Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

10.11.09

Bandung dan Sebuah Cerita Masa Kecil

Penulis: Mutaminah
Domisili: Bandung

           Dulu sekali, ayah selalu mengajakku bersepeda mengitari jalanan-jalanan kota. Dan itu adalah saat-saat yang sekarang sangat aku rindukan. Ternyata banyak sekali yang terlalu cepat diubah zaman dari kota ini.

 11 tahun silam, ayah selalu memboncengku di sepeda kuning kesayangannya. Melenggang di antara kendaraan yang lalu lalang, tapi saat itu aku tak pernah khawatir, karena jalanan masih terasa sangat lengang. Udaranya pun sejuk bersahabat, membuatku nyaman meski duduk di boncengan sebuah sepeda tua yang keras. Tapi akan sangat berbeda keadaannya jika aku bandingkan dengan keadaan Bandung saat ini. Berdebu, kusam, dan bising oleh deru mesin kendaraan yang jumlahnya bagaikan bintang di langit, tak terhitung.
 Lagu favoritku saat itu yang selalu menyapaku riuh saat aku berlalu di jalanan, adalah cicit-cicit burung yang hinggap di ranting-ranting pohon yang rapuh. Bagiku, burung-burung itu adalah penyanyi handal yang selalu mampu membuat aku merasa damai. Sampai saat ini pun, aku masih tetap mengidolakan mereka, hanya saja kini nyanyian merdu mereka itu kalah oleh klakson-klakson yang melengking, ban-ban kendaraan yang berdecit, teredam oleh erangan mesin kendaraan. Sekarang aku tak bisa menikmati melodi itu setiap waktu. Kadang jika beruntung, aku bisa mendengar suara mereka sayup-sayup hanya pada pagi hari.
            Sering kami melewati sawah-sawah yang luas, ladang-ladang yang subur, dan kolam-kolam ikan pemancingan. Beberapa kali ayah memetikkan buah ceremai untukku. Meski hanya beberapa biji saja, tapi aku sangat senang karenanya. Tapi lagi-lagi kini semuanya hanya dapat ku kenang saja. Karena banyak dari area sawah dan ladang itu telah menjelma menjadi gedung-gedung tinggi pencakar langit. Gedung-gedung yang sangat angkuh bagiku. Perkantoran, Mall, supermarket, dan entah apa lagi. Nasib pohon ceremai baik hati yang dulu selalu ku nikmati buahnya pun tak kalah tragisnya, sekarang ikut menjadi korban keganasan manusia. Ditebang karena ada pelebaran jalan.
            Kadang kami beristirahat di sebuah pemakaman, dan selalu pemakaman yang sama. Ayah selalu bilang, bahwa suatu saat ayah atau bahkan aku dan seluruh orang yang hidup di dunia ini, akan menempati petak-petak itu, dan kita akan selalu menunggu orang untuk sekedar mengunjungi dan membersihkan makam kita dari rumput-rumput liar. Aku selalu menangis setiap kali ayah menceritakan hal itu kepadaku, aku takut. Ironisnya, sekarang di atas makam-makam itu berdiri perumahan real estate yang di setiap garasinya terparkir mobil-mobil mewah yang harganya selangit. Tak bisa lagi ku lihat petak-petak dari tanah dengan nisan di atasnya, rumah yang amat sangat sederhana, tempat peristirahatan terakhir kita nanti. Tak ada lagi pelajaran yang bisa aku dapatkan dari sana selain kemewahan duniawi.
            Ayah baru mengajakku pulang setelah hari beranjak petang. Beliau tak pernah banyak bicara dalam perjalanan pulang. Beliau membiarkan aku menikmati matahari sore yang indah, seakan-akan tahu, bahwa saat nanti aku tak bisa merasakan pemandangan seindah ini, karena kota ini akan begitu usang terselimuti asap kendaraan yang berpolusi.
Memoriku akan tetap menyimpan hari-hari itu. Yang selalu ku ingat, kota ini dulu begitu rindang, asri dengan pepohonan dan bunga-bunga di setiap sudutnya, indah dan menawan. Tak heran jika dijuluki Kota Kembang. Tapi kini Bandung telah membusuk oleh sampah. Dilihat dari segi manapun, tentu saja itu bukan merupakan sesuatu yang bagus dan dapat dibanggakan.
            17 tahun usiaku ini. Hanya tinggal puing-puing kesombongan yang tersisa dari kota Bandung. Termakan oleh modernisasi yang telah merenggut kisah indah dalam hidupku. Andai waktu dapat ku putar kembali, akan sangat aku nikmati dan aku abadikan, potret siluet masa lalu kota Bandung, tempat tinggalku.

3.10.09

Dunia dari sudut angkot

Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti

Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Blog: ifuu.tumblr.com, anakajaip.multiply.com


Satu kata benda yang bikin saya kangen Bandung : angkot. Ya, angkot. Angkutan kota. Sebuah angkutan publik yang berwujud mobil carry, colt, atau kijang yang ‘dimodifikasi’ interiornya. Standar kapasitas maksimal angkot adalah 16 orang: 3 di depan (termasuk sopir), 7 di kanan, 5 di kiri, dan 1 di ‘kursi artis’ (kursi yang ada di dekat pintu dan duduknya menghadap berlawanan ke arah penumpang lainnya).

Perkenalan saya dengan dunia angkot dimulai saat TK. Waktu itu saya sering diajak mama berkunjung ke rumah oma di Cimahi. Entah kenapa, saya selalu merasa enjoy saat naik angkot. Duduk di pojok dengan jendela yang dibuka setengah. Angin menyapa wajah saya pelan bahkan terasa menampar saat si angkot berlari kencang.

Kemana-mana saya pergi pakai angkot. Tentunya masih harus ditemani oleh orang yang lebih gede. *berhubung saat itu lagi marak penculikan anak kecil*.

Kelas 5 akhir, saya baru dibolehin naik angkot dengan rute yang sedikit jauh sendirian. Waktu itu mau naik kelas 6 dan saya ikut bimbel di sebuah tempat di bilangan purnawarman. Secara sehari-hari sekolah di dekat rumah dengan jalan kaki, “sekolah” di tempat bimbel ini terasa lebih menyenangkan bagi saya karena harus ditempuh dengan angkot. Margahayu-Ledeng tepatnya.

Saat itu naek angkot biru dengan garis kuning ini dari Pasar Sederhana ke Purnawarman hanya 500 perak loh. Mulai kelas 2 SMA sampai sekarang, saya harus bayar 2000 perak dengan jarak dan angkot yang masih sama. Empat kali lipat. Padahal harga BBM sudah turun, tapi tarif angkot yang turut naik tidak ikut turun juga.

Semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya ambil, semakin sering dan variatiflah angkot yang saya tumpangi. Hingga saat kuliah sekarang, meskipun ditempuh dengan bis Damri, sebelum dan sesudahnya pasti saya naik angkot dulu. J

Di dalam angkot, saya bisa bertemu bermacam-macam orang. Anak sekolah dengan seragam ala sinetron, ibu-ibu yang pulang dari pasar, mahasiswa dengan headset yang selalu menempel di kuping, mas-mas kantoran, karyawati yang berdandan menor, nenek-nenek tukang rumpi, wanita muda yang aromanya seperti habis pakai parfum tumpah, remaja tanggung yang cuek merokok, bapak-bapak bertato, pria metroseksual, hingga mbok jamu beserta gendongannya pun ada disini. Benar-benar keberagaman strata.

*****

Bagi saya, angkot tidak hanya berfungsi sebagai angkutan belaka. Lebih dari itu, saya belajar banyak dari yang ngejalaninnya. Ya, sopir angkot. Sopir angkot adalah sosok orang yang bikin saya termotivasi untuk cepat belajar nyetir mobil. Seriously!

Saya suka sekali duduk di depan. Ga untuk ngaca di spion, tapi untuk memperhatikan si mang angkot. Lebih tepatnya, memperhatikan gaya nyetir si mang angkot. Dari mulai dia ngopling, masukin gigi, ngegas perlahan, kopling lagi, mindahin gigi, ngegas yang banyak, kemudian tiba-tiba ngopling dan siap-siap ngerem lalu mengarahkan setir ke kiri saat ada orang yang nyetop angkot di depan sana.

Sehabis orang tadi naik, si mang jalan lagi dengan gaya yang sama. Saat itu dia nyetir sekaligus sambil makan gorengan. Pas di lampu merah, gorengan habis dan dia beli rokok batangan di pedagang asongan. Saat lampu sudah nyala hijau, dia pun nyetir kembali sambil tetap menghisap rokoknya.

Entah kenapa, saya takjub dengan tabiat mayoritas mang-mang angkot yang kaya gini. Bisa-bisanya gitu ya mereka nyetir sambil merokok dan makan, bahkan kadang sambil ngobrol di hape, tapi matanya tetap awas terhadap orang-orang di pinggir jalan yang mau naik. Benar-benar multi tasking!

Saya juga ingin deh seperti itu. Bisa multi tasking di saat yang bersamaan. Soalnya selama ini kalau sedang nyetir, saya harus konsen dengan jalan dan spion kanan kiri. Pernah suatu hari, saya nyetir sambil makan biskuit, eh yang harusnya ngegas malah jadi ngerem mendadak dan bikin mobil-mobil di belakang rame-rame membunyikan klakson.

Namun, satu hal yang kurang saya suka dari mereka para sopir angkot: budaya ngetem! Kalau sedang santai sih oke-oke saja, tapi lain halnya kalau saya sedang sangat terburu-buru. Rasanya ingin jitak kepala si mang kalau dia sudah belagak mau jalan, tapi mundur lagi saat ada penumpang yang naik. Ngetem lagi. Dan begitu lagi. *sigh*

Beragam cara sudah saya lakukan agar si mang ngerti kalo saya lagi buru-buru. Dari menghentak-hentakan kaki, kipas-kipas, pasang muka cemas, berulang kali liat jam, melototin si mang dari spion depan, hingga berani nanya, “Mang, ini masih lama ga sih?! Bisa cepat ga?! Saya terlambat nih!!”

Biasanya, kalau si mang angkot baik hati, dia langsung jalanin angkot, tapi kalau kebetulan dia ‘ndablek’, ya dingin aja gitu. Berasa ga denger dan baru mau jalan kalau semua penumpang sudah ikut ngomelin.

Karena capek dengan masalah kaya gini terus, akhirnya saya harus berangkat lebih awal kalau akan pergi naik angkot. Setengah jam dari waktu biasanya..

Persoalan ngetem ini memang klasik. Yang bikin macet di sebagian besar jalan-jalan di Bandung kan angkot yang ngetem. Apalagi di sekitar terminal, kampus, stasiun, dan pusat perbelanjaan. Mereka bakal tertib kalau ada polisi yang jaga disitu. Klasik sekali.

Ada satu kisah yang sempat saya diceritakan oleh seorang teman. Cerita itu bikin saya terkesan dengan seorang sopir angkot jurusan Caheum-Ledeng yang entah bagaimana wujudnya. Ceritanya, teman saya duduk di depan dan memang hanya dia satu-satunya penumpang. Namun, sopir angkot itu tidak pernah ngetem sekalipun. Sepanjang perjalanan, teman saya ini ngobrol dengannya. Saat teman saya bertanya kenapa si mang angkot ga ngetem, jawabnya: “Rejeki mah dikejar, Jang, bukan ditunggu.” Teman saya manggut-manggut dan angkot pun terus berjalan.

Saat di daerah tamansari, ada seorang bapak-bapak yang menyetop angkot itu sambil bawa beberapa barang. Karena duduk di depan, teman saya tahu arah pembicaraan si bapak dengan si sopir. Rupanya bapak ini mau mencarter angkot ke arah Lembang dan dia bersedia bayar..seratus ribu rupiah!

Wow! Amazing! Memang benar ya, rejeki itu bukan untuk ditunggu. Selama ini, para mang angkot sering berkilah bahwa ngetem untuk kejar setoran. Ah andai saja mereka berpikiran sama dengan sopir yang satu itu..

*****

Terlepas dari kebiasaan menyebalkan para sopir angkot yang suka ngetem sembarangan, saya sering juga kok merasakan kenyamanan dan kepraktisan jika bepergian dengan si mobil umum ini.

Hanya dengan bayar paling mahal 4000 rupiah untuk jarak terjauh, saya bisa duduk bebas sambil lihat apa saja yang tersebar di kanan, kiri, depan, dan belakang angkot. Mobil, motor, bis kota, sepeda, kereta, orang, gedung, jalan, pohon, traffic light, rumah, sekolah, dll. Saya bisa memerhatikan segalanya dari sudut angkot ini.

Berbagai tingkatan status sosial seolah menyatu bersama di medan jalan ini dengan kepentingannya masing-masing. Banyak hal paradoks di luaran sana. Ada pengemis tua yang meminta-minta ke jendela mobil plat merah yang berhenti di stopan, dua orang anak SD yang masing-masing diantar dengan vespa hijau dan altis hitam, mahasiswa yang terlihat membeli koran dari seorang loper, sepasang muda-mudi berjalan bergandengan tangan melintasi gelandangan tua, seorang pria muda perlente yang marah-marah di pinggir jalan kepada seorang sopir angkot karena pantat mobilnya diserempet, seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan balon, bapak tunanetra yang menghentakan tongkatnya perlahan untuk berjalan, dan anak-anak yang mengejar layangan sambil bertelanjang kaki di seberang sebuah mall besar.

*****

Ada beberapa hal menarik yang sempat saya tangkap dalam sebuah ruang bernama angkot. Saya pernah naik angkot Margahayu-Ledeng yang sangat bersih. Tidak ada sampah disana. Bahkan bungkus permen pun tak ada. Saya terkesima. Benar-benar kinclong. Setelah saya duduk dan menghadap pintu angkot, ternyata ada tempat sampah kecil bertenger disana. Tempat sampah itu diikatkan ke gagang pintu dengan semacam tali tambang kecil. Di atasnya tertera kertas bertuliskan : “Buang sampah anda disini” dengan tanda panah menuju ke arah tempat sampah itu.

Di lain waktu, saya naik Kalapa-Ledeng. Angkot hijau biru muda ini penuh sekali. Saat duduk, saya heran kenapa orang sebanyak ini semuanya serius sekali melihat ke depan atas. Oh rupanya ada sebuah ‘pengumuman’ yang digantung di langit-langit angkot. Tulisan bertinta hitam di papan kecil berukuran sekitar kertas A4 yang menerangkan bahwa seluruh penumpang punya hak merokok dimana saja kecuali di angkot itu. Dilarang merokok atau lebih baik turun saja dan cari angkot lain. Wuihh…

Lain cerita dengan angkot Cicaheum-Ciroyom yang terkenal dengan ngetem dan ngebutnya yang luar biasa. Ada satu angkot yang sopirnya doyan ngomong. Bayangkan saja. Semua penumpangnya diajak ngobrol! Baik yang di belakang, maupun saya yang duduk di depan. Awalnya saya malas menanggapi, tapi ternyata sopir ini memang seru kalo ngobrol. Ibu-ibu yang pulang dari pasar saja langsung nyambung saat diajak ngobrol. Setiap ada yang bilang “kiri!”, si sopir menepikan angkot dan selalu bilang, “Turun sini, A/Neng/Bu/Pak? Bentar ya..”, “Hati-hati ya..”, atau sekedar tersenyum saat si penumpang memberikan duit ongkos. Saat saya mau turun dan bayar ongkos pun dia kembali berceloteh, “Oh si neng turun disini. Hati-hati ya neng. Awas nyebrangnya. Terima kasih, neng..”

Tulisan ini dipublikasikan ulang dari sini

28.6.09

Bandungku : dongeng tentang musim gugur dan musim semi

Penulis: Maya Melivyanti
Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Blog: www.dreamofmay.blogspot.com

1993-1999

menyusuri sepanjang jalan sebelah gedung sate yang bertaburan daun-daun coklat sedikit memperlambat degup jantungku yang berderap mars seperti kaki tentara, ini hari pertama ku menjadi murid pindahan di smp yahya bandung. Mengapa banyak sekali pohon disini, mengapa daun – daun begitu indahnya menari? Dimana bioskop? Dimana mall? Seribu pertanyaan yang kukumpulkan dari Surabaya, kota panas , tempat numpang lahirku itu menumpuk di benakku, dan sebentar lagi aku akan memulai sebuah musim baru, musim gugur di Bandung.

Ya..tepat sekali kunamakan kota ini dengan musim gugur nya, begitu papa memberitahu aku dan adikku kalau kita semua akan pindah ke Bandung, aku merasa sekelilingku mendadak suram, tiba – tiba bayangan meninggalkan semua teman-teman dekatku, membuat hati meringis. Apakah aku akan punya teman lagi di belantara jawa barat ini? Mimpi buruk ku menjadi kenyataan, aku akan menjadi murid baru yang berlogat aneh di tengah – tengah teman-teman yang berbahasa sunda.

“gandeng itu apa sih, ngga boleh gandengan? Kenapa semua orang ngomongnya pake teh? Kenapa banyak sekali angkot? Apa itu bala bala? Batagor singkatan apa sih? Di BIP (Bandung Indah Plaza) ada bioskop ngga? Oh yamin itu mie nya pisah ya sama kuahnya?”
hampir seribu pertanyaan kulontarkan dengan jahatnya pada teman baru ku Tessa, dia orang pertama yang menjadi tour guide dadakan ku di kota baru ini. Untung saja tessa begitu sabar dan sangat jelas sekali merinci jawaban – jawaban nya, bahkan sampai memberi contoh-contohnya.

Hari – hari berikutnya kemudian menjadi petualangan penemuan – penemuan baru bagiku, mengukur jarak antara riau dan soekarno hatta dengan menggunakan angkot dan mobil jemputan, pembukaan kantor pos Banda, munculnya FO pertama di graha manggala siliwangi Bandung, mengiringi gugur nya satu per satu surat – surat penyambung hubungan dengan semua teman – teman ku di Surabaya. Tentu aku menangis saat itu, sebagai seorang anak yang berjiwa melankolis dramatis, ahh..sebuah masa hiperbola.

Musim semi ku di bandung berawal dari sebuah senyum dan sapa dari seorang yang bernama Grace, aku selalu ingat adegan itu: Grace datang tergopoh – gopoh dengan tas nya yang besar, sweater gombrong, muka culun (ups) dan badan yang juga besar , sama besarnya denganku (oh senangnya, aku punya teman “senasib” di smp ini, pikirku) dia melihatku beberapa kali, lalu duduk tepat di kursi depan kursiku, lalu dia menoleh beberapa kali dan tersenyum, ramah sekali dan mulai saat itu Grace lah yang membuatku tersenyum kembali dengan tingkahnya yang lucu, lalu membawaku menemukan sahabat demi sahabat: Golda..Dina..Anna.., bunga – bunga yang masih kuncup, lalu kami berbagi tawa, tangis, duri, bahkan menemukan Tuhan bersama - sama.., ah hampir tidak cukup jika diceritakan satu per satu..saksi nya adalah jalan riau..BIP..candrawulan, base camp nya adalah rumah om Anna yang terletak tepat di depan rumah bersalin , yang sekarang salah satu kumpulan FO di jalan riau..

Beberapa tahun setelah kami lulus SMP, ketika aku, Dina dan Golda menginjakkan kaki kembali di kamar Anna yang telah berubah menjadi ruang ganti pakaian, kami tertawa kecil, dan ingin sekali meng sms Anna yang sudah hijrah ke Belanda.

Dan kini aku tidak mengenal lagi musim semi itu..sepertinya berlalu begitu saja dengan perginya bunga – bunga satu per satu dari kota yang padat ini, semakin padat, untung aku ada di ujung gunung..masih cukup sepi, tapi tidak se semi dulu.


23.6.09

SUBANG : ANTARA INGATAN DAN KENYATAAN

Penulis: Bismantara
Domisili: Subang, Jawa Barat
Blog:
www.bisma.wordpress.com

…Dahulu…

Kau adalah sebuah ingatan tentang kehangatan. Tempat berkumpulnya saudara-saudara yang terserak di kota-kota nan jauh. Sebuah oase dimana kita bisa tertawa dan berbincang bersama. Di hari nan fitri, setiap tahun sekali. Dengan berbekal keikhlasan dan keinginan tuk maaf memaafkan, kita semua bertemu. Sebuah momen penting yang kukenang dalam aliran waktu.

Engkau adalah sebuah ranah imajiner dalam labirin ingatanku. Sebuah lokasi geografis seluas 205.176,95 hektar (6,34% dari luas propinsi Jawa Barat). Sebuah wilayah yang berbatas dengan Bandung, Purwakarta, Kerawang, Indramayu, Sumedang dan Laut Jawa.

…Kini…

Kau adalah sebuah kota yang kudiami. Di dalammu, aku bernafas, bekerja dan belajar. Tentang hidup, tentang segala hal. Termasuk yang baik dan buruk. Nama-mu mencuat saat salah seorang (bekas) artis, Primus Yustisio mencalonkan diri sebagai nahkodamu (baca: bupati). Dari dirimu, lahir seorang maestro yoyo yang membentuk komunitas yoyo se-Indonesia, Oke Rosgani. Juga terdapat Komunitas Blogger Subang yang digerakkan oleh kang Yahdi, Annas dan Oki Rosgani (saudara kembarnya Oke, hehe..). Dan banyak lagi orang-orang hebat yang sepertinya memang kurang terekspos oleh media. Merekalah “local heroes” yang menjadi panutan dari komunitasnya masing-masing.

Sisi kelam-mu pun ada. Permasalahan korupsi (yang sudah menjadi epidemic nasional, mengalahkan virus H1N1), pergaulan bebas (yang mengekor dari permasalahan urban kota-kota besar) juga merupakan wajah yang harus dicermati. Jika boleh sedikit merefleksikan semuanya, mungkin benar bahwa poverty is the root of all evil. Kemiskinan adalah biang dari segala kejahatan. Karena kemiskinan, orang tega mengambil apa yang bukan hak-nya. Dengan alasan yang sama, kehormatan dan harga diri bisa digadaikan. Di tengah-tengah sikap masyarakat yang makin permisif dan godaan konsumerisme yang semakin marak, dapatkah masyarakat Subang bertahan?

Jaman berganti, permasalahan akan terus ada. Dan kami bergumul dengannya, mencoba bertahan dengan segenap keyakinan masing-masing. Permasalahan yang kami hadapi tentu berbeda dengan daerah lain. Karenanya, mari berbagi semangat untuk mencoba bertahan. Dan merubahnya. Dalam skala kecil sekalipun. Ayo!

17.6.09

Pulang

Penulis: Anggi Hafiz Al Hakam
Domisili: Cimahi, Jawa Barat

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu” Kla Project, Yogyakarta


Setiap mau pulang ke Cimahi via Bandung, memang benar lirik lagu diatas. Ada setangkup haru dalam rindu yang berkelebat. Aku dapat melihatnya berkejaran sepanjang jalan tol yang membentang dari Jakarta-Cikampek, turun naiknya ruas Cipularang, hingga datarnya ruas Padalarang-Cileunyi yang berujung di Pintu Tol Pasir Koja. Perasaan itu begitu megah terasa. Perasaan itu kian terbawa dalam riuh rendah mesin Hino Primajasa yang terus mengerang sepanjang perjalanan. Ada sesuatu yang kembali.

Aku selalu datang di Bandung setiap Jum’at malam berada di waktu dhuhanya. Malam masih perawan dan belum terlalu tinggi. Tapi malam tetap saja masih gelap. Aku lanjutkan perjalanan pulang ini dengan menaiki angkot (angkutan kota) Cimahi – Term. Leuwi Panjang yang sudah mengantri di pantat Hino Primajasa. Menunggu kedatanganku bersama penumpang lainnya.

Ketika penumpang angkot sudah penuh, perjalanan kembali dilanjutkan melintasi perempatan Pasir Koja yang selalu terendam air setinggi 40-50 cm setiap kali hujan besar turun disitu. Kemudian, belok kiri ke arah Holis atau Bunderan Jl. Jenderal Sudirman. Setibanya di Bunderan, aku harus belok kiri ke arah Pal Tiga atau Cimahi. Kalau kau lurus dari situ kau menuju Jalan Elang, dimana terdapat Terminal Elang (terminal bayangan) tempat berkumpulnya bis kota DAMRI jalur 1 Cicaheum – Cibeureum AC/Ekonomi dan jalur 6 Elang – Jatinangor Patas via Tol/via Cibiru.

Yang menarik, jalur itu bagaikan jalan raya di Amerika sana. Jalan Elang yang membentang tak lebih dari satu kilometer itu memiliki jalur yang berlawanan dengan jalur di Indonesia pada umumnya. Yang biasa di kanan, ada di kiri. Begitupun sebaliknya. Itulah yang aku suka. Aku kenal sekali daerah itu. Kurang lebih 4 tahun aku selalu menaiki bis kota favorit, DAMRI jalur 6, Elang – Jatinangor via Tol, satu-satunya angkutan antar kota, antar kecamatan untuk menuju kampus Unpad dibelahan bumi Jatinangor.

Aku akan mengajakmu jalan-jalan kesana, tapi aku harus menyelesaikan ceritaku dulu. Setelah belok kiri ke arah Pal 3 itu akan banyak angkutan kau temui. Macam-macam warnanya. Aku bisa turun disitu dan ganti angkot. Pilihannya ada dua, Si Hijau Cijerah –Sederhana atau Si Merah Elang-Melong Asih. Keduanya sama saja dari segi ongkosnya. Namun, Si Hijau mengambil rute yang kelewat panjang karena harus melewati pusat kota Cijerah. Tapi, aku lebih menyukai naik si Hijau ini walau harus sedikit lebih lama menahan rindu. Justru karena aku ingin menikmati kembali saat-saat dulu waktu masih sekolah. Kisah perjalananku tidak lepas dari Si Hijau ini.

Sesampainya di Blok 4, aku berhenti sejenak di gerobak pedagang Bubur Kacang Hijau dan Ketan Hitam khas Madura. Sudah sekitar 2 tahun tukang dagang itu ada disitu. Disitu juga aku dan Bapak pernah bicara empat mata tentang sebuah hal. Aku sudah lupa tentang hal itu. Namun, aku tidak akan pernah lupa sensasi rasanya. Disajikan dalam mangkuk kecil dengan tambahan kuah santan yang manis seharga Rp. 2000. Lumayan untuk menambal perut apalagi kalau cuaca Bandung dan sekitarnya sedang diselimuti malam yang dingin.

Melanjutkan perjalanan, ada beberapa alternatif yang bisa digunakan. Ada ojek, becak, atau angkot. Tapi karena sudah malam yang ada tinggal ojek atau becak. Aku tidak pernah memilih satu dari mereka. Aku lebih baik jalan kaki saja. Lagipula tidak terlalu jauh. Aku bisa rasakan denyut perubahan itu sepanjang perjalanan melalui gerbang Pharmindo. Tanah lapang itu kini telah jadi ruko yang berjajar. Ada apotik, studio band, salon, restoran, warnet, dan beberapa masih kosong tidak terisi. Begitupun komplek real estate yang berada didepannya. Satu dari penduduknya membuka warung jajan sehingga komplek itu terasa lebih accessible. Bayangkan, sekitar3-4 tahun yang lalu pengelola komplek menerapkan system keamanan yang sangat ketat. Bahkan, untuk sekedar bermain sepeda pun tidak boleh. Apakah gerangan yang telah terjadi dengan masyarakat disana? Apakah ketakutan dan privasi telah menjadi suatu hal yang mahal?.

Berjalan kaki tentu akan membuat perutku semakin lapar. Energi yang dihasilkan dari semangkuk kecil bubur kacang hijau pun rasanya belum cukup. Namun, aku selalu sabar untuk terus berjalan melewati gang sempit jalan pintas satu-satunya. Tak lama kemudian, terpampanglah “Jl. Agastya VI Cimahi 40534” dengan message tambahan dari sponsor: “Hati-hati banyak anak kecil”. Pesan tambahan itu seperti sudah menjadi budaya bagi penghuni sebuah komplek perumahan. Tujuannya adalah memperingatkan pengendara agar berhati-hati. Tapi, pernahkah terpikir olehmu bila suatu saat pesan itu bisa saja diganti jadi begini: “Anak-anak dilarang main disini.” Untuk komplek perumahan dengan system blok dan jalan yang lebarnya hanya 5 meter itu aku rasa itu tidak akan pernah terjadi. Kecuali, dengan satu syarat bahwa penghuni jalan tersebut semua adalah kakek-kakek dan nenek-nenek.

Terus berjalan, hingga terlihat pintu pagar berwarna orange dengan pohon mangga yang menutupi tiang listrik. Itulah rumahku. Dari jauh kau bisa dengar suara pompa akuarium yang tetap menggema dalam keheningan malam. Setelah kau membuka pagar, mungkin juga kau akan temui seekor kucing yang akan langsung melompat dari tidurnya dan menunggu di depan pintu masuk. Oh ya, bila kau temui cahaya terang di sekitar teras rumahku yang tipe 36 itu kau akan jumpai Arwana Irian memberi salam selamat datang padamu. Tentu tidak dengan gaya yang seperti Tugu Selamat Datang yang menyambutmu di ibukota. Atau bahkan mengikuti gaya Tukul di Bukan Empat Mata. Ia hanya akan melirik padamu saja.

Aku mengucap salam dan membuka pintu masuk. Kucing tadi mendahuluiku sambil berteriak didalam. Ahh… lega hati ini bisa bertemu kembali dengan Ibu, Bapak, dan Adikku yang satu-satunya itu. Ada satu lagi kebiasaan yang belum bisa kutinggalkan. Sehabis cium tangan, aku selalu membuka tudung saji meja makan dan melihat ada menu apa. Hari ini, nampaknya tidak sesuai harapanku. Hanya ada sayur saja. Tapi itu sudah cukup bagiku. Aku tidak pernah berharap Ibu akan memasak menu spesial di hari kedatanganku. Aku sudah tahu. Esok pagi, Ibu akan membuatkan tumis capcay kesukaanku untuk sarapan.

Kelapa Gading, Jakarta. 26 Mei 2009.

12.5.09

Tasikmalaya Heuring Ku Toko

Penulis: Dwi Joko Widiyanto
Domisili: Bandung, Jawa Barat
blog: www.dwijoko.wordpress.com

Jalan-jalan yang lebar dan rapi. Orang-orang yang sibuk, lalu lintas dan kendaraan yang ramai. Toko dan pusat-pusat perbelanjaan yang padat pembeli. Gedung-gedung pusat pemerintahan dan pelayanan publik yang megah.

Begitulah rata-rata pemandangan yang akan Anda jumpai jika memasuki sebuah kawasan kota. Anda tak urung akan membayangkan sebuah kota yang hidup. Lalu lintas perdagangan berjalan lancar. Semua orang bisa membeli barang dan punya peluang untuk berwirausaha. Anak-anak bisa sekolah dan pemerintah bisa melayani semua kebutuhan warga kota.

Bayangan semacam itu juga yang selama ini menjadi dorongan kuat bagi orang desa untuk hijrah ke kota. Harapan bahwa kota menjanjikan penghasilan dan penghidupan yang lebih baik, telah mendorong urbanisasi besar-besaran sepanjang tahun.

Tetapi dengan sedikit saja menjelajah ruang kota lebih ke dalam, kita akan disuguhi pemandangan yang kontras. Pemukiman penduduk yang padat dengan jalan sempit. Got dan selokan dengan sanitasi yang buruk. Di pemukiman ini juga, biasanya, kita dapat dengan mudah memperoleh bukti-bukti kehidupan kota yang tak selalu ramah. Masih banyak orang yang tidak bisa sekolah, biaya berobat yang mahal, dan pelayanan publik yang tak terjangkau.

Di wilayah agak ke pinggir, Anda akan menemukan pemandangan yang lain lagi. Jalan-jalan baru yang lebar dengan lahan pesawahan di sisinya. Lahan-lahan pertanian yang tak terurus karena sudah dijual pemiliknya dan tengah menunggu ditanami beton.

Daftar masalah wilayah pinggir ini biasanya tak jauh dari petani-petani yang mulai kehilangan lahan garapan. Gaya hidup dan pergaulan anak-anak muda yang berubah. Kota sudah dekat tapi tak gampang memperoleh pekerjaan.

Ragam Masalah Kota Tasikmalaya

Pemandangan seperti itu juga yang akan kita jumpai jika Anda berkunjung ke Kota Tasikmalaya hari-hari ini. Kota baru yang berdiri pada 2001, hasil pemekaran Kabupaten Tasikmalaya ini kini sibuk berbenah. Lahan-lahan pertanian dibuka untuk dijadikan tempat pemukiman, kawasan industri, dan pusat-pusat distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Pusat-pusat perdagangan dan ekonomi dibangun di banyak tempat.

Tanggal 27 April 2008, sebuah surat edaran Walikota Tasikmalaya menempel di tembok-tembok di sekitar Dadaha, salah satu pusat keramaian publik di Tasikmalaya. Isinya meminta pedagang kaki lima angkat kaki dari kawasan ini. Ini cuma salah satu penanda, bahwa ada yang harus minggir dari hingar bingar pembangunan kota.

”Tasik ayeuna mah heurin ku toko” (Tasik sekarang penuh sesak dengan toko). Begitu ungkapan sejumlah warga kota. Perubahan status menjadi kota, dan visi Kota Tasikmalaya menjadi pusat perdagangan dan industri termaju di Priangan Timur, telah menumbuhkan perubahan luar biasa dalam tata ruang kota. Banyak warga kota menjadikan hunian mereka sebagai rumah toko dengan laju yang cenderung tidak terkendali. Ini belum ditambah dengan hadirnya pusat-pusat perdagangan yang dibangun oleh investor dari luar.

Kecepatan perubahan tata guna lahan itu sayangnya tidak dibarengi dengan kebijakan tata ruang kota yang komprehensif. Tak jelas mana kawasan perkantoran, perdagangan, pemukiman, dan fasilitas umum. Banyak warga yang merasakan hawa kota tak lagi sejuk seperti dulu. Lalu lintas yang padat, angkutan umum yang macet, dan pepohonan pinggir jalan yang banyak di tebang memang menghiasi pemandangan kota Tasik di banyak tempat. ”Saya sekarang malas keluar rumah”, begitu cerita warga kota yang lain.

Tasikmalaya juga masih menyimpan sejumlah masalah sosial-ekonomi yang kritis. Soal kemiskinan dan pengangguran, misalnya. Laporan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) – Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) pada 2008, mencatat angka kemiskinan di 5 kecamatan hingga saat ini sebanyak 103.134 jiwa atau 27.541 keluarga. Jumlah sebanyak itu tersebar di Kecamatan Tawang sebanyak 2.309 KK, Kecamatan Tamansari 5.983 KK, Kecamatan Indihiang 10.539 KK, Kecamatan Cipedes 5.130 KK dan Kecamatan Cihideung 3.580 KK, dengan jumlah keseluruhan 27.541.

Sepanjang 2007 dan 2008 malah terjadi lonjakan jumlah keluarga miskin. Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dede Sudrajat mencatat angka kemiskinan pada 2007 sebanyak 19.250 dan meningkat menjadi 39.448 KK pada tahun 2008 (Seputar Indonesia, 26 Maret 2008). Permintaan beras untuk keluarga miskin (raskin) di Kota Tasikmalaya sepanjang dua tahun terakhir meningkat hingga 100% dari 2.343,12 ton pada tahun 2007 menjadi 5.719,96 ton pada tahun 2008.

Kualitas pelayanan publik juga dipandang kurang memuaskan. Studi yang dilakukan Lingkar Studi Peradaban (LSP) Tasikmalaya menemukan rendahnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah kota sepanjang tahun 2007 (Pikiran Rakyat, 16 April 2008) . Ketidakpuasan tersebut terutama ditujukan kepada pelayanan administrasi kependudukan, perijinan, dan pelayanan kesehatan. Disamping prosedur pemerolehan pelayanan yang cenderung berbelit-belit, juga akses dan ketidakramahan perlakuan pelayan publik.

Koran Radar Tasikmalaya, 18 Desember 2007 melaporkan kasus gizi buruk di Kelurahan Cilamajang Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Pada 21 Desember 2007 seorang ibu melahirkan di sebuah gudang kediamannya lantaran tidak punya uang. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat sepanjang Januari hingga Desember 2007, terdapat 600 bayi bergizi buruk dari 60.000 bayi yang lahir.

Perubahan kota rupanya juga memberi warna lain bagi kehidupan sosial kaum muda Tasikmalaya. Pada 2005, Kota Tasikmalaya menempati urutan pertama dalam kasus narkoba di Jawa Barat setelah pada tahun sebelumnya berada di urutan ketiga di bawah Bandung dan Bogor. Pada tahun itu, Polresta Tasikmalaya mengungkap 107 kasus narkoba. Bahkan dalam operasi anti narkoba selama 25 hari terjaring 10 kasus (Tempo Interaktif, 25 Desember 2005).

Kota yang Gamang

Pemekaran dan pembentukan kota-kota baru tampaknya akan terus terjadi sebagai implikasi kebijakan otonomi daerah. Sebagian karena alasan substantif untuk memperpendek jarak pemerintah dan masyarakat dan mempertinggi kinerja pelayanan publik. Sebagian daerah dimekarkan karena motivasi politik menumbuhkan pusat-pusat kekuasaan baru.

Berbagai dokumen yang mendasari kebijakan pembentukan kota menyebutkan Tasikmalaya layak menjadi kota baru. Salah satu alasannya adalah kuatnya potensi ekonomi lokal yang khas, yakni berkembangnya sentra-sentra industri kerajinan rakyat di berbagai wilayah.

Tetapi potensi ini yang cenderung luput dari perhatian. Pembangunan kota lebih memihak kepada kepentingan industri berskala besar, industri yang nota bene tidak memiliki basis sosial-budaya yang kuat di kalangan masyarakat Tasikmalaya.

Seperti juga banyak kota lain yang sedang berubah, hari-hari ini Tasikmalaya menampakkan diri sebagai kota berwajah gamang. Kota yang belum sepenuhnya yakin bahwa industri besar dan jasa perdagangan bisa mendongkrak perbaikan kualitas hidup warganya. Tapi juga tak sepenuhnya siap untuk meninggalkan akar tradisinya yang sungguh kuat. ***

Tulisan ini di publikasikan ulang dari blog penulis. Sumber tautan klik di sini.

27.4.09

Diarel (Diary Sisi Rel)

Penulis: Agus Bebeng
Domisili: Bandung, Jawa Barat
http://www.facebook.com/profile.php?id=1163328835#/profile.php?id=1163328835


pada suatu waktu.
senja tua kuning telanjang terpuruk di ujung rel yang mengkilat diterpa cahaya senja.
ada gelisah yang menggeliat masuk berkeliaran, menelisik bilik-bilik jantung yang berlubang diterobos polutan yang semakin

tajam.
batas ingatan yang telah kugunting kembali menyatu menjadi puzle yang menampilkan gambar hitam putih; dramatik.
lebih dramatik daripada acara termehek-mehek.

masih jelas kentara dalam monitor ingatan.
saat itu aku sering berlari sepanjang rel menerobos pekat asap kereta tua yang melenguh seperti kerbau tua yang lelah dipecut

anak gembala. tentunya, demi mimpi mengejar pendidikan yang murah meriah dan bakti agung kepada ema dan bapak.
kami selalu saja berlari kencang, ingin mengadu kecepatan hasil dari pembakaran tenaga mie instan dengan tenaga diesel tua

dari Jerman itu. namun tetap saja ular besi itu memiliki kecepatan yang tinggi. mie rebus campur telur goreng dan teh manis

tak mampu meredam kecepatan sang kereta.

padahal dalam khayalanku saat itu aku tengah memerankan Zorro yang membebaskan tawanan dari kaum penindas dengan menunggang

si Tornado yang cepat seperti panah. namun kenyataannya tetap saja kami kalah berlari. tak ayal kekalahan kami lampiaskan

dengan melempari kereta itu dengan batu hamparan dampalan rel. dari sekian puluh kali melempar batu, kadang terdengar sumpah

serapah dari penumpang yang terkena lemparan kami. kami hanya bisa tertawa lepas.

saat ini aku kembali merindukan masa itu.
masa dimana kami hanya berlari pagi dan siang hari. bermain di stasiun tua yang kumuh diisi pedagang asongan, dan gembel yang

meramu kaki dengan lem kayu agar nampak terkelupas kulitnya. atau mengganggu anjing galak milik seorang tionghoa yang

rumahnya bersebelahan dengan stasiun.

bagiku dan kami saat itu, sekitaran stasiun merupakan taman bermain yang tak pernah habis memanjakan kami. aku masih ingat

rumah berpagar tinggi, dengan kawat yang mengitari ujung besinya. rumah megah itu memiliki bel rumah yang terletak di ujung

pintu. kadang kami sering memainkan bel itu sambil berlari membuat sang pemilik rumah yang sama galaknya dengan sang anjing

mencak-mencak berteriak tak jelas. selama seminggu kami melakukan itu pada jam pulang yang sama.

sampai suatu ketika salah satu temanku. mimijit bel itu dan langsung berteriak keras. kami terkejut luarbiasa.
"Anjing nyetrum!" teriaknya sambil menjilat ujung jari.
kami tak percaya.
lalu salah satu teman memijitnya lagi.
benar memang begitulah adanya.
dari pintu tampak sang pemilik tersenyum puas.
sejak saat itu kami tak lagi berani memijit bel rumah tionghoa itu.

stasiun kereta memang tak pernah sepi.
bila malam beganti penghuni stasiun pun berubah.
entah dari kedalaman gua mana mereka datang.
tubuh mereka selalu serong kiri kanan seperti pasukan upacara bendera. di tangan mereka plastik hitam, berbungkus botol

minuman selalu nampak seperti para penjaga kerajaan yang membawa tumbak. sedang mulut tak pernah menghembuskan nafas naga

yang demikian kental. untunglah saat itu belum ada konversi dari minyak ke gas. kalau ada dapat dipastikan banyak gas

meledak. satu lagi, jangan ditanya tentang bahasa yang keluar dari mulut mereka. pasti lebih kotor dari stasiun tua itu.

belum ditambah dengan para perempuan malam yang sering mangkal di jalan dekat rel.

pernah suatu ketika ada pemabuk dan pelacur yang tertabrak di rel.
menurut warga sekitar korban ditutupi telinganya oleh jurig bonge (hantu tuli yang menutup telinga orang). selama seminggu

stasiun itu sepi dari para pemabuk karena konon hantu pemabuk dan pelacur sering mengganggu orang dengan shiluete yang

temaram dan sempoyongan.

entahlah saat itu aku pun demikian takut, tapi kalau dipikir sekarang masa mungkin waktu sadar alkohol demikian lama. atau

jangan-jangan karena preman di stasiun sering menumpahkan arak ke rel untuk berbagi dengan hantu. entahlah. namun yang kuingat sampai sekarang mereka selalu saja mabuk di pinggir rel dengan wajah sangar dan menakutkan.

meski kini aku tak lagi mengencingi stasiun aku masih ingat betul dengan mainan yang sering kami buat saat itu.
sebentar.
sebelum menjelaskan mainan kami. aku jelaskan terlebih dahulu ritus kami kencing.
saat itu di tvri ada acara yang sangat aku senangi. acaranya bernama flora fauna. di acara itu sering kamu melihat anjing hutan yang mengencingi daerahnya. menurut sang narator itu adalah cara menguasai ruang dan memberi tanda pada anjing lain untuk tidak memasuki wilayahnya. maka kami pun sering mengencingi stasiun itu. ternyata memang berhasil mengencingi stasiun itu membuat masinis marah dan penjaga rel melempar kami dengan batu. karena kami memberik bau yang sangat kental di stasiun.

sekarang kembali ke masalah mainan kami yang paling kreatif sedunia.
saat itu, karena kami begitu miskin alias tidak mampu membeli mainan terpaksa kami membuat sendiri mainan kami. salah satu bahan mainan kami adalah paku. biasanya kami sering menggilas paku beton ukuran besar yang biasa kami beli atau curi dari orang yang membangun rumah. paku beton yang sudah tergilas itu biasa menjadi lempengan besi tipis yang sudah membentuk pisau. tinggalah kami mencari gerinda untuk menajamkan tiap sisi yang langsung berubah menjadi pisau. atau dengan usaha sedikit menjadi bekas sapu kami tinggal menyimpan besi di ujungnya dan jadilah tumbak yang bisa kami jual.


begitulah kelakuan kami di sepanjang rel kereta.
mungkin besok aku akan bercerita tentang mainan anak-anak kota yang tak berduit.

14.4.09

BANDUNG: SEKELUMIT PETA KEHIDUPAN Sebuah catatan kecil

Penulis: Resti Nurfaidah, S.S.
Domisili: Bandung
www.nengresti_tea.blogspot.com
neneng_resti@yahoo.co.id





Bagiku, Bandung merupakan sebuah hanparan sebuah peta yang memiliki wilayah yang berwarna-warni. Peta tersebut juga disertai dengan tanda jalanan, lembah, dan pegunungan. Kawasan yang berwarna warni bukan merupakan tanda yang membatasi luas wilayahnya itu. Tanda jalanan juga bukan merupakan tanda jalanan yang menyambung dari ujung wilayah yang satu ke wilayah yang lain. Lembah dan pegunungan juga bukan merupakan petunjuk bahwa kontur tanah dalam peta memiliki ketinggian yang berbeda dari permukaan laut. Bukan! Bukan sama sekali! Peta dalam pandanganku adalah pertanda bahwa aku telah melampaui beberapa wilayah yang berbeda dalam setiap tahapan perkembanganku. Ya, dalam peta itu jelas tertera wilayah yang pernah kudiami selama sembilan bulan lamanya di dalam kandungan; wilayah yang pernah kudiami selama masa batita dan balita; wilayah yang kudiami selama masa sekolah, wilayah yang kudiami selama masa perkuliahan; wilayah yang kudiami selama masa kesendirianku; dan wilayah yang kudiami selama masa perkawinanku (wilayah yang belum terukur perbatasannya).

Ya, Bandung benar-benar merupakan sebuah peta yang mampu berbicara denganku, dengan sejarah hidupku. Peta yang tidak mungkin kuhapus jejak keburukannya dan tidak mungkin kutambah jejak kebaikannya. Peta itu senantiasa terpampang di dinding imajinasiku yang tidak akan pernah terlihat oleh siapapun. Namun, peta itu hanya mampu menghembuskan nostalgi yang menyenangkan atau menyedihkan bagi lingkungan sekitar yang pernah sama-sama terlibat dalam penyusunan peta itu.

Peta itu begitu melekat dalam kehidupanku, fisik maupun psikis. Berkaitan dengan fisik, peta itu senantiasa menawarkan lahan untuk menggambarkan jejak setiap hal yang kulakukan dan kualami sendiri. Peta itu selalu berbicara kepadaku bahwa aku masih memiliki lahan yang luas yang bisa kugambari dan kutandai selama hayat di kandung badan. Berkaitan dengan psikis, peta itu sangat berjasa sebagai ‘rememberance’ atas hal-hal yang pernah kulakukan dalam suka dan duka. Peta itu akan berbicara tentang dosa dan amalan yang pernah kutorehkan pada permukaannya. Selain itu, peta tersebut befungsi sebagai penanda tinggi-rendahnya volume alur kehidupanku. Gunung dan lembah dalam petaku menjadi saksi bisu atas frekuensi dosa dan amalanku. Jalanan panjang dalam peta itu merupakan pertanda bahwa sampai saat ini interval masa hidupku telah berjalan lebih dari seperempat abad dengan segala lika-liku, tanjakan dan turunan yang tiada putusnya. Pertemuan alur sungai merupakan pertanda bahwa selama kepingan hidup telah bertaut selama lebih dari tiga dasawarsa.Ya, kepingan kehidupanku yang sarat makna.

Bandung, laksana sebuah ukiran abadi yang tertera dalam batinku. Sebuah ukiran raksasa yang belum terselesaikan selama sukma masih bertahan dalam raga. Laksana lukisan panjang di sekeliling Candi Borobudur, ukiran itu pun mampu menyampaikan makna dan cerita dari setiap kepingan kisah hidupku.
Bandung sangat melekat dalam batinku, meskipun aku masih memiliki kampung halaman yang hanya bisa menjejakkan kenangan yang dalam hanya kepada kedua orangtuaku. Kampung halaman hanya bisa kurindukan pada momen-momen tertentu saja, seperti lebaran atau peristiwa-peristiwa penting yang mengharuskan kehadiran diriku.

Bandung laksana sebuah biduk raksasa yang menghanyutkan diriku di sebuah samudera mahaluas dan tiada berujung. Begitu besarnya biduk itu hingga mampu menawanku dan tidak membiarkan aku untuk membagi rasa cintaku pada biduk yang lain. Betapa dalam makna Bandung itu untukku. Betapa ketatnya ia memeluk diriku hingga tidak membiarkanku lepas sedikit pun. Selain mahabesar, Bandung pun seolah bertindak sangat angkuh hingga tidak membiarkan diriku berselingkuh dengan pangeran yang lain. Bandung telah berperanan sebagai sebuah magnet bagiku yang berdaya cengkeram dengan kokoh. Ya, Bandung telah mengikatku erat-erat dengan manis. Bandung telah menjerat erat-erat jiwa dan ragakku. Begitu banyak hal yang ditawarkan sang biduk kepadaku, hingga aku tidak sempat melayangkan mata dan minat pada pasar yang lain. Bandung tidak pernah membiarkanku lahir di biduk dan samudera yang lain. Bandung tidak pernah membiarkanku menimba ilmu di kota lain, Ia berjuang keras menyediakan ribuan sarana pendidikan dengan faslitas yang beragam, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang sangat fantastis. Tentu saja, fasilitas yang ditawarkan itu harus dibayar sesuai dengan nilai nominal yang ditawarkan sarana pendidikan itu. Bandung tidak pernah membiarkan aku mengais rezeki di kota tetangga di muka bumi pertiwi. Bandung tidak pernah membiarkanku menggandeng pasangan hidup di luar daerah kekuasaannya. Bandung tidak membiarkan keturunanku menyembul di tempat lain. Bandung tidak membiarkan keturunanku untuk menimba ilmu di luar batas wilayahnya. Ia begitu mengikatku erat-erat hingga aku tidak mampu bergerak. Namun begitu, terkadang aku dilepaskan serdadunya jika ada hal penting yang mengharuskan kehadiranku. Aku diizinkannya untuk eksis di beberapa acara, pelatihan pada berbagai instansi, seminar, kongres, workshop, atau berbagai acara lainnya termasuk acara keluarga atau instansi. Dengan demikian, aku masih bisa menghirup udara bebas di seantero tempat di belahan nusantara ini.

Selain menjadi pengikatku, Bandung juga tidak kalah keras upayanya untuk menebarkan mantra dan medan magnet berkekuatan tinggi pada makhluk di berbagai penghujung dunia. Bandung yang dikenal sebagai kota bidadari menjadi kota tujuan utama pembelajaran seni selain Yogyakarta dan Bali. Bandung juga menjadi tempat serbuan peminat studi,, baik dari luar kota maupun mancanegara. Bandung menjadi kota tujuan utama belanja para “buyer” dari belahan penjuru dunia. Pasar Baru seakan menjadi jantung pusat belanja di kota kembang ini. Outlet menjadi biji mata trend mode bagi kawula muda di nusantara dan mancanegara. Bagi para food hunter, Bandung memanjakan perut kita dengan jutaan ragam pangan yang jenisnya mampu menembus hingga ke ujung dunia. Bandung memanjakan nusantara dengan luasnya lahan pekerjaan hingga mampu mematahkan semangat pulang kampung para pelajar di tempat ini.

Ya, sedemikian besarnya jasa Bandung sebagai penebar mantera dan medan magnet di nusantara ini. Namun, upayanya itu ia lakukan dengan pengorbanan yang sangat besar. Rusaknya alam di kota ini dan sekitarnya adalah akibat yang salah satunya harus ditanggung dirinya. Namun, Bandung tidak ubahnya seorang autis yang keras kepala yang tak peduli lagi dengan dirinya dan orang lain. Ia tidak kapok untuk mengepulkan mantera dan medan magnetnya ke berbagai penjuru meskipun harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya yang kini ringkih digerus penyakit tidak ia hiraukan. Tulangnya yang mulai keropos tetap ia gunakan untuk menopang tubuhnya yang semakin tertimbun lemak usang. Wajahnya yang sudah berhiaskan gurat keriput di sana-sini, tetap ia hadapkan pada para pecintanya meskipun untuk itu ia harus menutupi kekurangannya itu dengan olesan bedak yang sangat tebal.
Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tertatih-tatih berjalan bertumpu pada sebuah tongkat mendaki jalan terjal yang naik dan turun dengan curam. Tidak jarang ia terjatuh, terpeleset, terguling, terluka, tergerus ingatannya, dan terkapar …. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak peduli jika langkahnya semakin terseok-seok menyusuri jalan berliku dengan bertumpu pada sebilah tongkat. Tidak jarang ia harus menghentikan langkahnya karena deraan sakit yang luar biasa di setiap inci tubuhnya. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia didera gangguan jiwa yang cukup akut melihat para penghuni yang berbuat seenaknya. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tak sanggup membagi warisannya dengan adil karena hartanya dirampas makhluk tak beriman. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak mampu lagi menyusui.

Padahal,anak-anaknya belum lagi pantas ia sapih. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak lagi memiliki cadangan kolagen untuk membuat kenyal setiap mili kulitnya. Padahal, ia dituntut harus berpenampilan sebagai seorang bidadari yang sangat cantik jelita. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak mampu menahan beban sanggul di belakang kepalanya. Padahal, ia dituntut untuk tampil bak seorang pengantin tradisional yang dikenal dengan sanggul bersunggar-nya.

Tak ada alat kosmetik yang mampu menutup wajah tuanya. Tak ada obat-obatan yang mampu memulihkan penyakitnya. Tak ada mode yang sanggup mengubah penampilannya. Tak ada sepatu yang berdaya menutupi kaki ringkihnya. Tak ada perapian yang dapat menghangatkannya. Tak ada pendingin yang bisa mengompresnya. Tak ada makanan dan minuman yang terbukti mengenyangkannya dan menuntaskan rasa dahaganya.
Ufff, Bandung memang tua … seiring menuanya diriku. Yaahhh, Bandung tidak ubahnya sebuah peta yang rapuh karena disetang binatang pengerat. Mmmmhhhh, Bandung tidak lebih dari seorang nenek tua yang tengah menanti ajalnya.****

13.4.09

MAJA, Beribu Ruang Bermainku (Bagian 2)

Ditulis oleh Ana P. Dewiyana
Domisili: Maja, Majalengka (1977-1996), Bandung (1996- ...)
http://anapdewiyana.multiply.com
anapdewiyana77@gmail.com


Harta Karun yang Tak Terpendam

Waktu kecil, bagiku Maja, Majalengka seperti tempat penyimpanan harta karun yang berkilauan. Menggodaku untuk selalu berlarian, berteriak, bernyanyi, menari, dan tertawa dalam gelimangan permainan, bahan-bahan untuk bermain, ruang bermain, dan teman-teman bermain. Semua itu seperti tak ada habis-habisnya menawarkan kegembiraan.

Di tempat tersebut, aku dan teman-temanku dapat bebas bermain sepuasnya tanpa khawatir memikirkan untuk meminta uang pada orangtua guna membeli alat-alat untuk bermain atau minta dibelikan alat-alat permainannya. Sebab, semua bahan-bahan untuk bermain sudah tersedia di halaman rumah, pinggir jalan, kebun, sawah, kolam, sungai, hutan, pekuburan dan tempat lainnya. Hanya perlu sedikit sentuhan kreativitas untuk mengubah bahan-bahan itu jadi alat bermain sesuai yang kami butuhkan saat itu.

Tidak sulit untuk menciptakan berbagai kreasi alat permainan yang kami perlukan, sebab aku dan teman-temanku akan saling berbagi keterampilan. Keterampilan itu biasanya didapat dari warisan turun temurun, satu generasi ke generasi berikutnya.

Berikut permainan-permainan yang sering kami mainkan:

1. Pasar-pasaran (Sate-satean (penjual sate), babasaoan (penjual baso), minyak-minyakan (penjual minyak goreng), surabi-surabian (penjual surabi). Semua bahan-bahannya dapat kami temukan di kebun dan halaman rumah. Alat tukarnnya berupa uang-uangan daun jambu atau bekas bungkus permen)
2. Sorodot Gaplok (Alat permainannya batu berbentuk pipih)
3. Engklek (Engklek Mati Beli, Engklek Sepuluh (terdiri dari sepuluh kotak), Engklek Tiga Belas (terdiri dari tiga belas kotak), Engklek Payung (bentuknya seperti payung). Alat bermainnya genting dengan diameter 4-6 cm)
4. Entrengan (Alat permainannya: batu-batu kecil sebesar satu buku jari orang dewasa [kerikil])
5. Kotokan (Alat permainannya batu-batu: kecil sebesar satu buku jari orang dewasa [kerikil])
6. Lelempengan (Alat permainannya: batu-batu kecil [kerikil] dan potongan genting sebesar satu buku jari orang dewasa)
7. Dam-daman (Alat permainannya: batu-batu kecil [kerikil] dan potongan genting sebesar satu buku jari orang dewasa masing-masing sebanyak 16 butir)
8. Kasti (Alat permainannya: kayu dan bola kasti)
9. Boy-boyan
10. Sepak bola (Alat permainannya: bolanya pakai kantong plastik-plastik bekas yang dibentuk bundar)
11. Mobil-mobilan (Bahan-bahan dari bambu, bola plastik yang tidak terpakai, kulit jeruk bali, kayu)
12. Sekolah-sekolahan
13. Perang-perangan (Pistol atau senapannya dari kayu, bambu, tulang daun pisang)
14. Tampolong-tampolong
Lagu:
tampolong-tampolong
kumis kucing kumis merak
salah sahiji bray
15. Paciwit-ciwit Lutung
16. Pur Pur Sadapur
17. Naik Kereta Api
18. Oray-orayan (Ular-ularan)
19. Kemping (Tendanya dari karung terigu atau dari kain samping)
20. Kucing-kucingan
21. Bebentengan
22. Hayam-Heulang (Ayam-Elang)
23. Ambil-ambilan
24. Papangantenan
25. Ayun-ayunan (Ayunannnya dibuat dari ban bekas mobil/kain samping/karung terigu)
26. Ucing Sumput (Petak Umpet)
27. Rumah-rumahan (Bahan-bahan: pecahan kaca, pecahan marmer, kardus, tanah, batu, genting, kertas)
28. Anjang-anjangan
29. Drama
30. Boneka-bonekaan
31. Bikin kolam ikan (Bahan-bahan: bambu, plastik, air, dan impun)
32. Kincir (Bahan-bahannya dari daun nangka walanda [sirsak])
33. Wayang
34. Babajuan (Bahan-bahan: kain samping/sarung/kertas/kain perca)
35. Renang tempatnya di Ciminggir, Ciawi, dan Cilongkrang
36. Bola Voli
37. Badminton (Raketnya pakai kayu/piring seng, koknya dari plastik yang dibentuk bundar)
38. Tari tempurung (Bahan-bahan: batok kelapa yang berbentuk setengah lingkaran yang diberi rumbai-rumbai)
39. Drumband (Alat permainan: dengan baskom dan bilah bambu)
40. Lompat Tali: Simseu, Loncat Tinggi, Spintrong
41. Parengkep-rengkep Jengkol
42. Gagarudaan
43. Tebak-tebakan
44. Aja Pentrang Pentrung
45. Bikin patung dari taneuh porang (clay/tanah liat)
46. Bikin perahu: origami
47. Ngala papatong (berburu capung) (Alat penangkap capung dibuat dari plastik yang diikatkan ke bilah bambu)
48. Encrak
49. Congklak
50. Gatrik
Lagu:
Gatrik ala gatrik
Naga sari ri
Riwen nawen-nawen rokok bentul tul
Tulen nalen-nalen
Jadi enten ten
Tena bako tena
Bako sedeng deng
Dengklak dengklik menjadi kodok
51. Dongeng
52. Kolase dari jerami dan bulir padi atau biji saga
53. Tulup
54. Takol Kendi
55. Balap Kerupuk
56. Pacici Ccici Putri
Lagu:
Pacici cici putri
Serelek kembang celempung
Oleh-oleh mamanisan
Kalau mau kembang apa?
Ingin kembang ... (tanpa dilagukan)
Bu Nyai Bu Nyai si ...
Ingin kembang ...
57. Pepeletokan (Bahan-bahan: baun kembang kertas)
58. Teteleponan (Bahan-bahan: kaleng bekas susu cair dan benang untuk layangan)
59. Ucing Tidur
60. Menggambar di batu (Bahan-bahan: batu dan kapur berwarna)

11.4.09

Bandung masa kini = kombinasi antara vampire dan zombie

Foto dan tulisan: Wiku Baskoro
Domisili: Bandung, Jawab Barat
http://wikupedia.co.cc
http://wikupedia.multiply.com



bercerita tentang kota tempat saya tinggal, saya pasti akan memilih bercerita tentang bandung, kota kelahiran dan kota tempat tinggal saya seumur hidup, sampai sekarang.


jika membaca nama saya, pasti orang akan menyangka saya berasal dari suku jawa, wiku baskoro, begitu bunyi nama saya. tidak salah memang karena ayah dan ibu saya jawa tulen, dan dirumah, mereka masih sering bercakap dengan bahasa daerah asal mereka, jawa tengah.

namun jika mendengar saya berbicara tanpa mengetahui nama saya, pasti orang langsung berkata : “asli sunda kang?” dan saya akan menjawab dengan jawaban paradoks: gelengan kepala dan ucapan mengiyakan.


saya lebih menyukai disebut sebagai penduduk asli bandung, ketimbang sunda yang merujuk pada jawab barat, bukan karena masalah rasial tetapi lebih karena masalah pengetahuan. kalau ditanya tentang jawa barat, paling saya hanya bisa mengucap “sumuhun”(iya dalam bahasa halus sunda), tanpa bisa menjelaskan apa-apa tentang asal-usul jawa barat, tokoh-tokohnya, cerita-cerita rakyatnya dan berbagai macam kebudayaan masyarakatnya.

saya lebih menyukai disebut sebagai orang bandung, karena bagi saya bandung adalah wilayah jawa barat yang punya kebudayaan sendiri, yang setiadaknya pernah saya kenal dekat.

dari awal terbentuknya daerah yang nantinya akan jadi kota bandung ini, sudah bisa dijelaskan bahwa bandung tidak memiliki budaya asli seperti budaya khas jawa barat dalam wayang golek misalnya, atau daerah tertentu jawa barat seperti cirebon dengan tari topeng cirebon.


bandung yang awalnya dikuasai oleh orang belanda memang sangat kental budaya campur aduknya, ini bisa terlihat sampai sekarang. dahulu kala modernesisasi ala belanda masuk dalam wilayah hutan yang masih 'kampung'. kota bandung dan penduduknya kemudian saling berbaur dan menciptakan budayanya sendiri. bangunan khas belanda yang merespons tanah yang berbukit sebagai salah satunya, atau jalan dago yang tebentang lurus sebagai jalur utama menuju gudang kopi di daerah jalan merdeka adalah contoh lain, disamping budaya khas jawa barat seperti logat berucap dan penamaan-penamaan jalan yang khas.


sampai kini bandung tetap menjadi kota dengan budaya campur aduk, kini bandung adalah campuran berbagai budaya, antara budaya jakarta yang metropolis, budaya jawa barat yang sunda pisan, antara budaya pendatang dari sumatra sampai budaya pendatang dari papua, bercampur menjadi budaya baru, budaya bandung.

bagi saya, tidak aneh jika banyak orang yang berkreasi di bandung dengan hebatnya, selain wilyahnya yang nyaman (sampai tahun 2004-an) sampai dengan masyarakatnya yang permisif dengan segala kreatifitas yang dimiliki masyarakatnya, baik itu yang asli jawa barat, yang campuran maupun yang berasal dari luar jawa barat.


ketika wilayah jawa barat lain yang sering kali bersifat kolot atas budaya sunda, bandung berkembang menjadi kota dengan seribu budaya, yang pada satu sisi ini menjadi positif namun di sisi lain bisa menjadi negatif, bagi saya itu hal biasa, tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka semua hal positif tentu akan menyimpan hal negatif, vice viersa.


bandung yang nyaman bagi saya hanya sampai pada medio sekitar tahun 2004-2005, tiga tahun ke belakang bandung berubah menjadi kombinasi antara vampire dan zombie iyang menyedot semua darah masyarakatnya untuk menjadi zombie-zombie khas modernitas. sebelum abad zombie ini masyarakat bandung terkenal dengan gang punten-nya, yang disatu sisi mengidikasikan bahwa itu daerah preman, namun di sisi lain menyiratkan bahwa orang bandung itu sopan-sopan, kalau lewat kerumunan mereka akan bilang punten, dan kalau dijalan akan menyapa siapapun entah kenal atau tidak.


sebelum masa zombie, kenyamanan bandung bisa jadi tidak ada duanya, jalanan yang sejuk karena pohoh belum banyak yang ditebang, komplek perumahan yang belum menjamur, mall yang masih terbatas, kendaraan yang masih dalam jumlah yang masuk akal, serta orang-orang yang masih bisa senyum dan tertawa meskin besok tidak tau mau makan apa.


kini pohon di bandung sangat banyak yang ditebang, entah karena alasan sudah tua, atau memang pemkot bandung yang gak becus memelihara dan merevitalisasi pohon, tapi yang jelas, pohon-pohon di daerah yang tekenal dengan kesejukannya seperti jalan aceh, serta daerah gasibu sudah banyak yang ditebang. coba mampir di depan kantor perhutanan di daerah gasibu, coba hitung berapa banyak pohon yang ditebang di depan kantor itu, dan coba bandingkan dengan umur pohon penggantinya (jika ada). saya jamin pasti bakal geleng-geleng kapala.


kota bandung yang penuh potensi ekonomi juga ternyata bisa menjadi pisau yang malah mematikan warga asli bandung, seperti saya. potensi wisata belanja yang diekspolitasi berlebihan malah menjadikan kota yang saya cintai dengan sangat ini menjadi amburadul. kesalahan bisa jadi milik pemerintah kota, tapi kalangan bisnis juga mungkin harus diberondong pertanyaaan, seperti mengapa membuat pusat belanja di belokan jalan riau (sebelah riau 11) dan membuat macet persimpangan di depannya karena pengaturan parkir yang gak beres. atau mungkin maysrakat kreatif a.k.a distro juga mesti diberi pertanyaan pertangungjawaban seperti, kenapa harus membuka distro di sepanjang jalan trunojoyo sehingga mengakibatkan jalur itu harus dijadikan satu arah karena kalau tidak macetnya bisa sampai sepanjang jalan riau. belum selesai dengan masalah macet dan konsumerisme ala factory outlet, kini kaum konunitas yang menjuliki mereka kaum indie malah ikut-ikutan juga membuat bandung hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi.

saya hidup di bandung dari tahun 1981, ketika derah margahayu raya masih bayak sawah, tepat ketika galungung meletus. saya sd, smp, kuliah dan bekerja di kota bandung, ketika jalan tikus parakan saat saat masih sangat sejuk dan sangat nyaman di lewati karena banyak sawah dan belum ada proyek-proyek rumah kluster yang menjamur.


saya hidup di jaman ketika pengendara motor tidak awut-awutan seperti sekarang dan angkot masih ramah pada pengemudi jalan lain. saya hidup ketika bangunan sarinah di jalan braga masih memajang produk dengan etalasenya yang khas, wayang-wayang serta beragam produk budaya indah yang begitu merasuk membuat imaji akan jalan braga sebagai jalan 'budaya'.


saya hidup ketika taman kota tidak dipagari dan digembok, ketika air bersih masih bisa didapat dengan sedikit bersabar menunggu pomap air bukan membeli di tukang air keliling. saya hidup ketika batagor masih murah dan rasanya begitu khas rakyat, bukan dengan harga tinggi dan rasa yang sangat kapital.


saya hidup ketika komunitas begitu komunal tanpa klaim-klaimkhas pemilik modal yang serakah yang ingin mendapatkan legitimasi atas produk budaya yang mereka hasilkan, padahal tak ada yang bisa meng-klaim memiliki kebudayaan publik selain publik itu sendiri. saya hidup ketika label independen itu adalah tatanan budaya paling keren sebelum kini berbuah menjadi mahkluk menjijikkan yang sangat opurtunis.


saya tidak anti kapital, bagaimana mungkin, saya seorang pedagang, setiap pedagang pasti membutuhkan dan mencari kapital (dalam arti modal atau uang), tapi bukan berarti saya menjadi begitu tunduk pada kapital. masih banyak alternatif yang bisa ditempuh untuk menyinergikan antara komunitas dan modal. saya menyebutnya ekonomi berbasis komunitas.


kini menjadi sangat sulit bagi saya untuk mengikuti perkembangan kota bandung yang mesti saya sebut dengan istilah perkembangan konsumerisme yang kebablasan ini. bandung kini tidak lagi dipandang sebagai daerah bersejarah yang merekam bagaimana masa sejarah bisa dilihat dan diteliti dari cerita dan makna bangunan-bangunannya yang sangat cantik, nama-mana jalanya yang unik serta berbagai budaya yang ada. Bandung, bagi saya, kini hanya dipandang sebagai objek kapaital yang mesti diperah terus-menerus samapi menunggu ia (bandung) kembali tenggelam dan menjadi danau purba kembali.


terus terang, rasa cinta saya pada kota bandung tidak akan pernah punah, namun ditengah himpitan kemajuan yang salah kaprah ini, saya harus mulai berpikir untuk mencari tempat idaman lain. meski saya tau dengan pasti: tidak ada yang bisa menggantikan kota bandung.

Dari Sebuah Tempat Bernama Gunung Bohong

Penulis: Wiwi Isnaeni
Domisili: Cimahi, Jawa Barat
http://www.facebook.com/people/Wiwi-Isnaini/1622281830

Tempat ini benar-benar ada, meskipun namanya Gunung Bohong. Sebuah segitiga kecil dalam peta Bandung, sebuah titik kecil dalam peta Jawa Barat dan sudah tak tampak bila kamu membuka peta Indonesia apalagi lewat google's earth. Aku adalah salah satu penduduknya yang sejak lahir tinggal disini. Di sebuah titik yang tak terlihat.

Sampai hari ini, aku malu sekali bila harus menyebutkan alamat rumahku, tapi kalau tidak aku sebutkan, pasti tukang becak tidak akan bisa mengantarkanku pulang. Jika aku harus menyebutkan alamat lengkapku secara panjang lebar seperti ini, jalan Panembakan, Kampung Sukasari, Desa Padasuka yang mau ke Pondok Dustira setelah Warung Contong dekat jalan kereta api, maka tukang becak akan menjawab
” Oh Gunung Bohong, bilang dong dari tadi, kan beres” ” seribu aja” ( Ini ongkos becak disaat kamu belum lahir).

Tidak pernah ada yang tahu kenapa namanya Gunung Bohong, bahkan kakek-kakek tertuapun yang masih ada di kampungku pasti menggeleng-gelengkan kepalanya kalau ditanya kenapa kampung kami bernama Sukasari apalagi kalau ditanya asal-usul nama Gunung Bohong.

Aku merasakan betapa tidak enaknya orang mengaitkan nama tempat tinggal dengan sikap yang kita miliki atau perbuatan yang kita lakukan. Pernah sekali waktu aku bercerita pada temanku di sekolah tentang sebuah foto yang dibawa sepupuku dari Jakarta, Sepupuku seorang prajurit angkatan laut, Ia membawakan gambar yang tak pernah kulihat sebelumnya, gambar seekor ikan berkaki manusia yang terdampar di pinggir pantai, ketika kuceritakan pada teman-temanku, mereka langsung menuduhku berbohong, memang pasti banyak yang tidak akan percaya ada ikan berkaki manusia tapi aku janjikan besok hari aku akan perlihatkan fotonya.

Sepulang sekolah aku pun langsung kerumah uwaku dan ternyata sepupuku sudah kembali ke Jakarta, begitu pula foto aneh yang tadinya mau aku pinjam.. Ah, terlambat pikirku. Besok aku harus menerima tertawaan teman-temanku besok dan benar saja, ” Tuh kan udah dibilang pasti bohong, mana ada ikan berkaki manusia, ada-ada saja kamu dasar orang Gunung Bohong, bohongnya segunung!”

Selanjutnya adalah hari-hari yang berat ketika aku harus menyampaikan sesuatu, teman-temanku selalu curiga kalau-kalau perkataanku bohong. Padahal aku bukan orang yang suka berbohong, kadang-kadang kita bicara apa adanya namun apa yang akan dibicarakan harus kita pikirkan akibatnya. Kalau tadi pagi aku bilang makan nasi goreng, pasti mudah sekali untuk dipercaya meskipun sebenarnya tadi pagi aku tidak sarapan, tapi mengatakan sesuatu seperti ikan berkaki manusia meskipun kita benar-benar melihat gambarnya, maka terlalu bersusah payah mengatakan bahwa itu benar dan jadi hal yang sia-sia.

Ada hal lain yang aku yakini bertahun-tahun bahwa itu benar adalah tentang ulat berteriak, nenekku pernah bercerita ketika ia masih sangat-sangat kecil, ia masuk ke hutan dan ia mendengar sebuah jeritan tinggi yang dikiranya suara monyet atau burung. Ternyata setelah didekati, suara itu berasal dari seekor ulat sebesar lengan yang sedang membuka mulutnya dan mengeluarkan suara melengking seakan berteriak. Aku sungguh terpukau dengan kisah itu meskipun disaat kuceritakan kembali pada temanku ia tertawa terbahak-bahak atau lebih tepatnya prihatin dan menyarankanku agar lebih cermat membaca ensiklopedi dan nonton Discovery Channel untuk memikirkan kembali tentang keberadaan ulat yang bersuara dan berteriak. Ia juga mengatakan bahwa nenekku pastinya seorang Ventriloquist yang handal.

Sebuah kebohongan terkadang baru disadari setelah bertahun-tahun lamanya. Banyak sekali alasan dibalik kenapa seseorang berbohong. Aku adalah anak kecil yang sangat-sangat menjengkelkan, bagiku sendiri dan bagi orang lain, namun nenekku sayang padaku, karena kupikir, aku menerima cinta yang tidak kurang dari cinta yang diterima orang lain, terbukti ketika selama hampir tiga tahun aku tinggal bersama nenek, ia selalu peduli padaku. Karena aku sering bermain sendiri jauh hingga ke sungai yang tak pernah boleh aku sebrangi atau masuk ke tengah kebun karet yang jauh dan gelap. Terpaksa nenekku bercerita tentang ulat yang bersuara untuk membuatku takut dan tidak lagi main ke tempat yang jauh tanpa ditemani dan aku percaya karena nenekku yang bicara.

Gunung Bohong bagiku adalah tempat yang selalu aku rindukan, seburuk apapun kesan yang ditimbulkan dari namanya. Tidak jarang orang penasaran bertanya ”apakah itu artinya tidak ada gunung?”
” Tentu saja ada”
”Apa mungkin dulunya pernah menghilang?”
”Nggak tahu juga”
”Atau mungkin penduduknya tukang bohong ya?”. Pertanyaan ketiga tentunya paling berat untuk dijawab, meskipun perlu waktu lama untuk membuktikan bahwa banyak dari penduduk Gunung Bohong yang hidupnya berhasil karena kejujurannya.
Harus aku catat dengan huruf besar bahwa bohong bukan perbuatan yang baik karena bohong artinya tidak jujur, menutupi kebenaran dan tidak disukai.

Disadari atau tidak banyak sekali nama daerah yang terdengar tidak enak ditelinga, bahkan membuat warganya malu menyebut alamat rumahnya sama seperti aku karena takut dikaitkan dengan apa yang ada pada diriku. Bayangkanlah sebuah nama seperti ” Legok Hangseur yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah sebuah daerah cekungan semacam lembah yang berbau pesing. Kampung kacepet yang artinya kampung terjepit, entah apanya yang terjepit. Satu lagi daerah yang aku tahu adalah Kandang Babi yang katanya dulu ketika Belanda masih menduduki Indonesia, Cimahi adalah pusat kemiliteran dan ada seorang pengusaha Cina yang mempunyai peternakan babi untuk memasok kebutuhan daging para tentara Belanda dan kaum Tionghoa, selanjutnya tempat ini diidentifikasi oleh orang yang akan menuju dan kembali dari daerah itu sebagai Kandang Babi, meskipun bekas-bekas kandang babi itu tak tampak sama sekali. Kandang Babi adalah daerah yang berdampingan dengan Gunung Bohong. Siapa yang mau mengatakan rumahnya di kandang babi? Ada apa gerangan dengan leluhur kami yang menamakan daerah dengan nama yang menggelikan bahkan memalukan?

Tulisan ini di posting ulang dari note Wiwi Isnaeni di Facebook

8.4.09

Maja, Beribu Ruang Bermainku (Bagian 1)

Ditulis oleh Ana P. Dewiyana
Domisili: Maja, Majalengka (1977-1996), Bandung (1996- ...)
http://anapdewiyana.multiply.com
anapdewiyana77@gmail.com


berlatar:
gunung-gunung menjulang
liukan sungai-sungai berbatu
lajur jalan setapak
undakan pesawahan
rumpun bambu
pohon-pohon jambu
jalanan beraspal

dinaungi:
sinar mentari
cahaya purnama
lengkungan bulan sabit
kerlip gemintang
awan yang berarak
hembusan angin
rintik dan riuh hujan
pucatnya kabut
segenggam tanah hitam

di sana:
kaki-kaki kecil menggores rupa dalam beribu permainan


Ini tentang tempat yang kutingalkan sejak 13 tahun lalu (1996), Maja, Majalengka. Sesekali, atau tepatnya hampir sekali atau dua kali setahun saja, aku datang ke sana. Tentunya saat Lebaran atau hari-hari ”dadakan”. Kota kecil ini tempat bersemayam abadi bagi orang-orang yang paling kucintai dan segala cerita yang mengukir lebih dari separuh usia kehidupanku. Saat ini, tak ada lagi yang bisa kubawa serta. Tertinggal dalam bulir-bulir kenangan.

Jika aku rindu, kadang hanya kusimpan dalam pikiran. Sekarang, yang bisa memanggilku ke sana untuk berlama-lama hanya berziarah, niatan menuliskan kisahnya, atau mendaki gunung Ciremai bersama keponakan-keponakanku, tuk mewujudkan impianku saat sering kupandangi gunung itu dari jendela dapur di rumah ibuku. Ah, rumah itu tak lagi berpenghuni. Pemiliknya berpindah ke rumah yang berhiaskan pusara menyusul Bapak yang sudah terlebih dahulu berpuluh tahun silam.


TAHUN 80-AN

Jalan Aspal Depan Rumah, Ruang Multifungsi
Hingga usiaku 8 tahun, aku pikir letak rumah ibuku di blok Sabtu sangat ”strategis”. Sebab, depan rumah kami ada jalan aspal yang ”multifungsi”. Fungsi utama tentu saja sebagai tempat melajunya kendaraan pribadi dan umum, juga tempat berjalan kaki. Perharinya, mobil yang melintas di sana dapat dihitung jari. Itu pun dengan kecepatan yang lambat. Jalanan terasa sepi.

Namun, dari terbit fajar hingga jam 09:00 WIB, jalan itu menjadi pasar sekaligus terminal. Suasana pun berubah ramai. Bahkan pada Selasa dan Jumat, suasana ramainya jadi tiga kali lipat karena dua hari itu dinobatkan menjadi hari pasar.

Selain itu, ada fungsi lainnya yang terasa unik saat senja tiba hingga lembayung di langit memancarkan warna merah menyala. Jalanan itu kembali ramai dipenuhi anak-anak yang bermain bersama dari beragam usia, baik laki-laki maupun perempuan. Sepanjang jalan dari arah Selatan hingga arah Utara, terlihat beberapa kelompak bermain yang berbeda. Ada yang bermain bola, sorodot gaplok, loncat tinggi, layangan, bola voli, badminton, atau kucing-kucingan.

Sementara anak-anak kecil bermain, tampak di depan rumah atau pinggir jalan, ibu-ibunya atau kakak-kakaknya yang sudah besar mengawasi mereka sambil asyik ngerumpi, menyirami tanaman, atau pun menyuapi balitanya.

Beribu Ruang Bermain
Waktu itu, jika hari minggu tiba, secara tak terikrarkan, dijadikan hari bermain bebas seharian bagiku dan puluhan teman-temanku. Tapi, tempat bermain kami kali ini tidak lagi di jalan aspal. Pilihannya cukup beragam, ada halaman rumah, pohon jambu, pohon kopi, halaman mushola, kebun-kebun, kolam-kolam, sawah, sungai-sungai, lapangan voli, lapangan sepak bola, dam, gang gang menuju kebun, ladang, gang-gang rumah, dan hutan kecil.

Setiap minggunya, kami bermain di berbagai tempat yang berlainan. Tentu saja, tidak harus dijadwalkan berhari-hari sebelumnya. Kesepakatan muncul bisa berlaku saat ide muncul kapan saja untuk bermain di mana saja. Sekalipun harus bermain dalam lumpur di kolam yang sedang ”dibedahkeun” untuk mencari impun (ikan kecil) atau perang-perangan dengan saling melempar lumpur. (Besambung)

Cinta di Bandung Lautan Api

Tulisan Oleh Adi Marsiela
Domisili: Bandung
http://marsiela.multiply.com

Email: colenakbandung@yahoo.com

Didi David Affandy (72 tahun) masih ingat betul pengalamannya, 63 tahun silam saat meninggalkan Kota Bandung. Waktu itu usianya masih sembilan tahun. Dia tengah ngabuburit bersama teman-temannya sembari bermain kelereng di dekat rumahnya, Jalan Melong Kidul.

Belum lagi waktu berbuka tiba, Didi harus menyudahi permainannya. Dia dibawa oleh ayahnya, Didi Sukardi pergi keluar Bandung. Ibunya, Iti Sutiah hanya ingat untuk menggendong anaknya yang masih berusia lima bulan dan membawa nasi yang belum lagi masak. Bersama kakak perempuannya, Didi kecil pun berjalan ke arah Bandung bagian selatan sembari menangis. "Kelereng saya masih tertinggal satu," ujar dia.

Sebelum pergi, Didi ingat ayahnya sempat membakar dahulu rumah mereka. Tetangga-tetangga yang lain juga membakar rumahnya sendiri. Perintah untuk membakar rumah itu datang dari mulut ke mulut.

Hari itu, tanggal 24 Maret 1946. Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia, Kolonel Nasution memutuskan untuk mundur bersama rakyat dari Kota Bandung. Keputusan ini diambil setelah ada ultimatum dari Inggris agar pejuang keluar dari kota. Meski sempat ada pertentangan, akhirnya disepakati pejuang mundur, tetapi tidak akan menyerahkan Bandung dalam keadaan utuh.

Belum mencapai lima kilometer Didi berjalan, dia sempat menengok ke belakang dan melihat terangnya Bandung kala itu. "Sangat indah kalau tidak ingat itu dibakar," kenang dia.

Tidak hanya untuk Didi, peristiwa itu membawa kenangan indah juga buat kakak perempuannya, Uun Ratnaningsih.

Jauh sebelum, Uun dan keluarganya memutuskan untuk meninggalkan kota, perempuan ini sudah menaruh perhatian khusus terhadap atasannya di rumah makan Panca Warna.

Sebagai tanda perhatiannya, Uun memberi selembar kain pada Khoe Tjandra, sang atasan. Agar selalu teringat pada dambaan hatinya, Khoe yang bukan merupakan warga pribumi ini sengaja memasang kain itu di dinding rumah makannya.

Menurut Didi, kepergian Uun itu memang tidak dibarengi dengan Tjandra yang masih tinggal di kota. Seperti diketahui, seluruh penduduk Bandung yang bermukim di selatan rel kereta api mengungsi ke arah selatan karena rumah tempat tinggalnya mereka bumihanguskan.

Bangunan-bangunan yang berada di utara rel kereta api terlindungi oleh tentara Inggris dan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Sebagian warga keturunan Tionghoa yang tidak mengungsi pun beralih ke arah utara rel.

Dalam buku "Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan", Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, dan Ummy Latifah Widodo menulis hal ini juga yang menjadi masalah di kemudian hari saat penduduk asli Bandung kembali dari pengungsian mereka. Para penduduk itu kembali setelah tinggal di pengungsian sekitar dua tahun lamanya.

Sekretaris Eksekutif Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Frances B. Affandy mengungkapkan hal ini secara tidak langsung 'memicu' konflik antara penduduk pribumi dengan keturunan Tionghoa kala itu. "Karena ada anggapan orang Tionghoa itu merebut atau mengambil tempat tinggal mereka. Selain itu, mereka juga yang memegang perekonomian," terang Frances kepada saya dalam beberapa kesempatan.

Setiap kali dia mengingat kisah cinta kakaknya, Didi seringkali meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Tjandra yang memang menaruh hati pada Uun, setia menanti dan berusaha mencari keluarga Didi setelah pergi meninggalkan Bandung.

Sampai pada suatu hari, sekitar dua tahun setelah mengungsi, keluarga Didi yang bermukim di Majalaya kedatangan seseorang suruhan Tjandra. Mang Pii, kata Didi, datang sembari membawa timbel. Tapi begitu dibuka di dalam timbel yang cukup besar gulungannya itu ada kain pemberian Uun buat Tjandra.

"Di situ seluruh keluarga terharu, karena ternyata Tjandra datang mencari. Kain itu sebagai tanda agar Uun percaya kalau Mang Pii itu disuruh Tjandra. Dari sana saya dan kakak dibawa pindah ke kota duluan. Kami tinggal di tempat Tjandra. Tidak hanya itu, dia juga ternyata menjaga rumah kami selama mengungsi," kata Didi.

Enam bulan setelah itu, seluruh keluarga Didi kembali ke Bandung. Uun dan Tjandra menikah. Namun, kini keduanya sudah meninggal. Uun yang menderita kanker menghadap Sang Pencipta di tahun 1985, dua minggu kemudian Tjandra menyusul.

"Ini bukti untuk menampik anggapan sebagian orang kalau orang Tionghoa itu tidak berkonflik dengan masyarakat pribumi di Bandung setelah Bandung Lautan Api," kata Frances yang juga istri dari Didi.

Masih dari buku "Saya Pilih Mengungsi" disebutkan istilah Bandung Lautan Api sendiri sempat muncul di Harian Suara Merdeka, dua hari setelah masyarakat membakar sendiri kotanya. Atje Bastaman, seorang wartawan muda kala itu menyaksikan pembakaran kota dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pamengpeuk, Garut.

Setibanya dia di Tasikmalaya, Atje segera menulis berita dan memberi judul "Bandung Jadi Lautan Api", namun karena kurangnya ruang di media tempatnya menulis, maka judul itu dipotong menjadi "Bandung Lautan Api". [Adi Marsiela]

Tulisan ini dimuat ulang dari blog Adi Marsiela, 31 Maret 2009
Tautan

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails