Selasa, 10 November 2009

where the good old movie (houses) dissapeared, and new movies blossom

Penulis: Elida Tamalagi
Domisili: Jogjakarta, DIY, Indonesia

saya rasa hari itu, sayalah orang yang paling kaya di manila. melebihi mereka yang kebanyakan minum di semua gala premier festival ini, ataupun yang dilamar untuk masuk ke festival berikutnya.

hari itu sudah ajaib karena dimulai dari minum kopi saya bersama ami, seorang oma kenes kelahiran 1954, lajang, pernah mengelola cafe yang menjadi tempat ngumpul seniman dan pekerja film, meminjamkan apartemennya ke teman dan pindah kembali ke rumah ibunya agar mereka berdua bisa saling merawat. perbicangan dengan ami berujung pada dia memberikan saya hadiah, magic stone. sebuah batu yang dihiasinya sendiri dengan glitter, bunga kering dan foto Jose Rizal, pahlawan kesusatraan Filipina. pengisi waktu luangnya.

ada telpon dari mark, teman dari festival musim lalu. dia hanya bertanya, apakah kamu ada di Market!Market! ? aku di Serendra. kesini yuk.

saya mengiyakan dan melepas ami untuk mengejar film berikutnya. Aktivitas ami sekarang adalah menonton film.

tidak ada yang aneh dengan permintaan ke Serendra. Saya dan Mark selalu minum white russian dan double johnny on the rock disana. tapi waktu melihat kostumnya yang ajaib, celana pendek cargo dan topi dan kaos oblong, dan satu orang macho nan rapi disebelah Mark, saya langsung mengendus ada yang tak beres. benar. Mark putus asa dan memutuskan untuk meminta saya main di satu scene di filmnya. peran saya, perempuan yang diperkosa. fuih, can’t complaint!

petualangan dimulai.mengepas kostum mbak kantoran, pelurusan rambut dan make up. semua kapster di salon lantai bawah mall ayala itu berusaha menarik perhatian saya dengan bahasa inggris yang dibuat tidak terdengar taglish karena tahu make over saya untuk main film. Mark senyum selama tiga jam, katanya : kalau saja mereka tahu apa peranmu, pasti mereka merasa tidak perlu bersaing hahaha
kami mengelilingi kota manila ke arah selatan dan barat daya, mencari daerah yang kumuh, tapi dengan lampu jalan yang memadai. beberapa kali take di dalam van, tak ada masalah. kami akhirnya melakukannya di ruasruas jalan kecil di kompleks Mall SM. pada pengambilan gambar terakhir, tibatiba Mark bilang,
cut ada polisi datang.
dan pecahlah tawa kami bertiga. lebih kaget lagi, ternyata para petugas keamanan SM sudah mengintip di kaca mobil van itu. sambil tertawatawa dan setengah telanjang, kami membuka pintu van untuk menunjukan kamera dan memberi keterangan bahwa kami hanya sedang buat film. kesalahan partner saya menyerahkan simnya, membuat kami menghabiskan waktu hampir 2 jam di kantor polisi pasay. saat kami masuk kantor itu pertama kali, saya langsung mencium bahwa urusan akan segera beres. 1000 pesos will do him.mark juga membaca ini dan sinar nakal langsung lewat di matanya. jadilah kita membiarkan polisi itu bicara tentang violence against public space, obscene art dan lainlain karena dia bukan orang yang buta seni. sampai disini, dia menekankan,
i once a singer!
yeah rite,
kami semua menyambut dalam hati.
drama kantor polisi itu juga berakhir seru ketika ia meminta kartu identitas kami masingmasing untuk dicatat di buku besarnya. ketika melihat paspor saya, pak polisi langsung histeris
oh my god, sister! i don’t realize you are not filipino. we have the same skin and face, diba?
oh my god, you come all the way from indonesia here just for being raped?
can you say some tagalog word? perfect sister! god be with you
kami mengakhiri hari itu dengan menyantap inasal pork jam 4 pagi. saya mengecek ponsel, ada pesan dari vic bahwa janji kita ditunda jadi jam 7 pagi. untunglah, sebelumnya kami sepakat untuk mulai jam 6. mendengar itu, mark bertanya:
does vic cast you also?
haha polos sekali. saya bilang,
tidak, saya tidaklah sepopuler itu
belum
kata mark
not after me,
tito, partner saya menyambung genit. kami terbahak.
petualangan jam 7 pagi dimulai. vic membuka pintu mobil dan tertawa menanyakan cerita suting semalam. ada bong juga. sopir pribadi vic yang cinephilic. sebagai supir taksi, penghasilannya sebenarnya lebih besar. tapi berada di lokasi suting setiap waktu dan akses bebas ke festivalfestival film membuat bong memilih terus bersama vic. kami menjemput aped, kawan vic yang juga mengerjakan desain produksi dua film vic. saat sarapan, aped meminta saya memerinci bioskop seperti apa yang masuk kriteria saya. aped sudah membuat daftar hampir 50 lokasi bioskop di manila. mati Aku!

Tak Ada Perang di Bumi Ken Arok

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur


Malang membuat saya kehilangan sinisme saya pada setiap kota yang biasanya saya datangi. Kota yang katanya wilayah penaklukkan pertama Ken Arok itu terlampau sederhana sekaligus misterius. Tapi Malang yang saya sambangi  bukan lagi ladang pertempuran terbuka. Arek-arek Malang jaman kiwari tinggal tertawa-tawa saja, nongkrong sepuasnya, tanpa perlu kudeta.

Awal Oktober lalu saya berkesempatan lagi singgah di Malang, kali ini seminggu penuh. Pikiran saya pun langsung melompat pada novel hebat Arok Dedes-nya Pramoedya Ananta Toer. Tumapel yang diperintah oleh Akuwu Tunggul Ametung bisa dikata adalah cikal-bakal Malang.

Sontak adrenalin saya berpacu untuk segera menguliti Malang hingga ke bijinya. Berbekal sepeda motor otomatis pinjaman dan memori yang mudah alpa tentang arah mata angin, mulailah saya untuk misi penting: menaklukkan Bumi Ken Arok.

Tentu saja saya gagal mendeteksi jejak-jejak pemberontakan Arok. Si pemberontak begundal yang muncul jadi pahlawan itu kini diabadikan menjadi salah satu nama pusat olahraga, Gelanggang Olahraga Ken Arok. Sementara nama Ken Dedes setahu saya dipakai jadi nama yayasan kesehatan yang juga menaungi sebuah akademi kebidanan.

Malang yang diberkahi dengan udara sejuk membikin kota ini jadi tempat istirahat orang-orang kota di akhir pekan. Tapi, jangan bayangkan Bandung yang padat dan riuh oleh factory outlet, distro, dan kafe-kafe. Malang ibarat sebuah hammock yang diikatkan pada dua batang pohon rimbun. Saya hanya tinggal selonjoran seharian menatapi langitnya yang abu-abu.

Langit Malang seperti hanya kenal dua warna, yaitu abu-abu dan hitam. Saya, yang selalu terbangun pagi hari dan disambut langit abu-abu, berpikir bahwa sebentar lagi hujan bakal turun. Ternyata hingga menjelang Maghrib pun si abu tetap menggantung sebelum digantikan hitam malam.

Arema

Dari seorang kawan saya mengoleksi banyak cerita tentang kota ini, salah satunya tentang geng Higam. Higam, singkatan dari Hidup Gembira Awet Muda, merupakan kumpulan muda-mudi entah seniman maupun pemusik yang  living their lives to the fullest, maksudnya full nongkrong, full mabuk, dan full juga berkarya. Salah satu lulusannya ialah Anto Baret yang sekarang lebih sering muncul di Bulungan, Jakarta.

Malang juga punya scene rock yang salah satunya melahirkan Ucok AKA. Saya menyesal tidak sempat menyusuri lorong-lorong tempat rock masih bergema kencang. Suatu hari mungkin.

Tapi dua cerita di atas bukan pengalaman saya. Kisah yang saya punya sendiri ialah mengitari Malang dari satu venue olahraga ke venue lainnya dan  menemukan semangat pemuda urakan Arok di dalam suporter-suporter klub sepak bola Arema.

Aremania-begitu suporter Arema disebut- singkatan dari Arek Malang. Mereka kosmopolit, ada di mana-mana baik dalam bentuk toko merchandise, umbul-umbul, hingga umpatan. Mereka muda, gesit, dan berbahaya kalau sudah ngumpul. Tapi mereka hanya membunyikan genderang perang kalau timnya bertemu Persebaya Surabaya saja, lagi-lagi karena alasan yang saya juga tidak begitu paham.

Orang Malang juga punya dialek yang unik, yang sering disebut Malangan. Saya mengibaratkan dialek mereka seperti Bahasa Inggris-nya orang Australia yang meluncur begitu rapat, cepat, hingga saya tidak bisa mendengar satu katapun yang mereka ucapkan.

Malam


Udara dingin Malang tidak membuat orang cepat-cepat sembunyi di balik selimut. Kalau malam, pedagang kaki lima mulai menyeruak seperti laron-laron. Ketimbang menyambangi restoran cepat saji berlambang M yang buka 24 jam, saya lebih suka memilih secara acak warung-warung temporer berlampu petromaks.

Beruntunglah saya sempat mengunjungi warung subuh, warung makan di Jalan Langsep yang justru kian hidup ketika subuh. Mata saya langsung berbinar melihat berbagai jenis makanan rumahan yang masih segar dari wajannya. Saya makin senang waktu melihat ada tempe goreng tebal yang masih hangat.

Makin subuh, warung justru makin penuh, juga oleh muda-mudi yang tampaknya baru pulang dugem. Rasanya lucu melihat campuran orang tua-muda mulai dari yang berbaju training hingga yang cukup gila karena hanya memakai gaun mini bertali spaghetti di udara sedingin itu. Bunyi ketukan sendok dan garpu dan  cekakak-cekikik seperti mengiringi suara-suara manusia berdialek Malangan. Saya  langsung jatuh cinta pada kota ini.

Akhirnya seminggu di Malang saya berhenti mencari sisa-sisa Arok. Cinta juga harus tetap realistis bukan? Sinisme saya rasanya mati kutu dibuat kota ini. Bahkan es krim berharga mahal dengan rasa standar di toko Oen tidak membuat saya merengut. Mal-mal yang tetap saja selalu penuh itu saya singgahi juga, pengendara motor yang hobi nyalip itu pun saya senyumi.

Malang era Arok memang bikin saya terpukau, tapi Malang 2009 yang mulai dikepung mesin dan bangunan beton itu yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana. Ternyata di Malang saya berubah jadi melankolis dan romantis. Walau hanya seminggu.

Bandung dan Sebuah Cerita Masa Kecil

Penulis: Mutaminah
Domisili: Bandung

           Dulu sekali, ayah selalu mengajakku bersepeda mengitari jalanan-jalanan kota. Dan itu adalah saat-saat yang sekarang sangat aku rindukan. Ternyata banyak sekali yang terlalu cepat diubah zaman dari kota ini.

 11 tahun silam, ayah selalu memboncengku di sepeda kuning kesayangannya. Melenggang di antara kendaraan yang lalu lalang, tapi saat itu aku tak pernah khawatir, karena jalanan masih terasa sangat lengang. Udaranya pun sejuk bersahabat, membuatku nyaman meski duduk di boncengan sebuah sepeda tua yang keras. Tapi akan sangat berbeda keadaannya jika aku bandingkan dengan keadaan Bandung saat ini. Berdebu, kusam, dan bising oleh deru mesin kendaraan yang jumlahnya bagaikan bintang di langit, tak terhitung.
 Lagu favoritku saat itu yang selalu menyapaku riuh saat aku berlalu di jalanan, adalah cicit-cicit burung yang hinggap di ranting-ranting pohon yang rapuh. Bagiku, burung-burung itu adalah penyanyi handal yang selalu mampu membuat aku merasa damai. Sampai saat ini pun, aku masih tetap mengidolakan mereka, hanya saja kini nyanyian merdu mereka itu kalah oleh klakson-klakson yang melengking, ban-ban kendaraan yang berdecit, teredam oleh erangan mesin kendaraan. Sekarang aku tak bisa menikmati melodi itu setiap waktu. Kadang jika beruntung, aku bisa mendengar suara mereka sayup-sayup hanya pada pagi hari.
            Sering kami melewati sawah-sawah yang luas, ladang-ladang yang subur, dan kolam-kolam ikan pemancingan. Beberapa kali ayah memetikkan buah ceremai untukku. Meski hanya beberapa biji saja, tapi aku sangat senang karenanya. Tapi lagi-lagi kini semuanya hanya dapat ku kenang saja. Karena banyak dari area sawah dan ladang itu telah menjelma menjadi gedung-gedung tinggi pencakar langit. Gedung-gedung yang sangat angkuh bagiku. Perkantoran, Mall, supermarket, dan entah apa lagi. Nasib pohon ceremai baik hati yang dulu selalu ku nikmati buahnya pun tak kalah tragisnya, sekarang ikut menjadi korban keganasan manusia. Ditebang karena ada pelebaran jalan.
            Kadang kami beristirahat di sebuah pemakaman, dan selalu pemakaman yang sama. Ayah selalu bilang, bahwa suatu saat ayah atau bahkan aku dan seluruh orang yang hidup di dunia ini, akan menempati petak-petak itu, dan kita akan selalu menunggu orang untuk sekedar mengunjungi dan membersihkan makam kita dari rumput-rumput liar. Aku selalu menangis setiap kali ayah menceritakan hal itu kepadaku, aku takut. Ironisnya, sekarang di atas makam-makam itu berdiri perumahan real estate yang di setiap garasinya terparkir mobil-mobil mewah yang harganya selangit. Tak bisa lagi ku lihat petak-petak dari tanah dengan nisan di atasnya, rumah yang amat sangat sederhana, tempat peristirahatan terakhir kita nanti. Tak ada lagi pelajaran yang bisa aku dapatkan dari sana selain kemewahan duniawi.
            Ayah baru mengajakku pulang setelah hari beranjak petang. Beliau tak pernah banyak bicara dalam perjalanan pulang. Beliau membiarkan aku menikmati matahari sore yang indah, seakan-akan tahu, bahwa saat nanti aku tak bisa merasakan pemandangan seindah ini, karena kota ini akan begitu usang terselimuti asap kendaraan yang berpolusi.
Memoriku akan tetap menyimpan hari-hari itu. Yang selalu ku ingat, kota ini dulu begitu rindang, asri dengan pepohonan dan bunga-bunga di setiap sudutnya, indah dan menawan. Tak heran jika dijuluki Kota Kembang. Tapi kini Bandung telah membusuk oleh sampah. Dilihat dari segi manapun, tentu saja itu bukan merupakan sesuatu yang bagus dan dapat dibanggakan.
            17 tahun usiaku ini. Hanya tinggal puing-puing kesombongan yang tersisa dari kota Bandung. Termakan oleh modernisasi yang telah merenggut kisah indah dalam hidupku. Andai waktu dapat ku putar kembali, akan sangat aku nikmati dan aku abadikan, potret siluet masa lalu kota Bandung, tempat tinggalku.

Senin, 19 Oktober 2009

Aku dan Kotaku: Petani dari Gunung

Penulis: Wikan Satriati
Domisili:  Magelang – Ngepos, Banyuurip, Tegalrejo, Magelang 


Waktu aku kecil, aku suka diajak jalan-jalan pagi oleh bapak atau ibuku. Di depan rumah, sering lewat rombongan orang-orang dari daerah pegunungan yang berjalan kaki menuju pasar di kota. Kata ayahku, rumah mereka sangat jauh. Mereka berangkat dini pagi sekali membawa oncor, semacam obor kecil dari kain dibasahi minyak tanah yang disumpalkan ke sepotong bambu untuk penerang jalan. Barang dagangan mereka berupa sayur mayur, umbi-umbian, buah, kayu bakar, bambu, bibit tanaman dsb. Rata-rata barang dagangan itu ditata apik di dalam tenggok, semacam bakul besar yang digendong para perempuan, sementara kayu bakar biasa ditata membentuk huruf H atau A, dipanggul para laki-laki. Waktu aku sedang belajar membaca, ibuku kadang menyuruhku menebak huruf-huruf itu.


Aku pernah mendengar, konon di pinggang para perempuan penggendong bakul itu terdapat lekuk yang dalam bekas ujung bakul. Aku belum pernah melihatnya. Hanya saja, aku bayangkan betapa berat beban yang mesti mereka bawa karena bisa meninggalkan jejak serupa itu.


Kehadiran pedagang-pedagang itu berpengaruh pada desain eksterior kedai atau warung di sepanjang perjalanan mereka. Rata-rata di depan warung atau kedai itu terdapat semacam bangku tinggi setinggi pinggang agar bakul gendong itu bisa meletakkan bakul mereka atau menggendongnya kembali secara mudah.
Dulu, di dekat rumahku ada pertigaan yang ramai tempat para pedagang dari gunung itu istirahat, menjual sebagian dagangan atau barter dengan pedagang dari daerah lain. Makanan khas yang dulu mudah kujumpai di situ di antaranya: kacang edamame, uwi, dan aneka getuk.


Seiring dengan semakin mudah dan murahnya sarana transportasi, pedagang-pedagang itu tidak lagi berjalan kaki. Mereka berdesak-desakan naik pick up terbuka atau jenis kendaraan colt yang hanya boleh beroperasi di daerah pedesaan atau wilayah kabupaten. Hm … aku jadi ingat, dulu ada kendaraan oplet, yang sekarang sudah tidak beroperasi.


Sekarang pemandangan pagi masa kecilku itu sudah tidak ada lagi. Magelang, seperti kota-kota lain, mulai bergerak menuju wajah metropol yang seragam. Tidak ada bangku setinggi pinggang di depan warung-warung. Tidak kulihat lagi orang dari pegunungan berjalan di depan rumahku membawa oncor (mereka bisa berangkat lebih siang).


Dulu, konon di Yogya rumah-rumah harus menghadap ke selatan. Aku punya seorang kawan yang tinggal di Kota Gede. Rumah kawanku itu terpaksa disetting menghadap ke selatan meski bagian selatan rumah itu menghadap ke semacam tebing yang tidak bisa dilewati orang. Alhasil, bagian “belakang” yang seharusnya untuk dapur menjadi pintu masuk utama dan ruang tamu, sedangkan bagian “depan” rumah yang bentuknya seperti bagian depan rumah pada umumnya—dinding kayu tradisional lengkap dengan pintu gerbang, menjadi dapur. Jadi tungku masak mereka berada di depan “pintu gerbang” itu.


Aneh ... tapi banyak rumah di Kota Gede yang seperti itu. Saat masuk ke lorong-lorongnya yang berliku dan kadang bikin tersesat, aku sering merasa sedang berada di masa lalu. Rumah-rumah tua, banyak orang yang masih berpakaian Jawa dan berlaku santun khas priyayi. Wilayah ini menarik dan “berbeda”. Namun, pelan-pelan ciri khas itu menyusut. Banyak bangunan baru yang tidak taat “pakem”: tidak menghadap ke selatan, arsitekturnya pun beragam dan suka-suka. Memang satu dua bangunan baru itu tampak aneh di tengah bangunan-bangunan kuno. Namun kelak jika bangunan lama itu sudah terlalu tua dan tiba saatnya diganti, lama-lama ciri khas Kota Gede itu akan punah dengan sendirinya.Satu per satu ciri khas daerah lenyap, atau berbaur tanpa terasa. Barangkali karena dorongan faktor ekonomi. Kini, nyaris tidak ada beda berada di mana pun.


Di Bali, misalnya, aku bisa menjumpai kerajinan tangan, baju-baju batik, aksesoris, yang kurang lebih mirip di Yogya, atau malah di Tanah Abang, Jakarta. Aku bisa berpura-pura telah pergi ke Bandung dengan membawakan oleh-oleh kue moci, bolen pisang atau brownis kukus yang bisa kudapatkan di gerai oleh-oleh di Magelang. Tapi, anehnya, aku tidak tahu di mana bisa membeli kacang edamame atau uwi rebus yang dulu mudah sekali kudapatkan.


Kadang aku merasa sedang berpesta kenangan” saat mendapati tukang sayur menjual getuk hitam yang digoreng diisi gula, kue celorot, atau membeli nasi berlauk telur di warung nasi yang dulu bagiku menjual nasi berlauk telur paling enak sedunia.


Mungkin yang mengingatkanku bahwa aku masih di Magelang adalah wajah-wajah orang gunung itu tidak banyak berubah. Tipikal pekerja keras yang lugu. Aku tidak tahu apakah mereka menyadari bahwa kubis, wortel, buncis yang telah mereka tanam hampir seumur hidup itu harganya sudah jauh menurun dibanding dulu. Apakah mereka terpikir untuk menanam tanaman lain? Entahlah.


Pada saat krisis moneter 1998, dan harga sayur-mayur anjlok secara drastis, berbanding terbalik dengan harga sembako, aku pernah mendengar cerita seorang petani gunung yang nyaris kehilangan akal, duduk tercengang di emperan pasar setelah hasil penjualan berkarung-karung buncis miliknya hanya bisa untuk membeli seplastik kecil minyak goreng, seperdelapan liter dan tidak cukup tersisa uang untuk ongkos naik bis pulang ke kampungnya.Kurasa ada cukup banyak petani-petani itu yang hanya terus bekerja keras, semakin keras dan tidak mengerti ketika mendapati diri mereka hanya semakin miskin.


*) Ditulis untuk mengikuti program Tobucil Diary Project 2009 “Aku dan Kota Tempat Tinggalku”




Sabtu, 03 Oktober 2009

Dunia dari sudut angkot

Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti

Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Blog: ifuu.tumblr.com, anakajaip.multiply.com


Satu kata benda yang bikin saya kangen Bandung : angkot. Ya, angkot. Angkutan kota. Sebuah angkutan publik yang berwujud mobil carry, colt, atau kijang yang ‘dimodifikasi’ interiornya. Standar kapasitas maksimal angkot adalah 16 orang: 3 di depan (termasuk sopir), 7 di kanan, 5 di kiri, dan 1 di ‘kursi artis’ (kursi yang ada di dekat pintu dan duduknya menghadap berlawanan ke arah penumpang lainnya).

Perkenalan saya dengan dunia angkot dimulai saat TK. Waktu itu saya sering diajak mama berkunjung ke rumah oma di Cimahi. Entah kenapa, saya selalu merasa enjoy saat naik angkot. Duduk di pojok dengan jendela yang dibuka setengah. Angin menyapa wajah saya pelan bahkan terasa menampar saat si angkot berlari kencang.

Kemana-mana saya pergi pakai angkot. Tentunya masih harus ditemani oleh orang yang lebih gede. *berhubung saat itu lagi marak penculikan anak kecil*.

Kelas 5 akhir, saya baru dibolehin naik angkot dengan rute yang sedikit jauh sendirian. Waktu itu mau naik kelas 6 dan saya ikut bimbel di sebuah tempat di bilangan purnawarman. Secara sehari-hari sekolah di dekat rumah dengan jalan kaki, “sekolah” di tempat bimbel ini terasa lebih menyenangkan bagi saya karena harus ditempuh dengan angkot. Margahayu-Ledeng tepatnya.

Saat itu naek angkot biru dengan garis kuning ini dari Pasar Sederhana ke Purnawarman hanya 500 perak loh. Mulai kelas 2 SMA sampai sekarang, saya harus bayar 2000 perak dengan jarak dan angkot yang masih sama. Empat kali lipat. Padahal harga BBM sudah turun, tapi tarif angkot yang turut naik tidak ikut turun juga.

Semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya ambil, semakin sering dan variatiflah angkot yang saya tumpangi. Hingga saat kuliah sekarang, meskipun ditempuh dengan bis Damri, sebelum dan sesudahnya pasti saya naik angkot dulu. J

Di dalam angkot, saya bisa bertemu bermacam-macam orang. Anak sekolah dengan seragam ala sinetron, ibu-ibu yang pulang dari pasar, mahasiswa dengan headset yang selalu menempel di kuping, mas-mas kantoran, karyawati yang berdandan menor, nenek-nenek tukang rumpi, wanita muda yang aromanya seperti habis pakai parfum tumpah, remaja tanggung yang cuek merokok, bapak-bapak bertato, pria metroseksual, hingga mbok jamu beserta gendongannya pun ada disini. Benar-benar keberagaman strata.

*****

Bagi saya, angkot tidak hanya berfungsi sebagai angkutan belaka. Lebih dari itu, saya belajar banyak dari yang ngejalaninnya. Ya, sopir angkot. Sopir angkot adalah sosok orang yang bikin saya termotivasi untuk cepat belajar nyetir mobil. Seriously!

Saya suka sekali duduk di depan. Ga untuk ngaca di spion, tapi untuk memperhatikan si mang angkot. Lebih tepatnya, memperhatikan gaya nyetir si mang angkot. Dari mulai dia ngopling, masukin gigi, ngegas perlahan, kopling lagi, mindahin gigi, ngegas yang banyak, kemudian tiba-tiba ngopling dan siap-siap ngerem lalu mengarahkan setir ke kiri saat ada orang yang nyetop angkot di depan sana.

Sehabis orang tadi naik, si mang jalan lagi dengan gaya yang sama. Saat itu dia nyetir sekaligus sambil makan gorengan. Pas di lampu merah, gorengan habis dan dia beli rokok batangan di pedagang asongan. Saat lampu sudah nyala hijau, dia pun nyetir kembali sambil tetap menghisap rokoknya.

Entah kenapa, saya takjub dengan tabiat mayoritas mang-mang angkot yang kaya gini. Bisa-bisanya gitu ya mereka nyetir sambil merokok dan makan, bahkan kadang sambil ngobrol di hape, tapi matanya tetap awas terhadap orang-orang di pinggir jalan yang mau naik. Benar-benar multi tasking!

Saya juga ingin deh seperti itu. Bisa multi tasking di saat yang bersamaan. Soalnya selama ini kalau sedang nyetir, saya harus konsen dengan jalan dan spion kanan kiri. Pernah suatu hari, saya nyetir sambil makan biskuit, eh yang harusnya ngegas malah jadi ngerem mendadak dan bikin mobil-mobil di belakang rame-rame membunyikan klakson.

Namun, satu hal yang kurang saya suka dari mereka para sopir angkot: budaya ngetem! Kalau sedang santai sih oke-oke saja, tapi lain halnya kalau saya sedang sangat terburu-buru. Rasanya ingin jitak kepala si mang kalau dia sudah belagak mau jalan, tapi mundur lagi saat ada penumpang yang naik. Ngetem lagi. Dan begitu lagi. *sigh*

Beragam cara sudah saya lakukan agar si mang ngerti kalo saya lagi buru-buru. Dari menghentak-hentakan kaki, kipas-kipas, pasang muka cemas, berulang kali liat jam, melototin si mang dari spion depan, hingga berani nanya, “Mang, ini masih lama ga sih?! Bisa cepat ga?! Saya terlambat nih!!”

Biasanya, kalau si mang angkot baik hati, dia langsung jalanin angkot, tapi kalau kebetulan dia ‘ndablek’, ya dingin aja gitu. Berasa ga denger dan baru mau jalan kalau semua penumpang sudah ikut ngomelin.

Karena capek dengan masalah kaya gini terus, akhirnya saya harus berangkat lebih awal kalau akan pergi naik angkot. Setengah jam dari waktu biasanya..

Persoalan ngetem ini memang klasik. Yang bikin macet di sebagian besar jalan-jalan di Bandung kan angkot yang ngetem. Apalagi di sekitar terminal, kampus, stasiun, dan pusat perbelanjaan. Mereka bakal tertib kalau ada polisi yang jaga disitu. Klasik sekali.

Ada satu kisah yang sempat saya diceritakan oleh seorang teman. Cerita itu bikin saya terkesan dengan seorang sopir angkot jurusan Caheum-Ledeng yang entah bagaimana wujudnya. Ceritanya, teman saya duduk di depan dan memang hanya dia satu-satunya penumpang. Namun, sopir angkot itu tidak pernah ngetem sekalipun. Sepanjang perjalanan, teman saya ini ngobrol dengannya. Saat teman saya bertanya kenapa si mang angkot ga ngetem, jawabnya: “Rejeki mah dikejar, Jang, bukan ditunggu.” Teman saya manggut-manggut dan angkot pun terus berjalan.

Saat di daerah tamansari, ada seorang bapak-bapak yang menyetop angkot itu sambil bawa beberapa barang. Karena duduk di depan, teman saya tahu arah pembicaraan si bapak dengan si sopir. Rupanya bapak ini mau mencarter angkot ke arah Lembang dan dia bersedia bayar..seratus ribu rupiah!

Wow! Amazing! Memang benar ya, rejeki itu bukan untuk ditunggu. Selama ini, para mang angkot sering berkilah bahwa ngetem untuk kejar setoran. Ah andai saja mereka berpikiran sama dengan sopir yang satu itu..

*****

Terlepas dari kebiasaan menyebalkan para sopir angkot yang suka ngetem sembarangan, saya sering juga kok merasakan kenyamanan dan kepraktisan jika bepergian dengan si mobil umum ini.

Hanya dengan bayar paling mahal 4000 rupiah untuk jarak terjauh, saya bisa duduk bebas sambil lihat apa saja yang tersebar di kanan, kiri, depan, dan belakang angkot. Mobil, motor, bis kota, sepeda, kereta, orang, gedung, jalan, pohon, traffic light, rumah, sekolah, dll. Saya bisa memerhatikan segalanya dari sudut angkot ini.

Berbagai tingkatan status sosial seolah menyatu bersama di medan jalan ini dengan kepentingannya masing-masing. Banyak hal paradoks di luaran sana. Ada pengemis tua yang meminta-minta ke jendela mobil plat merah yang berhenti di stopan, dua orang anak SD yang masing-masing diantar dengan vespa hijau dan altis hitam, mahasiswa yang terlihat membeli koran dari seorang loper, sepasang muda-mudi berjalan bergandengan tangan melintasi gelandangan tua, seorang pria muda perlente yang marah-marah di pinggir jalan kepada seorang sopir angkot karena pantat mobilnya diserempet, seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan balon, bapak tunanetra yang menghentakan tongkatnya perlahan untuk berjalan, dan anak-anak yang mengejar layangan sambil bertelanjang kaki di seberang sebuah mall besar.

*****

Ada beberapa hal menarik yang sempat saya tangkap dalam sebuah ruang bernama angkot. Saya pernah naik angkot Margahayu-Ledeng yang sangat bersih. Tidak ada sampah disana. Bahkan bungkus permen pun tak ada. Saya terkesima. Benar-benar kinclong. Setelah saya duduk dan menghadap pintu angkot, ternyata ada tempat sampah kecil bertenger disana. Tempat sampah itu diikatkan ke gagang pintu dengan semacam tali tambang kecil. Di atasnya tertera kertas bertuliskan : “Buang sampah anda disini” dengan tanda panah menuju ke arah tempat sampah itu.

Di lain waktu, saya naik Kalapa-Ledeng. Angkot hijau biru muda ini penuh sekali. Saat duduk, saya heran kenapa orang sebanyak ini semuanya serius sekali melihat ke depan atas. Oh rupanya ada sebuah ‘pengumuman’ yang digantung di langit-langit angkot. Tulisan bertinta hitam di papan kecil berukuran sekitar kertas A4 yang menerangkan bahwa seluruh penumpang punya hak merokok dimana saja kecuali di angkot itu. Dilarang merokok atau lebih baik turun saja dan cari angkot lain. Wuihh…

Lain cerita dengan angkot Cicaheum-Ciroyom yang terkenal dengan ngetem dan ngebutnya yang luar biasa. Ada satu angkot yang sopirnya doyan ngomong. Bayangkan saja. Semua penumpangnya diajak ngobrol! Baik yang di belakang, maupun saya yang duduk di depan. Awalnya saya malas menanggapi, tapi ternyata sopir ini memang seru kalo ngobrol. Ibu-ibu yang pulang dari pasar saja langsung nyambung saat diajak ngobrol. Setiap ada yang bilang “kiri!”, si sopir menepikan angkot dan selalu bilang, “Turun sini, A/Neng/Bu/Pak? Bentar ya..”, “Hati-hati ya..”, atau sekedar tersenyum saat si penumpang memberikan duit ongkos. Saat saya mau turun dan bayar ongkos pun dia kembali berceloteh, “Oh si neng turun disini. Hati-hati ya neng. Awas nyebrangnya. Terima kasih, neng..”

Tulisan ini dipublikasikan ulang dari sini

Dunia Saya, Panggung Sherly Arsita

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur

Sesaat saya serasa ada di konser ala Megadeth ketika seorang biduanita di panggung Taman Ria Surabaya (TRS), 21 September malam, asyik ber-head bang-ria, memutar lehernya 360 derajat, lompat kiri dan kanan tanpa terganggu celana kulit pendek superketatnya. Saya pikir ini bakal jadi malam metal pertama saya hanya dengan Rp 10.000 di Surabaya. Tapi Sherly Arsita, biduanita itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya meluncur lagu “Cinta Terlarang” dari The Virgin. Oalah...

Saya memang tidak suka The Virgin sama tidak sukanya pada Ahmad Dani. Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan Sherly malam itu. Biduanita cum penari itu tahu betul menyenangkan mayoritas penonton lelaki yang berada di garda paling depan. Ratusan penonton malam itu memuja satu dewi: Sherly. Mereka mengimani satu agama: dangdut. Yah, walau kadang berselingkuh dengan pop dan melayu.

Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah Sherly? Siapakah ratusan orang-orang ini? Apa yang membuat di malam Idul Fitri mereka lebih tersedot menuju tempat hiburan ketimbang selonjoran di rumah?

Yang lebih dahsyat, manajer taman ria ini mengaku dia dan sekitar 150 pegawainya justru berlebaran di TRS ini. Setelah shalat ied, semuanya kembali bekerja, mesin-mesin bergerak, tiket-tiket dirobek, dan uang-uang berpindah tangan. Demi melayani warga yang selalu haus hiburan, mereka menggadaikan sedikit waktu senggang. Demi sebuah Lebaran yang sudah kadung lekat dengan 'Liburan'.

Lebaran = Liburan? Ini konsekuensi sebuah kota mungkin. Surabaya, yang katanya kota terbesar kedua di Indonesia, menjadi salah satu destinasi mudik terbesar. Hari kedua Lebaran, mal-mal dan tempat hiburan sudah dijejali oleh pemudik. Padahal apa juga gunanya menjejali mal di Surabaya, batin saya. Semua kota sekarang punya mal, mereka punya tempat hiburan, mereka punya apapun yang bisa dibeli oleh uang. Apa yang tertinggal dari sebuah kota?

Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. Kota adalah sebuah pengalaman. Liburan tiga hari saja tidak akan pernah cukup menangkap nyawa sebuah kota, hanya ibarat menonton panggung hiburan dua jam yang menyisakan senang sesaat.

Dunia panggung

Setahun di Surabaya bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein.

Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.

Saya tidak suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan Sherly Arsita yang begitu menjiwai perannya di panggung. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?

Pukul 22.30 taman hiburan ini tutup, terlambat setengah jam dari biasanya. Sherly pun turun panggung dengan senyuman terakhir di wajah berbedak tebalnya. Tapi saya masih di sini, di panggung saya menunggu pertunjukkan berikutnya.

Sejenak saya iri pada Sherly yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka.
Yah, suatu saat ketika kembali bertemu Sherly, akan saya tanyakan nama aslinya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Surabaya.

Kediri vs kota lain

Penulis: Ariningsun P Cinantya
Domisili: Taipei, Taiwan
Blog: http://cinantya.blogspot.com/


Tinggal di Kediri selama beberapa bulan, nenengceriwis jadi bisa membandingkan beberapa habit kota Kediri dengan kota-kota lainnya.

Misalnya nih:

  1. orang-orang Kediri masih jarang makan di luar. Kalaupun ada restoran di Kediri yang penuh dengan selai, alias jam packed... (mulai ngegaring), biasanya itu karena ada dua hal wajib: MURAH dan ENAK. Kalau enak tapi ngga murah, jarang penuh. Kalau murah tapi ga enak, juga jarang penuh.
    berbeda dengan kota Jakarta, Yogya, Bandung, atau Singapore. Enak doang sudah cukup untuk membuat resto itu penuh. Kalau murah dan penuh? Wah... bisa habis terjual dalam beberapa jam. Setuju ngga? ... ko jadi inget mang Oyo sih?
    Tapi khusus Bandung, kadang makanan ngga enak pun tempatnya bisa penuh. Tempat yang kayak gini kan biasanya tempat-tempat yang jual view. Ya kan, Kampung Daun? ... hehehehhehehehe...
  2. Sepadat-padatnya lalu lintas kota Kediri, adalah sama dengan kondisi di Jakarta saat lancar. Atau Bandung saat off rush hour di weekdays. Atau Jogja di Sabtu dan Minggu pagi sebelum jam 9.
  3. Angkot (mikrolet) di Bandung dan di Jakarta ada beberapa yang 24 jam. Kalaupun ngga 24 jam, biasanya last departure (keren amat istilahnya?) adalah jam 8-9 malam. Surabaya... ngga tahu, belum pernah coba. Yogya ngga ada angkot, adanya minibus dan mikrobus. Kediri? angkot (mikrolet) lenyap jam 4 sore.
  4. Variasi kendaraan umum di Jakarta begitu lengkap. untuk dalam kota, ada KRL, busway, bus kota (damri dan swastah), minibus (macam kopaja), bajaj, ojek, taksi, en becak (yang belum kesebut jangan ngamuk). Bandung, tahu sendiri lah... angkot, kereta, Damri, mikrobus (belum pernah naik, yang lewat deket rumah teh kpad-antapani kalo ga salah), becak, ojek. Kediri? angkot, kereta, becak dan bajaj. kalaupun ada bus, itu bus AKAP/AKDP. Ada taksi, tapi armadanya bisa dihitung jari
  5. Salah satu hal yang istimewa dari Kediri adalah saat Rush Hour. Rush hour di Jakarta, Bandung, Yogya, dan Surabaya adalah saat jam masuk sekolah, jam masuk kantor, jam keluar sekolah siang (jam 1-2) dan jam pulang kantor. Bandung yang kota kecil, rush hour akibat sekolah bisa bikin kemacetan lokal yang menyebalkan (setuju, ibu-ibu?). Di Kediri, rush hour itu adalah jam bubaran karyawan pabrik Gudang Garam, yaitu sekitar jam 4. Sekolah ngga bikin macet karena mayoritas murid menggunakan sepeda untuk alat transportasi. Kalau bukan sepeda, ya jalan kaki atau ngangkot atau nge-bus AKAP/AKDP.
    Di Jakata, Bandung, Yogya dan Surabaya, rush hour bisa mengakibatkan kelangkaan angkot (karena penuh mulu). Jakarta sebagai kota metropabalieut dan Singapore sebagai kota megapolitan, juga ditandai dengan kelangkaan taksi. Di Kediri? ditandai dengan kelangkaan becak. Hahahaha...
Masih banyak sih hal yang bisa dibandingkan antara Kediri dengan kota lain. Tapi bingung juga, bagian mananya ya yang harus dibandingkan? Hehehehe...

Tulisan ini di publikasikan kembali dari sini
Related Posts with Thumbnails