Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan

19.10.09

Aku dan Kotaku: Petani dari Gunung

Penulis: Wikan Satriati
Domisili:  Magelang – Ngepos, Banyuurip, Tegalrejo, Magelang 


Waktu aku kecil, aku suka diajak jalan-jalan pagi oleh bapak atau ibuku. Di depan rumah, sering lewat rombongan orang-orang dari daerah pegunungan yang berjalan kaki menuju pasar di kota. Kata ayahku, rumah mereka sangat jauh. Mereka berangkat dini pagi sekali membawa oncor, semacam obor kecil dari kain dibasahi minyak tanah yang disumpalkan ke sepotong bambu untuk penerang jalan. Barang dagangan mereka berupa sayur mayur, umbi-umbian, buah, kayu bakar, bambu, bibit tanaman dsb. Rata-rata barang dagangan itu ditata apik di dalam tenggok, semacam bakul besar yang digendong para perempuan, sementara kayu bakar biasa ditata membentuk huruf H atau A, dipanggul para laki-laki. Waktu aku sedang belajar membaca, ibuku kadang menyuruhku menebak huruf-huruf itu.


Aku pernah mendengar, konon di pinggang para perempuan penggendong bakul itu terdapat lekuk yang dalam bekas ujung bakul. Aku belum pernah melihatnya. Hanya saja, aku bayangkan betapa berat beban yang mesti mereka bawa karena bisa meninggalkan jejak serupa itu.


Kehadiran pedagang-pedagang itu berpengaruh pada desain eksterior kedai atau warung di sepanjang perjalanan mereka. Rata-rata di depan warung atau kedai itu terdapat semacam bangku tinggi setinggi pinggang agar bakul gendong itu bisa meletakkan bakul mereka atau menggendongnya kembali secara mudah.
Dulu, di dekat rumahku ada pertigaan yang ramai tempat para pedagang dari gunung itu istirahat, menjual sebagian dagangan atau barter dengan pedagang dari daerah lain. Makanan khas yang dulu mudah kujumpai di situ di antaranya: kacang edamame, uwi, dan aneka getuk.


Seiring dengan semakin mudah dan murahnya sarana transportasi, pedagang-pedagang itu tidak lagi berjalan kaki. Mereka berdesak-desakan naik pick up terbuka atau jenis kendaraan colt yang hanya boleh beroperasi di daerah pedesaan atau wilayah kabupaten. Hm … aku jadi ingat, dulu ada kendaraan oplet, yang sekarang sudah tidak beroperasi.


Sekarang pemandangan pagi masa kecilku itu sudah tidak ada lagi. Magelang, seperti kota-kota lain, mulai bergerak menuju wajah metropol yang seragam. Tidak ada bangku setinggi pinggang di depan warung-warung. Tidak kulihat lagi orang dari pegunungan berjalan di depan rumahku membawa oncor (mereka bisa berangkat lebih siang).


Dulu, konon di Yogya rumah-rumah harus menghadap ke selatan. Aku punya seorang kawan yang tinggal di Kota Gede. Rumah kawanku itu terpaksa disetting menghadap ke selatan meski bagian selatan rumah itu menghadap ke semacam tebing yang tidak bisa dilewati orang. Alhasil, bagian “belakang” yang seharusnya untuk dapur menjadi pintu masuk utama dan ruang tamu, sedangkan bagian “depan” rumah yang bentuknya seperti bagian depan rumah pada umumnya—dinding kayu tradisional lengkap dengan pintu gerbang, menjadi dapur. Jadi tungku masak mereka berada di depan “pintu gerbang” itu.


