Tampilkan postingan dengan label NY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NY. Tampilkan semua postingan

3.6.09

The NYC you don't know about (6) : New York Libraries


Penulis: Dyah Dyanita
Domisili: Bronx, NYC, USA
Blog: http://dydy.multiply.com


tulisan spesial buat gita...

Di NYC, ada 3 sistem library : New York Public Library (NYPL), Queens Library, dan Brooklyn Public Library (BPL), ketiganya independen dan tidak saling berhubungan. NYPL mencakup library di Manhattan, Bronx, dan Staten Island.

Meskipun saya pernah tinggal di Queens, tapi berhubung dari dulu saya lebih sering maen ke Midtown daripada ke Jamaica (pusatnya QL), jadi saya lebih memilih jadi anggota NYPL dan karenanya lebih tau seluk beluk pinjam meminjam di NYPL. Jadi mulai paragraf berikutnya, cerita NYPL aja yah.

NYPL dari segi koleksinya dibagi dua sistem : Research Libraries dan Branch Libraries.

RL berisi koleksi langka dan/atau referensi untuk berbagai penelitian, hanya boleh dibaca di tempat. Ada 4 library yang termasuk sistem ini, yaitu Humanities and Social Sciences Library (ini fotonya, yang ada patung singa) di Fifth Avenue at 42nd st, NYPL of the Performing Arts di Lincoln Center, Schomburg Center for Research in Black Culture di Harlem, dan Science, Industry, and Business Library (SIBL) di Madison Ave at 34th st.

BL berisi koleksi umum yang bisa dipinjam (well...ada buku referensinya juga sih...tapi dari kategori yang lain dari koleksinya RL). Ada 5 central library dan sekian puluh (atau lebih dari seratus ya...ga ngitung sih) branch library. Yang central library yaitu : Mid-Manhattan Library di Fifth Ave at 40th st (nah, ini tempat yang paling sering saya tongkrongin. Fotonya yang sebelah kanan ya), Donnell Library Center (pusatnya buku anak) di 53rd st, NYPL of the Performing Arts (lagi), Andrew Heiskell Braille and Talking Book Library di 20th st, dan SIBL (lagi juga).

Ada dua macam library card : kartu BL (namanya LEO) dan kartu RL (namanya ACCESS). Bikin kartu LEO sih gampang, selama dia tinggal dan/atau kerja di NYC dan punya bukti alamatnya, daftar jadi anggota gratis, mudah, dan cepat. Beberapa menit jadi. Bikin kartu RL lebih rumit, harus menyediakan photo ID, dan nanti diambil foto di tempat (kayak bikin sim ya?).

Yang enak, karena katalognya sudah terkomputerisasi dan terinternetisasi, kita bisa cari buku lewat katalog di websitenya. Bisa request buku tertentu, dan minta dikirim ke library cabang yang terdekat. Malah untuk yang memang nggak bisa kemana-mana (homebound karena tua atau cacat), bisa diantar ke rumah (daftar dulu).

Library materials (buku, dvd, video, cd, dll) yang dipinjam nggak ada batasan jumlah, dan dikasih waktu 3 minggu masing-masingnya. Setelah itu boleh diperbaharui sampai 3 kali, selama memang nggak ada yang request. Tapi ada juga yang cuma boleh pinjem seminggu dan nggak boleh diperbaharui, ini biasanya untuk buku-buku baru. Kalo telat ngembaliin, dendanya kalo buku 25 sen per hari, kalo lainnya...ga merhatiin :P.

Library di sini tuh bener-bener rame dan banyak pengunjungnya. Minat baca orang sini memang tinggi. Terus selain untuk pinjam meminjam buku, library juga banyak program acara untuk umum, misalnya temu penulis, apresiasi buku, puisi, musik, seni, dll dsb. Keren lah. Betul-betul 'hidup'.

Selama di NYC, tempat saya tinggal selalu dekat dengan library. Di Harlem, satu blok dariTautan Hamilton Heights library. Di Astoria, kira-kira 3 blok dari Astoria branch. Di Inwood, 5 blok. Sekarang, 2 blok saja dari Van Cortlandt library. Kebetulan yang menyenangkan.Tautan

Oya, saya pengen cerita tentang library universitas juga dikit nih. Entah berlaku untuk semua universitas atau tidak, tapi sistem library universitas di Amerika tersambung. Suami saya kalo pinjem buku yang ga ada di kampusnya, tinggal cari di katalog Inter Library Loan, request bukunya, dan tunggu. Tau-tau datang aja si buku dari librarynya UCLA, misalnya. Asik ya.

Pokonya dalam hal library, I superlove New York dan Amerika....

Tulisan ini dipublikasikan ulang dari blog penulis. Sumber tautan klik di sini.

22.4.09

The NYC you don't know about (5) : Confidently (un)fashionable

Tulisan oleh: Dydy Dyah
Domisili: Bronx, NY, USA

http://dydy.multiply.com/


Salah satu yang menurut saya sangat menarik dari New York(ers) adalah gaya berpakaian orang-orangnya. Oke lah, bukan cuma gaya berpakaiannya aja, tapi lebih tepatnya ke-pede-an berpakaian.

Di sini sangat mudah menemukan orang-orang yang cara berpakaiannya nggak biasa-biasa aja, dan terlihat sangat nyaman memakainya. Dalam artian, dia nggak peduli pendapat orang lain tentang gaya berpakaiannya itu. Ke-tidakbiasa-annya itu bisa modis, fashionable, tapi bisa juga kebalikannya. Saya pernah sampe susah nahan senyum satu waktu di subway, di depan saya ada cowok tinggi gede sangar, tapi pake kaos, topi dan tas serut kuning bergambar ....SpongeBob! Lucu! Hmmm...mungkin semacam statement yah...bahwa yang tinggi gede sangar juga boleh dengan pedenya berkostum SpongeBob.

Ada beberapa gaya berpakaian yang khas dari golongan tertentu. Cowok-cowok bergaya hip-hop (biasanya African-American dan Hispanics), kostumnya begini : kaos gombrang, celana jeans super gombrang dan melorot (betul-betul melorot, sakunya ada di lutut! Apa nggak susah jalan ya?), ikat kepala atau topi baseball yang dipakai miring, plus bling-bling kalung-kalung rantai panjang. Cewek-cewek Hispanics, banyak yang ngikutin gayanya JLo. Beberapa taun yang lalu waktu JLo sering tampil dengan velour sweatsuit, semua ngikutin. Di mana-mana bajunya pada sama. Warnanya kalo nggak pink, coklat. :D

Tapi kepedean orang sini berpakaian memang beneran deh. Sepertinya nggak takut pake model apapun, warna apapun. Bahkan yang sepertinya nggak cocok sekalipun. Yang bikin perutnya menggelambir kemana-mana, yang bikin kalo duduk celana dalemnya keliatan, yang celananya saking ketatnya sampai susah nekuk kaki di subway, dll dsb.

Tapi kalo yang memang modis dan pinter mix and match, biarpun tumpuk-tumpuk model dan motif, kok keliatannya tetep bagus gitu ya. Pokonya salah satu pengusir bosan saya di subway, ya merhatiin cara berpakaian orang-orang. Menarik!

Tulisan ini di posting ulang dari sini atas seizin penulisnya.

The NYC you don't know about (4) : Masjid dan makanan halal

PhotobucketTulisan oleh: Dydy Dyah
Domisili: Bronx, NY, USA

http://dydy.multiply.com/


tulisan yang ini spesial buat mamacat dan Yussi...

Saya betul-betul bersyukur tinggal di New York City yang muslimnya banyak dan penduduknya sangat beragam. Karena saya nggak susah cari masjid, yang jualan makanan halal, dan keragaman penduduknya membuat toleransi beragama warga New York relatif tinggi.

Seperti yang ditulis mbak Dian di reply pertanyaan Yussi "Ada masjidnya gak?", di NYC buanyak masjid. Jangan ngebayangin masjid-masjid di Indonesia yang kubah-kubah seng-nya bermunculan di antara atap genteng. Masjid-masjid ala NYC, terutama yang di Manhattan, seringnya cuma berupa satu ruangan yang menjadi bagian dari sebuah bangunan dengan fungsi umum. Misalnya mesjid Ar-Rahman, tempatnya di basement restoran Pakistan. Atau mesjid apa ya namanya yang di 55th street, letaknya di lantai 2. Bawahnya? Restoran juga.

Tapi kalau konsentrasi muslim di satu lingkungan itu cukup banyak dan kuat, mungkin masjidnya bisa lebih besar, atau lebih banyak. Di Harlem misalnya, bahkan ada satu jalan (kalo ga salah 116th street) di mana terdapat 2 masjid. Di Astoria yang banyak muslim Arab, ada beberapa masjid besar. Di Brooklyn juga ada satu daerah yang banyak banget muslimnya. Di Bronx ada juga.

PhotobucketKomunitas muslim yang mendirikan masjidnya juga beragam. Arab, Pakistan, Indonesia (mesjid Indonesia ada di Long Island City, Queens), African-American, Senegal, dll. Masing-masing jadinya unik dan bawa tradisi masing-masing juga. Saya pernah jumatan di masjid (lupa namanya) di Harlem, yang ternyata adalah masjid komunitas muslim Senegal. Khutbahnya diulang 3 kali dalam bahasa Arab, Perancis, dan Senegali. Kebayang nggak muka saya waktu itu? Blank. Udah mah lama, nggak ngerti pula bahasanya. :D

Kalo Islamic Centre of New York-nya sendiri, ada di Upper East Side. Masjidnya buesar, halamannya luas, berapa lantai ya...mungkin 4.

Kalo tentang restoran halal, mamacat, saya jarang ke restoran...hehehe...Tapi sebagian mungkin bisa diliat di daftar ini. Yang saya pernah paling ya Chandni, atau beli kebab/gyro di kakilima terus dibawa pulang atau dimakan di Bryant Park. :D. Pokonya di tempat-tempat yang banyak muslimnya, pasti gampang juga nemuin restoran halal atau penjual halal meat. Oya, ada juga counter fried chicken chain yang halal. Ada beberapa sih, tapi yang saya tau Crown Chicken, soalnya dulu waktu tinggal di Harlem sering banget beli di situ.

Kalo supermarket besar yang menjual daging halal, saya cuma tau Trade Fair di Astoria, Queens (lagi-lagi Astoria, soalnya komunitas muslim Arabnya banyak di sana).

ah segitu dulu deh...udah jam 2...huhuy...
bobo dulu ah

..update...
habis googling ternyata ketemu foto masjid Senegal di Harlem itu...namanya masjid Aqsa.
foto yang atas, itu Islamic Center of New York, ternyata rancangan biro arsitek SOM (Skidmore, Owings and Merril)

oya, jadi inget juga, kalo di belokan dari Fifth Ave menuju mesjid ArRahman & resto Chandni itu ada sebuah gereja besar (cuma kehalang 1 toko lho...akur kan New Yorkers..). Saya sering sedih lewat gereja itu, soalnya di pagarnya terikat ribuan pita kuning, biru dan hijau yang mewakili tentara-tentara Amerika yang mati di Irak. Di setiap pita disebutkan nama, pangkat, dan umur. Aduuhh...masih muda-muda....18 taun, 22 taun...hiks...

Tulisan ini di posting ulang dari sini atas seizin penulisnya.

8.4.09

The NYC you don't know about (3) : 'New York', Broadway dan Fifth Avenue

Tulisan oleh: Dydy Dyah
Domisili: Bronx, NY, USA

http://dydy.multiply.com/


Biasanya kalo denger kata "New York", asosiasinya langsung deh New York = New York City = Manhattan. Sampai-sampai ada seorang temen yang baru aja sampai di sini hampir aja milih tempat tes TOEFL di salah satu kota di New York state yang deket perbatasan Canada, bukannya deket-deket sini gitu lho. Kenapa gitu? Soalnya dia pikir yang namanya New York itu ya New York City ini lah. Jadi begitu ada tulisan New York langsung aja dipilih.

Nggak salah sih sebetulnya, cuma kurang bener. Jadi buat yang belum tau, New York itu nama state, nickname-nya Empire State. Kalo New York yang maksudnya kota New York, yang ada Empire State Buildingnya itu, adalah New York City, atau katanya sih nama formalnya adalah The City of New York (...who cares layaw nyebut panjang-panjang :D). NYC ini terbagi jadi 5 boroughs (mungkin kira-kira wilayah kota gitu deh...) yaitu The Bronx (betul...pake 'the'), Brooklyn, Manhattan, Queens, dan Staten Island. Nanti masing-masing borough dibagi lagi jadi neighborhoods.

PhotobucketJadi kalo dibilang New York = Manhattan, nggak bener, tapi juga nggak salah. Soalnya untuk formal address, kalau ditulis "New York, NY" memang = Manhattan. Soalnya saya biarpun tinggalnya di NYC, tapi formal addressnya tertulis Bronx, NY. Begitulah. Kurang gaya, memang :D. Manhattan memang paling tenar, paling gaya. Padahal cuma pulau kecil. Eh, Bali juga cuma pulau kecil, tapi paling tenar juga dink.

Kalo mau tau neighborhoods-nya Manhattan, nih ada petanya juga. Nah, jadi tau kan sekarang, Harlem tuh belah situnya Central Park. Yang namanya Upper East Side dan Upper West Side itu kanan kirinya Central Park. Inwood tempat saya tinggal dulu itu di ujung utara pulau Manhattan. Dan hotelnya Robert DeNiro nanti di Greenwich Village situ kali ya mbak Wanda? :P

Kalo saya paling sering jalan-jalan di daerah Midtown.

Masih tentang Manhattan, sekarang ngobrolin Broadway dan Fifth Avenue. Kenapa dua jalan itu? Karena lagi-lagi itu dua jalan di New York yang paling tenar.

Apa yang melintas di pikiran kalo disebut Broadway, New York? Pasti panggung teater musikal. Padahal itu cuma sepersekian dari Broadway yang sebenarnya. Soalnya Broadway itu panjangnya...ampuuuun...panjang pisan! Berawal dari Battery Park di southern tip, teruuuuuuuuuuuuuuuuus ke utara, nyebrang ke Bronx, sampai ke batas kota NYC dengan Yonkers di Westchester county, yang kemudian ganti nama jalan jadi...South Broadway (halah...nggak kreatif pisan). Nomor alamatnya mulai dari 1 sampai 5000-an kalo ga salah. Broadway yang deket rumah saya nomernya memang 5000an. Jadi saya paling males kalo liat alamat di "Broadway" tanpa keterangan "between 34th and 35th street" misalnya. Soalnya pusing mengira-ngira posisinya ada di mana.

Udah gitu di Queens juga ada Broadway lho. Memanjang dari Astoria sampai ke Elmhurst.

Terus Fifth Avenue. Apa yang mau diomongin ya? Oya, yang bingung dengan alamat Manhattan yang ada East dan Westnya, patokannya adalah Fifth Avenue. Sebelah timurnya FA, itu East Side. Baratnya, ya West Side lah.
Fifth Avenue, bagian shopping-shoppingnya sekitar 40th-59th street. Selain itu sih bukan tempat shopping yang signifikan. Kalo saya jelas ga pernah shopping di Fifth Avenue, eh pernah dink beli buku di Barnes & Noble, beli laptop di BestBuy, dan beli minum di Walgreens . Hahaha...

Kalo mau cuci mata window shopping toko-tokonya designer sebangsa Yves St Laurent, Prada, Versace, D&G dan lain-lain yang enggak kebeli tea, itu mah di Madison Avenue, satu blok ke arah timur dari Fifth Avenue.

cukup dulu...
Tulisan ini di posting ulang dari Seri Tulisan The NYC You Don't Know About, 21 Maret 2008


The NYC you don't know about (2) : Transportasi, Becak dan Kakilima

Tulisan oleh: Dydy Dyah
Domisili: Bronx, NY, USA
http://dydy.multiply.com/

Kemaren habis ngomongin subway, dilanjutin aja dengan ngomongin transportasi yah. Enaknya di kota besar itu ya, transportasi mudah, meskipun enggak murah tapi selalu meriah (banyak pengamen...hahaha...nggak dink).
Transportasi umum di NYC yang dikelola oleh MTA adalah subway dan bis. Cara pembayaran tiketnya, kalo subway jelas harus punya MetroCard untuk digesek di pintu masuk stasiun. Bisa beli di stasiun lewat mesin atau sama penjaganya, bisa juga beli di warung (halah..warung) vendor-vendor yang menyediakannya (biasanya punya stiker di depan kios/tokonya "We Sell MetroCard"). Sekali naek jauh dekat $2. Selama ga keluar stasiun, gonta-ganti line subway nggak perlu bayar ulang. Jadi dari Bronx mau ke Elmhurst atau Far Rockaway juga bayarnya tetep cuma $2. Transfer dari subway ke bis atau bis ke subway gratis selama masih dalam selang waktu 2 jam.

Kalo naik bis, selain pake MetroCard, bisa juga pake koin receh. Maaph, ga terima uang kertas (kenapa ya...heran deh). Yang enak kalo mesin pengecek tiket di bisnya lagi rusak, naik bis ga usah bayar...hehehe.. Bisnya MTA ini bener-bener merambah ke mana-mana lho. Peta transportasi NYC yang mutlak dipunyai itu peta subway. Kedua, peta bis di borough mana kita punya keperluan : Manhattan, Bronx, Brooklyn, Queens, atau Staten Island.
Oya, bisnya ada bis biasa ada juga yang ekspres, bayarnya berapa ya yang ekspres, blom pernah naek. Kalo ga salah $4. Oh iya, buat environmentalist, bisa pilih bis electric-hybrid.

PhotobucketTuh kan, nggak tau kan kalo di Manhattan banyak becak? Di sini namanya pedicab atau rickshaw, pengemudinya di depan. Tapi becaknya nggak sembarang becak sih, apalagi tukang becaknya. Becak-becak keren, tukang becaknya juga banyak yang keren. Garing dan renyah, krauk krauk! Muda-muda, rata-rata laki-laki tapi ada juga yang perempuan. Becaknya Manhattan bukan buat "Mang, ka terminal! 5000 nya?". Bukan. Becak sini khusus buat tour. Tukang becaknya juga merangkap tour guide.

Tempat-tempat di mana becak sering terlihat yaitu sekitar Central Park, Times Square, dan Fifth Avenue. Foto pangkalan becak (dan delman) Central Park bisa diliat di album saya yang ini.

Kalo tarif becak saya ga tau, blom pernah nyoba atau tanya-tanya. Kalo delman-nya Central Park maksimal $36 untuk 4 orang kalo ga salah inget.

Sekarang ngomongin kakilima alias street vendors. Dibagi empat kategori deh : kios majalah, jualan makanan, jualan produk selain makanan, dan jualan jasa. Kios majalah mah udah jelas kan yah, ga usah dibahas. Penjual makanan yang banyak ditemui di Manhattan adalah penjual hotdog, pretzel, kacang goreng, kebab-gyro-falafel. Terus juga mobil eskrim, mobil bakery (biasanya pagi-pagi, orang cari breakfast). Kalo summer suka ada jualan buah potong dan es serut dengan sirop warna-warni ---> yang jual biasanya orang Latino.

Jualan produk selain makanan, yah macem-macem. Yang sering keliatan, jualan pashmina $5, 'designer bags' (masa produk desainer dijualnya di kakilima coba...boong banget kan?), kacamata, parfum, handmade jewelry, aksesoris, dll.
Jualan jasa, biasanya menjual jasa melukis potret atau karikatur. Banyak banget di sekitar Central Park, bagus-bagus lagi. Ada yang item putih, ada yang warna. Kalo ga salah bayarnya $15 deh. Ada juga bikin tulisan nama yang dihias-hias/stilasi. Yang ini di sekitar Times Square atau sepanjang 42nd street juga banyak.

hmmm...segitu yang keinget...
besok lagi ngomongin apa ya...

Tulisan ini di posting ulang dari Seri Tulisan The NYC You Don't Know About, 20 Maret 2008

The NYC you don't know about (1)

Tulisan oleh: Dydy Dyah
Domisili: Bronx, NY, USA
http://dydy.multiply.com/


Kenapa yah kalo di tivi keliatannya New York City itu bagus....aslinya mah...biasa... bahkan untuk ukuran kota megapolitan yang jadi tujuan turis dari seluruh dunia, banyak yang nggak representatif.

Di mana-mana ada proyek bangunan dan renovasi, bahkan sepanjang Fifth Avenue. Trotoar tertutup scaffolding. Ribut bunyi alat-alat bangunan. Belum lagi kerjaan galian kabel di mana-mana, bikin macet lalu lintas Manhattan yang udah mah memang sering macet juga, banyak jalan satu arah lagi. Pokonya jangan bawa mobil lah ke Manhattan. Parkirnya susah dan mahal. Naik subway aja...kalo berani...hahaha...*inget mbak Vanda jadinya, yang ngeri naik subway di NYC*

Ngomong-ngomong subway, stasiun-stasiun lokal subway di sini rata-rata kotor. Deh. Jangan dibandingin sama MRT Singapore yah. Seperti bumi dan langit.
Banyak homeless yang suka memanfaatkan subway cars sebagai tempat tidur. Udah gitu banyak juga pengamen dan pengemis di subway car. Ngamennya macem-macem, ada yang nyanyi (suaranya banyak yang bagus), main gitar, main akordeon, sampai breakdance (yaktul, breakdance di subway yang lagi jalan). Kalo yang ngamen di stasiun sih lebih banyak lagi dan lebih canggih. Cari musik enak gratisan, di Times Square banyak. Ada klasik, jazz, new age, blues... Kalo yang suka grup musik ocarina, biasanya mangkal di deket subway no 7. Atau di Penn Station deket antrian LIRR (Long Island Rail Road).
Ngemisnya juga macem-macem. Rata-rata sih koar-koar "Ladies and gentleman, I'm homeless, I haven't eaten for days, please if you have some change, some food, it will help me..". Di dinding subway biasanya ada tulisan dari MTA yang isinya jangan ngasih uang sama pengemis.

...segitu dulu ah...bagian satu...
kapan-kapan disambung....udah malem soalnya...

ada request pengen diceritain NYC bagian mana?

Tulisan ini di posting ulang dari Seri Tulisan The NYC You Don't Know About, 20 Maret 2008

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails