Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur
Malang membuat saya kehilangan sinisme saya pada setiap kota yang biasanya saya datangi. Kota yang katanya wilayah penaklukkan pertama Ken Arok itu terlampau sederhana sekaligus misterius. Tapi Malang yang saya sambangi bukan lagi ladang pertempuran terbuka. Arek-arek Malang jaman kiwari tinggal tertawa-tawa saja, nongkrong sepuasnya, tanpa perlu kudeta.
Awal Oktober lalu saya berkesempatan lagi singgah di Malang, kali ini seminggu penuh. Pikiran saya pun langsung melompat pada novel hebat Arok Dedes-nya Pramoedya Ananta Toer. Tumapel yang diperintah oleh Akuwu Tunggul Ametung bisa dikata adalah cikal-bakal Malang.
Sontak adrenalin saya berpacu untuk segera menguliti Malang hingga ke bijinya. Berbekal sepeda motor otomatis pinjaman dan memori yang mudah alpa tentang arah mata angin, mulailah saya untuk misi penting: menaklukkan Bumi Ken Arok.
Tentu saja saya gagal mendeteksi jejak-jejak pemberontakan Arok. Si pemberontak begundal yang muncul jadi pahlawan itu kini diabadikan menjadi salah satu nama pusat olahraga, Gelanggang Olahraga Ken Arok. Sementara nama Ken Dedes setahu saya dipakai jadi nama yayasan kesehatan yang juga menaungi sebuah akademi kebidanan.
Malang yang diberkahi dengan udara sejuk membikin kota ini jadi tempat istirahat orang-orang kota di akhir pekan. Tapi, jangan bayangkan Bandung yang padat dan riuh oleh factory outlet, distro, dan kafe-kafe. Malang ibarat sebuah hammock yang diikatkan pada dua batang pohon rimbun. Saya hanya tinggal selonjoran seharian menatapi langitnya yang abu-abu.
Langit Malang seperti hanya kenal dua warna, yaitu abu-abu dan hitam. Saya, yang selalu terbangun pagi hari dan disambut langit abu-abu, berpikir bahwa sebentar lagi hujan bakal turun. Ternyata hingga menjelang Maghrib pun si abu tetap menggantung sebelum digantikan hitam malam.
Arema
Dari seorang kawan saya mengoleksi banyak cerita tentang kota ini, salah satunya tentang geng Higam. Higam, singkatan dari Hidup Gembira Awet Muda, merupakan kumpulan muda-mudi entah seniman maupun pemusik yang living their lives to the fullest, maksudnya full nongkrong, full mabuk, dan full juga berkarya. Salah satu lulusannya ialah Anto Baret yang sekarang lebih sering muncul di Bulungan, Jakarta.
Malang juga punya scene rock yang salah satunya melahirkan Ucok AKA. Saya menyesal tidak sempat menyusuri lorong-lorong tempat rock masih bergema kencang. Suatu hari mungkin.
Tapi dua cerita di atas bukan pengalaman saya. Kisah yang saya punya sendiri ialah mengitari Malang dari satu venue olahraga ke venue lainnya dan menemukan semangat pemuda urakan Arok di dalam suporter-suporter klub sepak bola Arema.
Aremania-begitu suporter Arema disebut- singkatan dari Arek Malang. Mereka kosmopolit, ada di mana-mana baik dalam bentuk toko merchandise, umbul-umbul, hingga umpatan. Mereka muda, gesit, dan berbahaya kalau sudah ngumpul. Tapi mereka hanya membunyikan genderang perang kalau timnya bertemu Persebaya Surabaya saja, lagi-lagi karena alasan yang saya juga tidak begitu paham.
Orang Malang juga punya dialek yang unik, yang sering disebut Malangan. Saya mengibaratkan dialek mereka seperti Bahasa Inggris-nya orang Australia yang meluncur begitu rapat, cepat, hingga saya tidak bisa mendengar satu katapun yang mereka ucapkan.
Malam
Udara dingin Malang tidak membuat orang cepat-cepat sembunyi di balik selimut. Kalau malam, pedagang kaki lima mulai menyeruak seperti laron-laron. Ketimbang menyambangi restoran cepat saji berlambang M yang buka 24 jam, saya lebih suka memilih secara acak warung-warung temporer berlampu petromaks.
Beruntunglah saya sempat mengunjungi warung subuh, warung makan di Jalan Langsep yang justru kian hidup ketika subuh. Mata saya langsung berbinar melihat berbagai jenis makanan rumahan yang masih segar dari wajannya. Saya makin senang waktu melihat ada tempe goreng tebal yang masih hangat.
Makin subuh, warung justru makin penuh, juga oleh muda-mudi yang tampaknya baru pulang dugem. Rasanya lucu melihat campuran orang tua-muda mulai dari yang berbaju training hingga yang cukup gila karena hanya memakai gaun mini bertali spaghetti di udara sedingin itu. Bunyi ketukan sendok dan garpu dan cekakak-cekikik seperti mengiringi suara-suara manusia berdialek Malangan. Saya langsung jatuh cinta pada kota ini.
Akhirnya seminggu di Malang saya berhenti mencari sisa-sisa Arok. Cinta juga harus tetap realistis bukan? Sinisme saya rasanya mati kutu dibuat kota ini. Bahkan es krim berharga mahal dengan rasa standar di toko Oen tidak membuat saya merengut. Mal-mal yang tetap saja selalu penuh itu saya singgahi juga, pengendara motor yang hobi nyalip itu pun saya senyumi.
Malang era Arok memang bikin saya terpukau, tapi Malang 2009 yang mulai dikepung mesin dan bangunan beton itu yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana. Ternyata di Malang saya berubah jadi melankolis dan romantis. Walau hanya seminggu.
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
10.11.09
3.10.09
Dunia Saya, Panggung Sherly Arsita
Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur
Sesaat saya serasa ada di konser ala Megadeth ketika seorang biduanita di panggung Taman Ria Surabaya (TRS), 21 September malam, asyik ber-head bang-ria, memutar lehernya 360 derajat, lompat kiri dan kanan tanpa terganggu celana kulit pendek superketatnya. Saya pikir ini bakal jadi malam metal pertama saya hanya dengan Rp 10.000 di Surabaya. Tapi Sherly Arsita, biduanita itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya meluncur lagu “Cinta Terlarang” dari The Virgin. Oalah...
Saya memang tidak suka The Virgin sama tidak sukanya pada Ahmad Dani. Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan Sherly malam itu. Biduanita cum penari itu tahu betul menyenangkan mayoritas penonton lelaki yang berada di garda paling depan. Ratusan penonton malam itu memuja satu dewi: Sherly. Mereka mengimani satu agama: dangdut. Yah, walau kadang berselingkuh dengan pop dan melayu.
Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah Sherly? Siapakah ratusan orang-orang ini? Apa yang membuat di malam Idul Fitri mereka lebih tersedot menuju tempat hiburan ketimbang selonjoran di rumah?
Yang lebih dahsyat, manajer taman ria ini mengaku dia dan sekitar 150 pegawainya justru berlebaran di TRS ini. Setelah shalat ied, semuanya kembali bekerja, mesin-mesin bergerak, tiket-tiket dirobek, dan uang-uang berpindah tangan. Demi melayani warga yang selalu haus hiburan, mereka menggadaikan sedikit waktu senggang. Demi sebuah Lebaran yang sudah kadung lekat dengan 'Liburan'.
Lebaran = Liburan? Ini konsekuensi sebuah kota mungkin. Surabaya, yang katanya kota terbesar kedua di Indonesia, menjadi salah satu destinasi mudik terbesar. Hari kedua Lebaran, mal-mal dan tempat hiburan sudah dijejali oleh pemudik. Padahal apa juga gunanya menjejali mal di Surabaya, batin saya. Semua kota sekarang punya mal, mereka punya tempat hiburan, mereka punya apapun yang bisa dibeli oleh uang. Apa yang tertinggal dari sebuah kota?
Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. Kota adalah sebuah pengalaman. Liburan tiga hari saja tidak akan pernah cukup menangkap nyawa sebuah kota, hanya ibarat menonton panggung hiburan dua jam yang menyisakan senang sesaat.
Dunia panggung
Setahun di Surabaya bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein.
Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.
Saya tidak suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan Sherly Arsita yang begitu menjiwai perannya di panggung. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?
Pukul 22.30 taman hiburan ini tutup, terlambat setengah jam dari biasanya. Sherly pun turun panggung dengan senyuman terakhir di wajah berbedak tebalnya. Tapi saya masih di sini, di panggung saya menunggu pertunjukkan berikutnya.
Sejenak saya iri pada Sherly yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka.
Yah, suatu saat ketika kembali bertemu Sherly, akan saya tanyakan nama aslinya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Surabaya.
Domisili: Surabaya, Jawa Timur
Sesaat saya serasa ada di konser ala Megadeth ketika seorang biduanita di panggung Taman Ria Surabaya (TRS), 21 September malam, asyik ber-head bang-ria, memutar lehernya 360 derajat, lompat kiri dan kanan tanpa terganggu celana kulit pendek superketatnya. Saya pikir ini bakal jadi malam metal pertama saya hanya dengan Rp 10.000 di Surabaya. Tapi Sherly Arsita, biduanita itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya meluncur lagu “Cinta Terlarang” dari The Virgin. Oalah...
Saya memang tidak suka The Virgin sama tidak sukanya pada Ahmad Dani. Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan Sherly malam itu. Biduanita cum penari itu tahu betul menyenangkan mayoritas penonton lelaki yang berada di garda paling depan. Ratusan penonton malam itu memuja satu dewi: Sherly. Mereka mengimani satu agama: dangdut. Yah, walau kadang berselingkuh dengan pop dan melayu.
Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah Sherly? Siapakah ratusan orang-orang ini? Apa yang membuat di malam Idul Fitri mereka lebih tersedot menuju tempat hiburan ketimbang selonjoran di rumah?
Yang lebih dahsyat, manajer taman ria ini mengaku dia dan sekitar 150 pegawainya justru berlebaran di TRS ini. Setelah shalat ied, semuanya kembali bekerja, mesin-mesin bergerak, tiket-tiket dirobek, dan uang-uang berpindah tangan. Demi melayani warga yang selalu haus hiburan, mereka menggadaikan sedikit waktu senggang. Demi sebuah Lebaran yang sudah kadung lekat dengan 'Liburan'.
Lebaran = Liburan? Ini konsekuensi sebuah kota mungkin. Surabaya, yang katanya kota terbesar kedua di Indonesia, menjadi salah satu destinasi mudik terbesar. Hari kedua Lebaran, mal-mal dan tempat hiburan sudah dijejali oleh pemudik. Padahal apa juga gunanya menjejali mal di Surabaya, batin saya. Semua kota sekarang punya mal, mereka punya tempat hiburan, mereka punya apapun yang bisa dibeli oleh uang. Apa yang tertinggal dari sebuah kota?
Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. Kota adalah sebuah pengalaman. Liburan tiga hari saja tidak akan pernah cukup menangkap nyawa sebuah kota, hanya ibarat menonton panggung hiburan dua jam yang menyisakan senang sesaat.
Dunia panggung
Setahun di Surabaya bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein.
Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.
Saya tidak suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan Sherly Arsita yang begitu menjiwai perannya di panggung. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?
Pukul 22.30 taman hiburan ini tutup, terlambat setengah jam dari biasanya. Sherly pun turun panggung dengan senyuman terakhir di wajah berbedak tebalnya. Tapi saya masih di sini, di panggung saya menunggu pertunjukkan berikutnya.
Sejenak saya iri pada Sherly yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka.
Yah, suatu saat ketika kembali bertemu Sherly, akan saya tanyakan nama aslinya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Surabaya.
Kediri vs kota lain
Penulis: Ariningsun P Cinantya
Domisili: Taipei, Taiwan
Blog: http://cinantya.blogspot.com/
Tinggal di Kediri selama beberapa bulan, nenengceriwis jadi bisa membandingkan beberapa habit kota Kediri dengan kota-kota lainnya.
Misalnya nih:
- orang-orang Kediri masih jarang makan di luar. Kalaupun ada restoran di Kediri yang penuh dengan selai, alias jam packed... (mulai ngegaring), biasanya itu karena ada dua hal wajib: MURAH dan ENAK. Kalau enak tapi ngga murah, jarang penuh. Kalau murah tapi ga enak, juga jarang penuh.
berbeda dengan kota Jakarta, Yogya, Bandung, atau Singapore. Enak doang sudah cukup untuk membuat resto itu penuh. Kalau murah dan penuh? Wah... bisa habis terjual dalam beberapa jam. Setuju ngga? ... ko jadi inget mang Oyo sih?
Tapi khusus Bandung, kadang makanan ngga enak pun tempatnya bisa penuh. Tempat yang kayak gini kan biasanya tempat-tempat yang jual view. Ya kan, Kampung Daun? ... hehehehhehehehe... - Sepadat-padatnya lalu lintas kota Kediri, adalah sama dengan kondisi di Jakarta saat lancar. Atau Bandung saat off rush hour di weekdays. Atau Jogja di Sabtu dan Minggu pagi sebelum jam 9.
- Angkot (mikrolet) di Bandung dan di Jakarta ada beberapa yang 24 jam. Kalaupun ngga 24 jam, biasanya last departure (keren amat istilahnya?) adalah jam 8-9 malam. Surabaya... ngga tahu, belum pernah coba. Yogya ngga ada angkot, adanya minibus dan mikrobus. Kediri? angkot (mikrolet) lenyap jam 4 sore.
- Variasi kendaraan umum di Jakarta begitu lengkap. untuk dalam kota, ada KRL, busway, bus kota (damri dan swastah), minibus (macam kopaja), bajaj, ojek, taksi, en becak (yang belum kesebut jangan ngamuk). Bandung, tahu sendiri lah... angkot, kereta, Damri, mikrobus (belum pernah naik, yang lewat deket rumah teh kpad-antapani kalo ga salah), becak, ojek. Kediri? angkot, kereta, becak dan bajaj. kalaupun ada bus, itu bus AKAP/AKDP. Ada taksi, tapi armadanya bisa dihitung jari
- Salah satu hal yang istimewa dari Kediri adalah saat Rush Hour. Rush hour di Jakarta, Bandung, Yogya, dan Surabaya adalah saat jam masuk sekolah, jam masuk kantor, jam keluar sekolah siang (jam 1-2) dan jam pulang kantor. Bandung yang kota kecil, rush hour akibat sekolah bisa bikin kemacetan lokal yang menyebalkan (setuju, ibu-ibu?). Di Kediri, rush hour itu adalah jam bubaran karyawan pabrik Gudang Garam, yaitu sekitar jam 4. Sekolah ngga bikin macet karena mayoritas murid menggunakan sepeda untuk alat transportasi. Kalau bukan sepeda, ya jalan kaki atau ngangkot atau nge-bus AKAP/AKDP.
Di Jakata, Bandung, Yogya dan Surabaya, rush hour bisa mengakibatkan kelangkaan angkot (karena penuh mulu). Jakarta sebagai kota metropabalieut dan Singapore sebagai kota megapolitan, juga ditandai dengan kelangkaan taksi. Di Kediri? ditandai dengan kelangkaan becak. Hahahaha...
Tulisan ini di publikasikan kembali dari sini
analisis kediri (1)
Penulis: Ariningsun P Cinantya
Domisili: Taipei, Taiwan
Blog: http://cinantya.blogspot.com/
Yah, setelah hampir 5 bulan di kediri, kayaknya sudah saatnya saya cerita-cerita soal opini saya tentang kediri. Soal jalan-jalan Kediri-nya, aku lanjutin weekend ini ya. Weekend ini sih sepertinya ga akan ke luar kota.
Kediri sepertinya bertekad untuk menjadi kota dengan ZERO street crime. Gila ya? Waktu gue di singapore aja mereka cuma berobsesi untuk mencapai LOW crime rate (semua jenis kejahatan). Dan dimana-mana Polda singapore (heuheuheuheu... disebut apa sih? kaga tahu nih) masang spanduk "Low Crime Rate doens't mean Zero" or semacamnya deh. Lha ini? Kediri... bertekad untuk ZERO street crime.
Kita hargai saja tekad mereka, dan saya sebagai warga (mudah-mudahan temporary) di Kediri juga akan menyumbang usaha.
Tindakan zero street crime ini terutama sangat digalakkan di area pusat kota. Pusat kota di sini artinya di sekitar kantor walikota. Hm... jalan apa ya? Yang jelas, demi mencapai target mereka yang satu ini, hampir di setiap perempatan terdapat Pos Polisi. Memang ga semewah yang di Jakarta (seperti yang di area Salemba, ada yang make AC tuh... ck ck ck), tapi cukup lah. Seenggaknya, kalau lagi ada bapak-bapak pulisi di sana, orang-orang (terutama pengendara motor, dan bahkan abang tukang becak) jadi serem kalau melanggar peraturan lalu lintas.
Jumlah mobil juga ngga banyak, dan mungkin sekitar 15% dari mobil yang seliweran di dalam kota, adalah mobil dari area lain di jawa timur, seperti plat L, plat S, plat AE, plat P, dll. Thanks to my office, selama beberapa bulan kemarin banyak mobil plat B seliweran di Kediri. Banyak mobil-mobil lama, tapi jangan salah... mobil keluaran terbaru juga gak sedikit. Satu hal lagi, di kediri, mobil matic ga laku! Soalnya mobil tersebut pasti bakal sering dipake keluar kota, dan pake matic nyetir luar kota, kudu saingan sama bus.
Kembali ke kondisi lalu lintas. Yang gue suka banget dari lalu lintas kediri adalah lampu lalu lintasnya yang berfungsi dengan benar. Belum lagi aksesori penghitung waktunya (walaupun ada juga yang ngitungnya ngaco, masa masih angka 30 terus tiba-tiba lampunya kuning dan hijau?). Jam berapapun, lampu tetap beroperasi. Ngga kayak di Bandung, lewat jam 10 malem banyak yang di non-aktifin kalau bukan di pusat kota. heuheuheuheu. Udah gitu, habis lampu merah, lampu kuning dulu sekitar 2 detik, baru lampu hijau. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau mau ancang-ancang lebih gampang. Sayangnya, dasar dodol banget sih pengendara motor dan mobil di sini, lampu kuning baru nyala mereka udah tancap gas.
Nah... segitu dulu analisis kedirinya.
kalau sudah ke kediri, jangan lupa keduduk ya...
Tulisan ini di publikasikan ulang dari sini
Domisili: Taipei, Taiwan
Blog: http://cinantya.blogspot.com/
Yah, setelah hampir 5 bulan di kediri, kayaknya sudah saatnya saya cerita-cerita soal opini saya tentang kediri. Soal jalan-jalan Kediri-nya, aku lanjutin weekend ini ya. Weekend ini sih sepertinya ga akan ke luar kota.
Kediri sepertinya bertekad untuk menjadi kota dengan ZERO street crime. Gila ya? Waktu gue di singapore aja mereka cuma berobsesi untuk mencapai LOW crime rate (semua jenis kejahatan). Dan dimana-mana Polda singapore (heuheuheuheu... disebut apa sih? kaga tahu nih) masang spanduk "Low Crime Rate doens't mean Zero" or semacamnya deh. Lha ini? Kediri... bertekad untuk ZERO street crime.
Kita hargai saja tekad mereka, dan saya sebagai warga (mudah-mudahan temporary) di Kediri juga akan menyumbang usaha.
Tindakan zero street crime ini terutama sangat digalakkan di area pusat kota. Pusat kota di sini artinya di sekitar kantor walikota. Hm... jalan apa ya? Yang jelas, demi mencapai target mereka yang satu ini, hampir di setiap perempatan terdapat Pos Polisi. Memang ga semewah yang di Jakarta (seperti yang di area Salemba, ada yang make AC tuh... ck ck ck), tapi cukup lah. Seenggaknya, kalau lagi ada bapak-bapak pulisi di sana, orang-orang (terutama pengendara motor, dan bahkan abang tukang becak) jadi serem kalau melanggar peraturan lalu lintas.
Jumlah mobil juga ngga banyak, dan mungkin sekitar 15% dari mobil yang seliweran di dalam kota, adalah mobil dari area lain di jawa timur, seperti plat L, plat S, plat AE, plat P, dll. Thanks to my office, selama beberapa bulan kemarin banyak mobil plat B seliweran di Kediri. Banyak mobil-mobil lama, tapi jangan salah... mobil keluaran terbaru juga gak sedikit. Satu hal lagi, di kediri, mobil matic ga laku! Soalnya mobil tersebut pasti bakal sering dipake keluar kota, dan pake matic nyetir luar kota, kudu saingan sama bus.
Kembali ke kondisi lalu lintas. Yang gue suka banget dari lalu lintas kediri adalah lampu lalu lintasnya yang berfungsi dengan benar. Belum lagi aksesori penghitung waktunya (walaupun ada juga yang ngitungnya ngaco, masa masih angka 30 terus tiba-tiba lampunya kuning dan hijau?). Jam berapapun, lampu tetap beroperasi. Ngga kayak di Bandung, lewat jam 10 malem banyak yang di non-aktifin kalau bukan di pusat kota. heuheuheuheu. Udah gitu, habis lampu merah, lampu kuning dulu sekitar 2 detik, baru lampu hijau. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau mau ancang-ancang lebih gampang. Sayangnya, dasar dodol banget sih pengendara motor dan mobil di sini, lampu kuning baru nyala mereka udah tancap gas.
Nah... segitu dulu analisis kedirinya.
kalau sudah ke kediri, jangan lupa keduduk ya...
Tulisan ini di publikasikan ulang dari sini
16.7.09
Pesta Pora Para Paria
Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur
Semua kota punya 'anak tiri'-nya masing-masing. Mereka yang luput (atau diluputkan) dari kemilau kota yang terus menuntut mereka menjadi lebih menarik, lebih wangi, lebih konsumtif. Tapi, percayalah bahkan Surabaya yang selalu saya maki ini ternyata masih menyediakan ruang bagi paria-paria macam kami untuk berpesta.
Destinasi saya untuk menjelajahi kota selalu tidak jelas. Begitu juga pada akhir pekan 11 Juli lalu. Jalanan sudah kian menor dan memabukkan. Tapi justru saya dan kawan saya malah melangkahkan kaki di tempat yang lebih menor lagi : Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya!
Anda tahu Dunia Fantasi (Dufan)? Baiklah, THR seperti imitasinya. Model taman hiburan dengan aneka permainan. Hanya saja tingkat kengeriannya lebih masuk kategori 'siaga satu'. Maklum waktu naik rollercoaster-wannabe saya serasa naik bus Sumber Kencono dengan supir mabuk plus ngantuk dengan rem nyaris blong!
Kalau kata kawan saya, hanya dengan Rp 6.000 untuk satu wahana saja kami bisa menuju tapal batas antara kesenangan dan kematian (haha!). Yang jelas, empat belas penumpang belia mendarat dengan selamat tanpa protes. Termasuk kami yang berencana mencoba rollercoaster gila itu lagi. Suatu saat.
Bersama ratusan warga dari kota antah-berantah kami merayakan luapan adrenalin. Dengan biaya masuk THR Rp 10.000, mata dijejali kegembiraan liar yang tidak saya lihat di Time Zone. Di sini, anak-anak dengan logat Surabaya, Blitar, hingga Madura merengek-rengek minta naik komidi putar yang bikin pusing itu.
Ini memang liburan, dan Surabaya termasuk magnet yang menarik penduduk dari kabupaten/kota yang rindu hiburan. Atau mayoritas dari mereka tengah menghadiahi anaknya liburan seru karena nilai rapor memuaskan. Sebagai bagian dari promosi, THR memang memberi potongan untuk anak yang punya nilai rata-rata 7,5. Lucunya.
Mimpi kota anak desa
Entah kenapa semua ini begitu nyata buat saya. Lebih nyata dari jembatan terpanjang Suramadu, toko kopi favorit, atau mal-mal yang seakan berhasrat merampok saya. Semua warga THR yang berkumpul pekan lalu melupakan hiruk-pikuk kehidupan sejenak.
Tidak ada yang peduli suara SBY masih tertinggi, uang untuk tahun ajaran baru harus disiapkan, dan uang terkuras demi beberapa jam kesenangan di THR. THR seperti prozac untuk melupakan sedikit gilanya rutinitas.
Remaja-remaja tanggung yang saya lihat di THR dengan bangga mengimitasi gaya Charlie, vokalis ST 12 hingga Giring Nidji. Rambut miring tak beres dipadu dengan celana skinny hitam dan sepatu ala Converse. Setidaknya semua tampak bahagia, menjadi bagian dari 'mode besar' di kota yang juga besar.
Ini sebuah pesta yang mampu mereka biayai. Mimpi-mimpi para paria yang terhipnotis gebyar kota namun tak kuasa menguras lebih banyak isi kantong. Tapi kesenangan harusnya tidak mengenal kelas sosial, tidak dibedakan antara 'norak' dan 'berkelas'.
Meski dicap 'kampungan' oleh rekan sekantor karena menjajal THR, saya mulai menemukan oase lain di kota ini. Entahlah, ditemani kawan terbaik dan tahu petis seharga Rp 500, saya menemukan inilah Surabaya yang sebenarnya. Kota menor yang bermimpi jadi Jakarta, tapi gagal.
Domisili: Surabaya, Jawa Timur
Semua kota punya 'anak tiri'-nya masing-masing. Mereka yang luput (atau diluputkan) dari kemilau kota yang terus menuntut mereka menjadi lebih menarik, lebih wangi, lebih konsumtif. Tapi, percayalah bahkan Surabaya yang selalu saya maki ini ternyata masih menyediakan ruang bagi paria-paria macam kami untuk berpesta.
Destinasi saya untuk menjelajahi kota selalu tidak jelas. Begitu juga pada akhir pekan 11 Juli lalu. Jalanan sudah kian menor dan memabukkan. Tapi justru saya dan kawan saya malah melangkahkan kaki di tempat yang lebih menor lagi : Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya!
Anda tahu Dunia Fantasi (Dufan)? Baiklah, THR seperti imitasinya. Model taman hiburan dengan aneka permainan. Hanya saja tingkat kengeriannya lebih masuk kategori 'siaga satu'. Maklum waktu naik rollercoaster-wannabe saya serasa naik bus Sumber Kencono dengan supir mabuk plus ngantuk dengan rem nyaris blong!
Kalau kata kawan saya, hanya dengan Rp 6.000 untuk satu wahana saja kami bisa menuju tapal batas antara kesenangan dan kematian (haha!). Yang jelas, empat belas penumpang belia mendarat dengan selamat tanpa protes. Termasuk kami yang berencana mencoba rollercoaster gila itu lagi. Suatu saat.
Bersama ratusan warga dari kota antah-berantah kami merayakan luapan adrenalin. Dengan biaya masuk THR Rp 10.000, mata dijejali kegembiraan liar yang tidak saya lihat di Time Zone. Di sini, anak-anak dengan logat Surabaya, Blitar, hingga Madura merengek-rengek minta naik komidi putar yang bikin pusing itu.
Ini memang liburan, dan Surabaya termasuk magnet yang menarik penduduk dari kabupaten/kota yang rindu hiburan. Atau mayoritas dari mereka tengah menghadiahi anaknya liburan seru karena nilai rapor memuaskan. Sebagai bagian dari promosi, THR memang memberi potongan untuk anak yang punya nilai rata-rata 7,5. Lucunya.
Mimpi kota anak desa
Entah kenapa semua ini begitu nyata buat saya. Lebih nyata dari jembatan terpanjang Suramadu, toko kopi favorit, atau mal-mal yang seakan berhasrat merampok saya. Semua warga THR yang berkumpul pekan lalu melupakan hiruk-pikuk kehidupan sejenak.
Tidak ada yang peduli suara SBY masih tertinggi, uang untuk tahun ajaran baru harus disiapkan, dan uang terkuras demi beberapa jam kesenangan di THR. THR seperti prozac untuk melupakan sedikit gilanya rutinitas.
Remaja-remaja tanggung yang saya lihat di THR dengan bangga mengimitasi gaya Charlie, vokalis ST 12 hingga Giring Nidji. Rambut miring tak beres dipadu dengan celana skinny hitam dan sepatu ala Converse. Setidaknya semua tampak bahagia, menjadi bagian dari 'mode besar' di kota yang juga besar.
Ini sebuah pesta yang mampu mereka biayai. Mimpi-mimpi para paria yang terhipnotis gebyar kota namun tak kuasa menguras lebih banyak isi kantong. Tapi kesenangan harusnya tidak mengenal kelas sosial, tidak dibedakan antara 'norak' dan 'berkelas'.
Meski dicap 'kampungan' oleh rekan sekantor karena menjajal THR, saya mulai menemukan oase lain di kota ini. Entahlah, ditemani kawan terbaik dan tahu petis seharga Rp 500, saya menemukan inilah Surabaya yang sebenarnya. Kota menor yang bermimpi jadi Jakarta, tapi gagal.
17.6.09
Surabaya, Sebuah Makian yang Lain...
Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur
Hampir setiap hari saya mencaci-maki seisi dunia, juga begundal dengan raungan mesin bermotor di kota ini. Tapi Surabaya, kota dengan sembilan matahari ini, menyodorkan keajaiban yang lain. Ini mungkin yang harus dibayar seorang pejalan jauh manapun: indahnya perjalanan dengan waktu-waktu yang terus memenjara.
Surabaya, 9 Juni 2009. Sudah sepuluh bulan sejak kedatangan saya pertama kali ke kota di Provinsi Jawa Timur ini. Atas nama sebuah vocatio alias panggilan di sebuah media, saya ditahbiskan menjadi prajurit yang siap dikirim ke medan manapun. Saya hanya tidak menyangka, medan perangnya begitu berat.
Surabaya sebetulnya persinggahan ketiga selama dua tahun menjadi ‘pengembara’. Enam bulan di Jakarta berlanjut ke Yogyakarta yang tak lagi berhati nyaman. Ketiganya bagi saya punya kesamaan, lalu lintas yang karut-marut dan tentu jagoan bermotor yang selalu kesetanan. Ah ya, setelah sepuluh bulan, saya pun salah satu dari mereka.
Kalau perbedaan? Wah, ini cukup membikin frustasi. Sempat kuliah dan hidup di Yogyakarta hampir enam tahun membuat saya membanding-bandingkannya dengan Surabaya. Mulai dari acara kebudayaan, acara musik, diskusi menyegarkan, dan angkringan yang saya rindukan, tidak terpuaskan di sini.
Pentas teater teramat minim. Pementasan terakhir yang saya lihat (itupun karena tugas) adalah ‘Miss Kadaluwarsa” yang dihelat di gedung megah dengan penonton bergaun dan berjas dan tiket ratusan ribu. Lalu, saya membayangkan pertunjukkan teater yang saya saksikan di Yogyakarta dengan penonton bersandal jepit.
Setidaknya Jakarta punya Taman Ismail Marzuki dan kantong-kantong kebudayaan urban yang menggeliat. Di sini, mal-mal mengambil kasta tertinggi. Kalau saya tidak salah hitung, ada enam mal yang menjadi magnet penduduk Surabaya baik untuk makan, belanja, bersosialisasi, ngopi-ngopi, sekaligus tempat dugem.
Bahkan seorang sopir taksi yang mengantar saya ke bandara bertanya. “Sampeyan tau mal-mal di sini gak? Orang-orang kalau ke sini tanyanya mal.”
Perempuan dan warung kopi
Persoalan lain ialah tempat nongkrong. Yang saya maksud nongkrong bukan selalu coffee shop sejuk sambil hot spotan gratis. Saya rindu angkringan tempat saya biasa ngopi sendirian sambil sedikit bercanda dengan manusia-manusia anonim yang sama-sama menikmati sore, malam, hingga subuh.
Di Surabaya, nongkrong seperti di angkringan dikenal dengan sebutan cangkrukan. Warung tenda beratap terpal yang berdiri di tepi jalan dengan menu mie rebus, gorengan, dan minuman hangat. Hanya saja cangkrukan seakan mengenal jender.
Beberapa kali saya dan kawan perempuan memutuskan ngopi sambil ngobrol di sebuah warung kopi. Ketika sedang asyik bercerita, seorang pria paruh baya mendekati dengan senyum menggoda dan bertanya hal-hal yang membuat saya ingin menuangkan kopi panas ke mukanya.
Barulah dari penjaga warung, kami mendapat sedikit bocoran. Si penjaga warung memetakan tiga jenis perempuan yang kerap berada di warung kopi semacam itu. Pertama, yang memang hanya nongkrong. Kedua, yang bisa disentuh tapi tidak bisa ‘dipakai’. Ketiga, bisa disentuh dan ‘dipakai’.
Ketika mengitari kota malam-malam, saya pun menyadari warung kopi di pinggir jalan lebih banyak diisi kaum adam yang dengan bebas menyesap rokok tanpa harus dinilai dan dicurigai. Untuk pertama kalinya, saya iri pada privilese yang dimiliki pria.
Bilang saja ‘Jancukkk!’
Saya tidak bermaksud kasar. Tapi coba perhatikan makian khas setiap daerah yang bukan hanya berhasil melukai ego tetap juga merekatkan pertemanan. Di Bandung, makian anjing (maaf) ‘dihaluskan’ menjadi anjjriit. Saking ‘halusnya’ adik laki-laki saya selalu menyisipkan kata itu di setiap kalimat yang dia ucapkan.
Kalau di Yogyakarta, varian makian bisa asu (anjing), matamu, bajigur (bajingan), basuki (bajingan asu ki). Dengan teman-teman yang sudah akrab, akhiran ‘su-kependekan dari asu- bukan bertujuan sebagai pisau untuk menyakiti.
Di Surabaya, makian khasnya ialah ‘jancuk’ yang sering dihaluskan jadi diancuk, diamput, jamput, jangkrik. Menurut kawan saya, jancuk awalnya berasal dari encuk yang artinya persetubuhan alias fuck dalam Bahasa Inggris. Makian ini ‘lahir’ dari kelas bawah Surabaya sebagai penegas identitas arek.
Tapi jujur saja, sepuluh bulan di kota ini saya belum mengenal apa sebetulnya kultur arek. Bahkan seorang pemuda berusia 24 kelahiran Surabaya saja meminta maaf karena tidak bisa menjelaskannya pada saya. Saya juga belum bisa menjelaskan apakah kultur arek juga diadopsi oleh masyarakat menengah dan kelas atas. Yah, saya masih belajar.
Sepakbola, pertaruhan identitas
Kultur arek ini yang kerap dianggap warna dari perjuangan para bonek klub Persebaya Surabaya yang memang supernekat. Seorang senior saya sempat bercerita betapa kultur Surabaya dan kultur Malang begitu berbeda.
Orang Malang menyebut diri mereka arema singkatan dari arek malang. Di Malang, orang membuat lingo-nya sendiri dengan cara membaca kata secara terbalik. Arek Malang pun diubah menjadi Kera Ngalam. Perbenturan paling seru antara kultur Suroboyoan dengan Malangan kentara pada sepakbola. Surabaya punya Persebaya, sedangkan Malang punya Persema.
Kedua klub sepakbola pelat merah ini sama-sama berada di Divisi Utama Liga Indonesia. Rivalitas sengit bukan hanya membakar jajaran pemain, namun lebih-lebih supoter yang menggila dan membawa petasan ke dalam stadion. Darah pernah mengalir akibat perseteruan demi sebuah identitas yang abstrak.
Di penghujung musim kompetisi 2008/2009, perburuan ke puncak klasemen makin panas. Persebaya yang jadi raja klasemen di putaran pertama justru terjungkal di putaran kedua. Laga terakhir Persebaya melawan Persema yang berlangsung 16 April menjadi momentum bagi Persema melaju ke puncak. Begitulah. Di Surabaya, sepakbola adalah darah yang membuat orang-orang kembali bergairah juga marah.
Senja penawar marah
Tapi saya percaya semua kota di dunia punya lorong gelap sekaligus surganya. Di Surabaya, marah dan penat itu pelan-pelan mereda waktu senja turun. Saya tidak bohong, tapi Surabaya merupakan satu kota yang memiliki senja terindah.
Untuk menikmati sore, warga Surabaya beruntung memiliki taman-taman kota yang bersih dan terawat. Beberapa di antaranya, Taman Bungkul, Taman Flora, Taman Surya, Taman Apsari. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya Tri Rismaharini adalah dalangnya. Perempuan satu ini berhasil menghijaukan Surabaya dan menghidupkan kembali taman kota.
Taman Bungkul yang selalu padat di malam hari seperti oase setelah seharian menikmati Surabaya yang terus-terusan menderu. Melewati deretan pepohonan di kawasan ini, saya seperti berada di sebuah sore yang magis di dalam puisi Pablo Neruda.
Sama halnya ketika berhenti sejenak di pinggiran Kali Jagir sambil melihat aktivitas pengayuh rakit (gethek) yang masih saja bertahan hidup. Di antara mesin-mesin yang serba bergegas di kota ini, menyenangkan rasanya melihat masih ada yang asyik dalam gerak lambat.
Saya memang belum mengalami banyak. Baru saja sepuluh bulan dan masih memendam selaksa makian juga keterkaguman. Mungkin inilah keajaiban kota ini. Akhirnya saya hanya bisa bilang, I dont’t like this city, but I can live in this city.
Domisili: Surabaya, Jawa Timur
Hampir setiap hari saya mencaci-maki seisi dunia, juga begundal dengan raungan mesin bermotor di kota ini. Tapi Surabaya, kota dengan sembilan matahari ini, menyodorkan keajaiban yang lain. Ini mungkin yang harus dibayar seorang pejalan jauh manapun: indahnya perjalanan dengan waktu-waktu yang terus memenjara.
Surabaya, 9 Juni 2009. Sudah sepuluh bulan sejak kedatangan saya pertama kali ke kota di Provinsi Jawa Timur ini. Atas nama sebuah vocatio alias panggilan di sebuah media, saya ditahbiskan menjadi prajurit yang siap dikirim ke medan manapun. Saya hanya tidak menyangka, medan perangnya begitu berat.
Surabaya sebetulnya persinggahan ketiga selama dua tahun menjadi ‘pengembara’. Enam bulan di Jakarta berlanjut ke Yogyakarta yang tak lagi berhati nyaman. Ketiganya bagi saya punya kesamaan, lalu lintas yang karut-marut dan tentu jagoan bermotor yang selalu kesetanan. Ah ya, setelah sepuluh bulan, saya pun salah satu dari mereka.
Kalau perbedaan? Wah, ini cukup membikin frustasi. Sempat kuliah dan hidup di Yogyakarta hampir enam tahun membuat saya membanding-bandingkannya dengan Surabaya. Mulai dari acara kebudayaan, acara musik, diskusi menyegarkan, dan angkringan yang saya rindukan, tidak terpuaskan di sini.
Pentas teater teramat minim. Pementasan terakhir yang saya lihat (itupun karena tugas) adalah ‘Miss Kadaluwarsa” yang dihelat di gedung megah dengan penonton bergaun dan berjas dan tiket ratusan ribu. Lalu, saya membayangkan pertunjukkan teater yang saya saksikan di Yogyakarta dengan penonton bersandal jepit.
Setidaknya Jakarta punya Taman Ismail Marzuki dan kantong-kantong kebudayaan urban yang menggeliat. Di sini, mal-mal mengambil kasta tertinggi. Kalau saya tidak salah hitung, ada enam mal yang menjadi magnet penduduk Surabaya baik untuk makan, belanja, bersosialisasi, ngopi-ngopi, sekaligus tempat dugem.
Bahkan seorang sopir taksi yang mengantar saya ke bandara bertanya. “Sampeyan tau mal-mal di sini gak? Orang-orang kalau ke sini tanyanya mal.”
Perempuan dan warung kopi
Persoalan lain ialah tempat nongkrong. Yang saya maksud nongkrong bukan selalu coffee shop sejuk sambil hot spotan gratis. Saya rindu angkringan tempat saya biasa ngopi sendirian sambil sedikit bercanda dengan manusia-manusia anonim yang sama-sama menikmati sore, malam, hingga subuh.
Di Surabaya, nongkrong seperti di angkringan dikenal dengan sebutan cangkrukan. Warung tenda beratap terpal yang berdiri di tepi jalan dengan menu mie rebus, gorengan, dan minuman hangat. Hanya saja cangkrukan seakan mengenal jender.
Beberapa kali saya dan kawan perempuan memutuskan ngopi sambil ngobrol di sebuah warung kopi. Ketika sedang asyik bercerita, seorang pria paruh baya mendekati dengan senyum menggoda dan bertanya hal-hal yang membuat saya ingin menuangkan kopi panas ke mukanya.
Barulah dari penjaga warung, kami mendapat sedikit bocoran. Si penjaga warung memetakan tiga jenis perempuan yang kerap berada di warung kopi semacam itu. Pertama, yang memang hanya nongkrong. Kedua, yang bisa disentuh tapi tidak bisa ‘dipakai’. Ketiga, bisa disentuh dan ‘dipakai’.
Ketika mengitari kota malam-malam, saya pun menyadari warung kopi di pinggir jalan lebih banyak diisi kaum adam yang dengan bebas menyesap rokok tanpa harus dinilai dan dicurigai. Untuk pertama kalinya, saya iri pada privilese yang dimiliki pria.
Bilang saja ‘Jancukkk!’
Saya tidak bermaksud kasar. Tapi coba perhatikan makian khas setiap daerah yang bukan hanya berhasil melukai ego tetap juga merekatkan pertemanan. Di Bandung, makian anjing (maaf) ‘dihaluskan’ menjadi anjjriit. Saking ‘halusnya’ adik laki-laki saya selalu menyisipkan kata itu di setiap kalimat yang dia ucapkan.
Kalau di Yogyakarta, varian makian bisa asu (anjing), matamu, bajigur (bajingan), basuki (bajingan asu ki). Dengan teman-teman yang sudah akrab, akhiran ‘su-kependekan dari asu- bukan bertujuan sebagai pisau untuk menyakiti.
Di Surabaya, makian khasnya ialah ‘jancuk’ yang sering dihaluskan jadi diancuk, diamput, jamput, jangkrik. Menurut kawan saya, jancuk awalnya berasal dari encuk yang artinya persetubuhan alias fuck dalam Bahasa Inggris. Makian ini ‘lahir’ dari kelas bawah Surabaya sebagai penegas identitas arek.
Tapi jujur saja, sepuluh bulan di kota ini saya belum mengenal apa sebetulnya kultur arek. Bahkan seorang pemuda berusia 24 kelahiran Surabaya saja meminta maaf karena tidak bisa menjelaskannya pada saya. Saya juga belum bisa menjelaskan apakah kultur arek juga diadopsi oleh masyarakat menengah dan kelas atas. Yah, saya masih belajar.
Sepakbola, pertaruhan identitas
Kultur arek ini yang kerap dianggap warna dari perjuangan para bonek klub Persebaya Surabaya yang memang supernekat. Seorang senior saya sempat bercerita betapa kultur Surabaya dan kultur Malang begitu berbeda.
Orang Malang menyebut diri mereka arema singkatan dari arek malang. Di Malang, orang membuat lingo-nya sendiri dengan cara membaca kata secara terbalik. Arek Malang pun diubah menjadi Kera Ngalam. Perbenturan paling seru antara kultur Suroboyoan dengan Malangan kentara pada sepakbola. Surabaya punya Persebaya, sedangkan Malang punya Persema.
Kedua klub sepakbola pelat merah ini sama-sama berada di Divisi Utama Liga Indonesia. Rivalitas sengit bukan hanya membakar jajaran pemain, namun lebih-lebih supoter yang menggila dan membawa petasan ke dalam stadion. Darah pernah mengalir akibat perseteruan demi sebuah identitas yang abstrak.
Di penghujung musim kompetisi 2008/2009, perburuan ke puncak klasemen makin panas. Persebaya yang jadi raja klasemen di putaran pertama justru terjungkal di putaran kedua. Laga terakhir Persebaya melawan Persema yang berlangsung 16 April menjadi momentum bagi Persema melaju ke puncak. Begitulah. Di Surabaya, sepakbola adalah darah yang membuat orang-orang kembali bergairah juga marah.
Senja penawar marah
Tapi saya percaya semua kota di dunia punya lorong gelap sekaligus surganya. Di Surabaya, marah dan penat itu pelan-pelan mereda waktu senja turun. Saya tidak bohong, tapi Surabaya merupakan satu kota yang memiliki senja terindah.
Untuk menikmati sore, warga Surabaya beruntung memiliki taman-taman kota yang bersih dan terawat. Beberapa di antaranya, Taman Bungkul, Taman Flora, Taman Surya, Taman Apsari. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya Tri Rismaharini adalah dalangnya. Perempuan satu ini berhasil menghijaukan Surabaya dan menghidupkan kembali taman kota.
Taman Bungkul yang selalu padat di malam hari seperti oase setelah seharian menikmati Surabaya yang terus-terusan menderu. Melewati deretan pepohonan di kawasan ini, saya seperti berada di sebuah sore yang magis di dalam puisi Pablo Neruda.
Sama halnya ketika berhenti sejenak di pinggiran Kali Jagir sambil melihat aktivitas pengayuh rakit (gethek) yang masih saja bertahan hidup. Di antara mesin-mesin yang serba bergegas di kota ini, menyenangkan rasanya melihat masih ada yang asyik dalam gerak lambat.
Saya memang belum mengalami banyak. Baru saja sepuluh bulan dan masih memendam selaksa makian juga keterkaguman. Mungkin inilah keajaiban kota ini. Akhirnya saya hanya bisa bilang, I dont’t like this city, but I can live in this city.
Langganan:
Postingan (Atom)