Aneh ... tapi banyak rumah di Kota Gede yang seperti itu. Saat masuk ke lorong-lorongnya yang berliku dan kadang bikin tersesat, aku sering merasa sedang berada di masa lalu. Rumah-rumah tua, banyak orang yang masih berpakaian Jawa dan berlaku santun khas priyayi. Wilayah ini menarik dan “berbeda”. Namun, pelan-pelan ciri khas itu menyusut. Banyak bangunan baru yang tidak taat “pakem”: tidak menghadap ke selatan, arsitekturnya pun beragam dan suka-suka. Memang satu dua bangunan baru itu tampak aneh di tengah bangunan-bangunan kuno. Namun kelak jika bangunan lama itu sudah terlalu tua dan tiba saatnya diganti, lama-lama ciri khas Kota Gede itu akan punah dengan sendirinya.Satu per satu ciri khas daerah lenyap, atau berbaur tanpa terasa. Barangkali karena dorongan faktor ekonomi. Kini, nyaris tidak ada beda berada di mana pun.


Di Bali, misalnya, aku bisa menjumpai kerajinan tangan, baju-baju batik, aksesoris, yang kurang lebih mirip di Yogya, atau malah di Tanah Abang, Jakarta. Aku bisa berpura-pura telah pergi ke Bandung dengan membawakan oleh-oleh kue moci, bolen pisang atau brownis kukus yang bisa kudapatkan di gerai oleh-oleh di Magelang. Tapi, anehnya, aku tidak tahu di mana bisa membeli kacang edamame atau uwi rebus yang dulu mudah sekali kudapatkan.


Kadang aku merasa sedang berpesta kenangan” saat mendapati tukang sayur menjual getuk hitam yang digoreng diisi gula, kue celorot, atau membeli nasi berlauk telur di warung nasi yang dulu bagiku menjual nasi berlauk telur paling enak sedunia.


Mungkin yang mengingatkanku bahwa aku masih di Magelang adalah wajah-wajah orang gunung itu tidak banyak berubah. Tipikal pekerja keras yang lugu. Aku tidak tahu apakah mereka menyadari bahwa kubis, wortel, buncis yang telah mereka tanam hampir seumur hidup itu harganya sudah jauh menurun dibanding dulu. Apakah mereka terpikir untuk menanam tanaman lain? Entahlah.


Pada saat krisis moneter 1998, dan harga sayur-mayur anjlok secara drastis, berbanding terbalik dengan harga sembako, aku pernah mendengar cerita seorang petani gunung yang nyaris kehilangan akal, duduk tercengang di emperan pasar setelah hasil penjualan berkarung-karung buncis miliknya hanya bisa untuk membeli seplastik kecil minyak goreng, seperdelapan liter dan tidak cukup tersisa uang untuk ongkos naik bis pulang ke kampungnya.Kurasa ada cukup banyak petani-petani itu yang hanya terus bekerja keras, semakin keras dan tidak mengerti ketika mendapati diri mereka hanya semakin miskin.


*) Ditulis untuk mengikuti program Tobucil Diary Project 2009 “Aku dan Kota Tempat Tinggalku”




9.9.09

Catatan harian : Tentang suryanamaskara, matahari terbenam, langit terbalik (16-05-09)

Penulis : Tria Nin
Domisili : Solo & Boyolali
Blog : http://mimpikiri.multiply.com/ , http://mimpikiri.wordpress.com


Sore ini, saya bersama seorang teman perempuan berjalan ke barat menuju sebuah taman. Pintu coklat menyapa , dan kami pun memutuskan untuk ke kanan.Memasuki arena yang biasanya digunakan untuk pertunjukan seni di tempat terbuka. Kami berdiri sebentar menatap langit yang begitu putih bersih dan memutuskan untuk duduk di matras murahan yang kami bawa dari rumah.Di sebelah kanan, serombongan orang yang sedang melakukan pemotretan pre wedding, begitu riuh. Di sebelah kiri ada anak-anak kecil sedang berlarian. Dan di tempat duduk atas arena taman ada enam pasangan sedang berasyik masyuk. Ada yang berpelukan, ada yang berpoto-poto romantis, ada yang sedang berbincang-bincang, ada yang diam-diaman saja, dan ada yang ada ada saja.
Sore itu, kami berdua melakukan suryanamaskara , melakukan kombinasi gerakan asana ketika matahari akan terbenam, menyadari aliran napas, begitu sederhana. Entah sudah berapa kali kami melakukan suryanamaskara, keringat pun begitu riuh membasah. Kami pun beristirahat sebentar.Dan di sebelah kanan masih begitu gaduh dengan tertawa kencang dan sesekali berbisik, ada yang meliuk, ada yang merekam, diantara lalu lalang angin yang segar. Kami melanjutkan beryoga kembali, melakukan asana ringan sambil duduk dan dilanjutkan bermeditasi. Mata terpejam, duduk di atas matras murahan, di sekeliling begitu riuh, dan pikiran-pikiran berpesta. Begitu adanya , menyadari keriuhan. Entah berapa lama, kami tak tahu.

Pikiran-pikiran berpesta, menyadari begitu adanya.

Mata begitu hangat, membuka mata, melihat ke atas langit yang begitu putih. Nampaknya acara pemotretan di samping kami sudah usai.Suasana agak hening, tetapi beberapa pasangan yang beraktivitas di sekitar kami masih ada beberapa. Matahari begitu laki , kuat nan lembut berpamitan resap di sore ini. Sore yang riuh dan teduh. Kami melipat matras dan memutuskan untuk meditasi jalan. Saya dan teman saya yang perempuan berjalan kaki tanpa bicara dan menyadari langkah kaki berjalan, Menyusuri taman yang hijau dan beberapa orang sangat resah dan riuh dalam berbagai pergulatan kegiatan. Kaki berjalan, napas mengalir, sekeliling riuh, menyadari begitu adanya.

Di dekat kolam berwarna air hijau, di bawah pohon berusia senja. Kami duduk berdua.Kemudian terjadi perbincangan sore tentang kecamuknya pikiran. Kemudian diam, kemudian berdiri dan memutuskan untuk meditasi jalan kembali tanpa perbincangan apapun lagi.

Kami berhenti di dekat pohon , daun daun muram, dahan-dahan mengering, dan burung-burung pipit berpesta di tubuhnya. Mereka bertepuk tangan, bersuka cita. Pohon itu begitu cantik. Saya dan seorang teman yang perempuan berbaring lagi di atas matras murahan,mendongak kepala ke atas, hingga sekeliling terlihat terbalik, pohon di belakang menjadi begitu kecil dan terbalik, bangunan megah kota menjadi terbalik dan sangat mengecil, beberapa pasangan menjadi terbalik dan sangat mengecil, semuanya begitu mengecil di antara langit putih bersih yang sangat luas entah di sore ini.

Kami mengakhiri sore ini dengan entah, keluar taman dengan pelan dan beberapa lelaki iseng menggoda resah dan kami pun menyadari resahnya, berjalan kaki diantara mobil dan motor yang bersahutan gagap kalap.

Tulisan ini di posting ulang dari sini

27.7.09

Kampoeng Batik Laweyan, sebuah lorong dari masa kecilku….


Penulis: Nur Apriyanti
Domisili: Surabaya

Aku sudah puluhan tahun meninggalkan kota ini dan hidup di kota lain yang lebih besar. Namun, Solo, tetap menjadi tempat tujuan utama jika liburan sekolah anakku tiba, atau libur hari raya. Ia semakin megah, makin dipadati mall dan tentu saja, makin sibuk dibandingkan waktu aku kecil dahulu. Jika aku dulu bisa menyepeda ke SMP ku dengan melenggang ria, sekarang rasanya, aku tidak akan tega melepas anakku bersepeda menempuh rute yang sama dengan saingan lalu lintas kendaraan yang padat, seenaknya dan …. tidak mau mengalah.

Adabanyak yang berubah, dibandingkan 20 tahunan lalu waktu pertama kali kutinggalkan. Tapi tempat-tempat tertentu, sudut kota tertentu, tetap menyimpan ukiran kenangan yang sama. Masih ada getaran kenangan ketika melintas beberapa kelok jalanannya. Uh, aku hampir ketangkep Polantas disini, untung saja aku sempat kabur dengan vespa PX ku. Sudut yang lain
menggugah ingatanku sewaktu aku dibonceng ayahku dengan sepeda onthel, bertiga dengan adikku, membeli martabak di daerah Sriwedari di tengah kota. Itulah mungkin keunggulannya menjadi sebuah kota kelahiran. Ribuan mil pun kita pergi, ia tetap lekat di hati.

Jika aku diminta mengenang tempat mana yang paling lekat menjadi kenangan bermainku saat di SD, maka Kampung Laweyan-lah tempatnya. Kampung ini sejak dahulu banyak dihuni oleh
pengrajin batik. Banyak temanku SD yang ayah ibunya menjadi juragan batik. Mereka menempuh ilmu di sekolah yang sama denganku, hanya sekitar 300an meter dari kampung ini. Karena banyak temanku yang tinggal disini, otomatis sepulang sekolah, disinilah aku biasa menghabiskan waktu mainku. Biasanya dengan bersepeda menggunakan sepeda kebo besar milik ayahku.

Sudah cukup banyak perubahan yang dialami kampung ini sejak dahulu. Kebanyakan rumah masih punya style lama yang sama sekali tidak berubah sejak dahulu. Namun banyak juga
bangunan baru, biasanya berupa show room batik. Papan penunjuk arah banyak bertebaran di tiap gangnya untuk mempermudah wisatawan mencari tempat tujuannya. Ada papan penunjuk untuk beberapa perusahaan batik, tempat penjualan souvenir, warung makan, pengrajin
blangkon, sentra pembelajaran batik, bahkan rumah-rumah kuno. Balutan modernisasasi tercampur kental dengan peninggalan sejarah yang terabadikan.

Sekarang, kampung ini sudah menjadi kampung tujuan wisata yang cukup ramai dikunjungi turis lokal, terutama waktu weekend. Rumah seorang teman, bahkan sekarang sudah tersulap menjadi sebuah Museum Batik. Sebuah rumah kuno berpendopo luas, tempatku dulu sering bermain di sana sambil meminjam majalah ‘Hai’ koleksi temanku, sekarang sudah disulap menjadi 2 show room batik dengan menyekat bagian pendopo itu tepat di tengah ruangan. Beberapa teman kecilku, saat ini juga sudah menjadi juragan batik yang cukup terkenal di sana, meneruskan usaha orang tuanya.

Di hari-hari biasa, siang hari, kampung ini relatif sepi. Beberapa tukang parkir duduk di tepi jalan utamanya, kadang sambil terkantuk-kantuk karena tidak banyak kesibukan. Angin siang yang kering, dipadu sinar matahari tengah hari, adalah paduan yang sempurna untuk menikmati istirahat siang. Musim kemarau datang lebih lambat tahun ini. Mangsa bedhidhing, yang dikenali orang Jawa sebagai musim peralihan ke musim kemarau, baru datang di awal Juli. Angin terasa agak menggigilkan badan meski matahari menyapa dengan ramah. Aku mengenalinya dengan baik; pemandu musim yang setia. Ia mengantarku menganyam kenangan siang itu. Tiga puluh tahun, bukan waktu yang pendek. Beberapa kenangan masih tinggal, sebagian lain luruh bersama waktu.

Kenanganku yang tidak hilang akan kampung ini, tersisa utuh di sebuah lorong kecil, tempatku sering bersepeda berombongan dengan teman-temanku dan kemudian mampir di rumah seorang teman yang tinggal di lorong sempit itu. Di mulut gangnya yang sempit, ada tanjakan yang sekarang sudah dibuat lebih landai dibanding dulu sehingga lebih memudahkan untuk dinaiki. Dahulu aku butuh bantuan seorang teman untuk mendorong sepeda keboku dari belakang untuk melewati tanjakan itu. Rumah pertama dari mulut gang itulah rumah temanku, Indah. Keluarganya terdiri dari keluarga besar, mungkin sekitar 6 orang anak yang jarak lahirnya saling berdekatan. Rumah sederhana yang berhalaman luas, menjadi tempat singgah favoritku. Indah memiliki banyak buku bacaan di rumahnya yang berasal dari perpustakaan sekolah tempat ibunya mengajar. Entah kenapa, buku-buku bacaan itu dititipkan di situ. Buku favoritku adalah serial binatang yang diceritakan dalam kisah seperti manusia. Piko, si anjing laut, misalnya. Mengikuti satu per satu serinya selalu membangkitkan perasaan haru tersendiri
pada kehidupan binatang. Aku yakin, buku-buku ini sangat mewarnai bagaimana aku memperlakukan binatang saat ini. Mereka punya keluarga juga seperti kita; punya perasaan sedih dan bahagia. Punya naluri untuk menyelamatkan dari bahaya, membentuk keluarga dan melindungi keluarganya. Seringkali aku ikut menangis mengikuti kisah mereka yang susah payah menyelematakan diri dari tangkapan manusia dan mempertahankan diri untuk tetap
bisa hidup di alam bebas bersama kelompoknya.

Suatu hari aku pernah terhadang hujan waktu berniat pulang dari rumah Indah. Bahkan sampai Magribpun hujan belum mereda. Jamanku kecil, tentu saja, belum ada HP atau telepon umum seperti sekarang ini. Jadi aku tak bisa mengabarkan pada keluargaku di rumah bahwa aku baik-baik saja berada di rumah temanku, hanya menunggu waktu pulang sampai hujan reda. Bapakku pastilah sangat khawatir karena tidak biasanya aku pulang main selarut itu. Tapi aku belum diperkenakan pulang oleh mereka sekeluarga, takut aku menjadi sakit esok harinya terguyur hujan. Alhasil, aku mengikuti sholat magrib berjamaah di rumah mereka. Selesai sholat, masih dalam posisi duduk, bapaknya berputar badan menghadap anak-anak yang menjadi makmumnya dan satu per satu anaknya mencium tangan beliau. Ritual inilah yang kemudian aku tiru di rumahku; ditiru juga oleh adik-adikku; dan kuajarkan sekarang pada anakku.

Lorong itu masih sama sepinya seperti dulu. Dinding-dinding pembangunnya, bahkan terkesan semakin tua tak terawat. Pas di tikungan kecilnya, ada pos ronda yang tak lagi bisa diduduki
karena sekarang dipagari bilah-bilah bambu yang disilang-silangkan. Aku dulu tertawa-tawa dengan temanku, duduk bercerita di sana. Mana pernah kami berpikir tentang lapar di tengah waktu bermain itu. Uang jajan kami sangat pas-pasan, jadi memang hanya cukup untuk membeli jajanan saat di sekolah. Lebih sering kami bersepeda bersama tanpa ada yang membawa uang sama sekali; sangat berbeda dengan anak-anak kecil jaman sekarang. Tapi kemanapun sepeda kami melaju, kami selalu riang gembira. Adalah suatu ‘keajaiban kecil’ apabila ada teman yang mau membelikan kami makanan ringan. Es mambo, rambak, kadang kala kami dapatkan secara gratis dari traktiran seorang teman yang cukup kaya; ayah ibunya pengusaha batik yang sukses. Namun kebanyakan hari bermain kami, terlewat tanpa makanan
camilan apapun. Oleh karena itu, jika kami singgah di rumah seorang teman dan ibunya berbaik hati menyediakan minuman teh atau sirup bagi kami, tentu
saja kami terima dengan rasa syukur yang dalam.

Karena banyak temanku yang ayah ibunya menjadi pengrajin batik, maka kami juga mempunyai satu hobi yang unik : mengumpulkan tiket batik. Tiket, demikian kami biasa menyebutnya, adalah label kertas yang ditempel di atas kain batik yang sudah terlipat rapi dan siap dipasarkan. Besar dan bentuknya bervariasi; tapi biasanya tak lebih besar dari 3 x 5 cm. Pada lembaran tiket itu ada logo, nama perusahaan batik serta alamatnya. Banyak teman membawa tiket ke sekolah, masih dalam bentuk gepokan rapi yang baru diambil dari tempat percetakan. Masih lengket antara tiket satu dengan yang dibawahnya, sehingga jika kita mengambil salah satu lembarannya pastilah akan menimbulkan bunyi khas yang berkeretekan.
Tiket batik, bisa menjadi sarana untuk mendapatkan penerimaan kelompok bermain kami. Siapa yang membawa tiket yang cantik dan besar, biasanya segera akan diserbu oleh teman lain yang meminta. Mereka akan sangat menikmati waktu membagi-bagikan ini, karena teman-teman yang lain akan berusaha memberikan rayuan terbaiknya agar mendapatkan banyak pemberian. Teman yang murah hati, akan membagi tiket itu sampai titik darah penghabisan. Namun yang pelit, hanya akan membaginya pada anggota ‘gang’ nya
dan menyimpan banyak sisanya untuk dirinya sendiri, untuk dipamerkan pada teman lain bahwa ia memiliki sesuatu yang mereka idam-idamkan. Ada beberapa teman yang sengaja menyebar gepokan tiket tadi di tengah ruang kelas saat istirahat, sambil berdiri di atas
bangku belajar. Anak-anak yang lain (mayoritas murid perempuan) akan dengan histeris memperebutkannya. Setelah tiket didapat, kami akan menyimpannya di wadah khusus. Saling bertukar koleksi, atau membuat tiket tsb menjadi koin penukar jika kami melakukan acara pasaran (permainan jual beli) adalah hal-hal kami lakukan dengan tiket itu. Sampai aku sekolah di SMA, masih kudapati aneka ragam tiket itu dalam wadah koleksiku. Ah, kerjaan dari ‘maling-maling kecil’, batinku saat ini. Kebanyakan teman mendapatkan tiket itu secara sembunyi-sembunyi dari tempat penyimpanan orang tua mereka. Seringkali mereka mengambil dalam jumlah banyak, tanpa permisi. Aku bisa membayangkan sekarang, orang tua mereka pastilah akan terkaget-kaget mendapati persediaan tiket yang cepat habis. Tak jarang, acara membagi-bagikan tiket ini juga bisa menjadi ajang perselisihan antar teman. Yang tidak kebagian, akan berbalik membenci teman si pembawa tiket itu. Tapi dasar anak-anak, hal ini akan cepat terlupa saat kami bermain lain hari.

Dahulu rumah-rumah kuno di kampung ini, menjadi bagian dari aktivitasku sehari-hari. Sekarang banyak yang menjadi tontonan wisata yang menarik. Dari sebuah kampung kecil
yang penuh kenangan, berganti wajah menjadi kampung wisata belanja yang menjadi ikon kebanggaan kota. Tapi kenangan itu tidak pernah pergi dari benakku. Masa kecilku, teman-temanku, pengalamanku survival mencapai eksistensi diri dalam kelompok bermainku, terpateri rapi dalam setiap lorongnya. Aku hanya bisa bercerita pada anakku, bahwa aku dulu pernah membaca buku-buku yang indah tentang kehidupan binatang, namun tak bisa mencarikan terbitan buku yang sama di toko buku saat ini. Aku juga mengajaknya melewati lorong kecil yang paling kucinta, menunjukkan padanya bahwa ibunya dahulu sangat menyukai duduk bercengkerama di pos hansip yang sudah tak bisa ditempati itu. Menunjukkan sungai favorit tempat teman-temanku senang berenang di arusnya; langgar (mushola) dulu tempatku belajar mengaji di sore hari. Kenanganku memang tak akan bisa kuwariskan dalam ingatannya. Namun kuharap, ia juga akan mau berbagi pengalaman masa kecilnya, pada anak-anaknya nanti…

(diselesaikan, 16 Juli 2009, 21: 54)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails