Domisili: Bandung
Dulu sekali, ayah selalu mengajakku bersepeda mengitari jalanan-jalanan kota. Dan itu adalah saat-saat yang sekarang sangat aku rindukan. Ternyata banyak sekali yang terlalu cepat diubah zaman dari kota ini.
Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti
Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Blog: ifuu.tumblr.com, anakajaip.multiply.com
Satu kata benda yang bikin saya kangen Bandung : angkot. Ya, angkot. Angkutan kota. Sebuah angkutan publik yang berwujud mobil carry, colt, atau kijang yang ‘dimodifikasi’ interiornya. Standar kapasitas maksimal angkot adalah 16 orang: 3 di depan (termasuk sopir), 7 di kanan, 5 di kiri, dan 1 di ‘kursi artis’ (kursi yang ada di dekat pintu dan duduknya menghadap berlawanan ke arah penumpang lainnya).
Perkenalan saya dengan dunia angkot dimulai saat TK. Waktu itu saya sering diajak mama berkunjung ke rumah oma di Cimahi. Entah kenapa, saya selalu merasa enjoy saat naik angkot. Duduk di pojok dengan jendela yang dibuka setengah. Angin menyapa wajah saya pelan bahkan terasa menampar saat si angkot berlari kencang.
Kemana-mana saya pergi pakai angkot. Tentunya masih harus ditemani oleh orang yang lebih gede. *berhubung saat itu lagi marak penculikan anak kecil*.
Kelas 5 akhir, saya baru dibolehin naik angkot dengan rute yang sedikit jauh sendirian. Waktu itu mau naik kelas 6 dan saya ikut bimbel di sebuah tempat di bilangan purnawarman. Secara sehari-hari sekolah di dekat rumah dengan jalan kaki, “sekolah” di tempat bimbel ini terasa lebih menyenangkan bagi saya karena harus ditempuh dengan angkot. Margahayu-Ledeng tepatnya.
Saat itu naek angkot biru dengan garis kuning ini dari Pasar Sederhana ke Purnawarman hanya 500 perak loh. Mulai kelas 2 SMA sampai sekarang, saya harus bayar 2000 perak dengan jarak dan angkot yang masih sama. Empat kali lipat. Padahal harga BBM sudah turun, tapi tarif angkot yang turut naik tidak ikut turun juga.
Semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya ambil, semakin sering dan variatiflah angkot yang saya tumpangi. Hingga saat kuliah sekarang, meskipun ditempuh dengan bis Damri, sebelum dan sesudahnya pasti saya naik angkot dulu. J
Di dalam angkot, saya bisa bertemu bermacam-macam orang. Anak sekolah dengan seragam ala sinetron, ibu-ibu yang pulang dari pasar, mahasiswa dengan headset yang selalu menempel di kuping, mas-mas kantoran, karyawati yang berdandan menor, nenek-nenek tukang rumpi, wanita muda yang aromanya seperti habis pakai parfum tumpah, remaja tanggung yang cuek merokok, bapak-bapak bertato, pria metroseksual, hingga mbok jamu beserta gendongannya pun ada disini. Benar-benar keberagaman strata.
*****
Bagi saya, angkot tidak hanya berfungsi sebagai angkutan belaka. Lebih dari itu, saya belajar banyak dari yang ngejalaninnya. Ya, sopir angkot. Sopir angkot adalah sosok orang yang bikin saya termotivasi untuk cepat belajar nyetir mobil. Seriously!
Saya suka sekali duduk di depan. Ga untuk ngaca di spion, tapi untuk memperhatikan si mang angkot. Lebih tepatnya, memperhatikan gaya nyetir si mang angkot. Dari mulai dia ngopling, masukin gigi, ngegas perlahan, kopling lagi, mindahin gigi, ngegas yang banyak, kemudian tiba-tiba ngopling dan siap-siap ngerem lalu mengarahkan setir ke kiri saat ada orang yang nyetop angkot di depan sana.
Sehabis orang tadi naik, si mang jalan lagi dengan gaya yang sama. Saat itu dia nyetir sekaligus sambil makan gorengan. Pas di lampu merah, gorengan habis dan dia beli rokok batangan di pedagang asongan. Saat lampu sudah nyala hijau, dia pun nyetir kembali sambil tetap menghisap rokoknya.
Entah kenapa, saya takjub dengan tabiat mayoritas mang-mang angkot yang kaya gini. Bisa-bisanya gitu ya mereka nyetir sambil merokok dan makan, bahkan kadang sambil ngobrol di hape, tapi matanya tetap awas terhadap orang-orang di pinggir jalan yang mau naik. Benar-benar multi tasking!
Saya juga ingin deh seperti itu. Bisa multi tasking di saat yang bersamaan. Soalnya selama ini kalau sedang nyetir, saya harus konsen dengan jalan dan spion kanan kiri. Pernah suatu hari, saya nyetir sambil makan biskuit, eh yang harusnya ngegas malah jadi ngerem mendadak dan bikin mobil-mobil di belakang rame-rame membunyikan klakson.
Namun, satu hal yang kurang saya suka dari mereka para sopir angkot: budaya ngetem! Kalau sedang santai sih oke-oke saja, tapi lain halnya kalau saya sedang sangat terburu-buru. Rasanya ingin jitak kepala si mang kalau dia sudah belagak mau jalan, tapi mundur lagi saat ada penumpang yang naik. Ngetem lagi. Dan begitu lagi. *sigh*
Beragam cara sudah saya lakukan agar si mang ngerti kalo saya lagi buru-buru. Dari menghentak-hentakan kaki, kipas-kipas, pasang muka cemas, berulang kali liat jam, melototin si mang dari spion depan, hingga berani nanya, “Mang, ini masih lama ga sih?! Bisa cepat ga?! Saya terlambat nih!!”
Biasanya, kalau si mang angkot baik hati, dia langsung jalanin angkot, tapi kalau kebetulan dia ‘ndablek’, ya dingin aja gitu. Berasa ga denger dan baru mau jalan kalau semua penumpang sudah ikut ngomelin.
Karena capek dengan masalah kaya gini terus, akhirnya saya harus berangkat lebih awal kalau akan pergi naik angkot. Setengah jam dari waktu biasanya..
Persoalan ngetem ini memang klasik. Yang bikin macet di sebagian besar jalan-jalan di Bandung kan angkot yang ngetem. Apalagi di sekitar terminal, kampus, stasiun, dan pusat perbelanjaan. Mereka bakal tertib kalau ada polisi yang jaga disitu. Klasik sekali.
Ada satu kisah yang sempat saya diceritakan oleh seorang teman. Cerita itu bikin saya terkesan dengan seorang sopir angkot jurusan Caheum-Ledeng yang entah bagaimana wujudnya. Ceritanya, teman saya duduk di depan dan memang hanya dia satu-satunya penumpang. Namun, sopir angkot itu tidak pernah ngetem sekalipun. Sepanjang perjalanan, teman saya ini ngobrol dengannya. Saat teman saya bertanya kenapa si mang angkot ga ngetem, jawabnya: “Rejeki mah dikejar, Jang, bukan ditunggu.” Teman saya manggut-manggut dan angkot pun terus berjalan.
Saat di daerah tamansari, ada seorang bapak-bapak yang menyetop angkot itu sambil bawa beberapa barang. Karena duduk di depan, teman saya tahu arah pembicaraan si bapak dengan si sopir. Rupanya bapak ini mau mencarter angkot ke arah Lembang dan dia bersedia bayar..seratus ribu rupiah!
Wow! Amazing! Memang benar ya, rejeki itu bukan untuk ditunggu. Selama ini, para mang angkot sering berkilah bahwa ngetem untuk kejar setoran. Ah andai saja mereka berpikiran sama dengan sopir yang satu itu..
*****
Terlepas dari kebiasaan menyebalkan para sopir angkot yang suka ngetem sembarangan, saya sering juga kok merasakan kenyamanan dan kepraktisan jika bepergian dengan si mobil umum ini.
Hanya dengan bayar paling mahal 4000 rupiah untuk jarak terjauh, saya bisa duduk bebas sambil lihat apa saja yang tersebar di kanan, kiri, depan, dan belakang angkot. Mobil, motor, bis kota, sepeda, kereta, orang, gedung, jalan, pohon, traffic light, rumah, sekolah, dll. Saya bisa memerhatikan segalanya dari sudut angkot ini.
Berbagai tingkatan status sosial seolah menyatu bersama di medan jalan ini dengan kepentingannya masing-masing. Banyak hal paradoks di luaran sana. Ada pengemis tua yang meminta-minta ke jendela mobil plat merah yang berhenti di stopan, dua orang anak SD yang masing-masing diantar dengan vespa hijau dan altis hitam, mahasiswa yang terlihat membeli koran dari seorang loper, sepasang muda-mudi berjalan bergandengan tangan melintasi gelandangan tua, seorang pria muda perlente yang marah-marah di pinggir jalan kepada seorang sopir angkot karena pantat mobilnya diserempet, seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan balon, bapak tunanetra yang menghentakan tongkatnya perlahan untuk berjalan, dan anak-anak yang mengejar layangan sambil bertelanjang kaki di seberang sebuah mall besar.
*****
Ada beberapa hal menarik yang sempat saya tangkap dalam sebuah ruang bernama angkot. Saya pernah naik angkot Margahayu-Ledeng yang sangat bersih. Tidak ada sampah disana. Bahkan bungkus permen pun tak ada. Saya terkesima. Benar-benar kinclong. Setelah saya duduk dan menghadap pintu angkot, ternyata ada tempat sampah kecil bertenger disana. Tempat sampah itu diikatkan ke gagang pintu dengan semacam tali tambang kecil. Di atasnya tertera kertas bertuliskan : “Buang sampah anda disini” dengan tanda panah menuju ke arah tempat sampah itu.
Di lain waktu, saya naik Kalapa-Ledeng. Angkot hijau biru muda ini penuh sekali. Saat duduk, saya heran kenapa orang sebanyak ini semuanya serius sekali melihat ke depan atas. Oh rupanya ada sebuah ‘pengumuman’ yang digantung di langit-langit angkot. Tulisan bertinta hitam di papan kecil berukuran sekitar kertas A4 yang menerangkan bahwa seluruh penumpang punya hak merokok dimana saja kecuali di angkot itu. Dilarang merokok atau lebih baik turun saja dan cari angkot lain. Wuihh…
Penulis: Bismantara
Domisili: Subang, Jawa Barat
Blog: www.bisma.wordpress.com
…Dahulu…
Kau adalah sebuah ingatan tentang kehangatan. Tempat berkumpulnya saudara-saudara yang terserak di kota-kota nan jauh. Sebuah oase dimana kita bisa tertawa dan berbincang bersama. Di hari nan fitri, setiap tahun sekali. Dengan berbekal keikhlasan dan keinginan tuk maaf memaafkan, kita semua bertemu. Sebuah momen penting yang kukenang dalam aliran waktu.
Engkau adalah sebuah ranah imajiner dalam labirin ingatanku. Sebuah lokasi geografis seluas 205.176,95 hektar (6,34% dari luas propinsi Jawa Barat). Sebuah wilayah yang berbatas dengan Bandung, Purwakarta, Kerawang, Indramayu, Sumedang dan Laut Jawa.
…Kini…
Kau adalah sebuah kota yang kudiami. Di dalammu, aku bernafas, bekerja dan belajar. Tentang hidup, tentang segala hal. Termasuk yang baik dan buruk. Nama-mu mencuat saat salah seorang (bekas) artis, Primus Yustisio mencalonkan diri sebagai nahkodamu (baca: bupati). Dari dirimu, lahir seorang maestro yoyo yang membentuk komunitas yoyo se-Indonesia, Oke Rosgani. Juga terdapat Komunitas Blogger Subang yang digerakkan oleh kang Yahdi, Annas dan Oki Rosgani (saudara kembarnya Oke, hehe..). Dan banyak lagi orang-orang hebat yang sepertinya memang kurang terekspos oleh media. Merekalah “local heroes” yang menjadi panutan dari komunitasnya masing-masing.
Sisi kelam-mu pun ada. Permasalahan korupsi (yang sudah menjadi epidemic nasional, mengalahkan virus H1N1), pergaulan bebas (yang mengekor dari permasalahan urban kota-kota besar) juga merupakan wajah yang harus dicermati. Jika boleh sedikit merefleksikan semuanya, mungkin benar bahwa poverty is the root of all evil. Kemiskinan adalah biang dari segala kejahatan. Karena kemiskinan, orang tega mengambil apa yang bukan hak-nya. Dengan alasan yang sama, kehormatan dan harga diri bisa digadaikan. Di tengah-tengah sikap masyarakat yang makin permisif dan godaan konsumerisme yang semakin marak, dapatkah masyarakat Subang bertahan?
Jaman berganti, permasalahan akan terus ada. Dan kami bergumul dengannya, mencoba bertahan dengan segenap keyakinan masing-masing. Permasalahan yang kami hadapi tentu berbeda dengan daerah lain. Karenanya, mari berbagi semangat untuk mencoba bertahan. Dan merubahnya. Dalam skala kecil sekalipun. Ayo!

pertanda bahwa aku telah melampaui beberapa wilayah yang berbeda dalam setiap tahapan perkembanganku. Ya, dalam peta itu jelas tertera wilayah yang pernah kudiami selama sembilan bulan lamanya di dalam kandungan; wilayah yang pernah kudiami selama masa batita dan balita; wilayah yang kudiami selama masa sekolah, wilayah yang kudiami selama masa perkuliahan; wilayah yang kudiami selama masa kesendirianku; dan wilayah yang kudiami selama masa perkawinanku (wilayah yang belum terukur perbatasannya).
Peta itu begitu melekat dalam kehidupanku, fisik maupun psikis. Berkaitan dengan fisik, peta itu senantiasa menawarkan lahan untuk menggambarkan jejak setiap hal yang kulakukan dan kualami sendiri. Peta itu selalu berbicara kepadaku bahwa aku masih memiliki lahan yang luas yang bisa kugambari dan kutandai selama hayat di kandung badan. Berkaitan dengan psikis, peta itu sangat berjasa sebagai ‘rememberance’ atas hal-hal yang pernah kulakukan dalam suka dan duka. Peta itu akan berbicara tentang dosa dan amalan yang pernah kutorehkan pada permukaannya. Selain itu, peta tersebut befungsi sebagai penanda tinggi-rendahnya volume alur kehidupanku. Gunung dan lembah dalam petaku menjadi saksi bisu atas frekuensi dosa dan amalanku. Jalanan panjang dalam peta itu merupakan pertanda bahwa sampai saat ini interval masa hidupku telah berjalan lebih dari seperempat abad dengan segala lika-liku, tanjakan dan turunan yang tiada putusnya. Pertemuan alur sungai merupakan pertanda bahwa selama kepingan hidup telah bertaut selama lebih dari tiga dasawarsa.Ya, kepingan kehidupanku yang sarat makna.Foto dan tulisan: Wiku Baskoro
Domisili: Bandung, Jawab Barat
http://wikupedia.co.cc
http://wikupedia.multiply.com
bercerita tentang kota tempat saya tinggal, saya pasti akan memilih bercerita tentang bandung, kota kelahiran dan kota tempat tinggal saya seumur hidup, sampai sekarang.
jika membaca nama saya, pasti orang akan menyangka saya berasal dari suku jawa, wiku baskoro, begitu bunyi nama saya. tidak salah memang karena ayah dan ibu saya jawa tulen, dan dirumah, mereka masih sering bercakap dengan bahasa daerah asal mereka, jawa tengah.
namun jika mendengar saya berbicara tanpa mengetahui nama saya, pasti orang langsung berkata : “asli sunda kang?” dan saya akan menjawab dengan jawaban paradoks: gelengan kepala dan ucapan mengiyakan.
saya lebih menyukai disebut sebagai penduduk asli bandung, ketimbang sunda yang merujuk pada jawab barat, bukan karena masalah rasial tetapi lebih karena masalah pengetahuan. kalau ditanya tentang jawa barat, paling saya hanya bisa mengucap “sumuhun”(iya dalam bahasa halus sunda), tanpa bisa menjelaskan apa-apa tentang asal-usul jawa barat, tokoh-tokohnya, cerita-cerita rakyatnya dan berbagai macam kebudayaan masyarakatnya.
saya lebih menyukai disebut sebagai orang bandung, karena bagi saya bandung adalah wilayah jawa barat yang punya kebudayaan sendiri, yang setiadaknya pernah saya kenal dekat.
dari awal terbentuknya daerah yang nantinya akan jadi kota bandung ini, sudah bisa dijelaskan bahwa bandung tidak memiliki budaya asli seperti budaya khas jawa barat dalam wayang golek misalnya, atau daerah tertentu jawa barat seperti cirebon dengan tari topeng cirebon.
bandung yang awalnya dikuasai oleh orang belanda memang sangat kental budaya campur aduknya, ini bisa terlihat sampai sekarang. dahulu kala modernesisasi ala belanda masuk dalam wilayah hutan yang masih 'kampung'. kota bandung dan penduduknya kemudian saling berbaur dan menciptakan budayanya sendiri. bangunan khas belanda yang merespons tanah yang berbukit sebagai salah satunya, atau jalan dago yang tebentang lurus sebagai jalur utama menuju gudang kopi di daerah jalan merdeka adalah contoh lain, disamping budaya khas jawa barat seperti logat berucap dan penamaan-penamaan jalan yang khas.
sampai kini bandung tetap menjadi kota dengan budaya campur aduk, kini bandung adalah campuran berbagai budaya, antara budaya jakarta yang metropolis, budaya jawa barat yang sunda pisan, antara budaya pendatang dari sumatra sampai budaya pendatang dari papua, bercampur menjadi budaya baru, budaya bandung.
bagi saya, tidak aneh jika banyak orang yang berkreasi di bandung dengan hebatnya, selain wilyahnya yang nyaman (sampai tahun 2004-an) sampai dengan masyarakatnya yang permisif dengan segala kreatifitas yang dimiliki masyarakatnya, baik itu yang asli jawa barat, yang campuran maupun yang berasal dari luar jawa barat.
ketika wilayah jawa barat lain yang sering kali bersifat kolot atas budaya sunda, bandung berkembang menjadi kota dengan seribu budaya, yang pada satu sisi ini menjadi positif namun di sisi lain bisa menjadi negatif, bagi saya itu hal biasa, tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka semua hal positif tentu akan menyimpan hal negatif, vice viersa.
bandung yang nyaman bagi saya hanya sampai pada medio sekitar tahun 2004-2005, tiga tahun ke belakang bandung berubah menjadi kombinasi antara vampire dan zombie iyang menyedot semua darah masyarakatnya untuk menjadi zombie-zombie khas modernitas. sebelum abad zombie ini masyarakat bandung terkenal dengan gang punten-nya, yang disatu sisi mengidikasikan bahwa itu daerah preman, namun di sisi lain menyiratkan bahwa orang bandung itu sopan-sopan, kalau lewat kerumunan mereka akan bilang punten, dan kalau dijalan akan menyapa siapapun entah kenal atau tidak.
sebelum masa zombie, kenyamanan bandung bisa jadi tidak ada duanya, jalanan yang sejuk karena pohoh belum banyak yang ditebang, komplek perumahan yang belum menjamur, mall yang masih terbatas, kendaraan yang masih dalam jumlah yang masuk akal, serta orang-orang yang masih bisa senyum dan tertawa meskin besok tidak tau mau makan apa.
kini pohon di bandung sangat banyak yang ditebang, entah karena alasan sudah tua, atau memang pemkot bandung yang gak becus memelihara dan merevitalisasi pohon, tapi yang jelas, pohon-pohon di daerah yang tekenal dengan kesejukannya seperti jalan aceh, serta daerah gasibu sudah banyak yang ditebang. coba mampir di depan kantor perhutanan di daerah gasibu, coba hitung berapa banyak pohon yang ditebang di depan kantor itu, dan coba bandingkan dengan umur pohon penggantinya (jika ada). saya jamin pasti bakal geleng-geleng kapala.
kota bandung yang penuh potensi ekonomi juga ternyata bisa menjadi pisau yang malah mematikan warga asli bandung, seperti saya. potensi wisata belanja yang diekspolitasi berlebihan malah menjadikan kota yang saya cintai dengan sangat ini menjadi amburadul. kesalahan bisa jadi milik pemerintah kota, tapi kalangan bisnis juga mungkin harus diberondong pertanyaaan, seperti mengapa membuat pusat belanja di belokan jalan riau (sebelah riau 11) dan membuat macet persimpangan di depannya karena pengaturan parkir yang gak beres. atau mungkin maysrakat kreatif a.k.a distro juga mesti diberi pertanyaan pertangungjawaban seperti, kenapa harus membuka distro di sepanjang jalan trunojoyo sehingga mengakibatkan jalur itu harus dijadikan satu arah karena kalau tidak macetnya bisa sampai sepanjang jalan riau. belum selesai dengan masalah macet dan konsumerisme ala factory outlet, kini kaum konunitas yang menjuliki mereka kaum indie malah ikut-ikutan juga membuat bandung hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi.
saya hidup di bandung dari tahun 1981, ketika derah margahayu raya masih bayak sawah, tepat ketika galungung meletus. saya sd, smp, kuliah dan bekerja di kota bandung, ketika jalan tikus parakan saat saat masih sangat sejuk dan sangat nyaman di lewati karena banyak sawah dan belum ada proyek-proyek rumah kluster yang menjamur.
saya hidup di jaman ketika pengendara motor tidak awut-awutan seperti sekarang dan angkot masih ramah pada pengemudi jalan lain. saya hidup ketika bangunan sarinah di jalan braga masih memajang produk dengan etalasenya yang khas, wayang-wayang serta beragam produk budaya indah yang begitu merasuk membuat imaji akan jalan braga sebagai jalan 'budaya'.
saya hidup ketika taman kota tidak dipagari dan digembok, ketika air bersih masih bisa didapat dengan sedikit bersabar menunggu pomap air bukan membeli di tukang air keliling. saya hidup ketika batagor masih murah dan rasanya begitu khas rakyat, bukan dengan harga tinggi dan rasa yang sangat kapital.
saya hidup ketika komunitas begitu komunal tanpa klaim-klaimkhas pemilik modal yang serakah yang ingin mendapatkan legitimasi atas produk budaya yang mereka hasilkan, padahal tak ada yang bisa meng-klaim memiliki kebudayaan publik selain publik itu sendiri. saya hidup ketika label independen itu adalah tatanan budaya paling keren sebelum kini berbuah menjadi mahkluk menjijikkan yang sangat opurtunis.
saya tidak anti kapital, bagaimana mungkin, saya seorang pedagang, setiap pedagang pasti membutuhkan dan mencari kapital (dalam arti modal atau uang), tapi bukan berarti saya menjadi begitu tunduk pada kapital. masih banyak alternatif yang bisa ditempuh untuk menyinergikan antara komunitas dan modal. saya menyebutnya ekonomi berbasis komunitas.
kini menjadi sangat sulit bagi saya untuk mengikuti perkembangan kota bandung yang mesti saya sebut dengan istilah perkembangan konsumerisme yang kebablasan ini. bandung kini tidak lagi dipandang sebagai daerah bersejarah yang merekam bagaimana masa sejarah bisa dilihat dan diteliti dari cerita dan makna bangunan-bangunannya yang sangat cantik, nama-mana jalanya yang unik serta berbagai budaya yang ada. Bandung, bagi saya, kini hanya dipandang sebagai objek kapaital yang mesti diperah terus-menerus samapi menunggu ia (bandung) kembali tenggelam dan menjadi danau purba kembali.
terus terang, rasa cinta saya pada kota bandung tidak akan pernah punah, namun ditengah himpitan kemajuan yang salah kaprah ini, saya harus mulai berpikir untuk mencari tempat idaman lain. meski saya tau dengan pasti: tidak ada yang bisa menggantikan kota bandung.
Tulisan Oleh Adi Marsiela
Domisili: Bandung
http://marsiela.multiply.com
Email: colenakbandung@yahoo.com
Didi David Affandy (72 tahun) masih ingat betul pengalamannya, 63 tahun silam saat meninggalkan Kota Bandung. Waktu itu usianya masih sembilan tahun. Dia tengah ngabuburit bersama teman-temannya sembari bermain kelereng di dekat rumahnya, Jalan Melong Kidul.
Belum lagi waktu berbuka tiba, Didi harus menyudahi permainannya. Dia dibawa oleh ayahnya, Didi Sukardi pergi keluar Bandung. Ibunya, Iti Sutiah hanya ingat untuk menggendong anaknya yang masih berusia lima bulan dan membawa nasi yang belum lagi masak. Bersama kakak perempuannya, Didi kecil pun berjalan ke arah Bandung bagian selatan sembari menangis. "Kelereng saya masih tertinggal satu," ujar dia.
Sebelum pergi, Didi ingat ayahnya sempat membakar dahulu rumah mereka. Tetangga-tetangga yang lain juga membakar rumahnya sendiri. Perintah untuk membakar rumah itu datang dari mulut ke mulut.
Hari itu, tanggal 24 Maret 1946. Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia, Kolonel Nasution memutuskan untuk mundur bersama rakyat dari Kota Bandung. Keputusan ini diambil setelah ada ultimatum dari Inggris agar pejuang keluar dari kota. Meski sempat ada pertentangan, akhirnya disepakati pejuang mundur, tetapi tidak akan menyerahkan Bandung dalam keadaan utuh.
Belum mencapai lima kilometer Didi berjalan, dia sempat menengok ke belakang dan melihat terangnya Bandung kala itu. "Sangat indah kalau tidak ingat itu dibakar," kenang dia.
Tidak hanya untuk Didi, peristiwa itu membawa kenangan indah juga buat kakak perempuannya, Uun Ratnaningsih.
Jauh sebelum, Uun dan keluarganya memutuskan untuk meninggalkan kota, perempuan ini sudah menaruh perhatian khusus terhadap atasannya di rumah makan Panca Warna.
Sebagai tanda perhatiannya, Uun memberi selembar kain pada Khoe Tjandra, sang atasan. Agar selalu teringat pada dambaan hatinya, Khoe yang bukan merupakan warga pribumi ini sengaja memasang kain itu di dinding rumah makannya.
Menurut Didi, kepergian Uun itu memang tidak dibarengi dengan Tjandra yang masih tinggal di kota. Seperti diketahui, seluruh penduduk Bandung yang bermukim di selatan rel kereta api mengungsi ke arah selatan karena rumah tempat tinggalnya mereka bumihanguskan.
Bangunan-bangunan yang berada di utara rel kereta api terlindungi oleh tentara Inggris dan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Sebagian warga keturunan Tionghoa yang tidak mengungsi pun beralih ke arah utara rel.
Dalam buku "Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan", Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, dan Ummy Latifah Widodo menulis hal ini juga yang menjadi masalah di kemudian hari saat penduduk asli Bandung kembali dari pengungsian mereka. Para penduduk itu kembali setelah tinggal di pengungsian sekitar dua tahun lamanya.
Sekretaris Eksekutif Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Frances B. Affandy mengungkapkan hal ini secara tidak langsung 'memicu' konflik antara penduduk pribumi dengan keturunan Tionghoa kala itu. "Karena ada anggapan orang Tionghoa itu merebut atau mengambil tempat tinggal mereka. Selain itu, mereka juga yang memegang perekonomian," terang Frances kepada saya dalam beberapa kesempatan.
Setiap kali dia mengingat kisah cinta kakaknya, Didi seringkali meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Tjandra yang memang menaruh hati pada Uun, setia menanti dan berusaha mencari keluarga Didi setelah pergi meninggalkan Bandung.
Sampai pada suatu hari, sekitar dua tahun setelah mengungsi, keluarga Didi yang bermukim di Majalaya kedatangan seseorang suruhan Tjandra. Mang Pii, kata Didi, datang sembari membawa timbel. Tapi begitu dibuka di dalam timbel yang cukup besar gulungannya itu ada kain pemberian Uun buat Tjandra.
"Di situ seluruh keluarga terharu, karena ternyata Tjandra datang mencari. Kain itu sebagai tanda agar Uun percaya kalau Mang Pii itu disuruh Tjandra. Dari sana saya dan kakak dibawa pindah ke kota duluan. Kami tinggal di tempat Tjandra. Tidak hanya itu, dia juga ternyata menjaga rumah kami selama mengungsi," kata Didi.
Enam bulan setelah itu, seluruh keluarga Didi kembali ke Bandung. Uun dan Tjandra menikah. Namun, kini keduanya sudah meninggal. Uun yang menderita kanker menghadap Sang Pencipta di tahun 1985, dua minggu kemudian Tjandra menyusul.
"Ini bukti untuk menampik anggapan sebagian orang kalau orang Tionghoa itu tidak berkonflik dengan masyarakat pribumi di Bandung setelah Bandung Lautan Api," kata Frances yang juga istri dari Didi.
Masih dari buku "Saya Pilih Mengungsi" disebutkan istilah Bandung Lautan Api sendiri sempat muncul di Harian Suara Merdeka, dua hari setelah masyarakat membakar sendiri kotanya. Atje Bastaman, seorang wartawan muda kala itu menyaksikan pembakaran kota dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pamengpeuk, Garut.
