetan lokal yang menyebalkan (setuju, ibu-ibu?). Di Kediri, rush hour itu adalah jam bubaran karyawan pabrik Gudang Garam, yaitu sekitar jam 4. Sekolah ngga bikin macet karena mayoritas murid menggunakan sepeda untuk alat transportasi. Kalau bukan sepeda, ya jalan kaki atau ngangkot atau nge-bus AKAP/AKDP.
    Di Jakata, Bandung, Yogya dan Surabaya, rush hour bisa mengakibatkan kelangkaan angkot (karena penuh mulu). Jakarta sebagai kota metropabalieut dan Singapore sebagai kota megapolitan, juga ditandai dengan kelangkaan taksi. Di Kediri? ditandai dengan kelangkaan becak. Hahahaha...
Masih banyak sih hal yang bisa dibandingkan antara Kediri dengan kota lain. Tapi bingung juga, bagian mananya ya yang harus dibandingkan? Hehehehe...

Tulisan ini di publikasikan kembali dari sini

analisis kediri (1)

Penulis: Ariningsun P Cinantya
Domisili: Taipei, Taiwan
Blog: http://cinantya.blogspot.com/

Yah, setelah hampir 5 bulan di kediri, kayaknya sudah saatnya saya cerita-cerita soal opini saya tentang kediri. Soal jalan-jalan Kediri-nya, aku lanjutin weekend ini ya. Weekend ini sih sepertinya ga akan ke luar kota.

Kediri sepertinya bertekad untuk menjadi kota dengan ZERO street crime. Gila ya? Waktu gue di singapore aja mereka cuma berobsesi untuk mencapai LOW crime rate (semua jenis kejahatan). Dan dimana-mana Polda singapore (heuheuheuheu... disebut apa sih? kaga tahu nih) masang spanduk "Low Crime Rate doens't mean Zero" or semacamnya deh. Lha ini? Kediri... bertekad untuk ZERO street crime.

Kita hargai saja tekad mereka, dan saya sebagai warga (mudah-mudahan temporary) di Kediri juga akan menyumbang usaha.

Tindakan zero street crime ini terutama sangat digalakkan di area pusat kota. Pusat kota di sini artinya di sekitar kantor walikota. Hm... jalan apa ya? Yang jelas, demi mencapai target mereka yang satu ini, hampir di setiap perempatan terdapat Pos Polisi. Memang ga semewah yang di Jakarta (seperti yang di area Salemba, ada yang make AC tuh... ck ck ck), tapi cukup lah. Seenggaknya, kalau lagi ada bapak-bapak pulisi di sana, orang-orang (terutama pengendara motor, dan bahkan abang tukang becak) jadi serem kalau melanggar peraturan lalu lintas.

Jumlah mobil juga ngga banyak, dan mungkin sekitar 15% dari mobil yang seliweran di dalam kota, adalah mobil dari area lain di jawa timur, seperti plat L, plat S, plat AE, plat P, dll. Thanks to my office, selama beberapa bulan kemarin banyak mobil plat B seliweran di Kediri. Banyak mobil-mobil lama, tapi jangan salah... mobil keluaran terbaru juga gak sedikit. Satu hal lagi, di kediri, mobil matic ga laku! Soalnya mobil tersebut pasti bakal sering dipake keluar kota, dan pake matic nyetir luar kota, kudu saingan sama bus.

Kembali ke kondisi lalu lintas. Yang gue suka banget dari lalu lintas kediri adalah lampu lalu lintasnya yang berfungsi dengan benar. Belum lagi aksesori penghitung waktunya (walaupun ada juga yang ngitungnya ngaco, masa masih angka 30 terus tiba-tiba lampunya kuning dan hijau?). Jam berapapun, lampu tetap beroperasi. Ngga kayak di Bandung, lewat jam 10 malem banyak yang di non-aktifin kalau bukan di pusat kota. heuheuheuheu. Udah gitu, habis lampu merah, lampu kuning dulu sekitar 2 detik, baru lampu hijau. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau mau ancang-ancang lebih gampang. Sayangnya, dasar dodol banget sih pengendara motor dan mobil di sini, lampu kuning baru nyala mereka udah tancap gas.

Nah... segitu dulu analisis kedirinya.

kalau sudah ke kediri, jangan lupa keduduk ya...

Tulisan ini di publikasikan ulang dari sini

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails