Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

10.11.09

Bandung dan Sebuah Cerita Masa Kecil

Penulis: Mutaminah
Domisili: Bandung

           Dulu sekali, ayah selalu mengajakku bersepeda mengitari jalanan-jalanan kota. Dan itu adalah saat-saat yang sekarang sangat aku rindukan. Ternyata banyak sekali yang terlalu cepat diubah zaman dari kota ini.

 11 tahun silam, ayah selalu memboncengku di sepeda kuning kesayangannya. Melenggang di antara kendaraan yang lalu lalang, tapi saat itu aku tak pernah khawatir, karena jalanan masih terasa sangat lengang. Udaranya pun sejuk bersahabat, membuatku nyaman meski duduk di boncengan sebuah sepeda tua yang keras. Tapi akan sangat berbeda keadaannya jika aku bandingkan dengan keadaan Bandung saat ini. Berdebu, kusam, dan bising oleh deru mesin kendaraan yang jumlahnya bagaikan bintang di langit, tak terhitung.
 Lagu favoritku saat itu yang selalu menyapaku riuh saat aku berlalu di jalanan, adalah cicit-cicit burung yang hinggap di ranting-ranting pohon yang rapuh. Bagiku, burung-burung itu adalah penyanyi handal yang selalu mampu membuat aku merasa damai. Sampai saat ini pun, aku masih tetap mengidolakan mereka, hanya saja kini nyanyian merdu mereka itu kalah oleh klakson-klakson yang melengking, ban-ban kendaraan yang berdecit, teredam oleh erangan mesin kendaraan. Sekarang aku tak bisa menikmati melodi itu setiap waktu. Kadang jika beruntung, aku bisa mendengar suara mereka sayup-sayup hanya pada pagi hari.
            Sering kami melewati sawah-sawah yang luas, ladang-ladang yang subur, dan kolam-kolam ikan pemancingan. Beberapa kali ayah memetikkan buah ceremai untukku. Meski hanya beberapa biji saja, tapi aku sangat senang karenanya. Tapi lagi-lagi kini semuanya hanya dapat ku kenang saja. Karena banyak dari area sawah dan ladang itu telah menjelma menjadi gedung-gedung tinggi pencakar langit. Gedung-gedung yang sangat angkuh bagiku. Perkantoran, Mall, supermarket, dan entah apa lagi. Nasib pohon ceremai baik hati yang dulu selalu ku nikmati buahnya pun tak kalah tragisnya, sekarang ikut menjadi korban keganasan manusia. Ditebang karena ada pelebaran jalan.
            Kadang kami beristirahat di sebuah pemakaman, dan selalu pemakaman yang sama. Ayah selalu bilang, bahwa suatu saat ayah atau bahkan aku dan seluruh orang yang hidup di dunia ini, akan menempati petak-petak itu, dan kita akan selalu menunggu orang untuk sekedar mengunjungi dan membersihkan makam kita dari rumput-rumput liar. Aku selalu menangis setiap kali ayah menceritakan hal itu kepadaku, aku takut. Ironisnya, sekarang di atas makam-makam itu berdiri perumahan real estate yang di setiap garasinya terparkir mobil-mobil mewah yang harganya selangit. Tak bisa lagi ku lihat petak-petak dari tanah dengan nisan di atasnya, rumah yang amat sangat sederhana, tempat peristirahatan terakhir kita nanti. Tak ada lagi pelajaran yang bisa aku dapatkan dari sana selain kemewahan duniawi.
            Ayah baru mengajakku pulang setelah hari beranjak petang. Beliau tak pernah banyak bicara dalam perjalanan pulang. Beliau membiarkan aku menikmati matahari sore yang indah, seakan-akan tahu, bahwa saat nanti aku tak bisa merasakan pemandangan seindah ini, karena kota ini akan begitu usang terselimuti asap kendaraan yang berpolusi.
Memoriku akan tetap menyimpan hari-hari itu. Yang selalu ku ingat, kota ini dulu begitu rindang, asri dengan pepohonan dan bunga-bunga di setiap sudutnya, indah dan menawan. Tak heran jika dijuluki Kota Kembang. Tapi kini Bandung telah membusuk oleh sampah. Dilihat dari segi manapun, tentu saja itu bukan merupakan sesuatu yang bagus dan dapat dibanggakan.
            17 tahun usiaku ini. Hanya tinggal puing-puing kesombongan yang tersisa dari kota Bandung. Termakan oleh modernisasi yang telah merenggut kisah indah dalam hidupku. Andai waktu dapat ku putar kembali, akan sangat aku nikmati dan aku abadikan, potret siluet masa lalu kota Bandung, tempat tinggalku.

3.10.09

Dunia dari sudut angkot

Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti

Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Blog: ifuu.tumblr.com, anakajaip.multiply.com


Satu kata benda yang bikin saya kangen Bandung : angkot. Ya, angkot. Angkutan kota. Sebuah angkutan publik yang berwujud mobil carry, colt, atau kijang yang ‘dimodifikasi’ interiornya. Standar kapasitas maksimal angkot adalah 16 orang: 3 di depan (termasuk sopir), 7 di kanan, 5 di kiri, dan 1 di ‘kursi artis’ (kursi yang ada di dekat pintu dan duduknya menghadap berlawanan ke arah penumpang lainnya).

Perkenalan saya dengan dunia angkot dimulai saat TK. Waktu itu saya sering diajak mama berkunjung ke rumah oma di Cimahi. Entah kenapa, saya selalu merasa enjoy saat naik angkot. Duduk di pojok dengan jendela yang dibuka setengah. Angin menyapa wajah saya pelan bahkan terasa menampar saat si angkot berlari kencang.

Kemana-mana saya pergi pakai angkot. Tentunya masih harus ditemani oleh orang yang lebih gede. *berhubung saat itu lagi marak penculikan anak kecil*.

Kelas 5 akhir, saya baru dibolehin naik angkot dengan rute yang sedikit jauh sendirian. Waktu itu mau naik kelas 6 dan saya ikut bimbel di sebuah tempat di bilangan purnawarman. Secara sehari-hari sekolah di dekat rumah dengan jalan kaki, “sekolah” di tempat bimbel ini terasa lebih menyenangkan bagi saya karena harus ditempuh dengan angkot. Margahayu-Ledeng tepatnya.

Saat itu naek angkot biru dengan garis kuning ini dari Pasar Sederhana ke Purnawarman hanya 500 perak loh. Mulai kelas 2 SMA sampai sekarang, saya harus bayar 2000 perak dengan jarak dan angkot yang masih sama. Empat kali lipat. Padahal harga BBM sudah turun, tapi tarif angkot yang turut naik tidak ikut turun juga.

Semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya ambil, semakin sering dan variatiflah angkot yang saya tumpangi. Hingga saat kuliah sekarang, meskipun ditempuh dengan bis Damri, sebelum dan sesudahnya pasti saya naik angkot dulu. J

Di dalam angkot, saya bisa bertemu bermacam-macam orang. Anak sekolah dengan seragam ala sinetron, ibu-ibu yang pulang dari pasar, mahasiswa dengan headset yang selalu menempel di kuping, mas-mas kantoran, karyawati yang berdandan menor, nenek-nenek tukang rumpi, wanita muda yang aromanya seperti habis pakai parfum tumpah, remaja tanggung yang cuek merokok, bapak-bapak bertato, pria metroseksual, hingga mbok jamu beserta gendongannya pun ada disini. Benar-benar keberagaman strata.

*****

Bagi saya, angkot tidak hanya berfungsi sebagai angkutan belaka. Lebih dari itu, saya belajar banyak dari yang ngejalaninnya. Ya, sopir angkot. Sopir angkot adalah sosok orang yang bikin saya termotivasi untuk cepat belajar nyetir mobil. Seriously!

Saya suka sekali duduk di depan. Ga untuk ngaca di spion, tapi untuk memperhatikan si mang angkot. Lebih tepatnya, memperhatikan gaya nyetir si mang angkot. Dari mulai dia ngopling, masukin gigi, ngegas perlahan, kopling lagi, mindahin gigi, ngegas yang banyak, kemudian tiba-tiba ngopling dan siap-siap ngerem lalu mengarahkan setir ke kiri saat ada orang yang nyetop angkot di depan sana.

Sehabis orang tadi naik, si mang jalan lagi dengan gaya yang sama. Saat itu dia nyetir sekaligus sambil makan gorengan. Pas di lampu merah, gorengan habis dan dia beli rokok batangan di pedagang asongan. Saat lampu sudah nyala hijau, dia pun nyetir kembali sambil tetap menghisap rokoknya.

Entah kenapa, saya takjub dengan tabiat mayoritas mang-mang angkot yang kaya gini. Bisa-bisanya gitu ya mereka nyetir sambil merokok dan makan, bahkan kadang sambil ngobrol di hape, tapi matanya tetap awas terhadap orang-orang di pinggir jalan yang mau naik. Benar-benar multi tasking!

Saya juga ingin deh seperti itu. Bisa multi tasking di saat yang bersamaan. Soalnya selama ini kalau sedang nyetir, saya harus konsen dengan jalan dan spion kanan kiri. Pernah suatu hari, saya nyetir sambil makan biskuit, eh yang harusnya ngegas malah jadi ngerem mendadak dan bikin mobil-mobil di belakang rame-rame membunyikan klakson.

Namun, satu hal yang kurang saya suka dari mereka para sopir angkot: budaya ngetem! Kalau sedang santai sih oke-oke saja, tapi lain halnya kalau saya sedang sangat terburu-buru. Rasanya ingin jitak kepala si mang kalau dia sudah belagak mau jalan, tapi mundur lagi saat ada penumpang yang naik. Ngetem lagi. Dan begitu lagi. *sigh*

Beragam cara sudah saya lakukan agar si mang ngerti kalo saya lagi buru-buru. Dari menghentak-hentakan kaki, kipas-kipas, pasang muka cemas, berulang kali liat jam, melototin si mang dari spion depan, hingga berani nanya, “Mang, ini masih lama ga sih?! Bisa cepat ga?! Saya terlambat nih!!”

Biasanya, kalau si mang angkot baik hati, dia langsung jalanin angkot, tapi kalau kebetulan dia ‘ndablek’, ya dingin aja gitu. Berasa ga denger dan baru mau jalan kalau semua penumpang sudah ikut ngomelin.

Karena capek dengan masalah kaya gini terus, akhirnya saya harus berangkat lebih awal kalau akan pergi naik angkot. Setengah jam dari waktu biasanya..

Persoalan ngetem ini memang klasik. Yang bikin macet di sebagian besar jalan-jalan di Bandung kan angkot yang ngetem. Apalagi di sekitar terminal, kampus, stasiun, dan pusat perbelanjaan. Mereka bakal tertib kalau ada polisi yang jaga disitu. Klasik sekali.

Ada satu kisah yang sempat saya diceritakan oleh seorang teman. Cerita itu bikin saya terkesan dengan seorang sopir angkot jurusan Caheum-Ledeng yang entah bagaimana wujudnya. Ceritanya, teman saya duduk di depan dan memang hanya dia satu-satunya penumpang. Namun, sopir angkot itu tidak pernah ngetem sekalipun. Sepanjang perjalanan, teman saya ini ngobrol dengannya. Saat teman saya bertanya kenapa si mang angkot ga ngetem, jawabnya: “Rejeki mah dikejar, Jang, bukan ditunggu.” Teman saya manggut-manggut dan angkot pun terus berjalan.

Saat di daerah tamansari, ada seorang bapak-bapak yang menyetop angkot itu sambil bawa beberapa barang. Karena duduk di depan, teman saya tahu arah pembicaraan si bapak dengan si sopir. Rupanya bapak ini mau mencarter angkot ke arah Lembang dan dia bersedia bayar..seratus ribu rupiah!

Wow! Amazing! Memang benar ya, rejeki itu bukan untuk ditunggu. Selama ini, para mang angkot sering berkilah bahwa ngetem untuk kejar setoran. Ah andai saja mereka berpikiran sama dengan sopir yang satu itu..

*****

Terlepas dari kebiasaan menyebalkan para sopir angkot yang suka ngetem sembarangan, saya sering juga kok merasakan kenyamanan dan kepraktisan jika bepergian dengan si mobil umum ini.

Hanya dengan bayar paling mahal 4000 rupiah untuk jarak terjauh, saya bisa duduk bebas sambil lihat apa saja yang tersebar di kanan, kiri, depan, dan belakang angkot. Mobil, motor, bis kota, sepeda, kereta, orang, gedung, jalan, pohon, traffic light, rumah, sekolah, dll. Saya bisa memerhatikan segalanya dari sudut angkot ini.

Berbagai tingkatan status sosial seolah menyatu bersama di medan jalan ini dengan kepentingannya masing-masing. Banyak hal paradoks di luaran sana. Ada pengemis tua yang meminta-minta ke jendela mobil plat merah yang berhenti di stopan, dua orang anak SD yang masing-masing diantar dengan vespa hijau dan altis hitam, mahasiswa yang terlihat membeli koran dari seorang loper, sepasang muda-mudi berjalan bergandengan tangan melintasi gelandangan tua, seorang pria muda perlente yang marah-marah di pinggir jalan kepada seorang sopir angkot karena pantat mobilnya diserempet, seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan balon, bapak tunanetra yang menghentakan tongkatnya perlahan untuk berjalan, dan anak-anak yang mengejar layangan sambil bertelanjang kaki di seberang sebuah mall besar.

*****

Ada beberapa hal menarik yang sempat saya tangkap dalam sebuah ruang bernama angkot. Saya pernah naik angkot Margahayu-Ledeng yang sangat bersih. Tidak ada sampah disana. Bahkan bungkus permen pun tak ada. Saya terkesima. Benar-benar kinclong. Setelah saya duduk dan menghadap pintu angkot, ternyata ada tempat sampah kecil bertenger disana. Tempat sampah itu diikatkan ke gagang pintu dengan semacam tali tambang kecil. Di atasnya tertera kertas bertuliskan : “Buang sampah anda disini” dengan tanda panah menuju ke arah tempat sampah itu.

Di lain waktu, saya naik Kalapa-Ledeng. Angkot hijau biru muda ini penuh sekali. Saat duduk, saya heran kenapa orang sebanyak ini semuanya serius sekali melihat ke depan atas. Oh rupanya ada sebuah ‘pengumuman’ yang digantung di langit-langit angkot. Tulisan bertinta hitam di papan kecil berukuran sekitar kertas A4 yang menerangkan bahwa seluruh penumpang punya hak merokok dimana saja kecuali di angkot itu. Dilarang merokok atau lebih baik turun saja dan cari angkot lain. Wuihh…

Lain cerita dengan angkot Cicaheum-Ciroyom yang terkenal dengan ngetem dan ngebutnya yang luar biasa. Ada satu angkot yang sopirnya doyan ngomong. Bayangkan saja. Semua penumpangnya diajak ngobrol! Baik yang di belakang, maupun saya yang duduk di depan. Awalnya saya malas menanggapi, tapi ternyata sopir ini memang seru kalo ngobrol. Ibu-ibu yang pulang dari pasar saja langsung nyambung saat diajak ngobrol. Setiap ada yang bilang “kiri!”, si sopir menepikan angkot dan selalu bilang, “Turun sini, A/Neng/Bu/Pak? Bentar ya..”, “Hati-hati ya..”, atau sekedar tersenyum saat si penumpang memberikan duit ongkos. Saat saya mau turun dan bayar ongkos pun dia kembali berceloteh, “Oh si neng turun disini. Hati-hati ya neng. Awas nyebrangnya. Terima kasih, neng..”

Tulisan ini dipublikasikan ulang dari sini

28.6.09

Bandungku : dongeng tentang musim gugur dan musim semi

Penulis: Maya Melivyanti
Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Blog: www.dreamofmay.blogspot.com

1993-1999

menyusuri sepanjang jalan sebelah gedung sate yang bertaburan daun-daun coklat sedikit memperlambat degup jantungku yang berderap mars seperti kaki tentara, ini hari pertama ku menjadi murid pindahan di smp yahya bandung. Mengapa banyak sekali pohon disini, mengapa daun – daun begitu indahnya menari? Dimana bioskop? Dimana mall? Seribu pertanyaan yang kukumpulkan dari Surabaya, kota panas , tempat numpang lahirku itu menumpuk di benakku, dan sebentar lagi aku akan memulai sebuah musim baru, musim gugur di Bandung.

Ya..tepat sekali kunamakan kota ini dengan musim gugur nya, begitu papa memberitahu aku dan adikku kalau kita semua akan pindah ke Bandung, aku merasa sekelilingku mendadak suram, tiba – tiba bayangan meninggalkan semua teman-teman dekatku, membuat hati meringis. Apakah aku akan punya teman lagi di belantara jawa barat ini? Mimpi buruk ku menjadi kenyataan, aku akan menjadi murid baru yang berlogat aneh di tengah – tengah teman-teman yang berbahasa sunda.

“gandeng itu apa sih, ngga boleh gandengan? Kenapa semua orang ngomongnya pake teh? Kenapa banyak sekali angkot? Apa itu bala bala? Batagor singkatan apa sih? Di BIP (Bandung Indah Plaza) ada bioskop ngga? Oh yamin itu mie nya pisah ya sama kuahnya?”
hampir seribu pertanyaan kulontarkan dengan jahatnya pada teman baru ku Tessa, dia orang pertama yang menjadi tour guide dadakan ku di kota baru ini. Untung saja tessa begitu sabar dan sangat jelas sekali merinci jawaban – jawaban nya, bahkan sampai memberi contoh-contohnya.

Hari – hari berikutnya kemudian menjadi petualangan penemuan – penemuan baru bagiku, mengukur jarak antara riau dan soekarno hatta dengan menggunakan angkot dan mobil jemputan, pembukaan kantor pos Banda, munculnya FO pertama di graha manggala siliwangi Bandung, mengiringi gugur nya satu per satu surat – surat penyambung hubungan dengan semua teman – teman ku di Surabaya. Tentu aku menangis saat itu, sebagai seorang anak yang berjiwa melankolis dramatis, ahh..sebuah masa hiperbola.

Musim semi ku di bandung berawal dari sebuah senyum dan sapa dari seorang yang bernama Grace, aku selalu ingat adegan itu: Grace datang tergopoh – gopoh dengan tas nya yang besar, sweater gombrong, muka culun (ups) dan badan yang juga besar , sama besarnya denganku (oh senangnya, aku punya teman “senasib” di smp ini, pikirku) dia melihatku beberapa kali, lalu duduk tepat di kursi depan kursiku, lalu dia menoleh beberapa kali dan tersenyum, ramah sekali dan mulai saat itu Grace lah yang membuatku tersenyum kembali dengan tingkahnya yang lucu, lalu membawaku menemukan sahabat demi sahabat: Golda..Dina..Anna.., bunga – bunga yang masih kuncup, lalu kami berbagi tawa, tangis, duri, bahkan menemukan Tuhan bersama - sama.., ah hampir tidak cukup jika diceritakan satu per satu..saksi nya adalah jalan riau..BIP..candrawulan, base camp nya adalah rumah om Anna yang terletak tepat di depan rumah bersalin , yang sekarang salah satu kumpulan FO di jalan riau..

Beberapa tahun setelah kami lulus SMP, ketika aku, Dina dan Golda menginjakkan kaki kembali di kamar Anna yang telah berubah menjadi ruang ganti pakaian, kami tertawa kecil, dan ingin sekali meng sms Anna yang sudah hijrah ke Belanda.

Dan kini aku tidak mengenal lagi musim semi itu..sepertinya berlalu begitu saja dengan perginya bunga – bunga satu per satu dari kota yang padat ini, semakin padat, untung aku ada di ujung gunung..masih cukup sepi, tapi tidak se semi dulu.


27.4.09

Diarel (Diary Sisi Rel)

Penulis: Agus Bebeng
Domisili: Bandung, Jawa Barat
http://www.facebook.com/profile.php?id=1163328835#/profile.php?id=1163328835


pada suatu waktu.
senja tua kuning telanjang terpuruk di ujung rel yang mengkilat diterpa cahaya senja.
ada gelisah yang menggeliat masuk berkeliaran, menelisik bilik-bilik jantung yang berlubang diterobos polutan yang semakin

tajam.
batas ingatan yang telah kugunting kembali menyatu menjadi puzle yang menampilkan gambar hitam putih; dramatik.
lebih dramatik daripada acara termehek-mehek.

masih jelas kentara dalam monitor ingatan.
saat itu aku sering berlari sepanjang rel menerobos pekat asap kereta tua yang melenguh seperti kerbau tua yang lelah dipecut

anak gembala. tentunya, demi mimpi mengejar pendidikan yang murah meriah dan bakti agung kepada ema dan bapak.
kami selalu saja berlari kencang, ingin mengadu kecepatan hasil dari pembakaran tenaga mie instan dengan tenaga diesel tua

dari Jerman itu. namun tetap saja ular besi itu memiliki kecepatan yang tinggi. mie rebus campur telur goreng dan teh manis

tak mampu meredam kecepatan sang kereta.

padahal dalam khayalanku saat itu aku tengah memerankan Zorro yang membebaskan tawanan dari kaum penindas dengan menunggang

si Tornado yang cepat seperti panah. namun kenyataannya tetap saja kami kalah berlari. tak ayal kekalahan kami lampiaskan

dengan melempari kereta itu dengan batu hamparan dampalan rel. dari sekian puluh kali melempar batu, kadang terdengar sumpah

serapah dari penumpang yang terkena lemparan kami. kami hanya bisa tertawa lepas.

saat ini aku kembali merindukan masa itu.
masa dimana kami hanya berlari pagi dan siang hari. bermain di stasiun tua yang kumuh diisi pedagang asongan, dan gembel yang

meramu kaki dengan lem kayu agar nampak terkelupas kulitnya. atau mengganggu anjing galak milik seorang tionghoa yang

rumahnya bersebelahan dengan stasiun.

bagiku dan kami saat itu, sekitaran stasiun merupakan taman bermain yang tak pernah habis memanjakan kami. aku masih ingat

rumah berpagar tinggi, dengan kawat yang mengitari ujung besinya. rumah megah itu memiliki bel rumah yang terletak di ujung

pintu. kadang kami sering memainkan bel itu sambil berlari membuat sang pemilik rumah yang sama galaknya dengan sang anjing

mencak-mencak berteriak tak jelas. selama seminggu kami melakukan itu pada jam pulang yang sama.

sampai suatu ketika salah satu temanku. mimijit bel itu dan langsung berteriak keras. kami terkejut luarbiasa.
"Anjing nyetrum!" teriaknya sambil menjilat ujung jari.
kami tak percaya.
lalu salah satu teman memijitnya lagi.
benar memang begitulah adanya.
dari pintu tampak sang pemilik tersenyum puas.
sejak saat itu kami tak lagi berani memijit bel rumah tionghoa itu.

stasiun kereta memang tak pernah sepi.
bila malam beganti penghuni stasiun pun berubah.
entah dari kedalaman gua mana mereka datang.
tubuh mereka selalu serong kiri kanan seperti pasukan upacara bendera. di tangan mereka plastik hitam, berbungkus botol

minuman selalu nampak seperti para penjaga kerajaan yang membawa tumbak. sedang mulut tak pernah menghembuskan nafas naga

yang demikian kental. untunglah saat itu belum ada konversi dari minyak ke gas. kalau ada dapat dipastikan banyak gas

meledak. satu lagi, jangan ditanya tentang bahasa yang keluar dari mulut mereka. pasti lebih kotor dari stasiun tua itu.

belum ditambah dengan para perempuan malam yang sering mangkal di jalan dekat rel.

pernah suatu ketika ada pemabuk dan pelacur yang tertabrak di rel.
menurut warga sekitar korban ditutupi telinganya oleh jurig bonge (hantu tuli yang menutup telinga orang). selama seminggu

stasiun itu sepi dari para pemabuk karena konon hantu pemabuk dan pelacur sering mengganggu orang dengan shiluete yang

temaram dan sempoyongan.

entahlah saat itu aku pun demikian takut, tapi kalau dipikir sekarang masa mungkin waktu sadar alkohol demikian lama. atau

jangan-jangan karena preman di stasiun sering menumpahkan arak ke rel untuk berbagi dengan hantu. entahlah. namun yang kuingat sampai sekarang mereka selalu saja mabuk di pinggir rel dengan wajah sangar dan menakutkan.

meski kini aku tak lagi mengencingi stasiun aku masih ingat betul dengan mainan yang sering kami buat saat itu.
sebentar.
sebelum menjelaskan mainan kami. aku jelaskan terlebih dahulu ritus kami kencing.
saat itu di tvri ada acara yang sangat aku senangi. acaranya bernama flora fauna. di acara itu sering kamu melihat anjing hutan yang mengencingi daerahnya. menurut sang narator itu adalah cara menguasai ruang dan memberi tanda pada anjing lain untuk tidak memasuki wilayahnya. maka kami pun sering mengencingi stasiun itu. ternyata memang berhasil mengencingi stasiun itu membuat masinis marah dan penjaga rel melempar kami dengan batu. karena kami memberik bau yang sangat kental di stasiun.

sekarang kembali ke masalah mainan kami yang paling kreatif sedunia.
saat itu, karena kami begitu miskin alias tidak mampu membeli mainan terpaksa kami membuat sendiri mainan kami. salah satu bahan mainan kami adalah paku. biasanya kami sering menggilas paku beton ukuran besar yang biasa kami beli atau curi dari orang yang membangun rumah. paku beton yang sudah tergilas itu biasa menjadi lempengan besi tipis yang sudah membentuk pisau. tinggalah kami mencari gerinda untuk menajamkan tiap sisi yang langsung berubah menjadi pisau. atau dengan usaha sedikit menjadi bekas sapu kami tinggal menyimpan besi di ujungnya dan jadilah tumbak yang bisa kami jual.


begitulah kelakuan kami di sepanjang rel kereta.
mungkin besok aku akan bercerita tentang mainan anak-anak kota yang tak berduit.

14.4.09

BANDUNG: SEKELUMIT PETA KEHIDUPAN Sebuah catatan kecil

Penulis: Resti Nurfaidah, S.S.
Domisili: Bandung
www.nengresti_tea.blogspot.com
neneng_resti@yahoo.co.id





Bagiku, Bandung merupakan sebuah hanparan sebuah peta yang memiliki wilayah yang berwarna-warni. Peta tersebut juga disertai dengan tanda jalanan, lembah, dan pegunungan. Kawasan yang berwarna warni bukan merupakan tanda yang membatasi luas wilayahnya itu. Tanda jalanan juga bukan merupakan tanda jalanan yang menyambung dari ujung wilayah yang satu ke wilayah yang lain. Lembah dan pegunungan juga bukan merupakan petunjuk bahwa kontur tanah dalam peta memiliki ketinggian yang berbeda dari permukaan laut. Bukan! Bukan sama sekali! Peta dalam pandanganku adalah pertanda bahwa aku telah melampaui beberapa wilayah yang berbeda dalam setiap tahapan perkembanganku. Ya, dalam peta itu jelas tertera wilayah yang pernah kudiami selama sembilan bulan lamanya di dalam kandungan; wilayah yang pernah kudiami selama masa batita dan balita; wilayah yang kudiami selama masa sekolah, wilayah yang kudiami selama masa perkuliahan; wilayah yang kudiami selama masa kesendirianku; dan wilayah yang kudiami selama masa perkawinanku (wilayah yang belum terukur perbatasannya).

Ya, Bandung benar-benar merupakan sebuah peta yang mampu berbicara denganku, dengan sejarah hidupku. Peta yang tidak mungkin kuhapus jejak keburukannya dan tidak mungkin kutambah jejak kebaikannya. Peta itu senantiasa terpampang di dinding imajinasiku yang tidak akan pernah terlihat oleh siapapun. Namun, peta itu hanya mampu menghembuskan nostalgi yang menyenangkan atau menyedihkan bagi lingkungan sekitar yang pernah sama-sama terlibat dalam penyusunan peta itu.

Peta itu begitu melekat dalam kehidupanku, fisik maupun psikis. Berkaitan dengan fisik, peta itu senantiasa menawarkan lahan untuk menggambarkan jejak setiap hal yang kulakukan dan kualami sendiri. Peta itu selalu berbicara kepadaku bahwa aku masih memiliki lahan yang luas yang bisa kugambari dan kutandai selama hayat di kandung badan. Berkaitan dengan psikis, peta itu sangat berjasa sebagai ‘rememberance’ atas hal-hal yang pernah kulakukan dalam suka dan duka. Peta itu akan berbicara tentang dosa dan amalan yang pernah kutorehkan pada permukaannya. Selain itu, peta tersebut befungsi sebagai penanda tinggi-rendahnya volume alur kehidupanku. Gunung dan lembah dalam petaku menjadi saksi bisu atas frekuensi dosa dan amalanku. Jalanan panjang dalam peta itu merupakan pertanda bahwa sampai saat ini interval masa hidupku telah berjalan lebih dari seperempat abad dengan segala lika-liku, tanjakan dan turunan yang tiada putusnya. Pertemuan alur sungai merupakan pertanda bahwa selama kepingan hidup telah bertaut selama lebih dari tiga dasawarsa.Ya, kepingan kehidupanku yang sarat makna.

Bandung, laksana sebuah ukiran abadi yang tertera dalam batinku. Sebuah ukiran raksasa yang belum terselesaikan selama sukma masih bertahan dalam raga. Laksana lukisan panjang di sekeliling Candi Borobudur, ukiran itu pun mampu menyampaikan makna dan cerita dari setiap kepingan kisah hidupku.
Bandung sangat melekat dalam batinku, meskipun aku masih memiliki kampung halaman yang hanya bisa menjejakkan kenangan yang dalam hanya kepada kedua orangtuaku. Kampung halaman hanya bisa kurindukan pada momen-momen tertentu saja, seperti lebaran atau peristiwa-peristiwa penting yang mengharuskan kehadiran diriku.

Bandung laksana sebuah biduk raksasa yang menghanyutkan diriku di sebuah samudera mahaluas dan tiada berujung. Begitu besarnya biduk itu hingga mampu menawanku dan tidak membiarkan aku untuk membagi rasa cintaku pada biduk yang lain. Betapa dalam makna Bandung itu untukku. Betapa ketatnya ia memeluk diriku hingga tidak membiarkanku lepas sedikit pun. Selain mahabesar, Bandung pun seolah bertindak sangat angkuh hingga tidak membiarkan diriku berselingkuh dengan pangeran yang lain. Bandung telah berperanan sebagai sebuah magnet bagiku yang berdaya cengkeram dengan kokoh. Ya, Bandung telah mengikatku erat-erat dengan manis. Bandung telah menjerat erat-erat jiwa dan ragakku. Begitu banyak hal yang ditawarkan sang biduk kepadaku, hingga aku tidak sempat melayangkan mata dan minat pada pasar yang lain. Bandung tidak pernah membiarkanku lahir di biduk dan samudera yang lain. Bandung tidak pernah membiarkanku menimba ilmu di kota lain, Ia berjuang keras menyediakan ribuan sarana pendidikan dengan faslitas yang beragam, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang sangat fantastis. Tentu saja, fasilitas yang ditawarkan itu harus dibayar sesuai dengan nilai nominal yang ditawarkan sarana pendidikan itu. Bandung tidak pernah membiarkan aku mengais rezeki di kota tetangga di muka bumi pertiwi. Bandung tidak pernah membiarkanku menggandeng pasangan hidup di luar daerah kekuasaannya. Bandung tidak membiarkan keturunanku menyembul di tempat lain. Bandung tidak membiarkan keturunanku untuk menimba ilmu di luar batas wilayahnya. Ia begitu mengikatku erat-erat hingga aku tidak mampu bergerak. Namun begitu, terkadang aku dilepaskan serdadunya jika ada hal penting yang mengharuskan kehadiranku. Aku diizinkannya untuk eksis di beberapa acara, pelatihan pada berbagai instansi, seminar, kongres, workshop, atau berbagai acara lainnya termasuk acara keluarga atau instansi. Dengan demikian, aku masih bisa menghirup udara bebas di seantero tempat di belahan nusantara ini.

Selain menjadi pengikatku, Bandung juga tidak kalah keras upayanya untuk menebarkan mantra dan medan magnet berkekuatan tinggi pada makhluk di berbagai penghujung dunia. Bandung yang dikenal sebagai kota bidadari menjadi kota tujuan utama pembelajaran seni selain Yogyakarta dan Bali. Bandung juga menjadi tempat serbuan peminat studi,, baik dari luar kota maupun mancanegara. Bandung menjadi kota tujuan utama belanja para “buyer” dari belahan penjuru dunia. Pasar Baru seakan menjadi jantung pusat belanja di kota kembang ini. Outlet menjadi biji mata trend mode bagi kawula muda di nusantara dan mancanegara. Bagi para food hunter, Bandung memanjakan perut kita dengan jutaan ragam pangan yang jenisnya mampu menembus hingga ke ujung dunia. Bandung memanjakan nusantara dengan luasnya lahan pekerjaan hingga mampu mematahkan semangat pulang kampung para pelajar di tempat ini.

Ya, sedemikian besarnya jasa Bandung sebagai penebar mantera dan medan magnet di nusantara ini. Namun, upayanya itu ia lakukan dengan pengorbanan yang sangat besar. Rusaknya alam di kota ini dan sekitarnya adalah akibat yang salah satunya harus ditanggung dirinya. Namun, Bandung tidak ubahnya seorang autis yang keras kepala yang tak peduli lagi dengan dirinya dan orang lain. Ia tidak kapok untuk mengepulkan mantera dan medan magnetnya ke berbagai penjuru meskipun harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya yang kini ringkih digerus penyakit tidak ia hiraukan. Tulangnya yang mulai keropos tetap ia gunakan untuk menopang tubuhnya yang semakin tertimbun lemak usang. Wajahnya yang sudah berhiaskan gurat keriput di sana-sini, tetap ia hadapkan pada para pecintanya meskipun untuk itu ia harus menutupi kekurangannya itu dengan olesan bedak yang sangat tebal.
Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tertatih-tatih berjalan bertumpu pada sebuah tongkat mendaki jalan terjal yang naik dan turun dengan curam. Tidak jarang ia terjatuh, terpeleset, terguling, terluka, tergerus ingatannya, dan terkapar …. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak peduli jika langkahnya semakin terseok-seok menyusuri jalan berliku dengan bertumpu pada sebilah tongkat. Tidak jarang ia harus menghentikan langkahnya karena deraan sakit yang luar biasa di setiap inci tubuhnya. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia didera gangguan jiwa yang cukup akut melihat para penghuni yang berbuat seenaknya. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tak sanggup membagi warisannya dengan adil karena hartanya dirampas makhluk tak beriman. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak mampu lagi menyusui.

Padahal,anak-anaknya belum lagi pantas ia sapih. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak lagi memiliki cadangan kolagen untuk membuat kenyal setiap mili kulitnya. Padahal, ia dituntut harus berpenampilan sebagai seorang bidadari yang sangat cantik jelita. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak mampu menahan beban sanggul di belakang kepalanya. Padahal, ia dituntut untuk tampil bak seorang pengantin tradisional yang dikenal dengan sanggul bersunggar-nya.

Tak ada alat kosmetik yang mampu menutup wajah tuanya. Tak ada obat-obatan yang mampu memulihkan penyakitnya. Tak ada mode yang sanggup mengubah penampilannya. Tak ada sepatu yang berdaya menutupi kaki ringkihnya. Tak ada perapian yang dapat menghangatkannya. Tak ada pendingin yang bisa mengompresnya. Tak ada makanan dan minuman yang terbukti mengenyangkannya dan menuntaskan rasa dahaganya.
Ufff, Bandung memang tua … seiring menuanya diriku. Yaahhh, Bandung tidak ubahnya sebuah peta yang rapuh karena disetang binatang pengerat. Mmmmhhhh, Bandung tidak lebih dari seorang nenek tua yang tengah menanti ajalnya.****

11.4.09

Bandung masa kini = kombinasi antara vampire dan zombie

Foto dan tulisan: Wiku Baskoro
Domisili: Bandung, Jawab Barat
http://wikupedia.co.cc
http://wikupedia.multiply.com



bercerita tentang kota tempat saya tinggal, saya pasti akan memilih bercerita tentang bandung, kota kelahiran dan kota tempat tinggal saya seumur hidup, sampai sekarang.


jika membaca nama saya, pasti orang akan menyangka saya berasal dari suku jawa, wiku baskoro, begitu bunyi nama saya. tidak salah memang karena ayah dan ibu saya jawa tulen, dan dirumah, mereka masih sering bercakap dengan bahasa daerah asal mereka, jawa tengah.

namun jika mendengar saya berbicara tanpa mengetahui nama saya, pasti orang langsung berkata : “asli sunda kang?” dan saya akan menjawab dengan jawaban paradoks: gelengan kepala dan ucapan mengiyakan.


saya lebih menyukai disebut sebagai penduduk asli bandung, ketimbang sunda yang merujuk pada jawab barat, bukan karena masalah rasial tetapi lebih karena masalah pengetahuan. kalau ditanya tentang jawa barat, paling saya hanya bisa mengucap “sumuhun”(iya dalam bahasa halus sunda), tanpa bisa menjelaskan apa-apa tentang asal-usul jawa barat, tokoh-tokohnya, cerita-cerita rakyatnya dan berbagai macam kebudayaan masyarakatnya.

saya lebih menyukai disebut sebagai orang bandung, karena bagi saya bandung adalah wilayah jawa barat yang punya kebudayaan sendiri, yang setiadaknya pernah saya kenal dekat.

dari awal terbentuknya daerah yang nantinya akan jadi kota bandung ini, sudah bisa dijelaskan bahwa bandung tidak memiliki budaya asli seperti budaya khas jawa barat dalam wayang golek misalnya, atau daerah tertentu jawa barat seperti cirebon dengan tari topeng cirebon.


bandung yang awalnya dikuasai oleh orang belanda memang sangat kental budaya campur aduknya, ini bisa terlihat sampai sekarang. dahulu kala modernesisasi ala belanda masuk dalam wilayah hutan yang masih 'kampung'. kota bandung dan penduduknya kemudian saling berbaur dan menciptakan budayanya sendiri. bangunan khas belanda yang merespons tanah yang berbukit sebagai salah satunya, atau jalan dago yang tebentang lurus sebagai jalur utama menuju gudang kopi di daerah jalan merdeka adalah contoh lain, disamping budaya khas jawa barat seperti logat berucap dan penamaan-penamaan jalan yang khas.


sampai kini bandung tetap menjadi kota dengan budaya campur aduk, kini bandung adalah campuran berbagai budaya, antara budaya jakarta yang metropolis, budaya jawa barat yang sunda pisan, antara budaya pendatang dari sumatra sampai budaya pendatang dari papua, bercampur menjadi budaya baru, budaya bandung.

bagi saya, tidak aneh jika banyak orang yang berkreasi di bandung dengan hebatnya, selain wilyahnya yang nyaman (sampai tahun 2004-an) sampai dengan masyarakatnya yang permisif dengan segala kreatifitas yang dimiliki masyarakatnya, baik itu yang asli jawa barat, yang campuran maupun yang berasal dari luar jawa barat.


ketika wilayah jawa barat lain yang sering kali bersifat kolot atas budaya sunda, bandung berkembang menjadi kota dengan seribu budaya, yang pada satu sisi ini menjadi positif namun di sisi lain bisa menjadi negatif, bagi saya itu hal biasa, tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka semua hal positif tentu akan menyimpan hal negatif, vice viersa.


bandung yang nyaman bagi saya hanya sampai pada medio sekitar tahun 2004-2005, tiga tahun ke belakang bandung berubah menjadi kombinasi antara vampire dan zombie iyang menyedot semua darah masyarakatnya untuk menjadi zombie-zombie khas modernitas. sebelum abad zombie ini masyarakat bandung terkenal dengan gang punten-nya, yang disatu sisi mengidikasikan bahwa itu daerah preman, namun di sisi lain menyiratkan bahwa orang bandung itu sopan-sopan, kalau lewat kerumunan mereka akan bilang punten, dan kalau dijalan akan menyapa siapapun entah kenal atau tidak.


sebelum masa zombie, kenyamanan bandung bisa jadi tidak ada duanya, jalanan yang sejuk karena pohoh belum banyak yang ditebang, komplek perumahan yang belum menjamur, mall yang masih terbatas, kendaraan yang masih dalam jumlah yang masuk akal, serta orang-orang yang masih bisa senyum dan tertawa meskin besok tidak tau mau makan apa.


kini pohon di bandung sangat banyak yang ditebang, entah karena alasan sudah tua, atau memang pemkot bandung yang gak becus memelihara dan merevitalisasi pohon, tapi yang jelas, pohon-pohon di daerah yang tekenal dengan kesejukannya seperti jalan aceh, serta daerah gasibu sudah banyak yang ditebang. coba mampir di depan kantor perhutanan di daerah gasibu, coba hitung berapa banyak pohon yang ditebang di depan kantor itu, dan coba bandingkan dengan umur pohon penggantinya (jika ada). saya jamin pasti bakal geleng-geleng kapala.


kota bandung yang penuh potensi ekonomi juga ternyata bisa menjadi pisau yang malah mematikan warga asli bandung, seperti saya. potensi wisata belanja yang diekspolitasi berlebihan malah menjadikan kota yang saya cintai dengan sangat ini menjadi amburadul. kesalahan bisa jadi milik pemerintah kota, tapi kalangan bisnis juga mungkin harus diberondong pertanyaaan, seperti mengapa membuat pusat belanja di belokan jalan riau (sebelah riau 11) dan membuat macet persimpangan di depannya karena pengaturan parkir yang gak beres. atau mungkin maysrakat kreatif a.k.a distro juga mesti diberi pertanyaan pertangungjawaban seperti, kenapa harus membuka distro di sepanjang jalan trunojoyo sehingga mengakibatkan jalur itu harus dijadikan satu arah karena kalau tidak macetnya bisa sampai sepanjang jalan riau. belum selesai dengan masalah macet dan konsumerisme ala factory outlet, kini kaum konunitas yang menjuliki mereka kaum indie malah ikut-ikutan juga membuat bandung hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi.

saya hidup di bandung dari tahun 1981, ketika derah margahayu raya masih bayak sawah, tepat ketika galungung meletus. saya sd, smp, kuliah dan bekerja di kota bandung, ketika jalan tikus parakan saat saat masih sangat sejuk dan sangat nyaman di lewati karena banyak sawah dan belum ada proyek-proyek rumah kluster yang menjamur.


saya hidup di jaman ketika pengendara motor tidak awut-awutan seperti sekarang dan angkot masih ramah pada pengemudi jalan lain. saya hidup ketika bangunan sarinah di jalan braga masih memajang produk dengan etalasenya yang khas, wayang-wayang serta beragam produk budaya indah yang begitu merasuk membuat imaji akan jalan braga sebagai jalan 'budaya'.


saya hidup ketika taman kota tidak dipagari dan digembok, ketika air bersih masih bisa didapat dengan sedikit bersabar menunggu pomap air bukan membeli di tukang air keliling. saya hidup ketika batagor masih murah dan rasanya begitu khas rakyat, bukan dengan harga tinggi dan rasa yang sangat kapital.


saya hidup ketika komunitas begitu komunal tanpa klaim-klaimkhas pemilik modal yang serakah yang ingin mendapatkan legitimasi atas produk budaya yang mereka hasilkan, padahal tak ada yang bisa meng-klaim memiliki kebudayaan publik selain publik itu sendiri. saya hidup ketika label independen itu adalah tatanan budaya paling keren sebelum kini berbuah menjadi mahkluk menjijikkan yang sangat opurtunis.


saya tidak anti kapital, bagaimana mungkin, saya seorang pedagang, setiap pedagang pasti membutuhkan dan mencari kapital (dalam arti modal atau uang), tapi bukan berarti saya menjadi begitu tunduk pada kapital. masih banyak alternatif yang bisa ditempuh untuk menyinergikan antara komunitas dan modal. saya menyebutnya ekonomi berbasis komunitas.


kini menjadi sangat sulit bagi saya untuk mengikuti perkembangan kota bandung yang mesti saya sebut dengan istilah perkembangan konsumerisme yang kebablasan ini. bandung kini tidak lagi dipandang sebagai daerah bersejarah yang merekam bagaimana masa sejarah bisa dilihat dan diteliti dari cerita dan makna bangunan-bangunannya yang sangat cantik, nama-mana jalanya yang unik serta berbagai budaya yang ada. Bandung, bagi saya, kini hanya dipandang sebagai objek kapaital yang mesti diperah terus-menerus samapi menunggu ia (bandung) kembali tenggelam dan menjadi danau purba kembali.


terus terang, rasa cinta saya pada kota bandung tidak akan pernah punah, namun ditengah himpitan kemajuan yang salah kaprah ini, saya harus mulai berpikir untuk mencari tempat idaman lain. meski saya tau dengan pasti: tidak ada yang bisa menggantikan kota bandung.

8.4.09

Cinta di Bandung Lautan Api

Tulisan Oleh Adi Marsiela
Domisili: Bandung
http://marsiela.multiply.com

Email: colenakbandung@yahoo.com

Didi David Affandy (72 tahun) masih ingat betul pengalamannya, 63 tahun silam saat meninggalkan Kota Bandung. Waktu itu usianya masih sembilan tahun. Dia tengah ngabuburit bersama teman-temannya sembari bermain kelereng di dekat rumahnya, Jalan Melong Kidul.

Belum lagi waktu berbuka tiba, Didi harus menyudahi permainannya. Dia dibawa oleh ayahnya, Didi Sukardi pergi keluar Bandung. Ibunya, Iti Sutiah hanya ingat untuk menggendong anaknya yang masih berusia lima bulan dan membawa nasi yang belum lagi masak. Bersama kakak perempuannya, Didi kecil pun berjalan ke arah Bandung bagian selatan sembari menangis. "Kelereng saya masih tertinggal satu," ujar dia.

Sebelum pergi, Didi ingat ayahnya sempat membakar dahulu rumah mereka. Tetangga-tetangga yang lain juga membakar rumahnya sendiri. Perintah untuk membakar rumah itu datang dari mulut ke mulut.

Hari itu, tanggal 24 Maret 1946. Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia, Kolonel Nasution memutuskan untuk mundur bersama rakyat dari Kota Bandung. Keputusan ini diambil setelah ada ultimatum dari Inggris agar pejuang keluar dari kota. Meski sempat ada pertentangan, akhirnya disepakati pejuang mundur, tetapi tidak akan menyerahkan Bandung dalam keadaan utuh.

Belum mencapai lima kilometer Didi berjalan, dia sempat menengok ke belakang dan melihat terangnya Bandung kala itu. "Sangat indah kalau tidak ingat itu dibakar," kenang dia.

Tidak hanya untuk Didi, peristiwa itu membawa kenangan indah juga buat kakak perempuannya, Uun Ratnaningsih.

Jauh sebelum, Uun dan keluarganya memutuskan untuk meninggalkan kota, perempuan ini sudah menaruh perhatian khusus terhadap atasannya di rumah makan Panca Warna.

Sebagai tanda perhatiannya, Uun memberi selembar kain pada Khoe Tjandra, sang atasan. Agar selalu teringat pada dambaan hatinya, Khoe yang bukan merupakan warga pribumi ini sengaja memasang kain itu di dinding rumah makannya.

Menurut Didi, kepergian Uun itu memang tidak dibarengi dengan Tjandra yang masih tinggal di kota. Seperti diketahui, seluruh penduduk Bandung yang bermukim di selatan rel kereta api mengungsi ke arah selatan karena rumah tempat tinggalnya mereka bumihanguskan.

Bangunan-bangunan yang berada di utara rel kereta api terlindungi oleh tentara Inggris dan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Sebagian warga keturunan Tionghoa yang tidak mengungsi pun beralih ke arah utara rel.

Dalam buku "Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan", Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, dan Ummy Latifah Widodo menulis hal ini juga yang menjadi masalah di kemudian hari saat penduduk asli Bandung kembali dari pengungsian mereka. Para penduduk itu kembali setelah tinggal di pengungsian sekitar dua tahun lamanya.

Sekretaris Eksekutif Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Frances B. Affandy mengungkapkan hal ini secara tidak langsung 'memicu' konflik antara penduduk pribumi dengan keturunan Tionghoa kala itu. "Karena ada anggapan orang Tionghoa itu merebut atau mengambil tempat tinggal mereka. Selain itu, mereka juga yang memegang perekonomian," terang Frances kepada saya dalam beberapa kesempatan.

Setiap kali dia mengingat kisah cinta kakaknya, Didi seringkali meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Tjandra yang memang menaruh hati pada Uun, setia menanti dan berusaha mencari keluarga Didi setelah pergi meninggalkan Bandung.

Sampai pada suatu hari, sekitar dua tahun setelah mengungsi, keluarga Didi yang bermukim di Majalaya kedatangan seseorang suruhan Tjandra. Mang Pii, kata Didi, datang sembari membawa timbel. Tapi begitu dibuka di dalam timbel yang cukup besar gulungannya itu ada kain pemberian Uun buat Tjandra.

"Di situ seluruh keluarga terharu, karena ternyata Tjandra datang mencari. Kain itu sebagai tanda agar Uun percaya kalau Mang Pii itu disuruh Tjandra. Dari sana saya dan kakak dibawa pindah ke kota duluan. Kami tinggal di tempat Tjandra. Tidak hanya itu, dia juga ternyata menjaga rumah kami selama mengungsi," kata Didi.

Enam bulan setelah itu, seluruh keluarga Didi kembali ke Bandung. Uun dan Tjandra menikah. Namun, kini keduanya sudah meninggal. Uun yang menderita kanker menghadap Sang Pencipta di tahun 1985, dua minggu kemudian Tjandra menyusul.

"Ini bukti untuk menampik anggapan sebagian orang kalau orang Tionghoa itu tidak berkonflik dengan masyarakat pribumi di Bandung setelah Bandung Lautan Api," kata Frances yang juga istri dari Didi.

Masih dari buku "Saya Pilih Mengungsi" disebutkan istilah Bandung Lautan Api sendiri sempat muncul di Harian Suara Merdeka, dua hari setelah masyarakat membakar sendiri kotanya. Atje Bastaman, seorang wartawan muda kala itu menyaksikan pembakaran kota dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pamengpeuk, Garut.

Setibanya dia di Tasikmalaya, Atje segera menulis berita dan memberi judul "Bandung Jadi Lautan Api", namun karena kurangnya ruang di media tempatnya menulis, maka judul itu dipotong menjadi "Bandung Lautan Api". [Adi Marsiela]

Tulisan ini dimuat ulang dari blog Adi Marsiela, 31 Maret 2009
Tautan

6.4.09

Hidup di Bandung Dasawarsa 80'an - 90'an

Foto Burako Alm. Jegger Kebon Pisang Dasawarsa 80'an


Tulisan oleh Tarlen Handayani, Foto oleh bapak
Domisili: Bandung

www.vitarlenology.blogspot.com,
vitarlenology@yah
oo.com


Tiba-tiba saja, Bebeng bertanya: "Hey Len, maneh teh lainna budak SMP 20? Atuh gudang beas?" (hey len, bukankah kamu anak SMP 20? Gudang beras ya?). Aku yang ditanya begitu langsung balik menuding Bebeng "Hah? maneh teh budak 20 oge?" tawaku dan tawa Bebeng meledak. Tiba-tiba saja, aku dan Bebeng (yang setiap hari nongkrong di kantor AJI Bandung alias tetangga kamar tobucil) punya kesamaan sejarah, karena bersekolah di SMP yang sama. SMP yang sama sekali bukan SMP favorit (biasanya SMPN 4 tetangga kami, meledek anak-anak SMPN 20 dengan sebuatan sekolah gudang beras. SMPN 20 ini terletak persis di seberang stasiun Cikudapateh).

Kenangan kami, ternyata ga jauh beda. Tentang: betapa 'beling'nya daerah kami di jaman remaja dulu. Anak-anak SMPN 20 Bandung (Jl. Centeh, Bandung) pasti ga asing dengan daerah-daerah di sekitarnya: Cinta Asih, Samoja, Gang Warta, Cicadas, Cibangkong, Karees, Cibunut, Alani, Kosambi, Babakan Garut), kosambi, Cikaso, daerah-daerah 'bronx' yang sarat dengan urban legend yang kami bawa setiap hari ke sekolah. Membanding-bandingkan kehebatan preman atau 'jegger' di daerah masing-masing adalah pembicaraan sehari-hari, termasuk juga bagaimana modus operasi preman-preman itu dan gaya mabuknya yang seringkali mengundang tawa saat menjadi bahan cerita. Perkelahian antar kampung yang seringkali lebih heboh saat diceritakan daripada kejadian sebenarnya. Dongeng-dongeng hantu setempat yang bergentayangan di kampung kami masing-masing

Hidup di gang kampung kota seperti yang aku dan Bebeng alami, selalu menyisakan banyak cerita. Ada memori kolektif yang ternyata mewarnai kehidupan komunal di daerah kami masing-masing dan itu tak lepas dipengaruhi semangat zamannya. "Jangan-jangan Persib kalah terus karena sekarang udah ga ada lagi yang namanya Domba Cup. Padahal ceuk urang mah, Domba Cup aya hubungan nana jeung pembinaan sepak bola sejak dini," Bebeng menganalisis. Mungkin saja. Aku ingat, bagaimana antusiasme warga di tiap RW, setiap musim Domba Cup tiba. Karena RW yang menang nanti, bisa mewakili lomba sepak bola di tingkat yang lebih besar lagi dengan trophy walikota dan Domba yang lebih montok. Saat musim Domba Cup tiba, yang bertanding secara fair bukan hanya tim kesebelasan yang bertanding, namun juga warga sebagai supporternya juga belajar fair untuk merima kekalahan tim mereka. Meskipun perkelahian antar kampung seringkali tak bisa di hindari juga. Apalagi jika kedua belah pihak tak sepakat dengan hasilnya.

Pada saat itu, cerita kekerasan yang menjadi bagian dari kehidupan di kampung kota seperti tempat tinggal kami. Dan kondisi itu justru bukan sesuatu yang dianggap mengakhawatirkan, namun lebih menjadi bagian dari dinamika kehidupan sehari-hari. Bumbu yang membuat hidup di kampung kota seperti Kebon Pisang atau Babakan Garut menjadi sedap dan meninggalkan kesan rasa di lidah. Ada sistem sosial dalam masyarakat yang mengotrol sampai sejauh mana kekerasan itu dapat di tolerir. Dan pada masa-masa itu peran militer (daerahku sangat dekat dengan KODIM III Siliwangi dan daerah Bebeng dekat dengan SESKOAD) terasa kuat dalam mengontrol stabilitas keamanan warga. Saat itu, nasib maling jemuran di kampungku, berakhir di tangan tentara piket di KODIM III Siliwangi. Sesekali juga warga asrama Polisi (di sebelah kebon pisang yang sekarang jadi ITC Kosambi) tawur dengan warga asrama ARHANUDRI (Jalan Menado), namun semua itu masih dalam kendali dan tidak menimbulkan riot.

Ada toleransi dan ada kesadaran untuk saling menjaga pada dasawarsa itu. Entahlah, apa ini bisa dibilang sisi positif rezim Orde Baru? atau karena masyarakatnya lebih dewasa pada saat itu. Dan semakin kesini (tahun 2000-an) masyarakat semakin paranoid dan mudah panik. Aneh juga. Rasanya iklim kebebasan paska reformasi malah berbanding terbalik dengan kemapuan warga untuk bertoleransi pada dinamika kehidupan keseharian.

Lomba kebersihan antar kampung atau jumat bersih dimana warga bersama-sama kerja bakti membersihkan lingkungannya, kukira sekarang jadi hal yang sangat langka terjadi di Bandung. Kemampuan hidup berkomunitas dalam lingkungan rukun tetangga atau rukun warga, semakin lama, terasa semakin tumpul. Selain semangat zaman yang melunturkan semangat kebersamaan warga, krisis kepemimpinan di tingkat lokal, itu juga jadi persoalan serius. Tumbangnya Orde Baru ternyata juga ga membuat para pemimpin lokal tanggap menyikapi perubahan ini.

Rasanya hanya beberapa hari lagi 2009 menjelang dan waktunya untuk memilih para pemimpin baru kan tiba. Kehidupan seperti apa yang akan mereka tawarkan lima tahun mendatang? kita tak pernah tau, karena semua slogan yang menjadi sampah visual kota Bandung itu, kebanyakan juga hanya menipu. Percuma saja MUI akan mengharamkan golput, karena apa yang bisa di harapkan dari para pemimpin yang tidak tau siapa yang dipimpin dan kehilangan kemampuan untuk bertoleransi pada perbedaan dan dinamika warganya. Maka obrolan mengenang masa lalu (20 tahun lalu itu) menjadi obrolan menghibur yang setidaknya (semoga) bisa mencegah skeptisisme warga Bandung terhadap para pemimpinnya.

Gudang Selatan, 20:44

Tulisan ini di muat kembali dari blog www.vitarlenology.blogspot.com, Desember 2008

Keseharian Berkota dan Ketegangan di 'Tapal Batas'

Gudang Selatan, Bandung, 2006


Tulisan dan foto oleh Tarlen Handayani
Domisili: Bandung

www.vitarlenology.blogspot.com
vitarlenology@yah
oo.com


Kesadaran hidup di ‘tapal batas’ baru saya rasakan beberapa tahun terakhir ini, ketika aktivitas sehari-hari, saya mulai dengan menyebrangi jalan kereta api, yang memisahkan Kebon Pisang dan Gudang Selatan. Saat itulah saya merasakan hidup saya seperti bergerak melintasi dua wilayah dengan ketegangannya masing-masing. Merasakan kontras yang simultan berulang setiap hari. Merasakan relasi saya dan kota ini dengan perasaan benci dan cinta sekaligus.

***

Sejak lahir sampai saat ini, saya tinggal di sebuah perkampungan bernama Kebon Pisang. Perkampungan yang konon kabarnya, menurut para sesepuh, dulunya merupakan daerah tak bertuan dan meruoakan ‘kebon pisang’ dalam arti sesungguhnya. Perkampungan ini letaknya persis di antara pintu kereta api Jalan Ahmad Yani dan Jalan Sunda, di tepi jalan kereta api jalur barat ke timur dan timur ke barat. Pada mulanya perkampungan ini berkembang dan terbentuk dari komunitas Jawa yang berdagang di Pasar Kosambi. Dalam buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya”, Haryoto Kunto sempat menyebutkan, bahwa komunitas Jawa di sekitar Pasar Kosambi terbentuk dari para pelarian Perang Jawa pada pertengahan abad 19.

Di seberang Kebon Pisang, terdapat deretan gudang-gudang militer, membentang dari utara ke selatan, sambung menyambung dengan markas KODIM (Komando Distrik Militer)K KODAM III Siliwangi dan bagian Peralatan KODAM III SILIWANGI. Gudang-gudang itu seperti sebuah ‘benteng pertahanan’ di tengah kota. Membentuk dunia lain yang dibatasi dengan tegas oleh jalan kereta api.Kompleks militer yang rigid dan teratur secara ruang, masih bisa dirasakan dan dialami hingga kini. Namun aura militerisme yang terasa kuat sampai pertengahan tahun 1990-an, lambat laun berbaur dengan arus komersialisme yang mulai merubah wajah dan fungsi kompleks militer itu dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Pan Schomper, pemilik Hotel Naripan di masa kolonial dulu, menulis dalam bukunya ‘Chaos After Paradise, Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Seorang Pedagang Telur’, bahwa pintu kereta api di Jalan Ahmad Yani, menjadi garis demarkasi antara wilayah pribumi dan non pribumi (baca: orang Eropa). Jika ada orang pribumi berkeliaran di wilayah orang Eropa lewat jam malam, akan terkena hukuman yang sangat berat. Pada masa penjajahan Jepang, daerah Cihapit sampai Gudang Utara, menjadi kamp konsentrasi dalam kota bagi para interniran Belanda.

Sementara di belakang Kebon Pisang, sampai akhir tahun 90-an, terdapat Asrama Polisi (Aspol) yang kini berubah menjadi ITC (International Trade Center) Kosambi. Saya masih ingat, ada pagar kawat berduri dan tembok yang mengelilingi asrama polisi itu. Disekeliling tembok, parit kecil memisahkan Kebon Pisang dan asrama polisi. Pintu masuk ke asrama, bisa melalui dua pintu: gerbang utamanya di dekat pasar Kosambi yang menghadap Jalan Baranangsiang, atau lewat jalan kecil yang merupakan jalan pintas dari Kebon Pisang ke Aspol.

Di tahun 80-an, saat saya masih kanak-kanak, kemeriahan 17 Agustus-an, seringkali berubah menjadi ketegangan saat terjadi perkelahian antara Aspol dan asrama ARHANUD (Artileri Pertahanan Udara) TNI-AD yang terletak di daerah jalan Menado. Penyebab perkelahian itu, biasanya sederhana saja. Salah satu pihak yang kalah dalam kompetisi sepak bola 17 Agustus-an, se Kecamatan Bandung Wetan (sebelum diganti jadi Kecamatan Sumur Bandung), merasa dicurangi. Saat itu, Asrama ARHANUD sering kali, menjadi pihak yang lebih ditakuti. Secara geografis dan politis, pihak asrama ARHANUD lebih diuntungkan. Letaknya yang berada di tengah-tengah kompleks militer yang dijaga ketat, membuat Asrama ARHANUD sulit untuk diserang terlebih dahulu. Sementara Asrama ARHANUD seringkali menyerang Aspol, dengan kebon pisang sebagai pintu masuknya. Akibatnya, yang menanggung kerugian lebih banyak dari tawuran dua asrama ini adalah warga Kebon Pisang. Selain teror mental, lemparan batu yang merusak kaca-kaca rumah, harus di hadapi, tanpa bisa meminta ganti rugi. Tawuran ini, sempat menjadi kegiatan rutin yang harus di hadapi penduduk Kebon Pisang dalam kurun waktu tertentu di tahun 80-an.

Diawal tahun 80-an, pemerintah Orde Baru menerapkan banyak kebijakan yang sangat militeristik, seperti ABRI Masuk Desa, UU Subversib (UU no 11/PPs/1983). Akibatnya aktivitas militer terasa mendominasi kehidupan saya sejak saya bersekolah di SD Patrakomala, yang terletak di tengah-tengah kompleks militer, juga di Kebon Pisang dan sekitarnya pada masa itu. Tak jarang, di tengah malam, sepeleton prajurit, latihan baris berbaris sambil menyanyikan lagu-lagu mars ABRI. Latihan peperangan di dalam kota, parade perlengkapan militer, seperti tank, mobil-mobil tempur, berderet di sepanjang Gudang Selatan, pada peringatan-peringatan tertentu di masa itu. Seolah ingin mempertontonkan kekuatan militer yang selalu siaga menjaga keamanan dan stabilitas negara. Kondisi siaga itu, di satu sisi terasa sebagai teror dan ancaman pada masyarakat sipil di sekitarnya, bahwa barang siapa menentang penguasa, harus berhadapan dengan kekuatan militer sebagai penguasa wilayah. Dan KODIM, pada masa itu, menjadi jaminan keamanan warga. Jika ada preman kampung melakukan tindak kriminal, warga Kebon Pisang, cukup membawa mereka ke KODIM untuk mengganjar perbuatan si pembuat onar. Namun seiring dengan perubahan situasi politik dan peran militer, warna militeristik di Gudang Selatan dan sekitarnya lambat laun memudar. Tapal batas menjadi wilayah status quo yang saat ini lebih didominasi oleh kepentingan para pemilik modal.

Perubahan dari situasi serba rigid ke kondisi ‘chaotic ‘, sempat pula saya alami saat duduk di bangku SMP pada akhir 80-an sampai awal 90-an. Sekolah saya pada saat itu, terletak persis di belakang Stasiun Cikudapateuh. Teman-teman saya mayoritas berasal dari daerah-daerah padat penduduk dengan tingkat kriminalitas dan ketegangan cukup tinggi. Seperti Cibangkong, Cukang Jati, Kosambi, Galunggung, Gatot Subroto, Karees, Cinta Asih, Cicadas. Kisah-kisah tentang pembunuhan, perkelahian, perampokan, kekerasan, tindak kriminalitas lain, kehebatan preman-preman setempat, menjadi urban legend yang mewarnai keseharian masa remaja saya. Dan menjadi ketegangan psikologis yang saya alami dalam berkota.

***
Ketegangan di ‘tapal batas’_Gudang Selatan-Kebon Pisang, pada kondisi sekarang, tidak lagi berupa ketegangan-ketegangan fisik seperti masa-masa tawuran antar asrama di tahun 80-an. Ketegangan itu kini terasa lebih laten, karena terkait dengan konflik kepentingan. Komersialisasi lahan memegang kendali perubahan pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini.

‘Benteng tak bertuan’ di sekeliling Gudang Utara - Gudang Selatan, yang tidak lagi digunakan untuk kepentingan militer itu, kini terkavling-kavling sebagai wilayah komersil. Mulai dari gudang barang Carefour, kantor untuk lokal clothing 347/eat, bengkel Land Rover, workshop funiture, pangkalan taxi Gemah Ripah, pabrik obat, sampai rumah makan. Perubahan fungsi bangunan-bangunan itu, merubah kompleks militer yang rigid, menjadi lebih beragam dan vis a vis dengan perubahan yang juga terjadi di jalur ‘tak bertuan’ sepanjang rel kereta api.

Jalur tak bertuan ini, selain menjadi tempat pembuangan sampah dan tempat pemukiman para pemulung, dalam lima tahun belakangan ini, bermunculan ruang-ruang usaha seperti bengkel, tempat sablon, atau rumah-rumah liar yang disewakan pada para pendatang yang entah dari mana asalnya. Wilayah ini diduduki oleh pihak-pihak yang merasa berhak menempatinya tanpa status kepemilikan dan wilayah administratif yang jelas, apakah masuk ke wilayah Kelurahan Kebon Pisang, atau Kelurahan Merdeka. Wilayah yang seharusnya menjadi jalur hijau jalan kereta api, malah menjadi tapal batas baru di antara Kebon Pisang dan Gudang Selatan. Sempat buldoser pemerintah datang untuk menertibkan wilayah itu. Namun tidak berhasil, karena penghuni dan pihak-pihak yang berkepentingan menghalangi upaya itu. Entah sampai kapan, wilayah tak bertuan ini akan bertahan. Desas-desus penggusuran, muncul seperti bom yang ditanam dan bisa meledak kapan saja tanpa bisa dicegah.

***
Dari hari ke hari, ketegangan-ketegangan tapal batas, tidak lagi menjadi kontras yang mencolok bagi saya. Bandung yang saya alami, kini berubah begitu cepat melampau kemampuan daya dukungnya sendiri. Dan melahirkan ketegangan-ketegangan baru di wilayah yang semula menjadi negasi wilayah tapal batas.

Kesadaran bahwa ketegangan telah menjadi keseharian yang saya jalani dan saya pahami selama ini, muncul menjadi skala toleransi yang bisa bergerak lentur dari titik paling rendah sampai titik tertinggi, dalam merespon semua perubahan ini. Toleransi inilah yang pada akhirnya memberi cara bagi saya untuk bisa menikmati Bandung dengan kecintaan dan kebencian sekaligus.

Tulisan ini di muat di blog vitarlenology.blogspot.com, September 2006

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails