<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127</id><updated>2012-01-21T20:14:03.093-08:00</updated><category term='Toronto'/><category term='Solo'/><category term='Jawa Barat'/><category term='Balikpapan'/><category term='Jambi'/><category term='Jakarta'/><category term='NYC'/><category term='DIY'/><category term='Maja'/><category term='Surabaya'/><category term='Tangerang'/><category term='Cimahi'/><category term='Manila'/><category term='Kediri'/><category term='Duri'/><category term='Tasikmalaya'/><category term='Makassar'/><category term='Jawa Tengah'/><category term='USA'/><category term='Malang'/><category term='NY'/><category term='Banten'/><category term='Sulawesi Selatan'/><category term='Indonesia'/><category term='Kalimantan Timur'/><category term='Magelang'/><category term='Jawa Timur'/><category term='Bandung'/><category term='Subang'/><category term='pengumuman'/><category term='Canada'/><category term='Majalengka'/><category term='Serang'/><category term='Thailand'/><category term='Jogjakarta'/><category term='Filipina'/><category term='Bangkok'/><category term='Riau'/><title type='text'>diary project</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-4775493380200125650</id><published>2009-12-20T23:33:00.000-08:00</published><updated>2010-07-19T23:51:43.678-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tangerang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banten'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Memandang Pamulang dari atas sepeda</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh: &lt;/span&gt;Fahri Azhar&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Domisili: Bandung, Jawa Barat &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“kamu asalnya dari mana?” kata  teman-temanku saat pertama kali aku kuliah di IT TELKOM bandung, dan  aku selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan “aku dari Jakarta”,  jawaban tersebut juga berlaku bagi tiap orang yang bertanya tentang  asal diriku. Tapi fakta berbicara bahwa aku bukan dari Jakarta, aku  besar dan tinggal di pamulang (tapi aku lahir di Jakarta timur), sebuah  kota kecamatan di barat daya Jakarta yang secara administratif dan geografis  termasuk dalam kota tangerang selatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Aku  tinggal dan besar di kota ini  sejak tahun 1989-sekarang tepatnya di perumahan pamulang permai 1 yang  merupakan perumahan milik BTN yang di bangun sekitar tahun 1983 yang  terletak di belakang pacuan kuda dan memiliki 1 masjid utama yang bernama  masjid Al-Hidayah yang terletak di tengah-tengah kompleks.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada saat aku kecil perumahan ini menjadi  titik awal dari banyak sekali petualangan-petualangan kecilku dalam  menjelajah kota pamulang yang sangat luas dengan menggunakan sepeda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Aku lupa saat itu aku berumur berapa  tapi yang kungingat hari itu adalah saat liburan sekolah, dan pada saat  itu aku sangat penasaran dengan jalan yang cukup lebar yang terletak  cukup jauh dari rumahku yang membuatku menduga-duga kemanakah jalan  tersebut akan membawaku pergi. Maka aku putuskan untuk melewati jalan  tersebut dengan segala resiko yang ada. Maka pagi hari setelah kedua  orang tuaku berangkat kerja aku mulai berjalan mengayuh sepedaku ke  jalan tersebut. Sesampainya disana memang tidak ada yang special dari  jalan tersebut hanya seperti jalan kompleks biasa dengan rumah orang  ditiap sisinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Aku pun mulai memasuki jalan tersebut,  jalan tersebut sangat sepi tidak ada orang melintas tapi penuh dengan  rumah aku pun terus mengayuh sepedaku mengikuti jalan yang ada hingga  aku menemukan tempat yang menarik perhatianku yaitu stables yang terbuat  dari beton dengan sekat-sekat pemisah dari beton dengan pintu penjaganya  yang terbuat dari bambu dan kayu, stables tersebut sudah tidak berpenghuni  lagi tidak ada kuda disana dan pemiliknya entah siapa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perjalanan kecilku berlanjut dalam  rasa penasaranku yang sedang meledak-ledak yang berpadu dengan semangat  karena aku melihat hal-hal baru yang belum pernah kulihat di kompleks  perumahanku seperti jalan-jalan yang masih terbuat dari tanah dengan  rumput-rumput liar yang menutupi akar-akar pohon pisang dan pohon-pohon  lainnya dan juga ada rumah-rumah dan warung-warung kecil yang dihuni  oleh warga-warga disana yang tentunya tidak ku kenali yang kesemuanya  biasa disebut dengan istilah kampung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jauh sudah ku kayuh sepedaku mengikuti  satu jalur sesuai dengan feelingku dari banyaknya jalur-jalur lain,  dan akhirnya aku temui titik akhirnya yang bermuara di gang kecil di  sebuah kompleks perumahan lain yang tidak ku ketahui namanya tapi biasa  di sebut dengan kompleks AX. Kompleks perumahan AX ini terbilang cukup  elit daripada kompleks perumahanku hal ini bisa dilihat pada rumah-rumah  mereka yang sebagian besar berukuran sangat besar  dan berlantai 2 apalagi  jika di perhatikan sebagian besar warganya memiliki mobil. Dan lokasi  kompleks AX ini tepat berada di belakang pusat perekonomian kota pamulang  yang biasa disebut dengan “depan pamulang”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di kompleks ini aku mengitarinya sejenak  hanya untuk say “Hello” ke teman-temanku yang tinggal disini setelah  beberapa lama berkeliling aku menuju ke taman kecil yang terletak agak  keluar dari kompleks ini, tamannya kecil ada jalan untuk sepeda yang  membentang membelah taman dan ada lapangan yang kecil yang biasa di  gunakan untuk bermain. Dan bagian yang paling aku suka dari taman ini  adalah bagian belakangnya, disana terdapat tumpukan tanah yang membentuk  sebuah bukit kecil dengan jalur sepeda kecil di tengah-tengahnya, jadi  saat aku melewati taman ini aku selalu melewati bukit kecil tersebut  karena aku sangat menyukai saat-saat meluncur menuruni bukit tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setelah beberapa lama berkeliling di  kompleks AX aku melanjutkan perjalananku,&amp;nbsp; kali ini aku menuju  depan kompleks ini yaitu daerah “depan pamulang”, sebuah daerah  yang sangat strategis karena di kelilingi oleh banyak sekali perumahan-perumahan  besar dan juga merupakan &lt;i&gt;rally point&lt;/i&gt; bagi orang-orang yang berdomisili  di muncul, serpong dan kelurahan-kelurahan yang melingkupi kecamatan  pamulang ini sehingga disini terdapat ruko-ruko kecil dan besar yang  menjual berbagai macam produk. Dan aku sangat menyukai tempat ini karena  disini terdapat banyak sekali penjual makanan, dari makanan berat hingga  makanan ringan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di sini aku memulai perjalanku tepat  di belakang supermarket dwima yang merupakan salah satu dari dua supermartket  besar yang ada kota pamulang dan di dwima , lalu aku menelusuri belakangnya  hingga melewatinya dan terus hingga akhirnya aku berhenti di belakang  sebuah bangunan tinggi besar dan terdapat pintu kecil yang bertuliskan  exit, kemudian berputar menelusuri gedung ini untuk menuju bagian depan  gedung ini. Di depan gedung ini aku kembali berhenti sejenak memperhatikan  6 layar besar dengan desain yang unik dan diatasnya ada tulisan “21”,  ya itu adalah bioskop 21, bioskop yang paling mewah yang pernah ada  di Jakarta dan paling mewah disini bukan bioskop-bioskop lain yang memiliki  nama-nama yang unik dan menayangkan film-film yang jika aku membaca  judulnya aku akan tertawa terpingkal-pingkal. Bioskop tersebeut adalah  bioskop kebanggaan kami sebagai orang pamulang karena di kota-kota yang  kira-kira sama seperti kota kami belum tentu memiliki bioskop 21 yang  resmi, dan ini menandakan pertumbuhan ekonomi kotaku ini tumbuh tinggi  perlahan-lahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setelah itu aku memutuskan untuk pulang  kerumah dan aku memilih untuk melewati jalan yang sama yaitu aku meluncur  melewati bukit kecil di taman dan melewati kampung kecil, pacuan kuda  yang tidak terpakai dan akhirnya berujung di kompleks perumahanku dan  berakhir di rumahku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;******&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekarang pertumbuhan ekonomi di pamulang  sangat tinggi yang memberikan impact yang linier terhadap populasi,  kriminalitas, gaya hidup, dan impact lainnya baik dari segi sosial,  budaya, ekonomi ataupun teknologi. Dan yang paling menyedihkan adalah  bioskop yang menjadi kebanggaan kami sudah tidak berdiri tegap disini  lagi dan entah kemana ia pergi sehingga saat aku pulang dari Bandung  ke pamulang tidak ada lagi bioskop terdekat untukku. Tapi aku bersyukur  bahwa aku pernah besar di kota ini dan berpetualang dengan sepedaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-4775493380200125650?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/4775493380200125650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2010/07/memandang-pamulang-dari-atas-sepeda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4775493380200125650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4775493380200125650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2010/07/memandang-pamulang-dari-atas-sepeda.html' title='Memandang Pamulang dari atas sepeda'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-5538381268898262273</id><published>2009-12-19T23:21:00.000-08:00</published><updated>2010-07-19T23:28:22.849-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Menelusuri Kuncen (Selatan)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh: Utari Dewi Narwanti&lt;br /&gt;Domisili: Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja! Kota yang menyimpan banyak cerita. Ingatanku pun langsung menyuguhkan ‘layar lebar’ tentang suatu lingkungan di masa kecilku, dan kini.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kuncen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lengkapnya Pakuncen. Salah satu kelurahan di kota Jogja. Dari cerita lisan, kudengar nama itu bermula karena di wilayah Kuncen ini terdapat makam. Kuncen berarti terkunci, tidak ada orang, maksudnya mengacu pada makam yang hanya dijaga para juru kunci. Terus terang sampai saat ini, aku belum menemukan dokumentasi tertulis tentang sejarah nama Kuncen (Pakuncen) ini. HOS Cokroaminoto adalah salah satu pahlawan nasional yang dimakamkan tepat di jantung pemakaman Kuncen. Oleh karena itu jalan raya di sekitar Kuncen yang membujur dari Selatan ke Utara itu bernama Jl. HOS Cokroaminoto. Kompleks makam itu sendiri tepatnya terletak di wilayah Pakuncen bagian Tengah. Oya, ada satu lagi makam Kuncen yang berada persis di samping jalan raya, namun luasnya jauh di bawah makam Kuncen yang berada di bagian Tengah. Adi Sucipto (juga pahlawan nasional) dikebumikan di makam yang berada di samping jalan raya HOS Cokroaminoto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal penting lain dalam ingatan bahwa dahulu di Kuncen ini pernah berdiri Pasar Hewan. Tepatnya di sisi Timur Jl. HOS Cokroaminoto depan tikungan jalan menuju makam Kuncen bagian Tengah. Pada hari pasaran tertentu, di Pasar Hewan Kuncen itu selalu ramai dengan keberadaan hewan, terutama sapi dan kambing. Sejak paruh awal tahun 2000-an, pasar hewan ini pindah ke Ambarketawang, Jl. Wates, Gamping, Sleman. Sedangkan bekas Pasar Hewan Kuncen bermetaforfosa menjadi Pasar Klithikan, pasar yang menjual segala macam barang, baik bekas maupun baru, mulai dari alat pertukangan sampai komunikasi. Imbas keberadaan Pasar Klithikan ini kemudian menyebabkan kepadatan yang sangat di seputaran pasar, terutama pada petang hingga malam hari.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kampung Kleben&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kuncen terletak di Jogja Barat, berbatasan dengan Kelurahan Ngestiharjo, Kabupaten Bantul. Aku tinggal dan dibesarkan di sebuah rumah di jalan utama perkampungan, tepatnya Kuncen bagian Selatan: kampung Kleben. Wilayah ini termasuk dalam Kecamatan Wirobrajan. Sebelum tahun ’80-an, wilayah ini bernama RK Kuncen. Sejak RK berganti nama menjadi RW di akhir tahun ’80-an, RK dibagi menjadi 3 RW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ’70-an, wilayah ini memiliki jalan kampung yang berupa tanah. Tanaman besar masih banyak bertumbuhan. Pohon bambu juga bertebaran di penjuru kampung. Pagar rumah masih banyak yang berupa pagar hidup: tanaman teh-teh-an. Kebun-kebun masih banyak yang tumbuh natural, tidak tertata dan tidak dirawat oleh pemilik tanahnya. Orang-orang menyebutnya sebagai ‘bon suwung (kebon suwung)’. Karena ‘suwung’, sepi kosong dari pemilik tanahnya, kebun itu pun sering kali membuat anak-anak penasaran untuk menjelajahinya. Tidak sedikit yang takut dengan mitos ‘hantu’ di kebun itu, tapi banyak juga yang bahagia banget karena bisa berpetualang di dalamnya seolah sedang menjelajah hutan belukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman-halaman rumah di wilayah itu masih relatif luas. Anak-anak kampung sering kali bermain di halaman itu. Permainannya pun bervariatif, seperti gobag sodor, ‘ingkling’, jamuran, ‘ancak-ancak alis’ yang berakhir dengan tarik tangan (seperti tarik tambang tapi dengan tangan saja, tanpa tali), nekeran, bentik, delikan (petak umpet), dan lain-lain yang kesemuanya itu cenderung membutuhkan kerja sama satu tim. Suara tawa canda anak-anak terdengar jelas sungguh. Mereka terlihat gembira dengan sorak sorainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tanah di wilayah ini masih dimiliki oleh segelintir orang. Dalam satu RT misalnya (menurut perkiraanku, kurang lebih seluas 9.000 – 10.000 m_ pada waktu itu), bisa jadi hanya dimiliki oleh satu atau dua orang saja. Biasanya pemilik tanah itu juga memiliki banyak anak. Mereka menyewakan tanah-tanah itu sebelum diwariskan kepada anak-anaknya. Dalam perkembangannya, tanah itu kemudian dijual seiring dengan banyaknya pendatang di wilayah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Kleben, Kuncen, Yogyakarta, termasuk salah satu wilayah penting dalam ‘menyangga’ keberadaan sekolah tinggi di seputaran Wirobrajan, diantaranya sebagai penyedia tempat tinggal dan juga menjadi zona interaksi antara mahasiswa dengan penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tahun ’60-an – ’90-an, STSRI ASRI Yogyakarta (sekarang bernama ISI Yogyakarta) berlokasi di Gampingan, berdampingan dengan SMA Negeri 1 Yogyakarta. Menyusul kemudian, di seberang jalan berdiri Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Banyak mahasiswa dari lembaga pendidikan itu kemudian mencari tempat tinggal: kos / asrama / kontrakan di sekitar kampusnya. Dari ingatanku masih jelas tergambar bahwa para mahasiswa itu mampu mendayakan kehidupan di sekitarnya. Dalam relasi itu terjadi akulturasi budaya. Ada yang mengajarkan musik, ada yang kemudian menularkan kemampuan menggambar atau melukis, juga ada yang menularkan kemampuan memahat, atau mentransferkan ilmu lainnya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah kampung Kleben itu pernah muncul sosial entrepeneur, wirausahawan sosial, seorang yang memiliki solusi inovatif untuk menyelesaikan masalah mendesak di masyarakat dalam kepemimpinannya. Salah satunya adalah Narno S, pemuda kelahiran Sukoharjo (Jawa Tengah) yang menempuh studi di STSRI ASRI Yogyakarta kemudian mengajar di almamaternya. Sejak di bangku kuliah pada tahun ’60-an hingga akhir hayatnya di tahun 1997, beliau tinggal dan menggerakkan masyarakat di kampung itu untuk berkarya dalam sanggarnya yang semula bernama Sanggar Seni Ukir. Perannya sangat signifikan dalam mendorong produktifitas masyarakat, mulai dari menggambar, membuat keramik, memahat, hingga menjalin relasi dengan dunia luar yang lebih luas. Karya-karya mereka diapresiasi bukan hanya dalam verbal tapi juga materi. Seiring waktu berjalan, pengangguran pun dapat ditekan. Dalam hal memahat, masyarakat juga berinteraksi dengan para pengrajin ukir yang didatangkan dari Jepara di sanggar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman-seniman lain yang pernah mengalami hidup di kampung ini, baik tinggal maupun sering sekali bertandang, diantaranya Nasirun, Heri Dono, dan lain-lain. Sedangkan seniman otodidak yang belajar dari akulturasi budaya di kampung ini salah satunya adalah Djon Batik. Belum lagi kehadiran para ‘bule’ dari berbagai negara yang turut bertandang karena relasi budaya itu. Sungguh kehadiran mereka mempengaruhi&amp;nbsp; gairah hidup di kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi yang terjadi di dalam masyarakat tidak hanya dalam hubungan kerja atau relasi biasa. Lebih jauh, tidak sedikit pasangan suami istri yang lahir dari kampung ini. Banyak mahasiswa yang kemudian menikah dengan penduduk kampung. Salah satunya adalah mantan petinggi Pusat Studi Kebudayaan UGM yang berasal dari Sumatera Barat dan menimba ilmu di Jogja, menikahi anak tetangga ibu kosnya. Romansa cinta ternyata juga berpendar dari rumah-rumah kos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain aktifitas kesenian, kegiatan keagamaan juga berelasi kuat dengan mahasiswa luar Jogja yang menempuh pendidikan di UMY. Aktifitas masjid semakin ‘semarak’ dengan kehadiran dan sepak terjang mereka, semisal seringnya diadakan pengajian dan tadarus bersama. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Kini&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus bergulir. Menjelang tahun ’90-an, terjadi pemekaran wilayah di kampung itu, juga kampung-kampung yang lain. Satu RT yang luas itu dibagi menjadi 2 RT. Hal ini mengingat pertumbuhan penduduk yang kian padat dan juga sesuai dengan peraturan Tata Kota pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar awal tahun ’90-an, kampus ISI Yogyakarta yang semula di Gampingan telah berpindah ke Sewon, Bantul, arah Selatan dari kota Jogja. Sedangkan UMY telah berpindah ke Ring Road Barat, Gamping, Sleman, yang terletak di kawasan Barat Daerah Istimewa Yogyakarta. Perubahan ini juga sangat berimbas pada wilayah-wilayah di sekitar lokasi awal institusi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di tahun 2009, banyak rumah kos yang tutup. Kamar kos banyak terbengkalai. Ada satu rumah kos yang berisi sekitar 20 kamar hanya aktif dipakai 4 - 5 kamar saja. Sungguh situasi yang sangat bertolak belakang dengan keadaan pada beberapa tahun lalu. Kegiatan kesenian cenderung tumbuh privat, dilakukan perorangan. Sedangkan kegiatan ritual keagamaan didominasi oleh penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi fisik, memang ruas jalan di kampung ini sudah beraspal, berkonblok, maupun berplester meski berlubang di sana sini. Tanah yang semula hanya dimiliki segelintir orang itu sekarang juga sudah berpindah tangan alias dijual ke banyak orang. Kaum urban berdatangan, mulai dari buruh hingga wirausahawan. Kampung pun semakin padat oleh rumah-rumah dan ruas jalan kecil. Halaman semakin berkurang. Kebun luas sudah jarang, bahkan hampir tiada. Hanya tanaman-tanaman pot di teras-teras rumah. Ada satu dua rumah saja yang membiarkan pohon besar tumbuh di halaman depannya yang tidak seberapa luas. Anak-anak jarang sekali terlihat melakukan permainan tim, seperti gobag sodor dan kawan-kawannya itu. Meskipun demikian, ada harapan menyelinap: ternyata di antara kepadatan rumah itu ada salah satu tanah bekas lantai rumah yang dibiarkan lapang oleh pemiliknya. Walaupun lokasinya kurang mudah diakses publik secara lebih luas karena letaknya benar-benar di jantung kampung, tempat ini kemudian menjadi tempat publik bagi lingkungan kecil di wilayah itu. Seperti ajakan Walikota Jogja, Herry Zudianto, pada suatu ketika di tahun 2007, sebaiknya memang satu wilayah, setidaknya setiap RW di kota Jogja, memiliki satu lahan publik yang bermanfaat bagi proses interaksi warga di sekitarnya. Mudah-mudahan tanah itu tidak semakin tergerus ditelan kebutuhan pemiliknya. Semoga! &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9LFdqj6I/AAAAAAAAFh8/oYCykJj31jI/s1600/1.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9LFdqj6I/AAAAAAAAFh8/oYCykJj31jI/s320/1.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;Jl. HOS Cokroaminoto di tahun ’70-an&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Foto: Istimewa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9NIEh5tI/AAAAAAAAFiE/kT15mN01UIU/s1600/2.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9NIEh5tI/AAAAAAAAFiE/kT15mN01UIU/s320/2.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Jl.HOS Cokroaminoto kini, tahun 2009&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Foto: Utari Dewi Narwanti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9QNpwdFI/AAAAAAAAFiM/ZvibL_Xlgl8/s1600/3.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9QNpwdFI/AAAAAAAAFiM/ZvibL_Xlgl8/s320/3.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Balai RK Kuncen di tahun ’70-an&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Foto: Istimewa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9S90nK3I/AAAAAAAAFiU/4lGRN-PIs-k/s1600/4.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9S90nK3I/AAAAAAAAFiU/4lGRN-PIs-k/s320/4.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Balai RK Kuncen kini berubahmenjadi TK (RK) Kuncen, 2009&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Foto: Utari Dewi Narwanti&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-5538381268898262273?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/5538381268898262273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2010/07/menelusuri-kuncen-selatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/5538381268898262273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/5538381268898262273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2010/07/menelusuri-kuncen-selatan.html' title='Menelusuri Kuncen (Selatan)'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/TEU9LFdqj6I/AAAAAAAAFh8/oYCykJj31jI/s72-c/1.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-7080228614639931571</id><published>2009-11-10T20:54:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T20:54:57.120-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manila'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filipina'/><title type='text'>where the good old movie (houses) dissapeared, and new movies blossom</title><content type='html'>Penulis: Elida Tamalagi&lt;br /&gt;Domisili: Jogjakarta, DIY, Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya rasa hari itu, sayalah orang yang paling kaya di manila. melebihi mereka yang kebanyakan minum di semua gala premier festival ini, ataupun yang dilamar untuk masuk ke festival berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari itu sudah ajaib karena dimulai dari minum kopi saya bersama ami, seorang oma kenes kelahiran 1954, lajang, pernah mengelola cafe yang menjadi tempat ngumpul seniman dan pekerja film, meminjamkan apartemennya ke teman dan pindah kembali ke rumah ibunya agar mereka berdua bisa saling merawat. perbicangan dengan ami berujung pada dia memberikan saya hadiah, magic stone. sebuah batu yang dihiasinya sendiri dengan glitter, bunga kering dan foto Jose Rizal, pahlawan kesusatraan Filipina. pengisi waktu luangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada telpon dari mark, teman dari festival musim lalu. dia hanya bertanya, apakah kamu ada di Market!Market! ? aku di Serendra. kesini yuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya mengiyakan dan melepas ami untuk mengejar film berikutnya. Aktivitas ami sekarang adalah menonton film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak ada yang aneh dengan permintaan ke Serendra. Saya dan Mark selalu minum white russian dan double johnny on the rock disana. tapi waktu melihat kostumnya yang ajaib, celana pendek cargo dan topi dan kaos oblong, dan satu orang macho nan rapi disebelah Mark, saya langsung mengendus ada yang tak beres. benar. Mark putus asa dan memutuskan untuk meminta saya main di satu scene di filmnya. peran saya, perempuan yang diperkosa. fuih, &lt;em&gt;can’t complaint!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;petualangan dimulai.mengepas kostum mbak kantoran, pelurusan rambut dan make up. semua kapster di salon lantai bawah mall ayala itu berusaha menarik perhatian saya dengan bahasa inggris yang dibuat tidak terdengar &lt;em&gt;taglish &lt;/em&gt;karena tahu make over saya untuk main film. Mark senyum selama tiga jam, katanya : kalau saja mereka tahu apa peranmu, pasti mereka merasa tidak perlu bersaing hahaha&lt;br /&gt;kami mengelilingi kota manila ke arah selatan dan barat daya, mencari daerah yang kumuh, tapi dengan lampu jalan yang memadai. beberapa kali take di dalam van, tak ada masalah. kami akhirnya melakukannya di ruasruas jalan kecil di kompleks Mall SM. pada pengambilan gambar terakhir, tibatiba Mark bilang,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;cut&lt;/em&gt; ada polisi datang.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;dan pecahlah tawa kami bertiga. lebih kaget lagi, ternyata para petugas keamanan SM sudah mengintip di kaca mobil van itu. sambil tertawatawa dan setengah telanjang, kami membuka pintu van untuk menunjukan kamera dan memberi keterangan bahwa kami hanya sedang buat film. kesalahan partner saya menyerahkan simnya, membuat kami menghabiskan waktu hampir 2 jam di kantor polisi pasay. saat kami masuk kantor itu pertama kali, saya langsung mencium bahwa urusan akan segera beres. &lt;i&gt;1000 pesos will do him&lt;/i&gt;.mark juga membaca ini dan sinar nakal langsung lewat di matanya. jadilah kita membiarkan polisi itu bicara tentang &lt;em&gt;violence against public space, obscene art&lt;/em&gt; dan lainlain karena dia bukan orang yang buta seni. sampai disini, dia menekankan,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;i once a singer!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;yeah rite,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;kami semua menyambut dalam hati.&lt;br /&gt;drama kantor polisi itu juga berakhir seru ketika ia meminta kartu identitas kami masingmasing untuk dicatat di buku besarnya. ketika melihat paspor saya, pak polisi langsung histeris&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;oh my god, sister! i don’t realize you are not filipino. we have the same skin and face, diba?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oh my god, you come all the way from indonesia here just for being raped?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;can you say some tagalog word? perfect sister! god be with you&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;kami mengakhiri hari itu dengan menyantap &lt;i&gt;inasal pork&lt;/i&gt; jam 4 pagi. saya mengecek ponsel, ada pesan dari vic bahwa janji kita ditunda jadi jam 7 pagi. untunglah, sebelumnya kami sepakat untuk mulai jam 6. mendengar itu, mark bertanya:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;does vic cast you also?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;haha polos sekali. saya bilang,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;tidak, saya tidaklah sepopuler itu&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;belum&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;kata mark&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;not after me,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;tito, partner saya menyambung genit. kami terbahak.&lt;br /&gt;petualangan jam 7 pagi dimulai. vic membuka pintu mobil dan tertawa menanyakan cerita suting semalam. ada bong juga. sopir pribadi vic yang cinephilic. sebagai supir taksi, penghasilannya sebenarnya lebih besar. tapi berada di lokasi suting setiap waktu dan akses bebas ke festivalfestival film membuat bong memilih terus bersama vic. kami menjemput aped, kawan vic yang juga mengerjakan desain produksi dua film vic. saat sarapan, aped meminta saya memerinci bioskop seperti apa yang masuk kriteria saya. aped sudah membuat daftar hampir 50 lokasi bioskop di manila. mati Aku!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-7080228614639931571?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/7080228614639931571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/11/where-good-old-movie-houses-dissapeared.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7080228614639931571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7080228614639931571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/11/where-good-old-movie-houses-dissapeared.html' title='where the good old movie (houses) dissapeared, and new movies blossom'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-7398744233167305855</id><published>2009-11-10T20:35:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T20:35:44.767-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Tak Ada Perang di Bumi Ken Arok</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Penulis: Maria Serenade Sinurat&lt;br /&gt;Domisili: Surabaya, Jawa Timur&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang membuat saya kehilangan sinisme saya pada setiap kota yang biasanya saya datangi. Kota yang katanya wilayah penaklukkan pertama Ken Arok itu terlampau sederhana sekaligus misterius. Tapi Malang yang saya sambangi&amp;nbsp; bukan lagi ladang pertempuran terbuka. Arek-arek Malang jaman kiwari tinggal tertawa-tawa saja, nongkrong sepuasnya, tanpa perlu kudeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Oktober lalu saya berkesempatan lagi singgah di Malang, kali ini seminggu penuh. Pikiran saya pun langsung melompat pada novel hebat Arok Dedes-nya Pramoedya Ananta Toer. Tumapel yang diperintah oleh Akuwu Tunggul Ametung bisa dikata adalah cikal-bakal Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak adrenalin saya berpacu untuk segera menguliti Malang hingga ke bijinya. Berbekal sepeda motor otomatis pinjaman dan memori yang mudah alpa tentang arah mata angin, mulailah saya untuk misi penting: menaklukkan Bumi Ken Arok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya gagal mendeteksi jejak-jejak pemberontakan Arok. Si pemberontak begundal yang muncul jadi pahlawan itu kini diabadikan menjadi salah satu nama pusat olahraga, Gelanggang Olahraga Ken Arok. Sementara nama Ken Dedes setahu saya dipakai jadi nama yayasan kesehatan yang juga menaungi sebuah akademi kebidanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang yang diberkahi dengan udara sejuk membikin kota ini jadi tempat istirahat orang-orang kota di akhir pekan. Tapi, jangan bayangkan Bandung yang padat dan riuh oleh factory outlet, distro, dan kafe-kafe. Malang ibarat sebuah hammock yang diikatkan pada dua batang pohon rimbun. Saya hanya tinggal selonjoran seharian menatapi langitnya yang abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit Malang seperti hanya kenal dua warna, yaitu abu-abu dan hitam. Saya, yang selalu terbangun pagi hari dan disambut langit abu-abu, berpikir bahwa sebentar lagi hujan bakal turun. Ternyata hingga menjelang Maghrib pun si abu tetap menggantung sebelum digantikan hitam malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Arema&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seorang kawan saya mengoleksi banyak cerita tentang kota ini, salah satunya tentang geng Higam. Higam, singkatan dari Hidup Gembira Awet Muda, merupakan kumpulan muda-mudi entah seniman maupun pemusik yang&amp;nbsp; living their lives to the fullest, maksudnya full nongkrong, full mabuk, dan full juga berkarya. Salah satu lulusannya ialah Anto Baret yang sekarang lebih sering muncul di Bulungan, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang juga punya scene rock yang salah satunya melahirkan Ucok AKA. Saya menyesal tidak sempat menyusuri lorong-lorong tempat rock masih bergema kencang. Suatu hari mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dua cerita di atas bukan pengalaman saya. Kisah yang saya punya sendiri ialah mengitari Malang dari satu venue olahraga ke venue lainnya dan&amp;nbsp; menemukan semangat pemuda urakan Arok di dalam suporter-suporter klub sepak bola Arema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aremania-begitu suporter Arema disebut- singkatan dari Arek Malang. Mereka kosmopolit, ada di mana-mana baik dalam bentuk toko merchandise, umbul-umbul, hingga umpatan. Mereka muda, gesit, dan berbahaya kalau sudah ngumpul. Tapi mereka hanya membunyikan genderang perang kalau timnya bertemu Persebaya Surabaya saja, lagi-lagi karena alasan yang saya juga tidak begitu paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Malang juga punya dialek yang unik, yang sering disebut Malangan. Saya mengibaratkan dialek mereka seperti Bahasa Inggris-nya orang Australia yang meluncur begitu rapat, cepat, hingga saya tidak bisa mendengar satu katapun yang mereka ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Malam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin Malang tidak membuat orang cepat-cepat sembunyi di balik selimut. Kalau malam, pedagang kaki lima mulai menyeruak seperti laron-laron. Ketimbang menyambangi restoran cepat saji berlambang M yang buka 24 jam, saya lebih suka memilih secara acak warung-warung temporer berlampu petromaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah saya sempat mengunjungi warung subuh, warung makan di Jalan Langsep yang justru kian hidup ketika subuh. Mata saya langsung berbinar melihat berbagai jenis makanan rumahan yang masih segar dari wajannya. Saya makin senang waktu melihat ada tempe goreng tebal yang masih hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin subuh, warung justru makin penuh, juga oleh muda-mudi yang tampaknya baru pulang dugem. Rasanya lucu melihat campuran orang tua-muda mulai dari yang berbaju training hingga yang cukup gila karena hanya memakai gaun mini bertali spaghetti di udara sedingin itu. Bunyi ketukan sendok dan garpu dan&amp;nbsp; cekakak-cekikik seperti mengiringi suara-suara manusia berdialek Malangan. Saya&amp;nbsp; langsung jatuh cinta pada kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya seminggu di Malang saya berhenti mencari sisa-sisa Arok. Cinta juga harus tetap realistis bukan? Sinisme saya rasanya mati kutu dibuat kota ini. Bahkan es krim berharga mahal dengan rasa standar di toko Oen tidak membuat saya merengut. Mal-mal yang tetap saja selalu penuh itu saya singgahi juga, pengendara motor yang hobi nyalip itu pun saya senyumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang era Arok memang bikin saya terpukau, tapi Malang 2009 yang mulai dikepung mesin dan bangunan beton itu yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana. Ternyata di Malang saya berubah jadi melankolis dan romantis. Walau hanya seminggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-7398744233167305855?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/7398744233167305855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/11/tak-ada-perang-di-bumi-ken-arok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7398744233167305855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7398744233167305855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/11/tak-ada-perang-di-bumi-ken-arok.html' title='Tak Ada Perang di Bumi Ken Arok'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-7339791372786088437</id><published>2009-11-10T20:16:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T20:16:32.450-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Bandung dan Sebuah Cerita Masa Kecil</title><content type='html'>Penulis: Mutaminah&lt;br /&gt;Domisili: Bandung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dulu sekali, ayah selalu mengajakku bersepeda mengitari jalanan-jalanan kota. Dan itu adalah saat-saat yang sekarang sangat aku rindukan. Ternyata banyak sekali yang terlalu cepat diubah zaman dari kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;11 tahun silam, ayah selalu memboncengku di sepeda kuning kesayangannya. Melenggang di antara kendaraan yang lalu lalang, tapi saat itu aku tak pernah khawatir, karena jalanan masih terasa sangat lengang. Udaranya pun sejuk bersahabat, membuatku nyaman meski duduk di boncengan sebuah sepeda tua yang keras. Tapi akan sangat berbeda keadaannya jika aku bandingkan dengan keadaan Bandung saat ini. Berdebu, kusam, dan bising oleh deru mesin kendaraan yang jumlahnya bagaikan bintang di langit, tak terhitung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&amp;nbsp;Lagu favoritku saat itu yang selalu menyapaku riuh saat aku berlalu di jalanan, adalah cicit-cicit burung yang hinggap di ranting-ranting pohon yang rapuh. Bagiku, burung-burung itu adalah penyanyi handal yang selalu mampu membuat aku merasa damai. Sampai saat ini pun, aku masih tetap mengidolakan mereka, hanya saja kini nyanyian merdu mereka itu kalah oleh klakson-klakson yang melengking, ban-ban kendaraan yang berdecit, teredam oleh erangan mesin kendaraan. Sekarang aku tak bisa menikmati melodi itu setiap waktu. Kadang jika beruntung, aku bisa mendengar suara mereka sayup-sayup hanya pada pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sering kami melewati sawah-sawah yang luas, ladang-ladang yang subur, dan kolam-kolam ikan pemancingan. Beberapa kali ayah memetikkan buah ceremai untukku. Meski hanya beberapa biji saja, tapi aku sangat senang karenanya. Tapi lagi-lagi kini semuanya hanya dapat ku kenang saja. Karena banyak dari area sawah dan ladang itu telah menjelma menjadi gedung-gedung tinggi pencakar langit. Gedung-gedung yang sangat angkuh bagiku. Perkantoran, Mall, supermarket, dan entah apa lagi. Nasib pohon ceremai baik hati yang dulu selalu ku nikmati buahnya pun tak kalah tragisnya, sekarang ikut menjadi korban keganasan manusia. Ditebang karena ada pelebaran jalan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kadang kami beristirahat di sebuah pemakaman, dan selalu pemakaman yang sama. Ayah selalu bilang, bahwa suatu saat ayah atau bahkan aku dan seluruh orang yang hidup di dunia ini, akan menempati petak-petak itu, dan kita akan selalu menunggu orang untuk sekedar mengunjungi dan membersihkan makam kita dari rumput-rumput liar. Aku selalu menangis setiap kali ayah menceritakan hal itu kepadaku, aku takut. Ironisnya, sekarang di atas makam-makam itu berdiri perumahan real estate yang di setiap garasinya terparkir mobil-mobil mewah yang harganya selangit. Tak bisa lagi ku lihat petak-petak dari tanah dengan nisan di atasnya, rumah yang amat sangat sederhana, tempat peristirahatan terakhir kita nanti. Tak ada lagi pelajaran yang bisa aku dapatkan dari sana selain kemewahan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ayah baru mengajakku pulang setelah hari beranjak petang. Beliau tak pernah banyak bicara dalam perjalanan pulang. Beliau membiarkan aku menikmati matahari sore yang indah, seakan-akan tahu, bahwa saat nanti aku tak bisa merasakan pemandangan seindah ini, karena kota ini akan begitu usang terselimuti asap kendaraan yang berpolusi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Memoriku akan tetap menyimpan hari-hari itu. Yang selalu ku ingat, kota ini dulu begitu rindang, asri dengan pepohonan dan bunga-bunga di setiap sudutnya, indah dan menawan. Tak heran jika dijuluki Kota Kembang. Tapi kini Bandung telah membusuk oleh sampah. Dilihat dari segi manapun, tentu saja itu bukan merupakan sesuatu yang bagus dan dapat dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;17 tahun usiaku ini. Hanya tinggal puing-puing kesombongan yang tersisa dari kota Bandung. Termakan oleh modernisasi yang telah merenggut kisah indah dalam hidupku. Andai waktu dapat ku putar kembali, akan sangat aku nikmati dan aku abadikan, potret siluet masa lalu kota Bandung, tempat tinggalku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-7339791372786088437?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/7339791372786088437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/11/bandung-dan-sebuah-cerita-masa-kecil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7339791372786088437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7339791372786088437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/11/bandung-dan-sebuah-cerita-masa-kecil.html' title='Bandung dan Sebuah Cerita Masa Kecil'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-7301921764212877701</id><published>2009-10-19T18:22:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T18:25:06.998-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magelang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Aku dan Kotaku: Petani dari Gunung</title><content type='html'>&lt;div class="Section1" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Penulis: &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wikan Satriati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Domisili:&amp;nbsp; Magelang – Ngepos, Banyuurip, Tegalrejo, Magelang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Waktu aku kecil, aku suka diajak jalan-jalan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;pagi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;oleh bapak atau ibuku. Di depan rumah, sering lewat rombongan orang-orang dari daerah pegunungan yang berjalan kaki menuju pasar di kota. Kata ayahku, rumah mereka sangat jauh. Mereka berangkat dini pagi sekali membawa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;oncor&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, semacam obor kecil dari kain dibasahi minyak tanah yang disumpalkan ke sepotong bambu untuk penerang jalan. Barang dagangan mereka berupa sayur mayur, umbi-umbian, buah, kayu bakar, bambu, bibit tanaman dsb. Rata-rata barang dagangan itu ditata apik di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;tenggok&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, semacam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bakul besar yang digendong para perempuan, sementara kayu baka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;r biasa ditata membentuk huruf H&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, dipanggul para laki-laki. Waktu aku sedang belajar membaca, ibuku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; kadang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;menyuruhku menebak huruf-huruf itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Aku pernah mendengar, konon di pinggang para perempuan penggendong bakul itu terdapat lekuk yang dalam bekas ujung bakul. Aku belum pernah melihatnya. Hanya saja, aku bayangkan betapa berat beban yang mesti mereka bawa karena bisa meninggalkan jejak serupa itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kehadiran pedagang-pedagan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;g itu berpengaruh pada desain eks&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;terior kedai atau warung di sepanjang perjalanan mereka. Rata-rata di depan warung atau kedai itu terdapat semacam bangku tinggi setinggi pinggang agar bakul gendong itu bisa meletakkan bakul mereka atau menggendongnya kembali secara mudah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dulu, di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; dekat rumahku ada pertigaan yang ramai tempat para pedagang dari gunung itu istirahat, menjual sebagian dagangan atau barter dengan pedagang dari daerah lain. Makanan khas yang dulu mudah kujumpai di situ di antaranya: kacang edamame, uwi, dan aneka getuk. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seiring dengan semakin mudah dan murahnya sarana transportasi, pedagang-pedagang itu tidak lagi berjalan kaki. Mereka berdesak-desakan naik pick up terbuka atau jenis kendaraan colt yang hanya boleh beroperasi di daerah pedesaan atau wilayah kabupaten. Hm … aku jadi ingat, dulu ada kendaraan oplet, yang sekarang sudah tidak beroperasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekarang pemandangan pagi masa kecilku itu sudah tidak ada lagi. Magelang, seperti kota-kota lain, mulai bergerak menuju wajah metropol yang seragam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tidak ada bangku setinggi pinggang di depan warung-warung. Tidak kulihat lagi orang dari pegunungan berjalan di depan rumahku membawa oncor (mereka bisa berangkat lebih siang). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dulu, konon di Yogya rumah-rumah harus menghadap ke selatan. Aku punya seorang kawan yang tinggal di Kota Gede. R&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;umah kawanku itu terpaksa disetting menghadap ke selatan meski bagian selatan rumah itu menghadap ke semacam tebing yang tidak bisa dilewati orang. Alhasil, bagian &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“belakang” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;yang seharusnya untuk dapur menjadi pintu masuk utama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; ruang tamu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, sedangkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bagian “depan” rumah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;yang bentuknya seperti b&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;agian depan rumah pada umumnya—dinding kayu tradisional lengkap dengan pintu gerbang, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;menjadi dapur. Jadi tungku masak mereka berada di depan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “pintu gerbang” itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Aneh ... tapi banyak rumah di Kota Gede yang seperti itu. Saat masuk ke lorong-lorongnya yang berliku dan kadang bikin tersesat, aku sering merasa sedang berada di masa lalu. Rumah-rumah tua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, banyak orang yang masih berpakaian Jawa dan berlaku santun khas priyayi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wilayah ini menarik dan “berbeda”. Namun, pelan-pelan ciri khas itu menyusut. Banyak bangunan baru yang tidak taat “pakem”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;: tidak menghadap ke selatan, arsitekturnya pun beragam dan suka-suka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Memang satu dua bangunan baru itu tampak aneh di tengah bangunan-bangunan kuno. Namun kelak jika bangunan lama itu sudah terlalu tua dan tiba saatnya diganti, lama-lama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ciri khas Kota Gede itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;akan punah dengan sendirinya.Satu per satu ciri khas daerah lenyap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, atau berbaur tanpa terasa. Barangkali karena dorongan faktor ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kini, n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;yaris tidak ada beda berada di mana pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di Bali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, misalnya,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; aku bisa menjumpai kerajinan tangan, baju-baju batik, aksesoris, yang kurang lebih mirip di Yogya, atau malah di Tanah Abang, Jakarta. Aku bisa berpura-pura telah pergi ke Bandung dengan membawakan oleh-oleh kue moci, bolen pisang atau brownis kukus yang bisa kudapatkan di gerai oleh-oleh di Magelang. Tapi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, anehnya,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; aku tidak tahu di mana bisa membeli kacang edamame atau uwi rebus yang dulu mudah sekali kudapatkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kadang aku merasa sedang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;berpesta kenangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;” saat mendapati tukang sayur menjual getuk hitam yang digoreng diisi gula, kue celorot, atau membeli nasi berlauk telur di warung nasi yang dulu bagiku menjual nasi berlauk telur paling enak sedunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mungkin yang mengingatkanku bahwa aku masih di Magelang adalah wajah-wajah orang gunung itu tidak banyak berubah. Tipikal pekerja keras yang lugu. Aku tidak tahu apakah mereka menyadari bahwa kubis, wortel, buncis yang telah mereka tanam hampir seumur hidup itu harganya sudah jauh menurun dibanding dulu. Apakah mereka terpikir untuk menanam tanaman lain? Entahlah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada saat krisis moneter 1998, dan harga sayur-mayur anjlok secara drastis, berbanding terbalik dengan harga sembako, aku pernah mendengar cerita seorang petani gunung yang nyaris kehilangan akal, duduk tercengang di emperan pasar setelah hasil penjualan berkarung-karung buncis miliknya hanya bisa untuk membeli seplastik kecil minyak goreng, seperdelapan liter dan tidak cukup tersisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; uang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; untuk ongkos naik bis pulang ke kampungnya.Kurasa ada cukup banyak petani-petani itu yang hanya terus bekerja keras, semakin keras dan tidak mengerti ketika mendapati diri mereka hanya semakin miskin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;*) Ditulis&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt; untuk mengikuti program &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Tobucil Diary Project 2009 &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;“Aku dan Kota&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt; Tempat Tinggal&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;ku” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0pt; margin-right: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-7301921764212877701?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/7301921764212877701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/aku-dan-kotaku-petani-dari-gunung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7301921764212877701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7301921764212877701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/aku-dan-kotaku-petani-dari-gunung.html' title='Aku dan Kotaku: Petani dari Gunung'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-6483679691889014402</id><published>2009-10-03T23:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T23:54:56.576-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Dunia dari sudut angkot</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Penulis: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hanifa Paramitha Siswanti&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Blog:  &lt;a href="http://ifuu.tumblr.com/" target="_blank"&gt;ifuu.tumblr.com&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://anakajaip.multiply.com/" target="_blank"&gt;anakajaip.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Satu kata benda yang bikin saya kangen Bandung : angkot. Ya, angkot. Angkutan kota. Sebuah angkutan publik yang berwujud mobil carry, colt, atau kijang yang ‘dimodifikasi’ interiornya. Standar kapasitas maksimal angkot adalah 16 orang: 3 di depan (termasuk sopir), 7 di kanan, 5 di kiri, dan 1 di ‘kursi artis’ (kursi yang ada di dekat pintu dan duduknya menghadap berlawanan ke arah penumpang lainnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Perkenalan saya dengan dunia angkot dimulai saat TK. Waktu itu saya sering diajak mama berkunjung ke rumah oma di Cimahi. Entah kenapa, saya selalu merasa enjoy saat naik angkot. Duduk di pojok dengan jendela yang dibuka setengah. Angin menyapa wajah saya pelan bahkan terasa menampar saat si angkot berlari kencang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Kemana-mana saya pergi pakai angkot. Tentunya masih harus ditemani oleh orang yang lebih gede. *berhubung saat itu lagi marak penculikan anak kecil*. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Kelas 5 akhir, saya baru dibolehin naik angkot dengan rute yang sedikit jauh sendirian. Waktu itu mau naik kelas 6 dan saya ikut bimbel di sebuah tempat di bilangan purnawarman. Secara sehari-hari sekolah di dekat rumah dengan jalan kaki, “sekolah” di tempat bimbel ini terasa lebih menyenangkan bagi saya karena harus ditempuh dengan angkot. Margahayu-Ledeng tepatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Saat itu naek angkot biru dengan garis kuning ini dari Pasar Sederhana ke Purnawarman hanya 500 perak loh. Mulai kelas 2 SMA sampai sekarang, saya harus bayar 2000 perak dengan jarak dan angkot yang masih sama. Empat kali lipat. Padahal harga BBM sudah turun, tapi tarif angkot yang turut naik tidak ikut turun juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya ambil, semakin sering dan variatiflah angkot yang saya tumpangi. Hingga saat kuliah sekarang, meskipun ditempuh dengan bis Damri, sebelum dan sesudahnya pasti saya naik angkot dulu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Di dalam angkot, saya bisa bertemu bermacam-macam orang. Anak sekolah dengan seragam ala sinetron, ibu-ibu yang pulang dari pasar, mahasiswa dengan headset yang selalu menempel di kuping, mas-mas kantoran, karyawati yang berdandan menor, nenek-nenek tukang rumpi, wanita muda yang aromanya seperti habis pakai parfum tumpah, remaja tanggung yang cuek merokok, bapak-bapak bertato, pria metroseksual, hingga mbok jamu beserta gendongannya pun ada disini. Benar-benar keberagaman strata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Bagi saya, angkot tidak hanya berfungsi sebagai angkutan belaka. Lebih dari itu, saya belajar banyak dari yang ngejalaninnya. Ya, sopir angkot. Sopir angkot adalah sosok orang yang bikin saya termotivasi untuk cepat belajar nyetir mobil. Seriously!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Saya suka sekali duduk di depan. Ga untuk ngaca di spion, tapi untuk memperhatikan si mang angkot. Lebih tepatnya, memperhatikan gaya nyetir si mang angkot. Dari mulai dia ngopling, masukin gigi, ngegas perlahan, kopling lagi, mindahin gigi, ngegas yang banyak, kemudian tiba-tiba ngopling dan siap-siap ngerem lalu mengarahkan setir ke kiri saat ada orang yang nyetop angkot di depan sana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Sehabis orang tadi naik, si mang jalan lagi dengan gaya yang sama. Saat itu dia nyetir sekaligus sambil makan gorengan. Pas di lampu merah, gorengan habis dan dia beli rokok batangan di pedagang asongan. Saat lampu sudah nyala hijau, dia pun nyetir kembali sambil tetap menghisap rokoknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Entah kenapa, saya takjub dengan tabiat mayoritas mang-mang angkot yang kaya gini. Bisa-bisanya gitu ya mereka nyetir sambil merokok dan makan, bahkan kadang sambil ngobrol di hape, tapi matanya tetap awas terhadap orang-orang di pinggir jalan yang mau naik. Benar-benar multi tasking!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Saya juga ingin deh seperti itu. Bisa multi tasking di saat yang bersamaan. Soalnya selama ini kalau sedang nyetir, saya harus konsen dengan jalan dan spion kanan kiri. Pernah suatu hari, saya nyetir sambil makan biskuit, eh yang harusnya ngegas malah jadi ngerem mendadak dan bikin mobil-mobil di belakang rame-rame membunyikan klakson. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Namun, satu hal yang kurang saya suka dari mereka para sopir angkot: budaya ngetem! Kalau sedang santai sih oke-oke saja, tapi lain halnya kalau saya sedang sangat terburu-buru. Rasanya ingin jitak kepala si mang kalau dia sudah belagak mau jalan, tapi mundur lagi saat ada penumpang yang naik. Ngetem lagi. Dan begitu lagi. *sigh*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Beragam cara sudah saya lakukan agar si mang ngerti kalo saya lagi buru-buru. Dari menghentak-hentakan kaki, kipas-kipas, pasang muka cemas, berulang kali liat jam, melototin si mang dari spion depan, hingga berani nanya, “Mang, ini masih lama ga sih?! Bisa cepat ga?! Saya terlambat nih!!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Biasanya, kalau si mang angkot baik hati, dia langsung jalanin angkot, tapi kalau kebetulan dia ‘ndablek’, ya dingin aja gitu. Berasa ga denger dan baru mau jalan kalau semua penumpang sudah ikut ngomelin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Karena capek dengan masalah kaya gini terus, akhirnya saya harus berangkat lebih awal kalau akan pergi naik angkot. Setengah jam dari waktu biasanya..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Persoalan ngetem ini memang klasik. Yang bikin macet di sebagian besar jalan-jalan di Bandung kan angkot yang ngetem. Apalagi di sekitar terminal, kampus, stasiun, dan pusat perbelanjaan. Mereka bakal tertib kalau ada polisi yang jaga disitu. Klasik sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Ada satu kisah yang sempat saya diceritakan oleh seorang teman. Cerita itu bikin saya terkesan dengan seorang sopir angkot jurusan Caheum-Ledeng yang entah bagaimana wujudnya. Ceritanya, teman saya duduk di depan dan memang hanya dia satu-satunya penumpang. Namun, sopir angkot itu tidak pernah ngetem sekalipun. Sepanjang perjalanan, teman saya ini ngobrol dengannya. Saat teman saya bertanya kenapa si mang angkot ga ngetem, jawabnya: “Rejeki mah dikejar, Jang, bukan ditunggu.” Teman saya manggut-manggut dan angkot pun terus berjalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Saat di daerah tamansari, ada seorang bapak-bapak yang menyetop angkot itu sambil bawa beberapa barang. Karena duduk di depan, teman saya tahu arah pembicaraan si bapak dengan si sopir. Rupanya bapak ini mau mencarter angkot ke arah Lembang dan dia bersedia bayar..seratus ribu rupiah!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Wow! Amazing! Memang benar ya, rejeki itu bukan untuk ditunggu. Selama ini, para mang angkot sering berkilah bahwa ngetem untuk kejar setoran. Ah andai saja mereka berpikiran sama dengan sopir yang satu itu.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Terlepas dari kebiasaan menyebalkan para sopir angkot yang suka ngetem sembarangan, saya sering juga kok merasakan kenyamanan dan kepraktisan jika bepergian dengan si mobil umum ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Hanya dengan bayar paling mahal 4000 rupiah untuk jarak terjauh, saya bisa duduk bebas sambil lihat apa saja yang tersebar di kanan, kiri, depan, dan belakang angkot. Mobil, motor, bis kota, sepeda, kereta, orang, gedung, jalan, pohon, &lt;i style=""&gt;traffic light, &lt;/i&gt;rumah, sekolah, dll.&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;Saya bisa memerhatikan segalanya dari sudut angkot ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Berbagai tingkatan status sosial seolah menyatu bersama di medan jalan ini dengan kepentingannya masing-masing. Banyak hal paradoks di luaran sana. Ada pengemis tua yang meminta-minta ke jendela mobil plat merah yang berhenti di stopan, dua orang anak SD yang masing-masing diantar dengan vespa hijau dan altis hitam, mahasiswa yang terlihat membeli koran dari seorang loper, sepasang muda-mudi berjalan bergandengan tangan melintasi gelandangan tua, seorang pria muda perlente yang marah-marah di pinggir jalan kepada seorang sopir angkot karena pantat mobilnya diserempet, seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan balon, bapak tunanetra yang menghentakan tongkatnya perlahan untuk berjalan, dan anak-anak yang mengejar layangan sambil bertelanjang kaki di seberang sebuah mall besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Ada beberapa hal menarik yang sempat saya tangkap dalam sebuah ruang bernama angkot. Saya pernah naik angkot Margahayu-Ledeng yang sangat bersih. Tidak ada sampah disana. Bahkan bungkus permen pun tak ada. Saya terkesima. Benar-benar kinclong. Setelah saya duduk dan menghadap pintu angkot, ternyata ada tempat sampah kecil bertenger disana. Tempat sampah itu diikatkan ke gagang pintu dengan semacam tali tambang kecil. Di atasnya tertera kertas bertuliskan : “Buang sampah anda disini” dengan tanda panah menuju ke arah tempat sampah itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Di lain waktu, saya naik Kalapa-Ledeng. Angkot hijau biru muda ini penuh sekali. Saat duduk, saya heran kenapa orang sebanyak ini semuanya serius sekali melihat ke depan atas. Oh rupanya ada sebuah ‘pengumuman’ yang digantung di langit-langit angkot. Tulisan bertinta hitam di papan kecil berukuran sekitar kertas A4 yang menerangkan bahwa seluruh penumpang punya hak merokok dimana saja kecuali di angkot itu. Dilarang merokok atau lebih baik turun saja dan cari angkot lain. Wuihh…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Lain cerita dengan angkot Cicaheum-Ciroyom yang terkenal dengan ngetem dan ngebutnya yang luar biasa. Ada satu angkot yang sopirnya doyan ngomong. Bayangkan saja. Semua penumpangnya diajak ngobrol! Baik yang di belakang, maupun saya yang duduk di depan. Awalnya saya malas menanggapi, tapi terny&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;ata sopir ini memang seru kalo ngobrol. Ibu-ibu yang pulang dari pasar saja langsung nyambung saat diajak ngobrol. Setiap ada yang bilang “kiri!”, si sopir menepikan angkot dan selalu bilang, “Turun sini, A/Neng/Bu/Pak? Bentar ya..”, “Hati-hati ya..”, atau sekedar tersenyum saat si penumpang memberikan duit ongkos. Saat saya mau turun dan bayar ongkos pun dia kembali berceloteh, “Oh si neng turun disini. Hati-hati ya neng. Awas nyebrangnya. Terima kasih, neng..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dipublikasikan ulang dari &lt;a href="http://anakajaip.multiply.com/journal/item/209/Dunia_dari_sudut_angkot"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-6483679691889014402?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/6483679691889014402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/dunia-dari-sudut-angkot.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6483679691889014402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6483679691889014402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/dunia-dari-sudut-angkot.html' title='Dunia dari sudut angkot'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-4700746596349269606</id><published>2009-10-03T23:43:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T00:09:16.845-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Dunia Saya, Panggung Sherly Arsita</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Penulis: Maria Serenade Sinurat&lt;br /&gt;Domisili: Surabaya, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat saya serasa ada di konser ala Megadeth ketika seorang biduanita di panggung Taman Ria Surabaya (TRS), 21 September malam, asyik ber-head bang-ria, memutar lehernya 360 derajat, lompat kiri dan kanan tanpa terganggu celana kulit pendek superketatnya. Saya pikir ini bakal jadi malam metal pertama saya hanya dengan Rp 10.000 di Surabaya. Tapi Sherly Arsita, biduanita itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya meluncur lagu “Cinta Terlarang” dari The Virgin. Oalah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak suka The Virgin sama tidak sukanya pada Ahmad Dani. Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan Sherly malam itu. Biduanita cum penari itu tahu betul menyenangkan mayoritas penonton lelaki yang berada di garda paling depan. Ratusan penonton malam itu memuja satu dewi: Sherly. Mereka mengimani satu agama: dangdut. Yah, walau kadang berselingkuh dengan pop dan melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah Sherly? Siapakah ratusan orang-orang ini? Apa yang membuat di malam Idul Fitri mereka lebih tersedot menuju tempat hiburan ketimbang selonjoran di rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih dahsyat, manajer taman ria ini mengaku dia dan sekitar 150 pegawainya justru berlebaran di TRS ini. Setelah shalat ied, semuanya kembali bekerja, mesin-mesin bergerak, tiket-tiket dirobek, dan uang-uang berpindah tangan. Demi melayani warga yang selalu haus hiburan, mereka menggadaikan sedikit waktu senggang. Demi sebuah Lebaran yang sudah kadung lekat dengan 'Liburan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran = Liburan? Ini konsekuensi sebuah kota mungkin. Surabaya, yang katanya kota terbesar kedua di Indonesia, menjadi salah satu destinasi mudik terbesar. Hari kedua Lebaran, mal-mal dan tempat hiburan sudah dijejali oleh pemudik. Padahal apa juga gunanya menjejali mal di Surabaya, batin saya. Semua kota sekarang punya mal, mereka punya tempat hiburan, mereka punya apapun yang bisa dibeli oleh uang. Apa yang tertinggal dari sebuah kota?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. Kota adalah sebuah pengalaman. Liburan tiga hari saja tidak akan pernah cukup menangkap nyawa sebuah kota, hanya ibarat menonton panggung hiburan dua jam yang menyisakan senang sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia panggung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun di Surabaya bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan Sherly Arsita yang begitu menjiwai perannya di panggung. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 22.30 taman hiburan ini tutup, terlambat setengah jam dari biasanya. Sherly pun turun panggung dengan senyuman terakhir di wajah berbedak tebalnya. Tapi saya masih di sini, di panggung saya menunggu pertunjukkan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak saya iri pada Sherly yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka.&lt;br /&gt;Yah, suatu saat ketika kembali bertemu Sherly, akan saya tanyakan nama aslinya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Courier New;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-4700746596349269606?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/4700746596349269606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/dunia-saya-panggung-sherly-arsita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4700746596349269606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4700746596349269606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/dunia-saya-panggung-sherly-arsita.html' title='Dunia Saya, Panggung Sherly Arsita'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-7452554972287286943</id><published>2009-10-03T23:38:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T23:41:52.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kediri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Kediri vs kota lain</title><content type='html'>&lt;p&gt; Penulis: Ariningsun P Cinantya&lt;br /&gt;Domisili: Taipei, Taiwan&lt;br /&gt;Blog: &lt;a href="http://cinantya.blogspot.com/"&gt;http://cinantya.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Tinggal di Kediri selama beberapa bulan, nenengceriwis jadi bisa membandingkan beberapa habit kota Kediri dengan kota-kota lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya nih:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;orang-orang Kediri masih jarang makan di luar. Kalaupun ada restoran di Kediri yang penuh dengan selai, alias jam packed... (mulai ngegaring), biasanya itu karena ada dua hal wajib: MURAH dan ENAK. Kalau enak tapi ngga murah, jarang penuh. Kalau murah tapi ga enak, juga jarang penuh.&lt;br /&gt;berbeda dengan kota Jakarta, Yogya, Bandung, atau Singapore. Enak doang sudah cukup untuk membuat resto itu penuh. Kalau murah dan penuh? Wah... bisa habis terjual dalam beberapa jam. Setuju ngga? ... ko jadi inget mang Oyo sih?&lt;br /&gt;Tapi khusus Bandung, kadang makanan ngga enak pun tempatnya bisa penuh. Tempat yang kayak gini kan biasanya tempat-tempat yang jual view. Ya kan, Kampung Daun? ... hehehehhehehehe...&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepadat-padatnya lalu lintas kota Kediri, adalah sama dengan kondisi di Jakarta saat lancar. Atau Bandung saat off rush hour di weekdays. Atau Jogja di Sabtu dan Minggu pagi sebelum jam 9.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Angkot (mikrolet) di Bandung dan di Jakarta ada beberapa yang 24 jam. Kalaupun ngga 24 jam, biasanya last departure (keren amat istilahnya?) adalah jam 8-9 malam. Surabaya... ngga tahu, belum pernah coba. Yogya ngga ada angkot, adanya minibus dan mikrobus. Kediri? angkot (mikrolet) lenyap jam 4 sore.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Variasi kendaraan umum di Jakarta begitu lengkap. untuk dalam kota, ada KRL, busway, bus kota (damri dan swastah), minibus (macam kopaja), bajaj, ojek, taksi, en becak (yang belum kesebut jangan ngamuk). Bandung, tahu sendiri lah... angkot, kereta, Damri, mikrobus (belum pernah naik, yang lewat deket rumah teh kpad-antapani kalo ga salah), becak, ojek. Kediri? angkot, kereta, becak dan bajaj. kalaupun ada bus, itu bus AKAP/AKDP. Ada taksi, tapi armadanya bisa dihitung jari&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salah satu hal yang istimewa dari Kediri adalah saat Rush Hour. Rush hour di Jakarta, Bandung, Yogya, dan Surabaya adalah saat jam masuk sekolah, jam masuk kantor, jam keluar sekolah siang (jam 1-2) dan jam pulang kantor. Bandung yang kota kecil, rush hour akibat sekolah bisa bikin kemacetan lokal yang menyebalkan (setuju, ibu-ibu?). Di Kediri, rush hour itu adalah jam bubaran karyawan pabrik Gudang Garam, yaitu sekitar jam 4. Sekolah ngga bikin macet karena mayoritas murid menggunakan sepeda untuk alat transportasi. Kalau bukan sepeda, ya jalan kaki atau ngangkot atau nge-bus AKAP/AKDP.&lt;br /&gt;Di Jakata, Bandung, Yogya dan Surabaya, rush hour bisa mengakibatkan kelangkaan angkot (karena penuh mulu). Jakarta sebagai kota metropabalieut dan Singapore sebagai kota megapolitan, juga ditandai dengan kelangkaan taksi. Di Kediri? ditandai dengan kelangkaan becak. Hahahaha...&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Masih banyak sih hal yang bisa dibandingkan antara Kediri dengan kota lain. Tapi bingung juga, bagian mananya ya yang harus dibandingkan? Hehehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini di publikasikan kembali dari &lt;a href="http://cinantya.blogspot.com/2009/09/kediri-vs-kota-lain.html"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-7452554972287286943?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/7452554972287286943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/kediri-vs-kota-lain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7452554972287286943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7452554972287286943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/kediri-vs-kota-lain.html' title='Kediri vs kota lain'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-6722743975554558725</id><published>2009-10-03T23:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T23:37:55.740-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kediri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>analisis kediri (1)</title><content type='html'>Penulis: Ariningsun P Cinantya&lt;br /&gt;Domisili: Taipei, Taiwan&lt;br /&gt;Blog: &lt;a href="http://cinantya.blogspot.com/"&gt;http://cinantya.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, setelah hampir 5 bulan di kediri, kayaknya sudah saatnya saya cerita-cerita soal opini saya tentang kediri. Soal jalan-jalan Kediri-nya, aku lanjutin weekend ini ya. Weekend ini sih sepertinya ga akan ke luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediri sepertinya bertekad untuk menjadi kota dengan ZERO street crime. Gila ya? Waktu gue di singapore aja mereka cuma berobsesi untuk mencapai LOW crime rate (semua jenis kejahatan). Dan dimana-mana Polda singapore (heuheuheuheu... disebut apa sih? kaga tahu nih) masang spanduk "Low Crime Rate doens't mean Zero" or semacamnya deh. Lha ini? Kediri... bertekad untuk ZERO street crime.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hargai saja tekad mereka, dan saya sebagai warga (mudah-mudahan temporary) di Kediri juga akan menyumbang usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan zero street crime ini terutama sangat digalakkan di area pusat kota. Pusat kota di sini artinya di sekitar kantor walikota. Hm... jalan apa ya? Yang jelas, demi mencapai target mereka yang satu ini, hampir di setiap perempatan terdapat Pos Polisi. Memang ga semewah yang di Jakarta (seperti yang di area Salemba, ada yang make AC tuh... ck ck ck), tapi cukup lah. Seenggaknya, kalau lagi ada bapak-bapak pulisi di sana, orang-orang (terutama pengendara motor, dan bahkan abang tukang becak) jadi serem kalau melanggar peraturan lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah mobil juga ngga banyak, dan mungkin sekitar 15% dari mobil yang seliweran di dalam kota, adalah mobil dari area lain di jawa timur, seperti plat L, plat S, plat AE, plat P, dll. Thanks to my office, selama beberapa bulan kemarin banyak mobil plat B seliweran di Kediri. Banyak mobil-mobil lama, tapi jangan salah... mobil keluaran terbaru juga gak sedikit. Satu hal lagi, di kediri, mobil matic ga laku! Soalnya mobil tersebut pasti bakal sering dipake keluar kota, dan pake matic nyetir luar kota, kudu saingan sama bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kondisi lalu lintas. Yang gue suka banget dari lalu lintas kediri adalah lampu lalu lintasnya yang berfungsi dengan benar. Belum lagi aksesori penghitung waktunya (walaupun ada juga yang ngitungnya ngaco, masa masih angka 30 terus tiba-tiba lampunya kuning dan hijau?). Jam berapapun, lampu tetap beroperasi. Ngga kayak di Bandung, lewat jam 10 malem banyak yang di non-aktifin kalau bukan di pusat kota. heuheuheuheu. Udah gitu, habis lampu merah, lampu kuning dulu sekitar 2 detik, baru lampu hijau. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau mau ancang-ancang lebih gampang. Sayangnya, dasar dodol banget sih pengendara motor dan mobil di sini, lampu kuning baru nyala mereka udah tancap gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah... segitu dulu analisis kedirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalau sudah ke kediri, jangan lupa keduduk ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini di publikasikan ulang dari&lt;a href="http://cinantya.blogspot.com/2009/04/analisis-kediri-1.html"&gt; sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-6722743975554558725?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/6722743975554558725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/analisis-kediri-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6722743975554558725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6722743975554558725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/10/analisis-kediri-1.html' title='analisis kediri (1)'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-4254703611156727901</id><published>2009-09-09T00:56:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T00:59:25.191-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Solo'/><title type='text'>Catatan harian : Tentang suryanamaskara, matahari terbenam, langit terbalik (16-05-09)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Penulis&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;: Tria Nin&lt;br /&gt;Domisili&lt;span&gt;           &lt;/span&gt;: Solo &amp;amp; Boyolali&lt;br /&gt;Blog &lt;span&gt;               &lt;/span&gt;: &lt;a href="http://mimpikiri.multiply.com/" target="_blank"&gt;http://mimpikiri.multiply.com/&lt;/a&gt; , &lt;a rel="nofollow" href="http://mimpikiri.wordpress.com/" target="_blank"&gt;http://mimpikiri.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sore ini, saya bersama seorang teman perempuan berjalan ke barat menuju sebuah taman. Pintu coklat menyapa , dan kami pun memutuskan untuk ke kanan.Memasuki arena yang biasanya digunakan untuk pertunjukan seni di tempat terbuka. Kami berdiri sebentar menatap langit yang begitu putih bersih dan memutuskan untuk duduk di matras murahan yang kami bawa dari rumah.Di sebelah kanan, serombongan orang yang sedang melakukan pemotretan pre wedding, begitu riuh. Di sebelah kiri ada anak-anak kecil sedang berlarian. Dan di tempat duduk atas arena taman ada enam pasangan sedang berasyik masyuk. Ada yang berpelukan, ada yang berpoto-poto romantis, ada yang sedang berbincang-bincang, ada yang diam-diaman saja, dan ada yang ada ada saja.&lt;br /&gt;Sore itu, kami berdua melakukan suryanamaskara , melakukan kombinasi gerakan asana ketika matahari akan terbenam, menyadari aliran napas, begitu sederhana. Entah sudah berapa kali kami melakukan suryanamaskara, keringat pun begitu riuh membasah. Kami pun beristirahat sebentar.Dan di sebelah kanan masih begitu gaduh dengan tertawa kencang dan sesekali berbisik, ada yang meliuk, ada yang merekam, diantara lalu lalang angin yang segar. Kami melanjutkan beryoga kembali, melakukan asana ringan sambil duduk dan dilanjutkan bermeditasi. Mata terpejam, duduk di atas matras murahan, di sekeliling begitu riuh, dan pikiran-pikiran berpesta. Begitu adanya , menyadari keriuhan. Entah berapa lama, kami tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran-pikiran berpesta, menyadari begitu adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata begitu hangat, membuka mata, melihat ke atas langit yang begitu putih. Nampaknya acara pemotretan di samping kami sudah usai.Suasana agak hening, tetapi beberapa pasangan yang beraktivitas di sekitar kami masih ada beberapa. Matahari begitu laki , kuat nan lembut berpamitan resap di sore ini. Sore yang riuh dan teduh. Kami melipat matras dan memutuskan untuk meditasi jalan. Saya dan teman saya yang perempuan berjalan kaki tanpa bicara dan menyadari langkah kaki berjalan, Menyusuri taman yang  hijau dan beberapa orang sangat resah dan riuh dalam berbagai pergulatan kegiatan. Kaki berjalan, napas mengalir, sekeliling riuh, menyadari begitu adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat kolam berwarna air hijau, di bawah pohon berusia senja. Kami duduk berdua.Kemudian terjadi perbincangan sore tentang kecamuknya pikiran. Kemudian diam, kemudian berdiri dan memutuskan untuk meditasi jalan kembali tanpa perbincangan apapun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berhenti di dekat pohon , daun daun muram, dahan-dahan mengering, dan burung-burung pipit berpesta di tubuhnya. Mereka bertepuk tangan, bersuka cita. Pohon itu begitu cantik. Saya dan seorang teman yang perempuan berbaring lagi di atas matras murahan,mendongak kepala ke atas, hingga sekeliling terlihat terbalik, pohon di belakang menjadi begitu kecil dan terbalik, bangunan megah kota menjadi terbalik dan sangat mengecil, beberapa pasangan menjadi terbalik dan sangat mengecil, semuanya begitu mengecil di antara langit putih bersih yang sangat luas entah di sore ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengakhiri sore ini dengan entah, keluar taman dengan pelan dan beberapa lelaki iseng menggoda resah dan kami pun menyadari resahnya, berjalan kaki diantara mobil dan motor yang bersahutan gagap kalap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini di posting ulang dari &lt;a href="http://mimpikiri.multiply.com/journal/item/197/Catatan_harian_Tentang_suryanamaskara_matahari_terbenam_langit_terbalik_16-05-09"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-4254703611156727901?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/4254703611156727901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/09/catatan-harian-tentang-suryanamaskara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4254703611156727901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4254703611156727901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/09/catatan-harian-tentang-suryanamaskara.html' title='Catatan harian : Tentang suryanamaskara, matahari terbenam, langit terbalik (16-05-09)'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-562547166351870583</id><published>2009-08-08T20:55:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T21:03:07.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Timur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Balikpapan'/><title type='text'>Anzac Day</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Sn5JpsjbfDI/AAAAAAAAD84/em-168WcUfI/s1600-h/tugu+australia+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 268px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Sn5JpsjbfDI/AAAAAAAAD84/em-168WcUfI/s400/tugu+australia+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367808786555436082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Penulis: &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Sophia Andayani  Razak&lt;br /&gt;Domisili: Balikpapan, Kalimantan Timur&lt;br /&gt;Blog: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kotasophie.blogspot.com"&gt;&lt;span&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;u&gt;&lt;a target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;www.kotasophie.blogspot.com&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Semua orang tentunya mencintai kota kelahirannya, tidak terkecuali aku yang lahir dan dibesarkan di kota minyak Balikpapan. Diantara sejumlah tempat yang mengingatkan akan kota ini, terdapat satu tempat sederhana yang menurutku unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tugu yang terletak di bundaran berdiameter sekitar tiga meter dikelilingi tanaman hias (entahlah tidak bisa dipastikan ukurannya seberapa..hehehe). Mereka menyebut tempat itu sebagai Tugu Australia, berbentuk seperti taman kecil yang berada di tengah jalan raya yang terletak di depan Lapangan Merdeka Balikpapan, sebuah sarana olahraga milik PT.Pertamina Balikpapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara historikal mungkin tidak memberi dampak bagi warga Balikpapan, tapi yang menarik di tugu ini adalah sebuah ritual tahunan yang dilakukan di tempat tersebut setiap tahun sekali, tepatnya setiap tanggal 24 April yang diperingati sebagai Anzac Day. Namanya memang cukup menarik bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Dari kacamata masyarakat awam Balikpapan mungkin tidak terlalu dan mungkin tidak banyak yang tahu kenapa tugu kecil itu tetap dipertahankan disana bertahun-tahun. Dan untuk pertama kalinya secara kebetulan aku sedang berada di daerah sekitar Tugu Australi di pagi buta. Terlihat ada beberapa orang yang sedang melakukan persiapan untuk melakukan sebuah hajatan. Kursi-kursi disusun rapi, ada podium, dan jalur lalu lintas juga blokir untuk sesaat dari kejauhan juga terlihat sejumlah wartawan mulai berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dua buah bus pariwisata datang dan ternyata para penumpang bus tersebut adalah para keluarga veteran yang datang khusus dari negeri Kangguru turun dari bus eksekutif itu dengan pakaian yang sangat formal dan aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha! mereka akan melakukan upacara penghormatan  terhadap leluhurnya para pejuang Australia yang gugur di medan perang saat melawan tentara Jepang di kota Balikpapan Upacara peringatan Anzac Day dilaksanakan tepat pukul 06.00 Wita, saat suling pagi dari kilang PT. Pertamina (Persero) Unit Pengolahan (UP) V mulai berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Sn5J4v3mcNI/AAAAAAAAD9A/4_pqITTeds4/s1600-h/tugu+australia+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Sn5J4v3mcNI/AAAAAAAAD9A/4_pqITTeds4/s320/tugu+australia+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367809045143384274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Bule-bule Autralia yang tua dan muda, perempuan dan laki-laki bahkan ada yang juga masih keturunan Indonesia itu memakai pakaian yang formal dan duduk manis di kursi-kursi yang sudah diletakkan di depan tugu tersebut. Aku mengamati mereka bercakap-cakap, tertawa, melepas kerinduan dan ketika upacara berlangsung ekspresi mereka tiba-tiba berubah menjadi wajah-wajah yang sedih dan penuh bela sungkawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Anzac merupakan peringatan atas gugurnya 229 tentara Australia, bertempur untuk membebaskan pulau Kalimantan dari pendudukan Jepang, yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1945 silam, dilakukan tentara Divisi ke-7 Autralia, merupakan operasi sekutu besar-besaran terakhir kali pada Perang Dunia Kedua. Balikpapan yang saat itu merupakan pelabuhan minyak utama di Asia Timur diserbu tentara Australia atas pendudukan Jepang. (sumber : Tribun Kaltim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugu kecil yang dilengkapi dengan tiang bendera itu, sanggup menciptakan suasana emosional yang ada pada saat itu. Mungkin bagi mereka yang tidak pernah terlibat langsung tidak pernah tahu bagaimana cara mengenang perjuangan. Tapi menurutku ini sungguh luar biasa, mereka bersedia terbang jauh dari negaranya menuju kota Balikpapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well….masyarakat Indonesia juga melakukan peringatan dan kunjungan ke Taman Makam Pahlawan setiap 10 November itu di sejumlah kota tapi tidak pernah sampai pergi ke luar negeri untuk mengenang hari bersejarah mereka, entahlah kalau memang ada dan saya tidak mengetahui hal itu. Tetapi ini yang salah satu ritual yang tidak aku mengerti dari kotaku Balikpapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah peringatan itu, aku kembali berdiri didepan tugu itu dan melihat memang tidak ada yang benar-benar istimewa dari sebuah Tugu Australia itu. Namun, ketika aku melihat kembali lebih jauh makna tugu itu, tidak hanya sebagai pelengkap kota saja, taman kecil yang mempercantik jalan tapi sesuatu penghargaan terhadap apa yang dilakukan orang-orang terdahulu.&lt;br /&gt;Entah misi apa yang bisa dipertanggung jawabkan untuk sebuah tugu itu, tapi mungkin nilai perjuangan yang bisa diambil dari peringatan Anzac Day itulah yang ingin disampaikan oleh tugu kecil itu. Yang membuatku bertanya kembali, apa yang sudah aku perjuangkan hingga saat ini?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-562547166351870583?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/562547166351870583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/08/anzac-day.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/562547166351870583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/562547166351870583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/08/anzac-day.html' title='Anzac Day'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Sn5JpsjbfDI/AAAAAAAAD84/em-168WcUfI/s72-c/tugu+australia+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-2589363700695950278</id><published>2009-07-27T08:34:00.000-07:00</published><updated>2009-07-27T09:19:28.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Solo'/><title type='text'>Kampoeng Batik Laweyan, sebuah lorong dari masa kecilku….</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Sm3NdzI4rAI/AAAAAAAAD5Q/-0avgHWGH3M/s1600-h/CIMG9715.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Sm3NdzI4rAI/AAAAAAAAD5Q/-0avgHWGH3M/s320/CIMG9715.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363168643095505922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Nur Apriyanti&lt;br /&gt;Domisili: Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah puluhan tahun meninggalkan kota ini dan hidup di kota lain yang lebih besar. Namun, Solo, tetap menjadi tempat tujuan utama jika liburan sekolah anakku tiba, atau libur hari raya. Ia semakin megah, makin dipadati mall dan tentu saja, makin sibuk dibandingkan waktu aku kecil dahulu. Jika aku dulu bisa menyepeda ke SMP ku dengan melenggang ria, sekarang rasanya, aku tidak akan tega melepas anakku bersepeda menempuh rute yang sama dengan saingan lalu lintas kendaraan yang padat, seenaknya dan …. tidak mau mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adabanyak yang berubah, dibandingkan 20 tahunan lalu waktu pertama kali kutinggalkan. Tapi tempat-tempat tertentu, sudut kota tertentu, tetap menyimpan ukiran kenangan yang sama. Masih ada getaran kenangan ketika melintas beberapa kelok jalanannya. Uh, aku hampir ketangkep Polantas disini, untung saja aku sempat kabur dengan vespa PX ku. Sudut yang lain&lt;br /&gt;menggugah ingatanku sewaktu aku dibonceng ayahku dengan sepeda onthel, bertiga dengan adikku, membeli martabak di daerah Sriwedari di tengah kota. Itulah mungkin keunggulannya menjadi sebuah kota kelahiran. Ribuan mil pun kita pergi, ia tetap lekat di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku diminta mengenang tempat mana yang paling lekat menjadi kenangan bermainku saat di SD, maka Kampung Laweyan-lah tempatnya. Kampung ini sejak dahulu banyak dihuni oleh&lt;br /&gt;pengrajin batik. Banyak temanku SD yang ayah ibunya menjadi juragan batik. Mereka menempuh ilmu di sekolah yang sama denganku, hanya sekitar 300an meter dari kampung ini. Karena banyak temanku yang tinggal disini, otomatis sepulang sekolah, disinilah aku biasa menghabiskan waktu mainku. Biasanya dengan bersepeda menggunakan sepeda kebo besar milik ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup banyak perubahan yang dialami kampung ini sejak dahulu. Kebanyakan rumah masih punya style lama yang sama sekali tidak berubah sejak dahulu. Namun banyak juga&lt;br /&gt;bangunan baru, biasanya berupa show room batik. Papan penunjuk arah banyak bertebaran di tiap gangnya untuk mempermudah wisatawan mencari tempat tujuannya. Ada papan penunjuk untuk beberapa perusahaan batik, tempat penjualan souvenir, warung makan, pengrajin&lt;br /&gt;blangkon, sentra pembelajaran batik, bahkan rumah-rumah kuno. Balutan modernisasasi tercampur kental dengan peninggalan sejarah yang terabadikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kampung ini sudah menjadi kampung tujuan wisata yang cukup ramai dikunjungi turis lokal, terutama waktu weekend. Rumah  seorang  teman, bahkan sekarang sudah tersulap menjadi sebuah Museum Batik. Sebuah rumah kuno berpendopo luas, tempatku dulu sering bermain di sana sambil meminjam majalah ‘Hai’  koleksi temanku, sekarang sudah disulap menjadi 2 show room batik dengan menyekat bagian pendopo itu tepat di tengah ruangan. Beberapa teman kecilku, saat ini juga sudah menjadi juragan batik yang cukup terkenal di sana, meneruskan usaha orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari-hari biasa, siang hari, kampung ini relatif sepi. Beberapa tukang parkir duduk di tepi jalan utamanya, kadang sambil terkantuk-kantuk karena tidak banyak kesibukan. Angin siang yang kering, dipadu sinar matahari tengah hari, adalah paduan yang sempurna untuk menikmati istirahat siang. Musim kemarau datang lebih lambat tahun ini. Mangsa bedhidhing, yang dikenali orang Jawa sebagai musim peralihan ke musim kemarau, baru datang di awal Juli. Angin terasa agak menggigilkan badan meski matahari menyapa dengan ramah. Aku mengenalinya dengan baik; pemandu musim yang setia. Ia mengantarku menganyam kenangan siang itu. Tiga puluh tahun, bukan waktu yang pendek. Beberapa kenangan masih tinggal, sebagian lain luruh bersama waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenanganku yang tidak hilang akan kampung ini,  tersisa utuh di sebuah lorong kecil,  tempatku sering bersepeda berombongan dengan teman-temanku dan kemudian mampir di rumah seorang teman yang tinggal di lorong sempit itu. Di mulut gangnya yang sempit, ada tanjakan yang sekarang sudah dibuat lebih landai dibanding dulu sehingga lebih memudahkan untuk dinaiki. Dahulu aku butuh bantuan seorang teman untuk mendorong sepeda keboku dari belakang untuk melewati tanjakan itu. Rumah pertama dari mulut gang itulah rumah temanku, Indah. Keluarganya terdiri dari keluarga besar, mungkin sekitar 6 orang anak yang jarak lahirnya saling berdekatan. Rumah sederhana yang berhalaman luas, menjadi tempat singgah favoritku. Indah memiliki banyak buku bacaan di rumahnya yang berasal dari perpustakaan sekolah tempat ibunya mengajar. Entah kenapa, buku-buku bacaan itu dititipkan di situ. Buku favoritku adalah serial binatang yang diceritakan dalam kisah seperti manusia. Piko, si anjing laut, misalnya. Mengikuti satu per satu serinya selalu membangkitkan perasaan haru tersendiri&lt;br /&gt;pada kehidupan binatang. Aku yakin, buku-buku ini sangat mewarnai bagaimana aku memperlakukan binatang saat ini. Mereka punya keluarga juga seperti kita; punya perasaan sedih dan bahagia.  Punya naluri untuk menyelamatkan dari bahaya, membentuk keluarga dan melindungi keluarganya. Seringkali aku ikut menangis mengikuti kisah mereka yang susah payah menyelematakan diri dari tangkapan manusia dan mempertahankan diri untuk tetap&lt;br /&gt;bisa hidup di alam bebas bersama kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku pernah terhadang hujan waktu berniat pulang dari rumah Indah. Bahkan sampai Magribpun hujan belum mereda. Jamanku kecil, tentu saja, belum ada HP atau telepon umum seperti sekarang ini. Jadi aku tak bisa mengabarkan pada keluargaku di rumah bahwa aku baik-baik saja berada di rumah temanku, hanya menunggu waktu pulang sampai hujan reda. Bapakku pastilah sangat khawatir karena tidak biasanya aku pulang main selarut itu. Tapi aku belum diperkenakan pulang oleh mereka sekeluarga, takut aku menjadi sakit esok harinya terguyur hujan. Alhasil, aku mengikuti sholat magrib berjamaah di rumah mereka. Selesai sholat, masih dalam posisi duduk, bapaknya berputar badan menghadap anak-anak yang menjadi makmumnya dan satu per satu anaknya mencium tangan beliau. Ritual inilah yang kemudian aku tiru di rumahku; ditiru juga oleh adik-adikku; dan kuajarkan sekarang pada anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorong itu masih sama sepinya seperti dulu. Dinding-dinding pembangunnya, bahkan terkesan semakin tua tak terawat. Pas di tikungan kecilnya, ada pos ronda yang tak lagi bisa diduduki&lt;br /&gt;karena sekarang dipagari bilah-bilah bambu yang disilang-silangkan. Aku dulu tertawa-tawa dengan temanku, duduk bercerita di sana. Mana pernah kami berpikir tentang lapar di tengah waktu bermain itu. Uang jajan kami sangat pas-pasan, jadi memang hanya cukup untuk membeli jajanan saat di sekolah. Lebih sering kami bersepeda bersama tanpa ada yang membawa uang sama sekali; sangat berbeda dengan anak-anak kecil jaman sekarang. Tapi  kemanapun sepeda kami melaju, kami selalu riang gembira. Adalah suatu ‘keajaiban kecil’ apabila ada teman yang mau membelikan kami makanan ringan. Es mambo, rambak, kadang kala kami dapatkan secara gratis dari traktiran seorang teman yang cukup kaya; ayah ibunya pengusaha batik yang sukses. Namun kebanyakan hari bermain kami, terlewat tanpa makanan&lt;br /&gt;camilan apapun. Oleh karena itu, jika kami singgah di rumah seorang teman dan ibunya berbaik hati menyediakan minuman teh atau sirup bagi kami, tentu&lt;br /&gt;saja kami terima dengan rasa syukur yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena banyak temanku yang ayah ibunya menjadi pengrajin batik, maka kami juga mempunyai satu hobi yang unik : mengumpulkan tiket batik. Tiket, demikian kami biasa menyebutnya, adalah label kertas yang ditempel di atas kain batik yang sudah terlipat rapi dan siap dipasarkan. Besar dan bentuknya bervariasi; tapi biasanya tak lebih besar dari 3 x 5  cm. Pada lembaran tiket itu ada logo, nama perusahaan batik serta alamatnya. Banyak teman membawa tiket ke sekolah, masih dalam bentuk gepokan rapi yang baru diambil dari tempat percetakan. Masih lengket antara tiket satu dengan yang dibawahnya, sehingga jika kita mengambil salah satu lembarannya pastilah akan menimbulkan bunyi khas yang berkeretekan.&lt;br /&gt;Tiket batik, bisa menjadi sarana untuk mendapatkan penerimaan kelompok bermain kami. Siapa yang membawa tiket yang cantik dan besar, biasanya segera akan diserbu oleh teman lain yang meminta. Mereka akan sangat menikmati waktu membagi-bagikan ini, karena teman-teman yang lain akan berusaha  memberikan rayuan terbaiknya agar mendapatkan banyak pemberian. Teman yang murah hati, akan membagi tiket itu sampai titik darah penghabisan. Namun yang pelit, hanya akan membaginya pada anggota  ‘gang’ nya&lt;br /&gt;dan menyimpan banyak sisanya untuk dirinya sendiri, untuk dipamerkan pada teman lain bahwa ia memiliki sesuatu yang mereka idam-idamkan. Ada beberapa teman yang sengaja menyebar gepokan tiket tadi di tengah ruang kelas saat istirahat, sambil berdiri di atas&lt;br /&gt;bangku belajar. Anak-anak yang lain (mayoritas murid perempuan) akan dengan histeris memperebutkannya. Setelah tiket didapat, kami akan menyimpannya di wadah khusus. Saling bertukar koleksi, atau membuat tiket tsb menjadi koin penukar jika kami melakukan acara pasaran (permainan jual beli) adalah hal-hal kami lakukan dengan tiket itu. Sampai aku sekolah di SMA, masih kudapati aneka ragam tiket itu dalam wadah koleksiku. Ah, kerjaan dari ‘maling-maling kecil’, batinku saat ini. Kebanyakan teman mendapatkan tiket itu secara sembunyi-sembunyi dari tempat penyimpanan orang tua mereka. Seringkali mereka mengambil dalam jumlah banyak, tanpa permisi. Aku bisa membayangkan sekarang, orang tua mereka pastilah akan terkaget-kaget mendapati persediaan tiket yang cepat habis. Tak jarang, acara membagi-bagikan tiket ini juga bisa menjadi ajang perselisihan antar teman. Yang tidak kebagian, akan berbalik membenci teman si pembawa tiket itu. Tapi dasar anak-anak, hal ini akan cepat terlupa saat kami bermain lain hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu rumah-rumah kuno di kampung ini, menjadi bagian dari aktivitasku sehari-hari. Sekarang banyak yang menjadi tontonan wisata yang menarik. Dari sebuah kampung kecil&lt;br /&gt;yang penuh kenangan, berganti wajah menjadi kampung wisata  belanja yang menjadi ikon kebanggaan kota. Tapi kenangan itu tidak pernah pergi dari benakku.  Masa kecilku, teman-temanku, pengalamanku survival mencapai eksistensi diri dalam kelompok bermainku, terpateri rapi dalam setiap lorongnya. Aku hanya bisa bercerita pada anakku, bahwa aku dulu pernah membaca buku-buku yang indah tentang kehidupan binatang, namun tak bisa mencarikan terbitan buku yang sama di toko buku saat ini. Aku juga mengajaknya melewati lorong kecil yang paling kucinta, menunjukkan padanya bahwa ibunya dahulu sangat menyukai duduk bercengkerama di pos hansip yang sudah tak bisa ditempati itu. Menunjukkan sungai favorit tempat teman-temanku senang berenang di arusnya; langgar (mushola) dulu tempatku belajar mengaji di sore hari. Kenanganku memang tak akan bisa kuwariskan dalam ingatannya. Namun kuharap, ia juga akan mau berbagi pengalaman masa kecilnya, pada anak-anaknya nanti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diselesaikan, 16 Juli 2009,  21: 54)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-2589363700695950278?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/2589363700695950278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/07/kampoeng-batik-laweyan-sebuah-lorong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2589363700695950278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2589363700695950278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/07/kampoeng-batik-laweyan-sebuah-lorong.html' title='Kampoeng Batik Laweyan, sebuah lorong dari masa kecilku….'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Sm3NdzI4rAI/AAAAAAAAD5Q/-0avgHWGH3M/s72-c/CIMG9715.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-8654959955269473158</id><published>2009-07-16T20:31:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T20:38:16.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Pesta Pora Para Paria</title><content type='html'>Penulis: Maria Serenade Sinurat&lt;br /&gt;Domisili: Surabaya, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;Semua kota punya 'anak tiri'-nya masing-masing. Mereka yang luput (atau diluputkan) dari kemilau kota yang terus menuntut mereka menjadi lebih menarik, lebih wangi, lebih konsumtif. Tapi, percayalah bahkan Surabaya yang selalu saya maki ini ternyata masih menyediakan ruang bagi paria-paria macam kami untuk berpesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Destinasi saya untuk menjelajahi kota selalu tidak jelas. Begitu juga pada akhir pekan 11 Juli lalu. Jalanan sudah kian menor dan memabukkan. Tapi justru saya dan kawan saya malah melangkahkan kaki di tempat yang lebih menor lagi : Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Anda tahu Dunia Fantasi (Dufan)? Baiklah, THR seperti imitasinya. Model taman hiburan dengan aneka permainan. Hanya saja tingkat kengeriannya lebih masuk kategori 'siaga satu'. Maklum waktu naik rollercoaster-wannabe saya serasa naik bus Sumber Kencono dengan supir mabuk plus ngantuk dengan rem nyaris blong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kalau kata kawan saya, hanya dengan Rp 6.000 untuk satu wahana saja kami bisa menuju tapal batas antara kesenangan dan kematian (haha!). Yang jelas, empat belas penumpang belia mendarat dengan selamat tanpa protes. Termasuk kami yang berencana mencoba rollercoaster gila itu lagi. Suatu saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bersama ratusan warga dari kota antah-berantah kami merayakan luapan adrenalin. Dengan biaya masuk THR Rp 10.000, mata dijejali kegembiraan liar yang tidak saya lihat di Time Zone. Di sini, anak-anak dengan logat Surabaya, Blitar, hingga Madura merengek-rengek minta naik komidi putar yang bikin pusing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ini memang liburan, dan Surabaya termasuk magnet yang menarik penduduk dari kabupaten/kota yang rindu hiburan. Atau mayoritas dari mereka tengah menghadiahi anaknya liburan seru karena nilai rapor memuaskan. Sebagai bagian dari promosi, THR memang memberi potongan untuk anak yang punya nilai rata-rata 7,5. Lucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi kota anak desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Entah kenapa semua ini begitu nyata buat saya. Lebih nyata dari jembatan terpanjang Suramadu, toko kopi favorit, atau mal-mal yang seakan berhasrat merampok saya. Semua warga THR yang berkumpul pekan lalu melupakan hiruk-pikuk kehidupan sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tidak ada yang peduli suara SBY masih tertinggi, uang untuk tahun ajaran baru harus disiapkan, dan uang terkuras demi beberapa jam kesenangan di THR. THR seperti prozac untuk melupakan sedikit gilanya rutinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Remaja-remaja tanggung yang saya lihat di THR dengan bangga mengimitasi gaya Charlie, vokalis ST 12 hingga Giring Nidji. Rambut miring tak beres dipadu dengan celana skinny hitam dan sepatu ala Converse. Setidaknya semua tampak bahagia, menjadi bagian dari 'mode besar' di kota yang juga besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ini sebuah pesta yang mampu mereka biayai. Mimpi-mimpi para paria yang terhipnotis gebyar kota namun tak kuasa menguras lebih banyak isi kantong. Tapi kesenangan harusnya tidak mengenal kelas sosial, tidak dibedakan antara 'norak' dan 'berkelas'.&lt;br /&gt;      Meski dicap 'kampungan' oleh rekan sekantor karena menjajal THR, saya mulai menemukan oase lain di kota ini. Entahlah, ditemani kawan terbaik dan tahu petis seharga Rp 500, saya menemukan inilah Surabaya yang sebenarnya. Kota menor yang bermimpi jadi Jakarta, tapi gagal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-8654959955269473158?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/8654959955269473158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/07/pesta-pora-para-paria.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8654959955269473158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8654959955269473158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/07/pesta-pora-para-paria.html' title='Pesta Pora Para Paria'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-6633906158078297186</id><published>2009-06-28T22:58:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T23:01:22.014-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Bandungku : dongeng tentang musim gugur dan musim semi</title><content type='html'>Penulis: Maya Melivyanti&lt;br /&gt;Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia&lt;br /&gt;Blog:  &lt;span style="background-color: rgb(255, 191, 255);" &gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://www.rachelmaya.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.dreamofmay.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:comic sans ms;color:#ff00ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1993-1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyusuri sepanjang jalan sebelah gedung sate yang bertaburan daun-daun coklat sedikit memperlambat degup jantungku yang berderap mars seperti kaki tentara, ini hari pertama ku menjadi murid pindahan di smp yahya bandung. Mengapa banyak sekali pohon disini, mengapa daun – daun begitu indahnya menari? Dimana bioskop? Dimana mall? Seribu pertanyaan yang kukumpulkan dari Surabaya, kota panas , tempat numpang lahirku itu menumpuk di benakku, dan sebentar lagi aku akan memulai sebuah musim baru, musim gugur di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya..tepat sekali kunamakan kota ini dengan musim gugur nya, begitu papa memberitahu aku dan adikku kalau kita semua akan pindah ke Bandung, aku merasa sekelilingku mendadak suram, tiba – tiba bayangan meninggalkan semua teman-teman dekatku, membuat hati meringis. Apakah aku akan punya teman lagi di belantara jawa barat ini? Mimpi buruk ku menjadi kenyataan, aku akan menjadi murid baru yang berlogat aneh di tengah – tengah teman-teman yang berbahasa sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“gandeng itu apa sih, ngga boleh gandengan? Kenapa semua orang ngomongnya pake teh? Kenapa banyak sekali angkot? Apa itu bala bala? Batagor singkatan apa sih? Di BIP (Bandung Indah Plaza) ada bioskop ngga? Oh yamin itu mie nya pisah ya sama kuahnya?”&lt;br /&gt;hampir seribu pertanyaan kulontarkan dengan jahatnya pada teman baru ku Tessa, dia orang pertama yang menjadi tour guide dadakan ku di kota baru ini. Untung saja tessa begitu sabar dan sangat jelas sekali merinci jawaban – jawaban nya, bahkan sampai memberi contoh-contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari – hari berikutnya kemudian menjadi petualangan penemuan – penemuan baru bagiku, mengukur jarak antara riau dan soekarno hatta dengan menggunakan angkot dan mobil jemputan, pembukaan kantor pos Banda, munculnya FO pertama di graha manggala siliwangi Bandung, mengiringi gugur nya satu per satu surat – surat penyambung hubungan dengan semua teman – teman ku di Surabaya. Tentu aku menangis saat itu, sebagai seorang anak yang berjiwa melankolis dramatis, ahh..sebuah masa hiperbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim semi ku di bandung berawal dari sebuah senyum dan sapa dari seorang yang bernama Grace, aku selalu ingat adegan itu: Grace datang tergopoh – gopoh dengan tas nya yang besar, sweater gombrong, muka culun (ups) dan badan yang juga besar , sama besarnya denganku (oh senangnya, aku punya teman “senasib” di smp ini, pikirku) dia melihatku beberapa kali, lalu duduk tepat di kursi depan kursiku, lalu dia menoleh beberapa kali dan tersenyum, ramah sekali dan mulai saat itu Grace lah yang membuatku tersenyum kembali dengan tingkahnya yang lucu, lalu membawaku menemukan sahabat demi sahabat: Golda..Dina..Anna.., bunga – bunga yang masih kuncup, lalu kami berbagi tawa, tangis, duri, bahkan menemukan Tuhan bersama - sama.., ah hampir tidak cukup jika diceritakan satu per satu..saksi nya adalah jalan riau..BIP..candrawulan, base camp nya adalah rumah om Anna yang terletak tepat di depan rumah bersalin , yang sekarang salah satu kumpulan FO di jalan riau..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun setelah kami lulus SMP, ketika aku, Dina dan Golda menginjakkan kaki kembali di kamar Anna yang telah berubah menjadi ruang ganti pakaian, kami tertawa kecil, dan ingin sekali meng sms Anna yang sudah hijrah ke Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini aku tidak mengenal lagi musim semi itu..sepertinya berlalu begitu saja dengan perginya bunga – bunga satu per satu dari kota yang padat ini, semakin padat, untung aku ada di ujung gunung..masih cukup sepi, tapi tidak se semi dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-6633906158078297186?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/6633906158078297186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/bandungku-dongeng-tentang-musim-gugur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6633906158078297186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6633906158078297186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/bandungku-dongeng-tentang-musim-gugur.html' title='Bandungku : dongeng tentang musim gugur dan musim semi'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-6886283720192172423</id><published>2009-06-23T04:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:27:57.477-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Interrupted J.A.K.A.R.T.A</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;Penulis: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;Qashiratu Taqarrabie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;Domisili: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;DKI Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;Blog&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;: www.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://taqarrabie.blogspot.com/" target="_blank"&gt;taqarrabie.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://taqarrabie.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Gue lahir, besar dan tinggal di Ibukota. DKI JAKARTA. &lt;b&gt;Sinis, kotor, macet, bau dan tidak pernah menyenangkan.&lt;/b&gt; Hahaha. Banyak yang mengutuk kota ini. Sejuta sumpah serapah terlontar setiap pagi, bahkan sebelum pukul dua belas siang saat para bayangan menghilang di bawah kaki. Sumpah-sumpah itu melayang-layang di atas udara yang penuh polusi, menunggu kawan-kawannya yang lain, yang tentu saja akan segera bergabung seiring berjalannya hari. Mungkin itu yang menyebabkan maghrib cepat sekali datang di kota ini. Para sumpah itu bergabung menjadi satu, lalu membentuk awan kelabu, yang menggelapkan langit dan membuat siang sesegera mungkin pergi berlalu. Pernah suatu kali, gue harus pergi kerja pagi-pagi, dianter kakak gue yang masih belekan karena belum mandi. Dia yang sudah lama tinggal di Bandung lalu mendengus dan menyeringai. Mengejek. Katanya, ini belum lagi jam tujuh pagi, tetapi sepanjang kami keluar pagar hingga sampai di patung Pancoran ini, tidak satu pun dia melihat ada manusia yang tersenyum menyambut terbitnya matahari. Semuanya cemberut atau mengantuk. Robotik, kalau kata sebuah band yang musiknya beraliran elektronik. Keparat korporat, kalau kata sebuah lagu gubahan penyanyi legenda andalan sejuta umat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Apapun yang dikatakan semua pengutuk kota Jakarta (yang tetap saja tinggal di kota ini karena haus kekayaan pribadinya sendiri, atau karena belum punya cukup modal pribadi untuk emigrasi keluar negeri, atau terjepit tuntutan orangtua yang masih memaksa untuk tinggal di sini, atau alasan-alasan lainnya yang hanya mengukuhkan bahwa mereka adalah pengecut yang cuma bisa ngomel dan sama sekali tidak mandiri), &lt;b&gt;GUE CUMA MAU BILANG KALAU GUE CINTA KOTA JAKARTA DENGAN SEGALA JENIS NAJIS YANG ADA DI DALAMNYA. &lt;/b&gt;Pemikiran ini baru aja dateng kok.. Sekedar informasi, gue juga baru sadar kalau gue sempet masuk dalam jajaran pengutuk kota Jakarta yang pengecut karena cuma bisa ngomel dan sama sekali tidak mandiri, plus belum punya cukup modal pribadi untuk emigrasi keluar negeri, karena terjepit tuntutan orang tua yang masih maksa gue buat tinggal di sini. Hmm.. mungkin juga kalo diterusin, gue bisa aja berkembang jadi orang yang masih tinggal di sini karena haus kekayaan pribadinya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Keluarga yang ambisius terhadap cita-cita dan masa depan bikin gue kepecut biar jadi orang yang selalu tahu banyak hal. Apa, kenapa, siapa, gimana, dimana, pake apa, kapan, terus apa. Itu selalu jadi pertanyaan. Keberhasilan lalu diukur dengan angka dan huruf, saat tuntutan berkompetisi disodorkan oleh sekolah-sekolah berlabel unggulan. Gue sempet ngira kalo gue hidup di rumah sakit jiwa yang dindingnya bukan main besarnya. Hingga nyampe di satu titik dimana gue ngerasa kalo udah tiba saatnya gue stop menghidupi kehidupan yang diinginkan orang dan mulai ngelakuin apa yang bener-bener pengen gue lakuin. Mengisi waktu sebaik mungkin untuk mengejar kecintaan gue sama bidang yang spesifik. &lt;i&gt;Passion&lt;/i&gt;, kalau kata orang-orang yang suka bicara dalam bahasa (yang katanya) canggih.. Kacamata kuda agar terus mengejar posisi sebagai manusia global yang serba cepat dan terdepan dalam menyerap informasi kemudian menjuruskan manusia-manusia di dalamnya untuk menjadi individualis sejati. Sekolah tinggi-tinggi ternyata cuma bikin gue selalu berpikir apatis dan egosentris (serius lah, nggak usah heran kenapa banyak generasi golput beredar di pasaran). Banyak kekecewaan-kekecewaan yang bikin gue bener-bener bertekad pergi keluar negeri sesegera mungkin dan nggak akan pernah balik lagi. Kecewa akan ketidakdisiplinan waktu (nggak usah lempar bodi lah. Kalau emang tau bakal kena macet karena rumah jauh, ya bangun dan berangkat lebih pagi dong. Kalau berkeluh nggak bisa bangun pagi karena pulangnya juga pagi, ya pindah rumah aja. Nge-&lt;i&gt;kost&lt;/i&gt; kek kalo emang ribet banget urusan duitnya. Nggak usah jadi komuter sialan yang cuma bisa menuhin jalan sama motor-motor yang selalu nggak mau disalahkan kalau terjadi kecelakaan). Kecewa akan ketidakprofesionalan orang (coba dipikir, &lt;i&gt;account executive &lt;/i&gt;di perusahaan iklan itu, harusnya nggak cuma bisa ngomel doang sama kerjaan orang, tapi juga memastikan kalo &lt;i&gt;brief&lt;/i&gt; yang dia kasih itu jelas dan bisa dimengerti orang. Nggak usah bego-bego amat deh). Kecewa sama sistem (yang intinya cuma bisa nginjek-nginjek orang yang nggak punya uang, eksploitasi manusia berbakat yang nggak punya kuasa dan keruk habis semua sumber daya buat dijadiin duit). Kecewa sama pemerintah (ya ampuun, ini lagi… perlu banget ya dibahas?). Brengsek. Terus diam. Terus mikir. Apa gue bego? Nggak. Apa gue naif? IYA. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Emang kalo gue keluar negeri, situasi kehidupannya bakalan beda? Siapa yang bilang kalau di sana gue nggak bakalan ketemu manusia-manusia yang tidak lebih menyebalkan daripada yang ada di sini? Hollywood itu ternyata punya totalitas dalam menjalankan perannya sebagai penggambaran paling tepat dari dunia maya. Nggak ada itu yang namanya tinggal di Paris atau New York dan bisa santai-santai nongkrong di kedai kopi tiap hari sambil nyela-nyela orang, terus bisa hidup bahagia bersama teman-teman. Seorang bijak pernah ngomong ke gue. Katanya, kalau kamu sakit gigi dan teriak-teriak di malam hari, sakitnya nggak bakalan hilang. Tapi kalau kamu nikmati, rasa nyut-nyut itu akan menimbulkan irama, yang kalau terus diresapi akan membentuk simfoni pengantar tidur yang lebih menyenangkan dibanding &lt;i&gt;overture&lt;/i&gt; manapun. Kemudian dateng tiga momen dalam hidup gue yang bikin pernyataan AKU CINTA J.A.K.A.R.T.A bertambah kuat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Satu adalah setelah gue nonton Drag Me To Hell (sialan, ini film oke banget!). Di titik itu, gue sadar kalo mempertahankan &lt;i&gt;passion &lt;/i&gt;di tengah hiruk pikuk industri yang bikin sesak napas dan putus asa adalah hal yang nggak gampang. Di situ gue sadar kalo yang namanya cinta butuh pengorbanan. Meskipun mesti berdarah-darah sampe rasanya kayak di neraka. Peduli setan sama yang bilang kalo nggak ada itu yang namanya &lt;i&gt;passion&lt;/i&gt;. Buat gue, selama lo bisa jadi jembatan antara dunia mimpi dan kenyataan, semuanya mungkin aja kejadian. Menghadapi realita bukan berarti berhenti bermimpi. Gimana caranya jadi jembatan itu? Yang kerja keras. Yang tekun. Yang berdoa. Yang sabar. Yang ikhlas. Percayalah kata-kata usang dari para nenek moyang. Sialannya ngejalaninnya emang nggak gampang. Tetapi bukan artinya mesti tutup mata dan cari titik nyaman dalam kehidupan kan? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Momen kedua adalah waktu gue nonton Garuda di Dadaku, film yang ceritanya dibikin dan skenarionya ditulis sama salah satu mentor gue. Waktu itu, filmnya belom diputer aja gue udah nangis. Sialan. Begini seharusnya yang namanya &lt;i&gt;premiere&lt;/i&gt; film. Pesta kemenangan terhadap perwujudan mimpi yang ngomonginnya aja bikin gemeteran. Di saat kita bisa tunduk bersyukur, karena bisa merealisasikan apa yang sejak masih ingusan selalu dianggap omong kosong sama orang-orang. Terus mendongak dan ngelihat kedua orang tua yang sempet khawatir apa bisa anaknya cari makan pake mimpi. Terus senyum dan mengangguk, karena hati lega saat bisa menghilangkan keresahan itu. Sekali lagi, ngomonginnya emang gampang. Tapi coba deh nikmatin prosesnya. Rasa khawatir dan gamangnya. Dag-dig-dug-der-nya. Wuiihhhh! Kayak naik &lt;i&gt;rollercoaster&lt;/i&gt;! Udah tau bakal jantungan tapi tetep dijabanin demi rekreasi adrenalin gila-gilaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Momen ketiga adalah waktu gue sama mentor gue yang lain ngobrol di salah satu pusat perbelanjaan. Kita ngomongin soal visi, misi dan sistem yang bakal diterapin ke perusahaan yang sedang dirasukin atmosfir kelesuan dan rasa apatis berlebihan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"&gt;Kepercayaan dipertaruhkan. Sialaaaan! &lt;i&gt;Are you in or are you out&lt;/i&gt;? Anggukan menjadi jawaban pasti. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Kalau nggak sekarang? Kapan lagi? Mumpung masih muda. Masalahnya sekarang tinggal semuanya harus pake diukur dengan cermat dan tepat. &lt;i&gt;Passion&lt;/i&gt; nggak cuma butuh semangat, tapi juga otak dan strategi. Jangan lupa resep nenek moyang yang udah gue omongin tadi. Namanya juga usaha. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Apa hubungannya tiga momen ini sama semakin kuatnya pernyataan AKU CINTA J.A.K.A.R.T.A? Coba gue lahir di gunung atau pelosok hutan atau pinggiran ujung pantai, belum tentu gue bisa secepetnya nonton Drag Me To Hell atau ketemu mentor yang bikin Garuda di Dadaku, atau mentor lain yang ngobrol sama gue di pusat perbelanjaan itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"&gt;Belum tentu gue bisa ngembaliin &lt;i&gt;passion&lt;/i&gt; yang sempat gue ragukan (Masyaallah bagus banget Drag Me To Hell itu! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Gue bener-bener mesti nonton Evil Dead!). Pemikirannya berkembang jadi... Coba gue lahir di kota yang cukup besar, tapi labelnya bukan Jakarta, pasti gue selalu pengen serba ke-Jakarta-Jakarta-an. Nggak pede sama kultur setempat yang gue punya karena semua serba ngikut apa yang kelihatan di sinetron atau internet. Atau coba gue lahir di luar negeri, belum tentu gue bisa sadar bahwa dunia ini terbangun dalam dua sisi, ada sistem serba manual dan birokrasi yang selalu bikin pengen muntah dan ada sistem serba kabel dan digitalisasi yang selalu bikin hidup lebih mudah. Maksud gue, di Amerika aja, banyak anak kelas dua SMA yang nggak tau letaknya Indonesia. Tapi di sini, banyak anak kelas dua SMA yang khatam sama yang namanya Nebraska. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Dan jangan salahin gue kalo gue merasa sangat nyaman menikmati duduk di dalam angkot sampe keringetan sambil menikmati kemacetan. Kapan lagi gue punya waktu sebanyak itu buat ngelihat orang dari berbagai strata ekonomi dan akhirnya bisa berkaca dan berkontemplasi? Terus juga jangan salahin gue kalo gue seneng banget liat lampu-lampu warna warni di malam hari. Kalo nggak, apa yang bisa ngegantiin sinar bintang yang udah dimakan sama polusi? Jangan juga salahin gue kalo sebenernya inti dari tulisan ini cuma berpikir positif dan proaktif (mohon maaf buat Stephen Covey kalo gue nyuri dikit paham-paham dasar dari bukunya), dan memaksimalkan apa yang kita punya buat memicu kreativitas dan produktivitas yang pada akhirnya bisa mengakomodasikan kepentingan orang banyak dan juga kepentingan kita sendiri pada akhirnya. MASIH NAIF? IYA. &lt;b&gt;Tapi&lt;/b&gt; &lt;b&gt;apa salahnya sih bersyukur sama rumput sendiri dan merawatnya sampe bisa lebih hijau dibanding dengan rumput tetangga samping kanan dan kiri?&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;IYA. AKU CINTA J.A.K.A.R.T.A.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Minggu, 21 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-6886283720192172423?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/6886283720192172423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/interrupted-jakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6886283720192172423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6886283720192172423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/interrupted-jakarta.html' title='Interrupted J.A.K.A.R.T.A'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-2244898402796107933</id><published>2009-06-23T04:19:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:21:39.054-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>SUBANG : ANTARA INGATAN DAN KENYATAAN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;Penulis: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;Bismantara&lt;br /&gt;Domisili: Subang, Jawa Barat&lt;br /&gt;Blog: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.bisma.wordpress.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;www.bisma.wordpress.com&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;…Dahulu…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;Kau adalah sebuah  ingatan tentang kehangatan. Tempat berkumpulnya saudara-saudara yang  terserak di kota-kota nan jauh. Sebuah oase dimana kita bisa tertawa  dan berbincang bersama. Di hari nan fitri, setiap tahun sekali. Dengan  berbekal keikhlasan dan keinginan tuk maaf memaafkan, kita semua bertemu.   Sebuah momen penting yang kukenang dalam aliran waktu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;Engkau adalah sebuah  ranah imajiner dalam labirin ingatanku. Sebuah lokasi geografis seluas  205.176,95 hektar (6,34% dari luas propinsi Jawa Barat). Sebuah wilayah  yang berbatas dengan Bandung, Purwakarta, Kerawang, Indramayu, Sumedang  dan Laut Jawa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;…Kini…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;Kau adalah sebuah  kota yang kudiami. Di dalammu, aku bernafas, bekerja dan belajar. Tentang  hidup, tentang segala hal. Termasuk yang baik dan buruk. Nama-mu mencuat  saat salah seorang (bekas) artis, Primus Yustisio mencalonkan diri sebagai  nahkodamu (baca: bupati). Dari dirimu, lahir seorang maestro yoyo yang  membentuk komunitas yoyo se-Indonesia, Oke Rosgani. Juga terdapat Komunitas  Blogger Subang yang digerakkan oleh kang Yahdi, Annas dan Oki Rosgani  (saudara kembarnya Oke, hehe..). Dan banyak lagi orang-orang hebat yang  sepertinya memang kurang terekspos oleh media. Merekalah &lt;i&gt;“local  heroes”&lt;/i&gt; yang menjadi panutan dari komunitasnya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;Sisi kelam-mu pun  ada. Permasalahan korupsi (yang sudah menjadi epidemic nasional, mengalahkan  virus H1N1), pergaulan bebas (yang mengekor dari permasalahan urban  kota-kota besar) juga merupakan wajah yang harus dicermati. Jika boleh  sedikit merefleksikan semuanya, mungkin benar bahwa poverty is the root  of all evil. Kemiskinan adalah biang dari segala kejahatan. Karena kemiskinan,  orang tega mengambil apa yang bukan hak-nya. Dengan alasan yang sama,  kehormatan dan harga diri bisa digadaikan. Di tengah-tengah sikap masyarakat  yang makin permisif dan godaan konsumerisme yang semakin marak, dapatkah  masyarakat Subang bertahan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;"&gt;Jaman berganti, permasalahan  akan terus ada. Dan kami bergumul dengannya, mencoba bertahan dengan  segenap keyakinan masing-masing. Permasalahan yang kami hadapi tentu  berbeda dengan daerah lain. Karenanya, mari berbagi semangat untuk mencoba  bertahan. Dan merubahnya. Dalam skala kecil sekalipun. Ayo!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-2244898402796107933?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/2244898402796107933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/subang-antara-ingatan-dan-kenyataan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2244898402796107933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2244898402796107933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/subang-antara-ingatan-dan-kenyataan.html' title='SUBANG : ANTARA INGATAN DAN KENYATAAN'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-2610439813835350627</id><published>2009-06-23T04:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:13:38.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Tentang Tremor: Aku Mengetuk dan …</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://images.dreamiy.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SMQiswoKCsMAAD6wCdE1/IMG-0292.jpg?et=PofCgG4d66kbye0rO%2CM8tw&amp;amp;nmid=0" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Mira Asriningtya&lt;br /&gt;Domisili: Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dreamiy.multiply.com/" target="_blank"&gt;Blog:  http://dreamiy.multiply.com&lt;/a&gt; &lt;a href="http://thepicnicgirl.blogspot.com/" target="_blank"&gt;http://thepicnicgirl.blogspot.&lt;wbr&gt;com&lt;/a&gt; &lt;a href="http://cupshop.multiply.com/" target="_blank"&gt;http://cupshop.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Two roads diverged in a yellow wood,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   And sorry I could not travel both&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   And be one traveler, long I stood&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   And looked down one as far as I could&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   To where it bent in the undergrowth&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;(Robert Frost)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada langkah pertamaku memasuki &lt;a style="color: rgb(51, 51, 153);" href="http://dreamiy.multiply.com/journal/item/81/Aku_Mengetuk_dan_Seseorang_Membuka_Pintu_Mempersilakanku"&gt;halaman itu&lt;/a&gt;, aku mengalami tremor aneh di bagian hati yang lama tidak tergetar. Sakit. Beberapa kali terjadi sebelum memasuki yayasan seni itu. Perasaan yang pernah disebut tidak bernama. Aku tidak berani berharap dan menyebutnya takdir. Mungkin aku hanya cemas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Sesampainya di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, aku segera mencari letak kamar mandi. Seseorang pernah memberitahu bahwa agar kita merasa nyaman dengan suatu tempat, pertama-tama temukan letak kamar mandinya. Aneh, tapi itu lah yang aku lakukan di tengah kecemasanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Berikutnya, aku mendapati diriku duduk dengan memegang daftar nama peserta. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; namaku dan nama seniman-seniman yang kemudian kuketahui lebih ingin disebut sebagai pemusik. Aku mulai semakin bersemangat dan berkenalan dengan banyak orang baru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Aku semakin merasakan betapa komunalnya Jogja ketika mendapati semua orang di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; saling mengenal dan menanyakan hal yang nyaris sama: &lt;i style=""&gt;“Dari komunitas mana?”&lt;/i&gt;, begitulah kira-kira.. Saat itu aku selalu menjawab &lt;i style=""&gt;‘Bukan dari mana-mana’&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;‘Individu?’&lt;/i&gt;, tanya mereka lagi. &lt;i style=""&gt;‘Ya..’&lt;/i&gt;, jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Lalu aku ingat, di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, aku adalah ‘lainnya’. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tapi aku terlalu bersemangat untuk menjadi ragu. Aku makin merasa &lt;i style=""&gt;‘nothing to lose’&lt;/i&gt;. Aku tidak berani berharap untuk terpilih menjadi satu dari sepuluh orang yang akan bekerja di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; setahun ke depan; yang aku inginkan saat itu hanyalah menambah teman, mencari referensi baru untuk obrolan, dan mengungkapkan pikiranku kepada mereka yang bukan ‘lainnya’- dengan bonus: bercakap-cakap langsung dengan mereka yang selama ini aku kagumi, syukur-syukur namaku bisa diingat. &lt;i style=""&gt;Just like a fun camp!&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kegiatan di hari pertama berkisar antara permainan perkenalan dan keakraban. Selanjutnya kami menghabiskan sisa hari dengan mendefinisikan ‘seni’. Bukan hal yang mudah untuk mendefinisikannya, berbagai debat kami lewatkan dan hal itu cukup melelahkan lahir batin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Hari itu juga kami membuat refleksi mengenai kegiatan berkesenian selama ini dan manfaatnya bagi kami. Hmm.. lagi-lagi, aku ‘&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; bukan seniman.. tapi bila bermain alat musik, membuat slideshow, diorama, menikmati seni, bahkan memasak atau apapun yang merupakan ungkapan ekspresi diri yang diungkapkan dengan indah merupakan bagian dari aktifitas seni, mungkin aku tahu betapa seni membuatku belajar, menghargai tiap detil, menikmati keindahan, dan meningkatkan rasa. Kalau itu termasuk berkesenian, berarti memang seni juga milik masyarakat awam yang ‘lainnya’, seperti aku. Tapi bila berkesenian berarti harus pentas, pameran, bergabung dalam komunitas, atau bersekolah di tempat tertentu- setidaknya aku sudah mengungkapkan poin pentingnya pada awal kalimatku, &lt;i style=""&gt;‘Saya bukan seniman, tapi..’&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Hari berikutnya, aku mulai lebih santai, tapi tremor aneh itu kembali merayapiku beberapa meter sebelum sampai di yayasan seni. Pertanyaan tentang komunitas kembali menghujaniku di hari ke-dua ini. Kali ini aku tahu bahwa &lt;a style="color: rgb(51, 51, 153);" href="http://yawama.blogspot.com/"&gt;LSM tempatku bekerja&lt;/a&gt; selama ini bisa juga dibilang komunitas, bahkan &lt;a style="color: rgb(51, 51, 153);" href="http://indie-banget.blogspot.com/"&gt;mbak Indie&lt;/a&gt; mengusulkan untuk menyebut &lt;a style="color: rgb(51, 51, 153);" href="http://www.trulyjogja.com/"&gt;trulyjogja.com&lt;/a&gt; sebagai komunitasku. Ah, ya.. setidaknya kali ini beberapa dari mereka menyebutkan nama-nama yang sama-sama kami kenal. Ha! Itu lah komunalnya Jogja!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Hari-hari berikutnya, kami belajar sambil bermain. Menciptakan bebunyian, bermain peran, belajar komunikasi, dan lain sebagainya. Di atas semuanya, yang paling menyenangkan adalah sesi istirahat yang memungkinkanku bercakap-cakap dengan banyak orang baru. Bahkan ada satu pagi ketika aku membahas proses bermusik seorang pemimpin pertunjukan yang satu acaranya pernah kutulis &lt;a style="color: rgb(51, 51, 153);" href="http://dreamiy.multiply.com/journal/item/68"&gt;disini&lt;/a&gt;- langsung dengan beliaunya. Aku merasa seperti seorang fans yang ketiban durian runtuh dan dipersilakan ikut dalam&lt;i style=""&gt; fun &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;camp&lt;/st1:placetype&gt; &lt;st1:placename st="on"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;bersama&lt;/span&gt;&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt; artis favoritku! Hahaha.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Percakapan-percakapan beranekaragam itu lah yang membuatku sedikit sedih ketika kami harus berpisah di hari ke-empat. Seperti kata mas Djaduk, &lt;i style=""&gt;“Di sini adalah perpustakaan yang menawarkan banyak pengetahuan baru”&lt;/i&gt;. Ya, dan aku masih ingin membaca di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saat itu aku memberanikan diri untuk sedikit berharap. Aku mengetuk pintu gerbangnya, seseorang membuka pintu- lalu membiarkanku bermain di halamannya. Kali ini aku menunggu di depan pintu rumahnya dan sedikit berharap untuk dibiarkan masuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Beberapa hari kemudian, tremor aneh kembali mendatangiku. Aku membuka pesan-pesan baru yang tersimpan rapi hari itu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sebuah pesan dari seorang yang sama dengan yang membiarkanku memasuki halaman itu- mempersilakanku masuk ke rumahnya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sepuluh nama di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, kali ini aku bukan ‘lainnya’. Namaku tertulis di nomor sembilan-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nomor keberuntunganku. Ah..beruntung sekali! Setidaknya setahun ke depan aku sudah mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kemudian mengenai tremor itu.. walaupun sekarang aku masih menyebutnya perasaan yang tidak bernama, setidaknya aku mulai bisa memetakan polanya. Perasaan itu timbul ketika aku bertemu dengan jalan yang layak aku pilih, seperti salah satu keputusan terbaikku di hari laut dan bintang-bintang, beberapa tahun yang lalu. Semoga kali ini keputusanku sama baiknya- dan setidaknya, aku menikmatinya.. walaupun sedikit menyimpang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tulisan ini pernah diterbitkan &lt;a href="http://dreamiy.multiply.com/journal/item/82/82"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;p.s: all photo in this and previous blog entry are credited to mas Anton Asmonodento&lt;/span&gt; &lt;a href="http://antonguitar.multiply.com/"&gt;(http://antonguitar.multiply.com)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-2610439813835350627?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/2610439813835350627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/tentang-tremor-aku-mengetuk-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2610439813835350627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2610439813835350627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/tentang-tremor-aku-mengetuk-dan.html' title='Tentang Tremor: Aku Mengetuk dan …'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-8362750547562071314</id><published>2009-06-23T02:21:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:04:39.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Tentang Mencari Langit yang Paling Biru</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://images.dreamiy.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SO9uDQoKCsMAABsyPio1/biru.jpg?et=CxwGNDYq%2C6dURVWnfVO6Ug&amp;amp;nmid=0" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;Penulis: Mira Asriningtya&lt;br /&gt;Domisili: Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dreamiy.multiply.com/" target="_blank"&gt;Blog:  http://dreamiy.multiply.com&lt;/a&gt; &lt;a href="http://thepicnicgirl.blogspot.com/" target="_blank"&gt;http://thepicnicgirl.blogspot.&lt;wbr&gt;com&lt;/a&gt; &lt;a href="http://cupshop.multiply.com/" target="_blank"&gt;http://cupshop.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Seorang teman berkata bahwa langit paling biru bisa ditemukan pada sudut ke 90 derajat dari matahari.* Aku selalu menyukai gagasan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Beberapa hari yang lalu, dorongan untuk menenangkan diri membawaku ke sebuah tempat pelarian favoritku- Sawah ‘Dito’ di Godean. Hanya ditemani berbagai pikiran yang berkecamuk, aku mencoba mencari hamparan biru dan hijau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sawahnya baru saja panen- maka aku tidak menemukan hijau. Langitnya sedang berwarna putih susu dengan sedikit semburat biru muda- dan dipenuhi awan putih besar yang membosankan. Aku sedikit kecewa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketika aku berputar balik, aku menyadari perubahan warna langit di samping kananku- putih susu kebiruan yang membosankan itu berubah menjadi biru indah yang menenangkan. Aku berhenti di pinggir jalan- mulai memperhatikan aktifitas di sekitarku. Ada petani yang sedang mengerjakan sawahnya, ada pasangan yang juga menikmati hari, ada orang bersepeda yang terlihat mengayuh santai, dan selebihnya hanya sepi. Aku suka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tiba-tiba, biru indah itu dihiasi oleh titik-titik cantik berwarna putih. Ah..musim bangau sudah tiba! Saat itu juga aku menyadari betapa banyak burung putih cantik yang terlihat begitu bersahabat dengan petani. Lucu sekali! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Birunya langit mencerahkan hari itu- biru, yang sebenarnya sudah ada sejak awal. Lagi-lagi hanya tentang sudut pandang.. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*dan dari sudut itu lah aku melihatmu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini pernah di terbitkan &lt;a href="http://dreamiy.multiply.com/journal/item/89/Tentang_Mencari_Langit_yang_Paling_Biru"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-8362750547562071314?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/8362750547562071314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/tentang-mencari-langit-yang-paling-biru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8362750547562071314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8362750547562071314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/tentang-mencari-langit-yang-paling-biru.html' title='Tentang Mencari Langit yang Paling Biru'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-3070546046495463207</id><published>2009-06-23T01:05:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T02:03:46.995-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Good Morning, Little Friends!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; line-height: 150%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; line-height: 150%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; line-height: 150%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://images.dreamiy.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R8iLBgoKCoQAAGMFefE1/chirping.jpg?et=bqbE0fK5DUrzvWp9PQ0YFA&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=84246888&amp;amp;nmid=84246888&amp;amp;nmid=84246888&amp;amp;nmid=84246888" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Penulis: Mira Asriningtya&lt;br /&gt;Domisili: Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dreamiy.multiply.com/" target="_blank"&gt;Blog:  http://dreamiy.multiply.com&lt;/a&gt; &lt;a href="http://thepicnicgirl.blogspot.com/" target="_blank"&gt;http://thepicnicgirl.blogspot.&lt;wbr&gt;com&lt;/a&gt; &lt;a href="http://cupshop.multiply.com/" target="_blank"&gt;http://cupshop.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kemarin aku terbangun oleh cericipan ramai burung-burung di teras kamarku. Karena penasaran, aku segera membuka jendela dan pintu menuju teras. Tiga ekor burung kecil segera terbang dengan lincah- kaget, karena pintuku terbuka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tak lama kemudian, tiga burung tersebut datang lagi dan bertengger di atap terasku. Aku menunggu. Burung-burung menunggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku diam berusaha tidak membuat banyak keributan. Lalu tak lama kemudian, burung-burung mulai mengintip ke arahku dari atap. &lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ketika burung-burung ini menyadari kehadiranku, mereka kembali ke persembunyian mereka di atap. Tak lama kemudian, ada burung lain yang terbang menuju atap terasku. &lt;i style=""&gt;“Hmm.. mungkin mereka membangun sarang di atapku”&lt;/i&gt;, pikirku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beberapa detik kemudian, salah satu dari burung-burung itu memberanikan diri terbang turun ke teras dan bertengger di salah satu tanaman mama yang berjajar di terasku. Lalu kembali terbang, bercericip memanggil temannya, dan dua ekor burung kembali bertengger di terasku sebelum kembali terbang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ah! Aku baru ingat! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Minggu lalu aku membawa pulang sebatang padi dari sawah ketika menemani murid-muridku bermain di sawah.. lalu sebatang padi itu aku letakkan begitu saja di teras kamarku dengan tujuan memanggil burung-burung. Rupanya usahaku berhasil!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Miy, coba deh pasang beberapa batang padi di depan kamar, gantungkan di teras- nanti terasmu akan sering didatangi burung-burung. Padinya akan diambil untuk makanannya, dan batangnya akan dipakainya untuk membuat sarang tak jauh dari kamarmu..jangan lupa beri secawan air juga”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, kata Pamanku suatu hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pamanku sendiri telah mempraktekkannya beberapa tahun belakangan. Beliau rindu akan cericipan burung di pagi hari. Wajar saja, tinggal di pusat &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; sepertinya hanya akan membuatnya mendengar suara bising &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; di pagi hari- sesuatu yang mati-matian ditutupinya dengan berlapis-lapis kaca kedap suara.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Sembari mengingat-ingat nasehatnya, aku berjalan ke arah teras, mengambil padi yang semula kuletakkan begitu saja di lantai, lalu menggantungkannya di sebuah tali. Semoga saja itu memudahkan burung-burung itu untuk mengambilnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di sisi lain, aku berharap semoga permainan kecilku untuk memanggil burung-burung ke terasku tidak akan mengganggu kehidupan alami mereka dan membuat mereka tergantung padaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Burung-burung itu pastinya tidak memiliki kesulitan makan atau membuat sarang karena rumahku masih berada di daerah pegunungan. Tapi tidak ada salahnya, &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, bersikap ramah pada mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mungkin burung-burung di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; lah yang lebih membutuhkan keramahan kita. Kasihan sekali mereka yang desanya ditebang, udaranya dikotori, makanannya hilang, dan terpaksa hidup tergusur di atas kotak AC yang selalu berdengung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Cericipan ramai burung yang terbang berulang kali menjauh dan kembali ke atap terasku mengembalikan konsentrasiku pada mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Huff&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;.. aku benar-benar bukan gadis yang cocok tinggal di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; besar! Aku selalu saja terpesona pada cericipan burung, langit biru yang terlihat dari kamarku, dan pohon-pohon yang bergoyang pelan oleh angin yang sesekali menyapaku ringan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Lalu pagi ini aku kembali membuka pintu terasku..kali ini perlahan-lahan.. dan benar saja, mereka menyapaku- chirp..chirp.. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;..&lt;i style=""&gt;good morning to you too, Little Friends!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;i style=""&gt;Tulisan ini pernah diterbitkan &lt;a href="http://dreamiy.multiply.com/journal/item/57/Good_Morning_Little_Friends"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-3070546046495463207?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/3070546046495463207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/good-morning-little-friends.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3070546046495463207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3070546046495463207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/good-morning-little-friends.html' title='Good Morning, Little Friends!'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-1542004935024099389</id><published>2009-06-23T00:20:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T02:18:44.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Misteri Pembagian Stiker Walikilia: Siapa?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%; font-style: italic;"&gt;Penulis: Mira Asriningtya&lt;br /&gt;Domisili: Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dreamiy.multiply.com/" target="_blank"&gt;Blog:  http://dreamiy.multiply.com&lt;/a&gt; &lt;a href="http://thepicnicgirl.blogspot.com/" target="_blank"&gt;http://thepicnicgirl.blogspot.&lt;wbr&gt;com&lt;/a&gt; &lt;a href="http://cupshop.multiply.com/" target="_blank"&gt;http://cupshop.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;a href="mailto:mira.asriningtyas@gmail.com" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://images.dreamiy.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SMastQoKCsMAAEB6ZQA1/STICKER.jpg?et=IfGU41Mv7RJURcRJptwRVg&amp;amp;nmid=0" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Dua tahun yang lalu, adik sepupuku menemukan salah satu stiker* Walikilia di kamar kos sampingnya. Anehnya,&lt;br /&gt;pemilik kamar kos itu berada di luar lingkaran pertemananku dan sayangnya dia sudah tidak lagi menempati kamar itu. Tentang bagaimana dia mendapatkan stiker itu tetaplah misteri. Mungkin dia mendapatkannya dari Putro, sahabatku yang sering &lt;i style=""&gt;tepe-tepe&lt;/i&gt; dengan anak SMA- begitulah kami selalu berasumsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lalu hari ini, teman adikku mengatakan bahwa dia baru saja dapat stiker Walikilia. Dia terheran-heran ketika tahu bahwa Walikilia adalah perpustakaan kami yang tiga tahun lalu dibuka untuk publik dan sekarang kembali menjadi milik kami pribadi. Adikku terheran-heran karena temannya itu bilang bahwa seseorang memberikan stiker itu beberapa hari lalu kepada ibunya yang sedang berbelanja di Mekar- sebuah minimarket di jalan Kaliurang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lalu pertanyaannya, siapakah yang membagikan stiker-stiker itu sementara Walikilia tidak lagi beroperasi untuk umum sejak beberapa tahun lalu? Siapakah yang masih memiliki tumpukan stiker itu sementara aku sendiri tinggal punya beberapa tumpuk sisa stiker saja saat ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Nah, siapapun dia, aku berterimakasih karena dia telah membantu publikasi perpustakaanku. Semoga suatu saat nanti bila Walikilia bisa berubah menjadi Lir- toko buku mimpiku, dia tetap mau membagi-bagikan stiker itu. &lt;i style=""&gt;Thank you.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;WALIKILIA-RUANG BACA KECIL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt; adalah perpustakaan pribadi yang mulai dibuka untuk umum sejak bulan Januari 2005 dengan tujuan untuk memasyarakatkan budaya membaca bagi warga Kaliurang dan sekitarnya. Diharapkan ruang baca ini menjadi ruang baca yang dialogis dan dapat memancing minat baca anak-anak setempat sehingga buku menjadi salah satu kebutuhan mereka. Kami melayani pembacaan buku (Story Reading) bagi anak-anak yang belum bisa membaca dan pelajaran membaca bagi anak-anak pra-sekolah.&lt;b style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;WALIKILIA-RUANG BACA KECIL &lt;/b&gt;menyediakan lebih dari 2000 koleksi musik, video, dan buku berbagai jenis dengan jenjang usia bervariasi mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa dengan berbagai kategori buku meliputi Bahasa/Ketrampilan Berbahasa dan Menulis, Roman/Novel, Karya Sastra Klasik, Kumpulan Cerpen, Naskah Drama, Kumpulan Puisi, Kumpulan Essai, Buku-Buku sosial, Buku Lokal dan Asing, Buku cerita Anak-anak, Jurnal, Kamus, Psikologi/Self-Help, Majalah, Tabloid, Komik, dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kami menyadari betapa buku telah membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan. Dengan buku, seseorang dapat memiliki pemikiran yang luas terhadap banyak hal dan berbudaya. Bagi anak-anak, buku adalah alternative termudah untuk belajar mengenai moral, dan pengetahuan-pengetahuan umum. Tradisi kebudayaan macam apakah yang ingin kita bangun untuk masa depan? Kita mempunyai banyak pilihan. Kita yang menentukan. Karena itu kami ingin membangun suatu masyarakat dengan budaya dan memiliki minat baca tinggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;“Tradisi kebudayaan macam apakah yang ingin kita bangun untuk masa depan? Kita mempunyai banyak pilihan. Kita yang menentukan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Seno Gumira Ajidarma, Teater dalam Gang, Affair, 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;*sticker design by my high school friend, Gedhek. &lt;i style=""&gt;(Apa kabar?)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Tulisan ini pernah diterbitkan &lt;a href="http://dreamiy.multiply.com/journal/item/83/Misteri_Pembagian_Stiker_Walikilia_Siapa"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-1542004935024099389?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/1542004935024099389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/penulis-mira-asriningtya-domisili.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/1542004935024099389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/1542004935024099389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/penulis-mira-asriningtya-domisili.html' title='Misteri Pembagian Stiker Walikilia: Siapa?'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-9102009172534518229</id><published>2009-06-23T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T00:09:15.678-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>9947 PENDERITA, 8,5 JUTA JIWA</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Penulis: &lt;/span&gt;Devi Ratnaning Ayu&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta&lt;br /&gt;blog  &lt;a href="http://dev1friends.blog.friendster.com/2009/06/9947-penderita-85-juta-jiwa/" target="_blank"&gt;http://dev1friends.blog.&lt;wbr&gt;friendster.com/2009/06/9947-&lt;wbr&gt;penderita-85-juta-jiwa/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kata pepatah, manusia tak banyak berubah, namun kota-lah yang mengalami banyak perubahan. Entahlah, tak begitu setuju sebenarnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; yang berubah bukankah atas hasil karya manusia itu sendiri? Bahkan menurut pengamatanku, perubahan planologi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; mau tak mau secara langsung juga turut merubah kebudayaan masyarakat penghuni &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; yang sekarang aku tinggali beberapa hari lagi akan merayakan hari jadinya yang ke 482, tepat di tanggal 22 Juni 2009. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Kota ini pada siang hari bisa berpenduduk 9,8 juta jiwa, dan pada malam hari berisi kurang lebih 8,5 juta jiwa. 1, 3 juta penduduk yang hilang di malam hari berlalu lalang kian kemari antar kota hanya untuk mencari sesuap nasi. „Kota tersibuk“ julukan kerennya. Pun di kota ini perputaran kapital mencapai 80 % dari total dana yang ada di seantero wilayah nusantara. Kota yang tak lain dan tak bukan bernama Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Konon kabarnya menurut sejarah pertanahan, tak ada daerah yang disebut Sunda Kelapa, Batavia, ataupun Jayakarta dulunya. Wilayah ini terbentuk oleh endapan material yang dibawa oleh aliran sungai menuju ke laut, semacam delta, karenanya daerah ini sangat subur, namun sayangnya tak akan pernah lepas dari ancaman banjir. „Gimana enggak,lha wong letaknya saja lebih rendah dari daerah-daerah lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Gak ada ceritanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; itu bebas banjir“, ujar Torry Kuswardono, salah satu pengampanye lingkungan dari Friend of The Earth International. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Ironis, daerah yang terkenal begitu subur ini sekarang malah berubah fungsi menjadi areal gedung pencakar langit. Tak adanya gunanya lagi 48 Situ yang dibangun pada jaman penjajahan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian. Situ-situ tersebut kini juga telah beralih fungsi dari daerah resapan dan penampungan air menjadi tempat rekreasi untuk menghilangkan kepenatan. Mungkinkah manusia jaman sekarang lebih sakti mandraguna dibandingkan manusia jaman lampau? Alih-alih bercocok tanam untuk mengisi perut, sekarang manusia mulai bertanam gedung-gedung tinggi. Pengaruh globalisasi katanya. Wah kalau begitu berharap sajalah daur pencernaan makanan kita bisa ber-EVOLUSI mengonsumsi semen, beton, dan batu bata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Dan tak hanya itu rekor yang ditempati oleh kota tempat tinggalku kini. Prestasinya juga merambah segala bidang. Mulai dari polusi udara yang telah menjadi santapan sehari-hari sampai wabah penyakit. Menurut Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, Jakarta hanya menyisakan 73 hari baik dalam setahun dengan kondisi udara layak untuk dihirup pada tahun 2007. Rekor bukan? Dari 365 hari yang ada dalam setahun, hanya 73 hari saja paru-paru kita bisa bernapas lega. Hebohnya lagi, hingga April 2009 lalu, wabah demam berdarah telah memangsa 9947 penderita. Luar biasa!! Menurut Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, hal ini terjadi karena perubahan cuaca dan iklim. Perubahan yang terjadi akibat semakin panasnya bumi ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Kemanakah Perginya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Foto Jakarta jaman lampau terus aku pandangi. Pepohonan masih tampak rindang dan asri. Sungai-sungai tampak jernih dan menjadi tempat bermain kanak-kanak. Akupun tersenyum....Foto-foto yang hanya bisa aku temui di museum dan dalam koleksi tua para fotografer kala itu. Sekarang 13 Kali besar yang ada di ibu kota negara telah berubah warna menjadi hijau tua dan berbau busuk. Tak lagi seperti dalam foto. Kali-kali itu telah menjadi tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui, sekaligus tumpuan pemenuhan kebutuhan air minum bagi warga tak mampu, khususnya yang tinggal di daerah bantaran kali. Dan aku melihat pemandangan itu setiap harinya dari atas laju moda transportasi yang kutumpangi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Dalam keseharianku, aku melihat kota ini jarang tersenyum ramah. Bukan apa-apa, di kota tempat tinggalku ini senyum bisa jadi mengundang maut. „Orang kampung yang bisa dikerjain nih“, begitulah pendapat sebagian orang. Pesanku, jangan terlihat terlalu ramah. Ramah boleh, tapi jangan terlihat. Cukup membingungkan memang, tapi itulah kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan yang padat dan kemacetan pun telah menambah kerut di wajah para penghuninya. Tak pelak orang Jakarta sering bilang, „Kami tua di jalan“. Satu atau dua jam dimakan oleh kemacetan sudah jadi hal yang lumrah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Ketegangan Senin–Jum’at juga turut berperan serta menumbuhkan uban, warna asli rambut manusia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Anehnya dengan kondisi seperti itu, kota ini malah semakin padat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Apakah demi uang manusia tak keberatan kehilangan waktunya sia-sia ataupun kehilangan ruang geraknya? Aku tak bisa menjawab….Aku tinggal di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; ini, apa alasanku tinggal disini? Dari semua pertanyaan itu, satu yang paling dari semuanya, kemana perginya kesantunan, kemana perginya uang, dan kemanakah perginya ruangku bergerak?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Geliat – Geliat Semangat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                    &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Aku kembali menekuri tulisanku. Namun segera teralihkan oleh bunyi biola yang dimainkan oleh musisi pinggir jalan di taman menteng ini. Selaksa daerah menjadi pilihan gesekannya. Terlintas dalam pikiranku, apa yang menjadi impianmu kawanku? Kulayangkan pandangan kepada ruang terbuka yang disebut taman &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;. Cukup asri. Namun ruang-ruang seperti yang sekarang aku pijak tak banyak bersisa, tergilas pesatnya dominasi aspal, semen, maupun beton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku serasa tak punya tempat berlari. Sejauh aku berlari,aku hanya sanggup menghindari hiruk pikuk kota sebatas ini, hanya sejauh tempatku saat ini. Namun maaf saja, pikiranku telah mengembara melebihi jarak yang bisa dilalui oleh fisikku. Membebaskan diri dari penjara waktu, rutinitas, dan dana. Keterlaluan kalau sampai menjelajah dunia dengan pikiran harus ditarik karcis perjalanan. Mungkin itu juga yang ada di benak kawanku musisi jalanan. Suatu hal yang keterlaluan untuk mengisi dunia dengan nada-nada seni sampai harus dikejar-kejar oleh polisi pamong praja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu aku tak sendirian. Rekan seperjalanku dalam mencari penghidupan di kota ini mungkin memilik pemikiran yang sama. Kami jenuh atas pembatasan, kami selalu berusaha membuat terobosan. Namun tak jarang cibiran yang kami dapatkan. Tapi sedikit sandungan takkan meluruhkan niat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar kegiatan yang berjajar dengan tulisanku masih aku lekati. Hmm siapa tahu bisa jadi salah satu sumber tulisanku yang lain. Semakin mempunyai banyak peristiwa untuk dinikmati, semakin banyak yang bisa dituliskan bukan. Yah sebut saja Komunitas historia dan jelajah kota tua yang telah dengan giat meramban bangunan kota termakan usia. Komunitas Bike to work pun tak segan meliuk diantara padatnya lalu lintas Jakarta. Komunitas pecinta lingkungan juga bahu membahu menciptakan kegiatan ramah lingkungan setiap bulannya, ada car free day, ada gerakan stop penggunaan kantung plastik, bahkan mematikan lampu listrik pada jam-jam yang tidak diperlukan. Aku tinggal memilih ingin melakukan apa demi perubahan yang aku inginkan. Pilihan sudah banyak di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadari semua yang peduli sedang mencoba dengan kemampuan dan minatnya untuk membuat kota ini lebih layak ditinggali. Entah sampai kapan...karena tanah tak pernah bertambah, dan manusia tak mau menyusutkan jumlahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Jakarta, Juni 2009&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Devi R. Ayu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini pernah di terbitkan &lt;a href="http://http//dev1friends.blog.friendster.com/2009/06/9947-penderita-85-juta-jiwa/"&gt;di sini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="DE"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-9102009172534518229?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/9102009172534518229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/9947-penderita-85-juta-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/9102009172534518229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/9102009172534518229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/9947-penderita-85-juta-jiwa.html' title='9947 PENDERITA, 8,5 JUTA JIWA'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-2490989928014346091</id><published>2009-06-17T09:10:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T09:13:03.673-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Surabaya, Sebuah Makian yang Lain...</title><content type='html'>Penulis: Maria Serenade Sinurat&lt;br /&gt;Domisili: Surabaya, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari saya mencaci-maki seisi dunia, juga begundal dengan raungan mesin bermotor di kota ini. Tapi Surabaya, kota dengan sembilan matahari ini, menyodorkan keajaiban yang lain. Ini mungkin yang harus dibayar seorang pejalan jauh manapun: indahnya perjalanan dengan waktu-waktu yang terus memenjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 9 Juni 2009. Sudah sepuluh bulan sejak kedatangan saya pertama kali ke kota di Provinsi Jawa Timur ini. Atas nama sebuah vocatio alias panggilan di sebuah media, saya ditahbiskan menjadi prajurit yang siap dikirim ke medan manapun. Saya hanya tidak menyangka, medan perangnya begitu berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya sebetulnya persinggahan ketiga selama dua tahun menjadi ‘pengembara’. Enam bulan di Jakarta berlanjut ke Yogyakarta yang tak lagi berhati nyaman. Ketiganya bagi saya punya kesamaan, lalu lintas yang karut-marut dan tentu jagoan bermotor yang selalu kesetanan. Ah ya, setelah sepuluh bulan, saya pun salah satu dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau perbedaan? Wah, ini cukup membikin frustasi. Sempat kuliah dan hidup di Yogyakarta hampir enam tahun membuat saya membanding-bandingkannya dengan Surabaya. Mulai dari acara kebudayaan, acara musik, diskusi menyegarkan, dan angkringan yang saya rindukan, tidak terpuaskan di sini.&lt;br /&gt;Pentas teater teramat minim. Pementasan terakhir yang saya lihat (itupun karena tugas) adalah ‘Miss Kadaluwarsa” yang dihelat di gedung megah dengan penonton bergaun dan berjas dan tiket ratusan ribu. Lalu, saya membayangkan pertunjukkan teater yang saya saksikan di Yogyakarta dengan penonton bersandal jepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya Jakarta punya Taman Ismail Marzuki dan kantong-kantong kebudayaan urban yang menggeliat. Di sini, mal-mal mengambil kasta tertinggi. Kalau saya tidak salah hitung, ada enam mal yang menjadi magnet penduduk Surabaya baik untuk makan, belanja, bersosialisasi, ngopi-ngopi, sekaligus tempat dugem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan seorang sopir taksi yang mengantar saya ke bandara bertanya. “Sampeyan tau mal-mal di sini gak? Orang-orang kalau ke sini tanyanya mal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan dan warung kopi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Persoalan lain ialah tempat nongkrong. Yang saya maksud nongkrong bukan selalu coffee shop sejuk sambil hot spotan gratis. Saya rindu angkringan tempat saya biasa ngopi sendirian sambil sedikit bercanda dengan manusia-manusia anonim yang sama-sama menikmati sore, malam, hingga subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya, nongkrong seperti di angkringan dikenal dengan sebutan cangkrukan. Warung tenda beratap terpal yang berdiri di tepi jalan dengan menu mie rebus, gorengan, dan minuman hangat. Hanya saja cangkrukan seakan mengenal jender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali saya dan kawan perempuan memutuskan ngopi sambil ngobrol di sebuah warung kopi. Ketika sedang asyik bercerita, seorang pria paruh baya mendekati dengan senyum menggoda dan bertanya hal-hal yang membuat saya ingin menuangkan kopi panas ke mukanya.&lt;br /&gt;Barulah dari penjaga warung, kami mendapat sedikit bocoran. Si penjaga warung memetakan tiga jenis perempuan yang kerap berada di warung kopi semacam itu. Pertama, yang memang hanya nongkrong. Kedua, yang bisa disentuh tapi tidak bisa ‘dipakai’. Ketiga, bisa disentuh dan ‘dipakai’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengitari kota malam-malam, saya pun menyadari warung kopi di pinggir jalan lebih banyak diisi kaum adam yang dengan bebas menyesap rokok tanpa harus dinilai dan dicurigai. Untuk pertama kalinya, saya iri pada privilese yang dimiliki pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bilang saja ‘Jancukkk!’ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Saya tidak bermaksud kasar. Tapi coba perhatikan makian khas setiap daerah yang bukan hanya berhasil melukai ego tetap juga merekatkan pertemanan. Di Bandung, makian anjing (maaf) ‘dihaluskan’ menjadi anjjriit. Saking ‘halusnya’ adik laki-laki saya selalu menyisipkan kata itu di setiap kalimat yang dia ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kalau di Yogyakarta, varian makian bisa asu (anjing), matamu, bajigur (bajingan), basuki (bajingan asu ki). Dengan teman-teman yang sudah akrab, akhiran ‘su-kependekan dari asu- bukan bertujuan sebagai pisau untuk menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di Surabaya, makian khasnya ialah ‘jancuk’ yang sering dihaluskan jadi diancuk, diamput, jamput, jangkrik. Menurut kawan saya, jancuk awalnya berasal dari encuk yang artinya persetubuhan alias fuck dalam Bahasa  Inggris. Makian ini ‘lahir’ dari kelas bawah Surabaya sebagai penegas identitas arek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi jujur saja, sepuluh bulan di kota ini saya belum mengenal apa sebetulnya kultur arek. Bahkan seorang pemuda berusia 24 kelahiran Surabaya saja meminta maaf karena tidak bisa menjelaskannya pada saya. Saya juga belum bisa menjelaskan apakah kultur arek juga diadopsi oleh masyarakat menengah dan kelas atas. Yah, saya masih belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepakbola, pertaruhan identitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    Kultur arek ini yang kerap dianggap warna dari perjuangan para bonek klub Persebaya Surabaya yang memang supernekat. Seorang senior saya sempat bercerita betapa kultur Surabaya dan kultur Malang begitu berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Malang menyebut diri mereka arema singkatan dari arek malang. Di Malang, orang membuat lingo-nya sendiri dengan cara membaca kata secara terbalik. Arek Malang pun diubah menjadi Kera Ngalam. Perbenturan paling seru antara kultur Suroboyoan dengan Malangan kentara pada sepakbola. Surabaya punya Persebaya, sedangkan Malang punya Persema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua klub sepakbola pelat merah ini sama-sama berada di Divisi Utama Liga Indonesia. Rivalitas sengit bukan hanya membakar jajaran pemain, namun lebih-lebih supoter yang menggila dan membawa petasan ke dalam stadion. Darah pernah mengalir akibat perseteruan demi sebuah identitas yang abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung musim kompetisi 2008/2009, perburuan ke puncak klasemen makin panas. Persebaya yang jadi raja klasemen di putaran pertama justru terjungkal di putaran kedua. Laga terakhir Persebaya melawan Persema yang berlangsung 16 April menjadi momentum bagi Persema melaju ke puncak. Begitulah. Di Surabaya, sepakbola adalah darah yang membuat orang-orang kembali bergairah juga marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senja penawar marah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Tapi saya percaya semua kota di dunia punya lorong gelap sekaligus surganya. Di Surabaya, marah dan penat itu pelan-pelan mereda waktu senja turun. Saya tidak bohong, tapi Surabaya merupakan satu kota yang memiliki senja terindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk menikmati sore, warga Surabaya beruntung memiliki taman-taman kota yang bersih dan terawat. Beberapa di antaranya, Taman Bungkul, Taman Flora, Taman Surya, Taman Apsari. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya Tri Rismaharini adalah dalangnya. Perempuan satu ini berhasil menghijaukan Surabaya dan menghidupkan kembali taman kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Taman Bungkul yang selalu padat di malam hari seperti oase setelah seharian menikmati Surabaya yang terus-terusan menderu. Melewati deretan pepohonan di kawasan ini, saya seperti berada di sebuah sore yang magis di dalam puisi Pablo Neruda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sama halnya ketika berhenti sejenak di pinggiran Kali Jagir sambil melihat aktivitas pengayuh rakit (gethek) yang masih saja bertahan hidup. Di antara mesin-mesin yang serba bergegas di kota ini, menyenangkan rasanya melihat masih ada yang asyik dalam gerak lambat.&lt;br /&gt;Saya memang belum mengalami banyak. Baru saja sepuluh bulan dan masih memendam selaksa makian juga keterkaguman. Mungkin inilah keajaiban kota ini. Akhirnya saya hanya bisa bilang, I dont’t like this city, but I can live in this city.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-2490989928014346091?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/2490989928014346091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/surabaya-sebuah-makian-yang-lain.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2490989928014346091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2490989928014346091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/surabaya-sebuah-makian-yang-lain.html' title='Surabaya, Sebuah Makian yang Lain...'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-2407410536179793938</id><published>2009-06-17T08:50:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T09:07:19.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cimahi'/><title type='text'>Pulang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis: &lt;/span&gt;Anggi Hafiz Al Hakam&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Domisili: Cimahi, Jawa Barat &lt;/span&gt;&lt;span class="ik"&gt;&lt;img style="width: 16px; height: 16px;" class="QrVm3d" id="upi" name="upi" jid="anggi_hafiz@yahoo.com" src="http://mail.google.com/mail/images/cleardot.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 class="gD" style="color: rgb(0, 104, 28);"&gt;&lt;span email="anggi_hafiz@yahoo.com"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu” Kla Project, Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setiap mau pulang ke Cimahi via Bandung, memang benar lirik lagu diatas. Ada setangkup haru dalam rindu yang berkelebat. Aku dapat melihatnya berkejaran sepanjang jalan tol yang membentang dari Jakarta-Cikampek, turun naiknya ruas Cipularang, hingga datarnya ruas Padalarang-Cileunyi yang berujung di Pintu Tol Pasir Koja. Perasaan itu begitu megah terasa. Perasaan itu kian terbawa dalam riuh rendah mesin Hino Primajasa yang terus mengerang sepanjang perjalanan. Ada sesuatu yang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu datang di Bandung setiap Jum’at malam berada di waktu dhuhanya. Malam masih perawan dan belum terlalu tinggi. Tapi malam tetap saja masih gelap. Aku lanjutkan perjalanan pulang ini dengan menaiki angkot (angkutan kota) Cimahi – Term. Leuwi Panjang yang sudah mengantri di pantat Hino Primajasa. Menunggu kedatanganku bersama penumpang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penumpang angkot sudah penuh, perjalanan kembali dilanjutkan melintasi perempatan Pasir Koja yang selalu terendam air setinggi 40-50 cm setiap kali hujan besar turun disitu. Kemudian, belok kiri ke arah Holis atau Bunderan Jl. Jenderal Sudirman. Setibanya di Bunderan, aku harus belok kiri ke arah Pal Tiga atau Cimahi. Kalau kau lurus dari situ kau menuju Jalan Elang, dimana terdapat Terminal Elang (terminal bayangan) tempat berkumpulnya bis kota DAMRI jalur 1 Cicaheum – Cibeureum AC/Ekonomi dan jalur 6 Elang – Jatinangor Patas via Tol/via Cibiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, jalur itu bagaikan jalan raya di Amerika sana. Jalan Elang yang membentang tak lebih dari satu kilometer itu memiliki jalur yang berlawanan dengan jalur di Indonesia pada umumnya. Yang biasa di kanan, ada di kiri. Begitupun sebaliknya. Itulah yang aku suka. Aku kenal sekali daerah itu. Kurang lebih 4 tahun aku selalu menaiki bis kota favorit, DAMRI jalur 6, Elang – Jatinangor via Tol, satu-satunya angkutan antar kota, antar kecamatan untuk menuju kampus Unpad dibelahan bumi Jatinangor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan mengajakmu jalan-jalan kesana, tapi aku harus menyelesaikan ceritaku dulu. Setelah belok kiri ke arah Pal 3 itu akan banyak angkutan kau temui. Macam-macam warnanya. Aku bisa turun disitu dan ganti angkot. Pilihannya ada dua, Si Hijau Cijerah –Sederhana atau Si Merah Elang-Melong Asih. Keduanya sama saja dari segi ongkosnya. Namun, Si Hijau mengambil rute yang kelewat panjang karena harus melewati pusat kota Cijerah. Tapi, aku lebih menyukai naik si Hijau ini walau harus sedikit lebih lama menahan rindu. Justru karena aku ingin menikmati kembali saat-saat dulu waktu masih sekolah. Kisah perjalananku tidak lepas dari Si Hijau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Blok 4, aku berhenti sejenak di gerobak pedagang Bubur Kacang Hijau dan Ketan Hitam khas Madura. Sudah sekitar 2 tahun tukang dagang itu ada disitu. Disitu juga aku dan Bapak pernah bicara empat mata tentang sebuah hal. Aku sudah lupa tentang hal itu. Namun, aku tidak akan pernah lupa sensasi rasanya. Disajikan dalam mangkuk kecil dengan tambahan kuah santan yang manis seharga Rp. 2000. Lumayan untuk menambal perut apalagi kalau cuaca Bandung dan sekitarnya sedang diselimuti malam yang dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melanjutkan perjalanan, ada beberapa alternatif yang bisa digunakan. Ada ojek, becak, atau angkot. Tapi karena sudah malam yang ada tinggal ojek atau becak. Aku tidak pernah memilih satu dari mereka. Aku lebih baik jalan kaki saja. Lagipula tidak terlalu jauh. Aku bisa rasakan denyut perubahan itu sepanjang perjalanan melalui gerbang Pharmindo. Tanah lapang itu kini telah jadi ruko yang berjajar. Ada apotik, studio band, salon, restoran, warnet, dan beberapa masih kosong tidak terisi. Begitupun komplek real estate yang berada didepannya. Satu dari penduduknya membuka warung jajan sehingga komplek itu terasa lebih accessible. Bayangkan, sekitar3-4 tahun yang lalu pengelola komplek menerapkan system keamanan yang sangat ketat. Bahkan, untuk sekedar bermain sepeda pun tidak boleh. Apakah gerangan yang telah terjadi dengan masyarakat disana? Apakah ketakutan dan privasi telah menjadi suatu hal yang mahal?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan kaki tentu akan membuat perutku semakin lapar. Energi yang dihasilkan dari semangkuk kecil bubur kacang hijau pun rasanya belum cukup. Namun, aku selalu sabar untuk terus berjalan melewati gang sempit jalan pintas satu-satunya. Tak lama kemudian, terpampanglah “Jl. Agastya VI Cimahi 40534” dengan message tambahan dari sponsor: “Hati-hati banyak anak kecil”. Pesan tambahan itu seperti sudah menjadi budaya bagi penghuni sebuah komplek perumahan. Tujuannya adalah memperingatkan pengendara agar berhati-hati. Tapi, pernahkah terpikir olehmu bila suatu saat pesan itu bisa saja diganti jadi begini: “Anak-anak dilarang main disini.” Untuk komplek perumahan dengan system blok dan jalan yang lebarnya hanya 5 meter itu aku rasa itu tidak akan pernah terjadi. Kecuali, dengan satu syarat bahwa penghuni jalan tersebut semua adalah kakek-kakek dan nenek-nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus berjalan, hingga terlihat pintu pagar berwarna orange dengan pohon mangga yang menutupi tiang listrik. Itulah rumahku. Dari jauh kau bisa dengar suara pompa akuarium yang tetap menggema dalam keheningan malam. Setelah kau membuka pagar, mungkin juga kau akan temui seekor kucing yang akan langsung melompat dari tidurnya dan menunggu di depan pintu masuk. Oh ya, bila kau temui cahaya terang di sekitar teras rumahku yang tipe 36 itu kau akan jumpai Arwana Irian memberi salam selamat datang padamu. Tentu tidak dengan gaya yang seperti Tugu Selamat Datang yang menyambutmu di ibukota. Atau bahkan mengikuti gaya Tukul di Bukan Empat Mata. Ia hanya akan melirik padamu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengucap salam dan membuka pintu masuk. Kucing tadi mendahuluiku sambil berteriak didalam. Ahh… lega hati ini bisa bertemu kembali dengan Ibu, Bapak, dan Adikku yang satu-satunya itu. Ada satu lagi kebiasaan yang belum bisa kutinggalkan. Sehabis cium tangan, aku selalu membuka tudung saji meja makan dan melihat ada menu apa. Hari ini, nampaknya tidak sesuai harapanku. Hanya ada sayur saja. Tapi itu sudah cukup bagiku. Aku tidak pernah berharap Ibu akan memasak menu spesial di hari kedatanganku. Aku sudah tahu. Esok pagi, Ibu akan membuatkan tumis capcay kesukaanku untuk sarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Gading, Jakarta. 26 Mei 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-2407410536179793938?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/2407410536179793938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/pulang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2407410536179793938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2407410536179793938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/pulang.html' title='Pulang'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-6883074957775354101</id><published>2009-06-17T08:48:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T08:50:10.363-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>busway is not my way!</title><content type='html'>Penulis: Aditya Dipta Anindita&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.inditdijakarta.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SFhZm8WcmtI/AAAAAAAAABg/NQSjXQTaGqU/s1600-h/jembatan+busway.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213015094251526866" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SFhZm8WcmtI/AAAAAAAAABg/NQSjXQTaGqU/s400/jembatan+busway.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sudah lama nggak ke Salemba, sekitar satu setengah tahun sejak aku lulus kuliah S2 di UI. Sekarang, udah ada jalur bis Transjakarta melewati kampus. Bahkan haltenya tepat di depan kampus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sebut saja busway dan aku berniat mencobanya. Jam 12.10 pm, selesai sedikit urusan di kampus UI Salemba. Masih ada 50 menit untuk mengejar jam buka kolam renang di Pasar Festival. Kalau masuk jam satu siang, tiketnya hanya Rp 1.600. Makanya dibela-belain. Dan ini kesenangan baruku di Jakarta yang menyehatkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Aku masih punya 50 menit. Kupikir cukuplah. Busway kan punya jalur sendiri. Harusnya lancar.&lt;br /&gt;Ternyata aku salah duga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dari Salemba ke Kuningan harus tiga kali naik busway. Pertama rute Salemba – Matraman, disambung Matraman – Dukuh Atas dan terakhir baru Dukuh Atas – Kuningan. Halte pertama masih oke. Lima menit menunggu rasanya sangat wajar. Di halte Matraman depan Gramedia, aku turun lalu naik ke jembatan untuk ke halte transit. Walah ya ampun, di pintu Dukuh Atas orang yang antre sudah berjubel. Ada 50an orang. Belum lagi di pintu satunya. Mulailah menit-menit menunggu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Busway ke-lima, baru aku bisa naik setelah setengah jam menunggu. Jelaslah nggak dapet tempat duduk. 13.08 sampai di halt Dukuh Atas, lalu harus menunggu lagi busway jurusan Ragunan yang lewat Kuningan. Lima menit... sepuluh menit... lima belas menit... Aku udah mulai menyesal. Kebayang kalau tadi naik bemo dari RSCM ke Manggarai, trus nyambung naik Kopaja 66, mungkin aku udah sampe. Toh, lalu lintas jam satu siang nggak terlalu macet. Paling banyak ongkosnya beda dua ribu lebih mahal dibanding busway dan aku mungkin sudah berada di tengah kolam renang Pasar Festival sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tapi aku masih di halte Dukuh Atas berdesakan dengan banyak orang. Di punggung, terasa keringatku menitik. Kaki pegel karena lebih dari satu jam berdiri. Baru di menit ke-duapuluh busway-nya dateng. Antreanku bukan di paling depan. Tapi apa boleh buat, harus maksa naik dari pada nunggu lebih lama. Lagi pula, harga kolam renang 1.600 cuma sampai jam tiga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;13.35 akhirnya sampai di Pasar Festival. Satu jam dua puluh menit, Salemba – Kuningan ternyata perjalanan panjang yang harus dibayar dengan keringat, kaki pegal dan perut keroncongan. Nggak mungkin berenang kalau belum makan, sementara waktu berenang murah hampir habis. Satu jam di berenang pasti nggak puas. Kepalang tanggung juga kalau pulang. Akhirnya aku menunggu masuk jam empat untuk harga tiket Rp 10.100, sambil makan dan mengetik ini. Sambil merutuk-rutuk. Gimana enggak, tadi naik busway beralasan lebih murah dari pada naik dua kali angkutan. Ya iya, lebih murah. Tapi jadinya renangku yang harus bayar lebih mahal!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Efektifkah busway? Efisienkah?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Busway-nya emang nggak macet. Tapi haltenya jauh lebih macet. Besok-besok pasti pikir dua kali naik busway model begini. Amannya ya yang satu trip, misalnya Blok M – Kota. Kalau untuk yang transit-transit, sorry deh, kecuali aku punya banyak waktu dan kerelaan untuk menunggu. Aku membuktikan, busway is not my way...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini pernah dipublikasikan &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/06/busway-is-not-my-way.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-6883074957775354101?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/6883074957775354101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/busway-is-not-my-way.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6883074957775354101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6883074957775354101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/busway-is-not-my-way.html' title='busway is not my way!'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/SFhZm8WcmtI/AAAAAAAAABg/NQSjXQTaGqU/s72-c/jembatan+busway.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-5461857552565405785</id><published>2009-06-17T08:40:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T08:45:02.044-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>trotoar musim hujan</title><content type='html'>Penulis: Aditya Dipta Anindita&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.inditdijakarta.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Musim hujan di Jakarta selalu punya cerita, seperti sore itu di jalan depan mall Ambasador/ITC Kuningan yang berseberangan dengan kawasan Mega Kuningan. Di tengah-tengah badan jalan, ada saluran air (sungai ungu)* dan boulevard bertanah merah. Tanah merah inilah yang sering jadi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering ke kawasan itu. Sering pula melewati tanah basah sisa siraman hujan di sana dan harus kuakui, pengalaman itu cukup menyulitkan. Tanah merah itu menjadi sangat liat setelah basah disiram air hujan. Saat terinjak, tanah akan menggumpal dan terbawa di bagian bawah sepatu kita. Kalau sudah begitu, hati-hati melangkah. Bukan saja telapak kaki jadi terasa berat, tetapi basah di tahan merah itu juga sangat licin saat kaki menapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah ketemu seorang perempuan yang tampak ragu melewati titian besi untuk menyeberangi sungai ungu menuju Mal Ambasador. Waktu itu, aku berada di sisi seberangnya. Setengah ia berjalan meniti besi, aku mengulurkan tangan memberi bantuan. Ia berterima kasih lalu mengadu, bahwa ia begitu ketakutan melangkah karena baru saja terpeleset. Sewaktu ia sudah lewat, aku meniti besi itu pelan-pelan. Nggak lucu kan kalau setelah nolong orang, aku sendiri yang kepleset! Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di seberang jalan, tapak sepatu kedsku sudah penuh lumpur. Tidak terlalu menyulitkan saat melintas di jalan aspal, tetapi tidak saat aku berjalan di atas trotoar yang berlantai keramik. Aku menjadi mengerti mengapa mbak tadi begitu ketakutan melangkah. Semakin mengerti lagi ketika seorang pemuda terpeleset tepat di depanku. Untung ia segera berpegangan pada sebatang pohon. Lumpur di tapak sepatu dan genangan air di trotoar keramik adalah dua hal berbahaya. Kini keduanya harus dihadapi bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi menghindari kecelakaan, aku mencoba membersihkan tapak sepatu. Pertama-tama aku mencari sudut semen untuk mengerik lumpur di tapak sepatu. Setelah itu aku memanfaatkan air yang menggenang di trotoar untuk mencuci tapak sepatu. Sedikit berkecipak. Hasilnya memang lumayan, tapi tidak seratus persen nyaman berjalan di trotoar basah itu. Akhirnya, aku memilih berjalan di atas rumput di sisi trotoar, di depan air mancur dan tugu bertuliskan Mega Kuningan. Rumput itu seperti keset. Tanahnya tidak lagi liat dan licin setelah ditutup rumput dan aku tidak takut lagi terpeleset. Selain itu, saat berjalan di atasnya aku bisa sekalian membersihkan sisa tanah di tapak sepatuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, lantai keramik bukan gunanya untuk melapisi trotoar apalagi di tempat yang sering mendapat siraman hujan. Keramik tidak mempunyai pori-pori untuk meresapkan air. Akibatnya, air hujan menggenang. Tapak sepatu yang dilekati lumpur menjadi dua kali lebih beresiko terpeleset di atas trotoar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga pernah membaca di koran beberapa waktu lalu, jika trotoar terbuat dari bahan yang tidak meresapkan air maka semakin kecil daerah resapan air. Akibatnya air hujan yang tidak tertampung di selokan akan mengalir ke badan jalan yang lebih rendah. Ya udah, banjir deh namanya. Lalu macet. Katanya, konblok adalah bahan yang cukup baik. Tapi rumput juga menyenangkan menurutku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Baca “Sungai Ungu Jakarta” di bagian sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sebelumnya pernah dipublikasikan &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/12/trotoar-musim-hujan.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-5461857552565405785?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/5461857552565405785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/trotoar-musim-hujan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/5461857552565405785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/5461857552565405785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/trotoar-musim-hujan.html' title='trotoar musim hujan'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-6269655516560581815</id><published>2009-06-17T08:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T08:38:41.111-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>sungai ungu jakarta</title><content type='html'>Penulis: Aditya Dipta Anindita&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.inditdijakarta.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Temanku bercerita, keponakannya yang datang dari Jogja terpesona melihat Jakarta yang apa-apa ada. Salah satunya adalah sungai ungu yang diseberanginya di depan Mal Ambasador.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia benar juga, air yang mengalir di saluran kota itu berwarna keunguan. Tetapi aktivis lingkungan pasti sama sekali tidak menganggapnya ajaib seperti ponakan temanku yang memang suka warna ungu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Inilah Jakarta yang sungainya berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat rumahku juga ada got yang airnya ungu di suatu titik. Lalu biru. Lalu hijau. Aku melewatinya tiap pergi dan pulang ke rumah. Sampai di ujung jalan, tempat aku biasa nunggu bis, kondisi saluran amat sangat menyebalkan. Sampah-sampah terlihat menumpuk di saluran itu. Sedikit-sedikit air mengalir, warnanya kehitaman. Seperti ada lender atau lumut kehijauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mengalami mandi di Batang Hari atau Tembesi di Jambi yang airnya coklat. Meski nggak dijamin sungai itu bersih, tapi aku yakin yang di buang ke sana adalah benda-benda organik. Tetapi kalau sudah berwarna ungu atau biru pasti ada 'sesuatu'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hari hujan, saluran di ujung jalan rumahku justru meluap dan berkuranglah muatan sampahnya. Jalan-jalan memang jadi kotor karena sampah yang tadinya di dalam got meluap ke jalan. Tapi setelah hujan, justru got agak sedikit bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Jakarta: ketika aku harus pikir-pikir pakai sandal trepes yang terbuka, atau celana yang kepanjangan sampai ke telapak sepatu. Membayangkan apa yang akan aku injak, aku merasa sayang pada kaki dan celana jeansku. Kalau hujan, aku memilih melipir dari seberangnya karena aku sudah tahu apa saja yang meluap dari saluran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak tau salah siapa. Orang memang belum semuanya sadar untuk mengelola sampahnya dengan benar. Juga, pelayanan collecting sampah belum sepenuhnya baik. Please, deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* seminggu setelah aku menulis ini, got di perempatan jalan dibersihkan. Memang sudah seharusnya karena saat itu, air terus meluap meskipun tidak hujan. Hasil pembersihan adalah 20-an karung kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tulisan ini sebelumnya di publikasikan &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/08/sungai-ungu-jakarta.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-6269655516560581815?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/6269655516560581815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/sungai-ungu-jakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6269655516560581815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/6269655516560581815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/sungai-ungu-jakarta.html' title='sungai ungu jakarta'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-1021810686310317415</id><published>2009-06-17T08:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T08:36:36.994-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>amplop-amplop di bis kota</title><content type='html'>Penulis: Aditya Dipta Anindita&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.inditdijakarta.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku punya tas baru. Bahannya kulit, berwarna hitam, berbentuk persegi panjang tegak. Keren sih, tapi menurutku tas itu mirip tas yang dipakai anak-anak kecil ngamen ala karaoke di atas metromini di Jakarta. Tinggal diisi tape, lalu dilubagi pas bagian speaker. Aku ketawa, temanku manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beneran, tas seperti itulah yang dipakai anak-anak untuk ngamen. Kebetulan aku pelanggan Metromini nomer 69. Sepanjang perjalanan dari terminal Blok M sampai Cipulir, paling tidak dua kali pengaman cilik naik ke atas bis dan beraksi dengan karaoke. Yang pertama naik tak jauh dari terminal Blok M. Sedangkan pengamen kedua, naik di pasar Mayestik. Kadang sendirian, kadang berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat betul pengamen perempuan yang naik di daerah Mayestik. Umurnya kira-kira tujuh tahun. Rambutnya merah dan penuh telur kutu. Seperti yang lain-lain, begitu masuk ia langsung membagikan amplop kecil lusuh kepada semua penumpang. Di salah satu sisi amplop ditempel fotokopi tulisan tanggan yang diawali dengan bacaan bismillah dengan huruf arab. Tulisan selanjutnya kurang lebih meminta bantuan untuk biaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membagikan amplop, ia kembali ke bagian depan Metromini lalu menyalakan tape yang dibawa dengan tas yang mirip punya temanku tadi. Setelah musik mengumandang, mulailah ia menyanyi. Biasanya lagu dangdut. Suaranya lantang agak serak, seserak iringan musik dari tape itu. Selesai menyanyi, ia mengumpulkan amplop-amplop dari tangan penumpang sambil berharap ada yang mengisikan sejumlah rupiah. Demikian, setiap kali, sepanjang perjalanan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamen kecil itu bukan yang pertama memakai amplop untuk meminta uang. Sebelum ini, cara ngamen dengan membagikan amplop sudah ada. Lagi-lagi di atas bis kota, dan lagi-lagi, saya mengalaminya di atas Mentromini saat melewati pasar Mayestik. Kali ini, amplop dibagikan oleh ibu-ibu dan tidak sedekil milik pengamen kecil. Tulisannya pun lebih rapi. Selain itu, kaset yang diputar bukan lagu dangdut tetapi suara orang berbicara yang diikuti irama kasidah. Intinya, ia meminta sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomongin amplop, aku jadi teringat kecenderungan di pesta perkawinan sekarang. Tamu undangan kini tidak lagi membawa kado, tetapi cukup menyelipkan amplop dalam kotak yang telah disediakan. Nah, pengamen-pengamen di atas bis kota itu mungkin ikut-ikutan trend ini dan tidak lagi terang-terangan menadahkan tangan mohon bantuan. Juga tidak menadahkan topi atau kantong bekas permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, uang yang ditempatkan dalam amplop biasanya bukan uang recehan. Misalnya saja amplop honor, amplop gaji, amplop sogokan untuk wartawan, atau amplop di pesta kawinan. So, mungkin dengan memakai amplop, pengamen-pengamen bis kota itu berharap mendapat rejeki yang lebih besar. Padahal aku sudah memeriksa dengan teliti, di amplop milik pengamen berkutu itu tidak ada tulisan: mohon sumbangan tidak berupa barang atau karangan bunga. Jadi sebetulnya, kita bisa menyumbang apa saja, kan?&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="on" style="display: block;" id="formatbar_CreateLink" title="Tautan" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 8);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="img/blank.gif" alt="Tautan" class="gl_link" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anyway, bis kota terus berjalan mengantarkan saya ke tempat tujuan. Semakin lama, semakin banyak orang yang naik dan turun termasuk berbagai rupa orang minta sumbangan. Ada yang seolah sungkan menyodorkan amplop, ada juga juga yang terang-terangan mengaku baru keluar dari penjara dan kehabisan uang. Ada pengamen dengan gitar, ada yang baca puisi dengan lantang. Ada preman, ibu-ibu, anak-anak, sampai laki-laki berpakaian perempuan. Mereka lebur jadi satu dengan peluh penumpang, teriakan pedagang asongan menawarkan tisu atau permen, gerak cepat copet, serta anak-anak sekolah yang mencoreti kursi bis dengan nama pacarnya. Sesekali terhirup karbon monoksida dari jalanan macet. Sesak. Dan sesak inilah yang dibawa berkeliling oleh bis-bis kota. Dari terminal ke terminal. Tak ada yang ditawarkan selain rutinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/2005/05/amplop-amplop-di-bis-kota.html"&gt;di sini. &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-1021810686310317415?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/1021810686310317415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/amplop-amplop-di-bis-kota.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/1021810686310317415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/1021810686310317415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/amplop-amplop-di-bis-kota.html' title='amplop-amplop di bis kota'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-8666912252097282896</id><published>2009-06-17T08:32:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T08:34:04.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Lebak Bulus Undercover</title><content type='html'>Penulis: Aditya Dipta Anindita&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.inditdijakarta.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sore di Stadion Lebak Bulus dalam pertandingan Persija melawan Persib. Ini pertandingan bola live pertamaku. Aku bukan penggemar dan sejujurnya tidak tahu apa-apa tentang sepak bola. Tetapi aku bersama seorang teman yang bercerita tentang ketakjubannya menonton pertandingan pertamanya dalam kenangan gandengan tangan ayahnya saat ia duduk di kelas satu SD dan sejak itu pula ia tidak pernah melewatkan pertandingan yang melibatkan tim kotanya, Bandung. Sepak bola dan Persib menjadi bagian dari kesehariannya di gang yang kemudian melahirkan kelompok suporter dengan anggota lebih dari 20.000 orang: &lt;em&gt;Viking&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, Lebak Bulus sama sekali bukan tempat yang aman untuk suporter berseragam selain oranye. Setidaknya untuk sore itu. Tiga kali terjadi tepat di belakangku orang berkelahi. Satu kalimat yang aku ingat dalam perkelahian itu adalah, “Periksa KTP-nya!” Kalau ketahuan orang Bandung, dijamin nggak selamet keluar dari stadion. Ini yang bikin aku ciut selama pertandingan dan nggak berhenti membisikkan doa, sekalipun kami dalam penyamaran kostum oranye di tribun VIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stadion bergemuruh. Lagu-lagu dukungan tim oranye menggema selain makian terhadap tim lawan. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan temanku dalam penyamarannya. Ia harus ekstra hati-hati: tidak boleh kelepasan bicara dengan logat Sundanya atau spontan mengaktualisasikan dukungannya pada Persib. Mungkin ia merasa bersalah harus memakai kaos oranye sore itu. Sementara tak jauh di sebelah kiri kami seorang suporter perempuan memakai kaos yang bertuliskan makian terhadap suporter Persib. Di depan kami, seorang laki-laki mengikatkan kaos biru di sepatunya sehingga selalu terinjak setiap ia melangkah. Sore itu, kiper lawan terkena lemparan batu dan bis berpelat D yang mengangkut timnya rusak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ini bukan tentang Persija melawan Persib karena dalam nyanyian mereka jelas-jelas tersebut makian kepada The Jak atau Viking. Barangkali ini bukan lagi memaknai suatu pertandingan karena bahkan di lain hari ketika Persija melawan yang lain, tetap saja nyanyian makiannya ditujukan untuk Viking. Demikian juga sebaliknya, ketika Persib melawan Slemania di Jogja, ritual para suporter dimulai dengan membakar bendera oranye. Barangkali ini bukan tentang sepak bola karena dalam perjalanan wisata di Jogja, seorang beratribut Persib ‘disapa’ oleh anggota The Jak dan dipaksa melepas atribut birunya. Barangkali ini tentang Jakarta dan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang pasti, The Jak maupun Viking telah memberi identitas kepada orang-orang muda yang selama ini tidak mendapat tempat di ruang formal karena dianggap bandel. Dan stadion, adalah arena aktualisasi diri. I love the game!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/02/lebak-bulus-undercover.html"&gt;di sini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-8666912252097282896?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/8666912252097282896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/lebak-bulus-undercover.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8666912252097282896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8666912252097282896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/lebak-bulus-undercover.html' title='Lebak Bulus Undercover'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-1031983380055976375</id><published>2009-06-17T08:29:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T08:31:27.222-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thailand'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangkok'/><title type='text'>Why Bangkok?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uXG9XvG7I/AAAAAAAAAAU/rf1zb9b7W4g/s1600-h/chatuchak+subway.JPG"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168891143146904498" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uXG9XvG7I/AAAAAAAAAAU/rf1zb9b7W4g/s320/chatuchak+subway.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Penulis: Aditya Dipta Anindita&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.inditdijakarta.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;em&gt;“Sa wat dii kha …” &lt;/em&gt;begitulah kota ini menyapaku. Tak hanya oleh petugas bandara, resepsionis penginapan atau pedagang souvenir di sepanjang Khaosan Road. Melalui berbagai tanda (sign) dan papan informasi, kota ini seakan menyapaku, memudahkan perjalanan pertamaku mengenalinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;This is ‘a Bangkok birthday trip’ dan aku melakukannya sendirian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tebaran tanda dan informasi ini didukung dengan jaringan transportasi yang baik dan nyaman sehingga aku seperti tak dibiarkan kebingunan di dalamnya. Ini bagian yang menyenangkan dari perjalanan, menjadi pejalan di kota asing. Sok keren aja: sepatu sendal teva, daypack, kamera dan peta. Bahkan aku sama sekali tidak ingat untuk membuka Lonely Planet saking mudahnya berjalan di sini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Aku mencoba hampir semua angkutan umum: ojek, boat, tuk-tuk (seperti bajai), taksi, subway dan sky train. Yang belum adalah kereta disel dan bis kota karena rutenya ditulis hanya dengan huruf Thai. Mungkin angkutan ini tidak diperuntukkan bagi pendatang. Sementara tanda-tanda dan informasi di sarana transportasi lainnya ditulis dalam huruf latin dan Thai dengan sangat komunikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu naik boat lalu nyambung dengan sky train, aku sempet kepikir, mungkin jaringan transportasi seperti ini yang pengen dibangun ama Sutiyoso lewat waterway dan busway. Sungai Chao Phraya adalah bagian penting dari jaringan transportasi kota Bangkok. Ada beberapa jenis boat (dibedakan dengan bendera) yang berhenti di dermaga-dermaga bernomer urut. Dermaga paling ujung menyambung dengan jalur sky train. Ini jalur anti macet.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perjalanan dengan public boat menyenangkan karena kita bisa liat berbagai landmark kota di kanan kiri sungai di sepanjang perjalanan. Tapi, kebayang nggak kalau angkutan jenis ini dicobakan di Jakarta. Kira-kira pemandangan apa yang kita bakal dapatkan di sepanjang perjalanan? Bedanya adalah pada cara memperlakukan sungai. Mereka menjaga benar Chao Phraya bahkan ikan-ikannya pun dilarang untuk ditangkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi hal penting yang dipunyai Bangkok adalah ruang terbuka. Sebuah sore, ketika aku terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan, aku menikmati duduk di deretan panjang bangku sambil mengamati air mancur cantik di sebuah plaza terbuka di antara stasiun sky train dan sebuah sentra belanja. Di tempat lain, ada bangku-bangku taman kota yang selalu dipenuhi burung-burung merpati, taman di tepi danau yang menjadi tempat istirahat saat kelelahan belanja di Chatuchak (pasar terbesar di Asia Tenggara yang buka cuma pas weekend) atau menyengaja jogging dan senam di Lumphini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku inget Jakarta. Dulu, gedung Danamon di perempatan Karet yang sekarang dibeli oleh Sampoerna punya plaza dengan bangku-bangku yang selalu ramai terutama saat jam pulang kantor. Terkadang, tak sekadar menunggu bis di sana, tetapi juga sejenak melepas penat atau menjadi titik pertemuan dengan teman. Tapi plaza itu tidak lama, seiring berganti-gantinya kepemilikan gedung itu. Dan sekarang, mungkin kita tidak bisa lagi berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita berani capek-capek promosi Visit Indonesia 2008, mestinya jangan biarkan tamu-tamu kita (atau bahkan orang kita sendiri) kebingungan mencari tahu rute bis kota atau kenapa justru penjual teh botol di pinggir jalan lah yang menyediakan bangku-bangku pelepas lelah dalam perjalanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Khawp khun kha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya tulisan ini dipublikasikan &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/2008/02/why-bangkok.html"&gt;di sini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-1031983380055976375?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/1031983380055976375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/why-bangkok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/1031983380055976375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/1031983380055976375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/why-bangkok.html' title='Why Bangkok?'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_NSrjW6G6BgM/R7uXG9XvG7I/AAAAAAAAAAU/rf1zb9b7W4g/s72-c/chatuchak+subway.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-5901252508898798542</id><published>2009-06-17T08:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T08:25:37.587-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Kota Jambi : antara Ingatan dan Ilusi Identitas (Aditya Dipta Anindita dan Dodi Rokhdian)*</title><content type='html'>Penulis: Aditya Dipta Anindita&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://inditdijakarta.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.inditdijakarta.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta, tapi pernah tinggal di Jambi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8865723015296341319#_ednref1" name="_edn1"&gt;*&lt;/a&gt; &lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;mereka ini temenku yang merupakan warga pendatang dan pemerhati kota (Thank kontribusi tulisannya, biar orang djambi juga tau dan nyadar kalau ....!).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum keberangkatan kami ke kota Jambi sekitar setahun lalu, ada cerita dari seorang kerabat yang pernah tinggal di kota ini belasan tahun yang lalu. Katanya, Jambi adalah kota terbersih yang pernah dilihatnya. Tinggal kami, untuk membuktikan cerita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kurang lebih setahun ini, kami mulai mengenali kota Jambi; lika-liku lorong dan simpangnya, musik keras di angkot yang meninggalkan debaran di jantung, pemandangan ribuan burung gereja di atas pasar saat senja juga mungkin kotoran mereka yang jatuh tiba-tiba di dekat kita. Tak ketinggalan jagung bakar dan es tebu di tepi Batang Hari yang lebih terkenal dengan sebutan Ancol, memandang lepas ke arah perahu-perahu dan matahari yang perlahan turun. Romantis, asal tidak mengalihkan pandangan ke bawah, ke tepiah-tepian sungai yang penuh sampah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengalaman dengan sampah bukan hanya di Ancol saja. Turun dari angkot di terminal pasar, lalu berjalan kaki menuju toko buku Gloria, Saimen, Mandala, Tropi, Matahari sampai kembali lagi menunggu angkot di dekat Abadi, paling tidak lima kali kami harus melewati tumpukan sampah, mengambil jarak agar tidak terganggu oleh bau busuk yang dikeluarkannya. Pemandangan pun terganggu. Inikah kota Jambi yang pernah dikenal orang sebagai kota terbersih?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba-tiba terlintas slogan “Jambi Kota Beradat”. Kata ‘beradat’ sendiri bisa dimaknai sebagai memiliki, memegang, atau menjalankan adat. Adat sendiri dalam bahasa Indonesia secara harifiah diartikan sebagai aturan yang telah dilakukan sejak lama, kebiasaan, atau wujud gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai dan berkaitan menjadi satu sistem. Kata ‘adat’ sepertinya memang sering didengungkan di kota ini, terutama dalam seloka Adat bersendi syara, syara bersendi Kitabullah. Betapa damai terasa gambaran kota yang ditawarkan dalam seloka ini. Belum lagi jika kita memahami slogan “Jambi Kota Beradat” sebagai penjabaran dari Jambi kota yang bersih, aman dan tertib. Slogan ini mengisyaratkan bahwa ada upaya perwujudan kota Jambi yang bersih, aman dan tertib. Lalu, dimana harus ditempatkan pengalaman dan pemandangan sampah di Ancol atau pasar dalam slogan kota Jambi yang senantiasa didengungkan itu? Ini belum tentang keamanan dan ketertiban kota ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada dua hal yang membedakan masing-masing kota, yakni kota dalam tatanan geografis serta kota dalam ingatan dan pengalaman warganya. Tataran pertama menggambarkan kota sebagaimana dalam peta yang menunjukkan batas-batas wilayah serta patokan-patokan fisik seperti bandara, pasar, sungai atau taman PKK. Sementara tataran kedua menggambarkan kota sebagaimana yang dialami oleh warganya seperti aroma jagung bakar di ancol atau bau busuk tumpukan sampah di pasar Angso Duo. Ingatan-ingatan berdasar pengalaman berulang inilah yang sesungguhnya akan terekam sebagai gambaran atau citra atas kota tempat tinggal seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Ingatan Bersama vs Ilusi Kota&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan bila dalam pikiran bawah sadar sesungguhnya kita dipaksa untuk memahami dua pengertian yang berbeda tentang sebuah kota bernama Jambi ini. Pengalaman atas sampah, misalnya, segera berhadapan dengan ingatan atas slogan “Jambi Kota Beradat”. Mana yang nyata?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Michelle de Certeau, pemikir kota aliran Prancis, menyebutkan bahwa pengalaman-pengalaman atas kota yang paling mendasar sesungguhnya adalah milik para pejalan kaki. Merekalah yang setiap harinya membuat cerita atas kota tanpa bisa membacanya. Dan ketika pengalaman-pengalaman dengan sampah tadi berhadapan dengan pemahaman kebersihan kota dalam slogan, akhirnya slogan itu sendiri menjadi seperti ilusi. Antara ada dan tiada. Bahwa sesungguhnya ada identitas yang tengah coba untuk ditanamkan, menyertai bahkan menafikan ingatan-ingatan atas kota yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Manipulasi pembentukan citra kota bersih, aman, dan tertib melalui slogan dalam bahasa de Certeau diistilahkan sebagai strategi, yaitu kemampuan untuk menyingkirkan terlebih dahulu pendapat yang berbeda, halangan, atau hambatan yang ada di lingkungan di mana kehendak (kuasa) satu kelompok dioperasikan. Tak hanya Jambi sebenarnya, tetapi inilah kenyataan yang dimiliki oleh nyaris setiap propinsi, kota dan kabupaten di tanah air ini. Mungkin kita sempat mencatat slogan-slogan pembangunan lain seperti Bungo Kota Lintas, Bulian Kota Berlian, Bangko Kota Beriman, atau Kerinci kota Sakti. Tapi coba tanyakan kebenarannya pada warga, terutama mereka yang setiap hari berjalan kaki menelusuri kotanya. Apakah memang demikian kota yang mereka punya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Inilah cara pandang kota dari ketinggian, seperti, mungkin – maaf pak Gubernur – jika memandang tepian Batang Hari dari tebing atas, di area Gubernuran yang sudah pasti terjaga kebersihannya, aman dari gangguan serta tertata rapi. Kami belum pernah, tetapi sepertinya dari atas sana tidak terlihat sampah-sampah yang memenuhi tepian sungai, juga bau busuknya yang beradu dengan aroma jagung yang tengah dibakar. Dan kita, yang membutuhkan ruang-ruang rekreasi dalam kota, akhirnya yang harus berkompromi dengan suasana itu. Kita lantas harus menutup hidung atau memilih tempat yang agak jauh dari tumpukan sampah. Sisi pengalaman yang kontras ini, oleh de Certeau disebut dengan taktik, yakni sebuah tindakan penuh perhitungan yang dilakukan karena ketiadaan tempat-tempat yang layak. Pendeknya, taktik adalah siasat yang dipakai oleh orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemandangan dari atas akan selalu indah, juga teratur sebagaimana jika kita memandang kota dalam peta. Tapi dari atas pula tidak tercium bau sampah, tidak tampak trotoar yang berlubang, atau kumpulan pemuda yang kadang memaksa meminta uang. Kalau memang demikian, maka timbul pertanyaan: kepada siapa sesungguhnya kota yang bersih, aman dan tertib ini diperuntukkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Mempertanyakan Identitas Kota&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan citra kota akan membawa kita pada wacana identitas kota. Mengutip catatan seorang teman, bahwa identitas bukan sekedar nama atau uraian biografi tetapi juga rangkaian cerita yang membentuk citra dalam diri setiap manusia. Karena itulah identitas sebenarnya bukan sesuatu yang layak untuk dipaksakan. Bagi sebuah kota, identitas menyimpan pengalaman-pengalaman warga serta proses tumbuh kembang kota sendiri. Misalnya dari bentuk bangunan lama bergaya kolonial, kita bisa menaksir kapan, siapa, dan bagaimana sejarah perkembangan kota. Lalu penamaan-penamaan warga sendiri, misalnya orientasi arah hulu dan hilir menunjukkan betapa sungai memiliki arti penting bagi penduduk sekitarnya. Bagaimana pal seven bisa dibaca sebagai Sipin, atau bagaimana simpang dan lorong menjadi penanda kota.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Inilah mengapa karakteristik sebuah kota tidak bisa digeneralisir dalam pola-pola sentralistik. Setiap kota memilik karakter masing-masing yang terbentuk dari pengalaman sehari-hari warganya. Dan kota, tidak bisa begitu saja direproduksi secara mekanis jika kita tidak ingin kehilangan ingatan-ingatan atas rentetan peristiwa proses tumbuh kembang kota, jika kita tidak ingin kehilangan identitas kota yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang kami tidak pernah mengerti, mengapa harus ada sebutan Ancol untuk tepian Batang Hari, Monas untuk tugu yang dikelilingi empat ekor angsa di daerah Kota Baru, Taman Mini untuk area MTQ berupa rumah-rumah adat perwakilan tiap kabupaten, hingga ruas jalan menuju bandara yang diberi nama Soekarno-Hatta. Padahal, Jambi menyimpan mitos perjalanan dua ekor angsa yang kemudian dipercaya sebagai asal muasal kota ini, pantun dan seloka Melayu yang didongengkan oleh nini mamak, ribuan burung gereja di atas pasar saat senja, atau Batang Hari yang alirannya konon terpanjang di pulau Sumatera.&lt;br /&gt;Inilah saatnya memandang kota melalui pemahaman baru, bahwa kota bukanlah mahkluk mati tak bergerak seperti peta. Kota tumbuh dan berkembang seiring dengan pengalaman-pengalaman warganya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menyelami kehidupan kota Jambi selama setahun ini, adalah tentang suasana angkutan kota dengan musik hingar bingar yang menghentak jantung penumpang hingga kami harus berteriak kencang kepada kernet jika ingin turun di tempat tujuan. Ingatan tentang Jambi bagi kami, keindahan ketika ribuan burung gereja bertengger di profil-profil bangunan dan di setiap bentangan kabel-kabel listrik saat langit senja merona jingga. Juga alunan musik biduk sayak yang keluar dari salah satu speaker penjual VCD bajakan kaki lima. Bagaimana dengan anda, pemilik kota Sepucuk Jambi Sembilan Lurah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi tulisan ini sebelumnya ada &lt;a href="http://zainuddin-bezet.blogspot.com/2008/03/kota-jambi-antara-ingatan-dan-ilusi.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-5901252508898798542?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/5901252508898798542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/kota-jambi-antara-ingatan-dan-ilusi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/5901252508898798542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/5901252508898798542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/kota-jambi-antara-ingatan-dan-ilusi.html' title='Kota Jambi : antara Ingatan dan Ilusi Identitas (Aditya Dipta Anindita dan Dodi Rokhdian)*'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-2907213583914284632</id><published>2009-06-03T10:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-03T10:52:01.858-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='USA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NYC'/><title type='text'>The NYC you don't know about (6) : New York Libraries</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dydy.multiply.com/image/23/photos/4/300x300/7/springnyc5.jpg?et=L,u5YdC5to0pALIGgHCuAQ&amp;amp;nmid=5902769"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 225px; height: 300px;" src="http://images.dydy.multiply.com/image/23/photos/4/300x300/7/springnyc5.jpg?et=L,u5YdC5to0pALIGgHCuAQ&amp;amp;nmid=5902769" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;Penulis: Dyah Dyanita&lt;br /&gt;Domisili: Bronx, NYC, USA&lt;br /&gt;Blog: &lt;a href="http://dydy.multiply.com/"&gt;http://dydy.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;tulisan spesial buat gita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di NYC, ada 3 sistem library : &lt;a href="http://www.nypl.org/"&gt;New York Public Library (NYPL)&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.queenslibrary.org/"&gt;Queens Library&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://www.brooklynpubliclibrary.org/"&gt;Brooklyn Public Library (BPL)&lt;/a&gt;, ketiganya independen dan tidak saling berhubungan. NYPL mencakup library di Manhattan, Bronx, dan Staten Island.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saya pernah tinggal di Queens, tapi berhubung dari dulu saya lebih sering maen ke Midtown daripada ke Jamaica (pusatnya QL), jadi saya lebih memilih jadi anggota NYPL dan karenanya lebih tau seluk beluk pinjam meminjam di NYPL. Jadi mulai paragraf berikutnya, cerita NYPL aja yah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYPL dari segi koleksinya dibagi dua sistem : Research Libraries dan Branch Libraries.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dydy.multiply.com/image/34/photos/4/300x300/11/mid-man.jpg?et=90RJVIsB+QD5oBNLALBzog&amp;amp;nmid=5902769"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 231px; height: 300px;" src="http://images.dydy.multiply.com/image/34/photos/4/300x300/11/mid-man.jpg?et=90RJVIsB+QD5oBNLALBzog&amp;amp;nmid=5902769" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RL berisi koleksi langka dan/atau referensi untuk berbagai penelitian, hanya boleh dibaca di tempat. Ada 4 library yang termasuk sistem ini, yaitu Humanities and Social Sciences Library (ini fotonya, yang ada patung singa) di Fifth Avenue at 42nd st, NYPL of the Performing Arts di Lincoln Center, Schomburg Center for Research in Black Culture di Harlem, dan Science, Industry, and Business Library (SIBL) di Madison Ave at 34th st.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BL berisi koleksi umum yang bisa dipinjam (well...ada buku referensinya juga sih...tapi dari kategori yang lain dari koleksinya RL). Ada 5 central library dan sekian puluh (atau lebih dari seratus ya...ga ngitung sih) branch library. Yang central library yaitu : Mid-Manhattan Library di Fifth Ave at 40th st (nah, ini tempat yang paling sering saya tongkrongin. Fotonya yang sebelah kanan ya), Donnell Library Center (pusatnya buku anak) di 53rd st, NYPL of the Performing Arts (lagi), Andrew Heiskell Braille and Talking Book Library di 20th st, dan SIBL (lagi juga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam library card : kartu BL (namanya LEO) dan kartu RL (namanya ACCESS). Bikin kartu LEO sih gampang, selama dia tinggal dan/atau kerja di NYC dan punya bukti alamatnya, daftar jadi anggota gratis, mudah, dan cepat. Beberapa menit jadi. Bikin kartu RL lebih rumit, harus menyediakan photo ID, dan nanti diambil foto di tempat (kayak bikin sim ya?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang enak, karena katalognya sudah terkomputerisasi dan terinternetisasi, kita bisa cari buku lewat katalog di websitenya. Bisa request buku tertentu, dan minta dikirim ke library cabang yang terdekat. Malah untuk yang memang nggak bisa kemana-mana (homebound karena tua atau cacat), bisa diantar ke rumah (daftar dulu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Library materials (buku, dvd, video, cd, dll) yang dipinjam nggak ada batasan jumlah, dan dikasih waktu 3 minggu masing-masingnya. Setelah itu boleh diperbaharui sampai 3 kali, selama memang nggak ada yang request. Tapi ada juga yang cuma boleh pinjem seminggu dan nggak boleh diperbaharui, ini biasanya untuk buku-buku baru. Kalo telat ngembaliin, dendanya kalo buku 25 sen per hari, kalo lainnya...ga merhatiin :P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Library di sini tuh bener-bener rame dan banyak pengunjungnya. Minat baca orang sini memang tinggi. Terus selain untuk pinjam meminjam buku, library juga banyak program acara untuk umum, misalnya temu penulis, apresiasi buku, puisi, musik, seni, dll dsb. Keren lah. Betul-betul 'hidup'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di NYC, tempat saya tinggal selalu dekat dengan library. Di Harlem, satu blok dari&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="on" style="display: block;" id="formatbar_CreateLink" title="Tautan" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 8);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Tautan" class="gl_link" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Hamilton Heights library. Di Astoria, kira-kira 3 blok dari Astoria branch. Di Inwood, 5 blok. Sekarang, 2 blok saja dari Van Cortlandt library. Kebetulan yang menyenangkan.&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="on" style="display: block;" id="formatbar_CreateLink" title="Tautan" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 8);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Tautan" class="gl_link" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, saya pengen cerita tentang library universitas juga dikit nih. Entah berlaku untuk semua universitas atau tidak, tapi sistem library universitas di Amerika tersambung. Suami saya kalo pinjem buku yang ga ada di kampusnya, tinggal cari di katalog Inter Library Loan, request bukunya, dan tunggu. Tau-tau datang aja si buku dari librarynya UCLA, misalnya. Asik ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokonya dalam hal library, I superlove New York dan Amerika....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dipublikasikan ulang dari blog penulis. Sumber tautan klik&lt;a href="http://dydy.multiply.com/journal/item/156"&gt; di sini. &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-2907213583914284632?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/2907213583914284632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/nyc-you-dont-know-about-6-new-york.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2907213583914284632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2907213583914284632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/nyc-you-dont-know-about-6-new-york.html' title='The NYC you don&apos;t know about (6) : New York Libraries'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-3193316430991604761</id><published>2009-06-03T10:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-03T10:31:55.679-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Langit kota urban</title><content type='html'>Penulis: Mudin&lt;br /&gt;Domisili: Jakarta&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://poenyaem.multiply.com/"&gt;http://poenyaem.multiply.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini, saya membiasakan berjalan kaki dari tempat kost menuju Cikal. Kebetulan jaraknya tidak jauh. Hanya saja karena sudah dimanjakan dengan kendaraan bermotor, awalnya saya merasa lelah sekali untuk menempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pejalan kaki Jakarta, sudah pasti tidak ada yang patut dibanggakan. Trotoar dipersempit oleh penjual bunga, diserobot pula oleh pengendara motor, kadang-kadang gerobak pedagang ikut-ikutan mampir. Sementara di samping saya suara klakson bersaut-sautan dari mobil ke mobil, bus ke bus, dan motor ke motor. Saya bersyukur MP3 Player ditemukan untuk mengalihkan suara itu semua. Walau menurut kabar, seharusnya saat berjalan di jalan raya benda itu sebaiknya tidak digunakan. Tapi mudah-mudahan di Jakarta itu tidak berlaku. Bukankah orang Indonesia selalu punya cara lain untuk memperlakukan sesuatu yang datang dari luar?&lt;br /&gt;&lt;a href="http://poenyaem.multiply.com/journal/item/22/Langit_kota_urban"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekali-kali, karena penat dengan kanan kiri jalan, saya memandang langit. Saya jadi ingat waktu saya kuliah dulu. Kebetulan tempat kuliah saya yaitu Jatinangor, meski disebut Bandung, namun terletak di paling ujung sebelah timur kota bunga ini. Bisa dikatakan masih kampung atau kota kaget. Saya selalu bilang ke kawan-kawan saya bahwa salahsatu yang membuat saya kangen dengan Jatinangor adalah langitnya. Tentu saja dari mereka pasti cuma tersenyum meledek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit Jatinangor itu biru seperti kembaran laut. Pagi-pagi cahaya matahari membuat birunya nampak berkilau. Siang-siang birunya menjadi alas tempat awan-awan berganti bentuk. Sore-sore birunya meneduhkan perjalanan. Dan malam-malam birunya membuat bulan dan bintang seperti bisa dipetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sejak di Jakarta, saya tidak pernah menikmati langit seperti ini lagi. Saya berangkat pagi-pagi, main siang-siang, keluar sore-sore, atau pulang malam-malam. Langit Jakarta warnanya tak pernah biru. Kadang ia abu-abu, kadang hitam pekat, dan kadang merah kusam. Mungkin beginilah sebuah kota urban. Semua harus menjadi multikultur. Bahasanya, warna kulitnya, gaya hidupnya, model rumahnya, termasuk juga warna langitnya. Mudah-mudahan dugaan saya benar. Namun, saya tidak tahu apakah saya akan merindukan langit Jakarta ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini di publikasikan ulang dari blog penulis. Sumber tautan klik &lt;a href="http://poenyaem.multiply.com/journal/item/22/Langit_kota_urban"&gt;di sini.&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-3193316430991604761?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/3193316430991604761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/langit-kota-urban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3193316430991604761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3193316430991604761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/06/langit-kota-urban.html' title='Langit kota urban'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-3262565469232045430</id><published>2009-05-12T00:33:00.000-07:00</published><updated>2009-06-03T10:43:08.345-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasikmalaya'/><title type='text'>Tasikmalaya Heuring Ku Toko</title><content type='html'>Penulis: Dwi Joko Widiyanto&lt;br /&gt;Domisili: Bandung, Jawa Barat&lt;br /&gt;blog: &lt;a href="http://www.dwijoko.wordpress.com/"&gt;www.dwijoko.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jalan-jalan yang lebar dan rapi. Orang-orang yang sibuk, lalu lintas dan kendaraan yang ramai. Toko dan pusat-pusat perbelanjaan yang padat pembeli. Gedung-gedung pusat pemerintahan dan pelayanan publik yang megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah rata-rata pemandangan yang akan Anda jumpai jika memasuki sebuah kawasan kota. Anda tak urung akan membayangkan sebuah kota yang hidup. Lalu lintas perdagangan berjalan lancar. Semua orang bisa membeli barang dan punya peluang untuk berwirausaha. Anak-anak bisa sekolah dan pemerintah bisa melayani semua kebutuhan warga kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan semacam itu juga yang selama ini menjadi dorongan kuat bagi orang desa untuk hijrah ke kota. Harapan bahwa kota menjanjikan penghasilan dan penghidupan yang lebih baik, telah mendorong urbanisasi besar-besaran sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dengan sedikit saja menjelajah ruang kota lebih ke dalam, kita akan disuguhi pemandangan yang kontras. Pemukiman penduduk yang padat dengan jalan sempit. Got dan selokan dengan sanitasi yang buruk. Di pemukiman ini juga, biasanya, kita dapat dengan mudah memperoleh bukti-bukti kehidupan kota yang tak selalu ramah. Masih banyak orang yang tidak bisa sekolah, biaya berobat yang mahal, dan pelayanan publik yang tak terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah agak ke pinggir, Anda akan menemukan pemandangan yang lain lagi. Jalan-jalan baru yang lebar dengan lahan pesawahan di sisinya. Lahan-lahan pertanian yang tak terurus karena sudah dijual pemiliknya dan tengah menunggu ditanami beton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar masalah wilayah pinggir ini biasanya tak jauh dari petani-petani yang mulai kehilangan lahan garapan. Gaya hidup dan pergaulan anak-anak muda yang berubah. Kota sudah dekat tapi tak gampang memperoleh pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ragam Masalah Kota Tasikmalaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pemandangan seperti itu juga yang akan kita jumpai jika Anda berkunjung ke Kota Tasikmalaya hari-hari ini. Kota baru yang berdiri pada 2001, hasil pemekaran Kabupaten Tasikmalaya ini kini sibuk berbenah. Lahan-lahan pertanian dibuka untuk dijadikan tempat pemukiman, kawasan industri, dan pusat-pusat distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Pusat-pusat perdagangan dan ekonomi dibangun di banyak tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 27 April 2008, sebuah surat edaran Walikota Tasikmalaya menempel di tembok-tembok di sekitar Dadaha, salah satu pusat keramaian publik di Tasikmalaya. Isinya meminta pedagang kaki lima angkat kaki dari kawasan ini. Ini cuma salah satu penanda, bahwa ada yang harus minggir dari hingar bingar pembangunan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tasik ayeuna mah heurin ku toko” (Tasik sekarang penuh sesak dengan toko). Begitu ungkapan sejumlah warga kota. Perubahan status menjadi kota, dan visi Kota Tasikmalaya menjadi pusat perdagangan dan industri termaju di Priangan Timur, telah menumbuhkan perubahan luar biasa dalam tata ruang kota. Banyak warga kota menjadikan hunian mereka sebagai rumah toko dengan laju yang cenderung tidak terkendali. Ini belum ditambah dengan hadirnya pusat-pusat perdagangan yang dibangun oleh investor dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan perubahan tata guna lahan itu sayangnya tidak dibarengi dengan kebijakan tata ruang kota yang komprehensif. Tak jelas mana kawasan perkantoran, perdagangan, pemukiman, dan fasilitas umum. Banyak warga yang merasakan hawa kota tak lagi sejuk seperti dulu. Lalu lintas yang padat, angkutan umum yang macet, dan pepohonan pinggir jalan yang banyak di tebang memang menghiasi pemandangan kota Tasik di banyak tempat. ”Saya sekarang malas keluar rumah”, begitu cerita warga kota yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasikmalaya juga masih menyimpan sejumlah masalah sosial-ekonomi yang kritis. Soal kemiskinan dan pengangguran, misalnya. Laporan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) – Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) pada 2008, mencatat angka kemiskinan di 5 kecamatan hingga saat ini sebanyak 103.134 jiwa atau 27.541 keluarga. Jumlah sebanyak itu tersebar di Kecamatan Tawang sebanyak 2.309 KK, Kecamatan Tamansari 5.983 KK, Kecamatan Indihiang 10.539 KK, Kecamatan Cipedes 5.130 KK dan Kecamatan Cihideung 3.580 KK, dengan jumlah keseluruhan 27.541.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang 2007 dan 2008 malah terjadi lonjakan jumlah keluarga miskin. Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dede Sudrajat mencatat angka kemiskinan pada 2007 sebanyak 19.250 dan meningkat menjadi 39.448 KK pada tahun 2008 (Seputar Indonesia, 26 Maret 2008). Permintaan beras untuk keluarga miskin (raskin) di Kota Tasikmalaya sepanjang dua tahun terakhir meningkat hingga 100% dari 2.343,12 ton pada tahun 2007 menjadi 5.719,96 ton pada tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas pelayanan publik juga dipandang kurang memuaskan. Studi yang dilakukan Lingkar Studi Peradaban (LSP) Tasikmalaya menemukan rendahnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah kota sepanjang tahun 2007 (Pikiran Rakyat, 16 April 2008) . Ketidakpuasan tersebut terutama ditujukan kepada pelayanan administrasi kependudukan, perijinan, dan pelayanan kesehatan. Disamping prosedur pemerolehan pelayanan yang cenderung berbelit-belit, juga akses dan ketidakramahan perlakuan pelayan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Radar Tasikmalaya, 18 Desember 2007 melaporkan kasus gizi buruk di Kelurahan Cilamajang Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Pada 21 Desember 2007 seorang ibu melahirkan di sebuah gudang kediamannya lantaran tidak punya uang. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat sepanjang Januari hingga Desember 2007, terdapat 600 bayi bergizi buruk dari 60.000 bayi yang lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan kota rupanya juga memberi warna lain bagi kehidupan sosial kaum muda Tasikmalaya. Pada 2005, Kota Tasikmalaya menempati urutan pertama dalam kasus narkoba di Jawa Barat setelah pada tahun sebelumnya berada di urutan ketiga di bawah Bandung dan Bogor. Pada tahun itu, Polresta Tasikmalaya mengungkap 107 kasus narkoba. Bahkan dalam operasi anti narkoba selama 25 hari terjaring 10 kasus (Tempo Interaktif, 25 Desember 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kota yang Gamang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pemekaran dan pembentukan kota-kota baru tampaknya akan terus terjadi sebagai implikasi kebijakan otonomi daerah. Sebagian karena alasan substantif untuk memperpendek jarak pemerintah dan masyarakat dan mempertinggi kinerja pelayanan publik. Sebagian daerah dimekarkan karena motivasi politik menumbuhkan pusat-pusat kekuasaan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai dokumen yang mendasari kebijakan pembentukan kota menyebutkan Tasikmalaya layak menjadi kota baru. Salah satu alasannya adalah kuatnya potensi ekonomi lokal yang khas, yakni berkembangnya sentra-sentra industri kerajinan rakyat di berbagai wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi potensi ini yang cenderung luput dari perhatian. Pembangunan kota lebih memihak kepada kepentingan industri berskala besar, industri yang nota bene tidak memiliki basis sosial-budaya yang kuat di kalangan masyarakat Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga banyak kota lain yang sedang berubah, hari-hari ini Tasikmalaya menampakkan diri sebagai kota berwajah gamang. Kota yang belum sepenuhnya yakin bahwa industri besar dan jasa perdagangan bisa mendongkrak perbaikan kualitas hidup warganya. Tapi juga tak sepenuhnya siap untuk meninggalkan akar tradisinya yang sungguh kuat. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini di publikasikan ulang dari blog penulis. Sumber tautan klik &lt;a href="http://dwijoko.wordpress.com/2008/08/01/94/#comment-129"&gt;di sini. &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-3262565469232045430?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/3262565469232045430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/05/tasikmalaya-heuring-ku-toko.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3262565469232045430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3262565469232045430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/05/tasikmalaya-heuring-ku-toko.html' title='Tasikmalaya Heuring Ku Toko'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-5845150124419105556</id><published>2009-04-30T18:53:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T19:15:30.313-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banten'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>AKHOBAH: Nama masjid kami</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis: Radjimo Sastro Wijono&lt;br /&gt;Domisili: Serang, Banten&lt;br /&gt;&lt;a href="http://gangraflesia.blogspot.com/"&gt;http://gangraflesia.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WdnXtouyDOM/R-p5uR7I7bI/AAAAAAAAAGs/tdBNzzVhjU8/s1600/masji2.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 230px; height: 173px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WdnXtouyDOM/R-p5uR7I7bI/AAAAAAAAAGs/tdBNzzVhjU8/s1600/masji2.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebagian orang berpendapat apa arti sebuah nama. Sebagian orang lain berpendapat nama adalah segalanya. Kita termasuk bagian kelompok mana: menganggap penting sebuah nama atau tidak menganggap penting sebuah nama. Ya, tentu kita termasuk kelompok orang yang menganggap nama adalah penting. Lantas, mengapa masjid di kawasan Kelapa Gading namanya AKHOBAH. Tidak nama yang lain. Dan, apa pentingnya sebuah nama AKHOBAH buat kawasan Kelapa Gading, Kota Serang Baru.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Singkat kisahnya kurang lebih begini. Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Serang, Panitia Pembangunan Masjid yang dan Ketua RW 08 Kelurahan Banjar Agung merasa sangat bahagia, setelah ditandatanganinya perjanjian pemberian donasi untuk sebuah masjid di kawasan Kelapa Gading. Kelelahan memang dirasakan oleh dua rombongan mobil yang ingin mengikuti peristiwa penting bagi kawasan perumahan di KSB ini. Namun, kelelahan terasa hilang setelah ditandatangani perjanjian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, tawa riang mengiringi sepanjang jalan. Obrolan serius dan mimpi-mimpi membangun masjid berkembang di sepanjang perjalanan. Tentang nama masjid, sejak awal memang telah disadari oleh perwakilan warga bahwa penamaan tidak mungkin dapat dipilih oleh warga: pastinya nama akan diberikan oleh pendonor. Benar sekali, si penyumbang ingin namanya menjadi nama sebuah masjid: Amnah Khojak Bakkah. Di sela-sela pembicaraan dalam perjalanan beberapa orang merasakan nama masjid sepertinya aneh (susah diingat). Tak tahu bagaimana persisnya, Pak RW mengusulkan nama yang panjang itu disingkat menjadi AKHOBAH. Seolah semua setuju, dan, hingga kini nama itu melekat pada sebuah bangunan yang dicita-citakan menjadi masjid yang indah dan makmur di kawasan Kelapa Gading, KSB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tulisan ini di terbitkan ulang di blog ini atas seizin penulisnya. Tulisan aslinya dapat di lihat &lt;a href="http://gangraflesia.blogspot.com/2008/03/mengapa-akhobah-nama-masjid-kami.html"&gt;disini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-5845150124419105556?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/5845150124419105556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/akhobah-nama-masjid-kami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/5845150124419105556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/5845150124419105556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/akhobah-nama-masjid-kami.html' title='AKHOBAH: Nama masjid kami'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WdnXtouyDOM/R-p5uR7I7bI/AAAAAAAAAGs/tdBNzzVhjU8/s72-c/masji2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-7640061326193975093</id><published>2009-04-30T06:54:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T07:19:53.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sulawesi Selatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makassar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Balang, Kampungku Diantara Kota Lama dan Kota Baru</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Penulis: &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Muslimin Daeng Lalo&lt;br /&gt;Domisili: Makassar, Sulawesi Selatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://muslimindaenglalu.blogspot.com"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;http://muslimindaenglalu.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mailto:musliminbputra@yahoo.com" target="_blank"&gt;musliminbputra@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Sejak dulu, Kampung Balang, Jeneponto, Sulawesi Selatan bukanlah kampung biasa karena keberadaannya di lingkungan Kerajaan Binamu merupakan suatu wilayah otonom. Pada masa itu, wilayah otonom dibawah Kerajaan Binamu bernama &lt;i&gt;gallarrang&lt;/i&gt;, mungkin setingkat propinsi atau kabupaten sekarang ini karena pada prinsipnya sebuah kerajaan adalah sebuah negara tersendiri pada &lt;span&gt; &lt;/span&gt;masa dulu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Sedang Kerajaan Binamu bukanlah bawahan dari Kerajaan Gowa, sehingga Kerajaan Binamu merupakan kerajaan yang memiliki otonomi tersendiri diwilayah selatan Pulau Sulawesi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Letak wilayah Kampung Balang berada diantara&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;kota lama dan kota baru yang menjadi Ibukota Kabupaten Jeneponto. Kota lama adalah wilayah berada dipesisir selatan yang sekarang meliputi Kampung Monro-Monro, Tamabayara, Tanjung Ala. Pada kota lama masih berdiri beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda seperti Gedung Lembaga Pemasyarakatan (penjara) dan bangunan Sekolah Dasar Negeri 1 Jeneponto yang masih memiliki arsitek model Belanda. Pada kota lama Jeneponto ini juga masih berdiri kokoh istana Kerajaan Binamu yang berarsitektur khas etnik Makassar berupa bangunan rumah panggung terbuat dari&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kayu hitam yang areal halamannya sangat luas (alun-alun).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Sedang kota baru Jeneponto adalah wilayah Bontosunggu yang berada di dataran tinggi (Bahasa Makassar = bonto artinya dataran tinggi). Pada kota baru berdiri bangunan gedung kantor bupati Jeneponto dan gedung perangkat pemerintah kabupaten lainnya seperti gedung parlemen daerah (DPRD Jeneponto). Bangunan rumah jabatan bupati Jeneponto benar-benar juga berada diatas bukit sehingga menambah kuat kesan Kota Bontosunggu sebagai kota yang berada diatas ketinggian laut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Ketika aku masih kecil pada era 1970-an, sungai yang mengalir di wilayah Kampung Balang merupakan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;urat nadi kehidupan warga Kampung Balang. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Mungkin karena sungai yang memblah Kampung Balang maka kampong ini disebut Balang yang berarti sungai. Airnya yang jernih menjadi sumber air minum utama warga Balang. Namun kini air sungai itu telah mengalami abrasi sehingga airnya menjadi asin dan tinggal menjadi sungai tempat memancing ikan dan sumber penggalian pasir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Pada masa aku memasuki bangku sekolah dasar, setiap pagi keberadaan sungai Balang merupakan area yang paling ramai sebagai tempat mandi pagi. Di sungai ini aku menemukan kebebasan untuk berenang karena sungai ini menjadi sarana alami yang membantuku bisa berenang tanpa bimbingan seorang pelatih renang. Di sungai ini pula banyak kenangan indah masa kecil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Salah satu kenangan masa kecil di sungai itu adalah pada saat-saat menjelang buka puasa di bulan Ramadhan. Aku dilatih berpuasa oleh orangtuaku sejak memasuki usia sekolah. Bila menjelang sore, badan terasa lemas. Pada saat seperti itu, aku biasanya menghabiskan waktu di sungai dengan berenang menghangatkan tubuh sambil sesekali memasukkan air ke dalam mulut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Pada sore hari, aktifitas di sungai itu sama ramainya dengan pagi hari karena setiap orang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;membersihkan badan sehari dua kali. Seingat saya di sungai Balang terdapat enam tempat mandi berupa lekukan tanah di pinggir sungai yang sengaja dibentuk untuk memudahkan orang menuju sungai. Biasanya berupa susunan batu-batu besar dibuat bertakik-takik dan tersusun dari sisi daratan hingga ke bibir sungai. Batu-batu yang disusun itu bentuknya datar segiempat memanjang. Entah dari mana didatangkan batu-batu itu, dan cara membentuknya. Yang jelas kesannya unik dan cukup eksotik. Di atas batu-batu segi empat ini biasanya para ibu-ibu dan remaja putri melakukan aktifitas cuci baju dengan beralaskan sarung menyelimuti batu. Tetapi beberapa diantaranya tidak menggunakan alas sarung, karena beberapa batu itu berwarna putih bersih sehingga cukup dibersihkan dengan air lalu menaruh cucian diatasnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Pada sungai itu pula menjadi sumber air minum. Biasanya air minum diambil pada tengah-tengah sungai yang biasanya terlihat jernih. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Air yang akan digunakan sebagai air minum itu menggunakan jerigen dengan bermacam ukuran. Cara membawanya dari tengah sungai ke pinggir sungai sangat hati-hati agar terkontaminasi oleh air mandi seseorang yang biasanya melakukan aktifitas mandi pada pinggir sungai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Dengan banyaknya aktifitas warga yang berpusat di sungai itu, maka keakraban dan jalinan sosial lebih banyak terjadi di sungai. Orang-orang banyak terlihat akrab, berbincang-bincang di pinggir sungai &lt;span&gt; &lt;/span&gt;atau di dalam sungai sambil mandi dan berenang. Meski sungai ini tidak menghasilkan atlet renang berprestasi, tetapi pada sungai inilah sarana alami setiap warga kampung melatih diri berenang sehingga semua warga : tua-muda, laki-perempuan, anak-anak hingga kakek-nenek bisa berenang. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;---000---&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Seiring berjalannya waktu, sungai itu mulai berubah pada setiap pergantian musim. Pada musin penghujan, air sungai meluap sehingga menggenangi hampir seluruh rumah warga. Tetapi pada musim kemarau, sungai itu setiap tahun berubah menjadi asin airnya. Akibatnya Sungai Balang secara perlahan mulai ditinggalkan warga. Bersamaan dengan itu pula, sebuah proyek pembangunan air bersih &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dibuat pada era 1980-an &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;ketika aku masih duduk dibangku kelas 1 atau kelas 2 SD Balang I.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Masih lekat diingatanku, proyek besar itu melintasi jalan dan membentang dari kota baru hingga kota lama. Saya menyaksikan para pekerja proyek itu menggali satu sisi &lt;span&gt; &lt;/span&gt;jalan sebagai areal untuk dipasangi pipa-pipa. Secara kebetulan para pekerja proyek itu yang berasal dari berbagai daerah di luar Jeneponto menyewa sebuah rumah di kampung Balang. Jadi saya memiliki kesempatan melihat alat-alat dan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;perangkat proyek air minum itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Setelah proyek air bersih rampung beberapa tahun kemudian, hampir setiap rumah mengajukan permohonan pemasangan instalasi air minum. Berubahnya perilaku warga dari berpusat di sungai menjadi berpusat dirumah masing-masing mengubah pula pola jalinan dan jejaring sosial. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Hampir tidak dijumpai lagi tempat-tempat warga yang bisa menjadi sarana berkumpul dan menjalin keakraban satu sama lain. Warga berubah menjadi individualis karena ketiadaan pusat sarana aktifitas bersama para warga Kampung Balang selain di mesjid. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-CA"&gt;Di Kampung Balang telah lama berdiri sebuah mesjid bernama mesjid Fastabiqul Khairat. Mesjid yang menjadi tempat berkumpulnya warga hanya ramai ketika memasuki bulan Ramadhan. Seiring renovasi yang dilakukan pengurus mesjid berkat bantuan finansial seorang dermawan keturanan warga Balang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang menjabat posisi strategis dalam manajemen Semen Tonasa, Pangkep maka mesjid tersebut berhasil disulap menjadi mesjid besar &lt;span&gt; &lt;/span&gt;dengan design arsitektur modern. Mesjid inipun berubah menjadi pusat aktifitas baru warga &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dan menjadi &lt;i&gt;icon&lt;/i&gt; Kampung Balang. Meski Balang diapit oleh kota lama dan kota baru Jeneponto, para warganya dapat membangun kampungnya sendiri melalui swadaya warga dengan tetap hidup diatas prinsip kekeluargaan meski zaman terus berubah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-7640061326193975093?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/7640061326193975093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/balang-kampungku-diantara-kota-lama-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7640061326193975093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/7640061326193975093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/balang-kampungku-diantara-kota-lama-dan.html' title='Balang, Kampungku Diantara Kota Lama dan Kota Baru'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-3979662908720066049</id><published>2009-04-27T02:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T02:22:26.674-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Diarel (Diary Sisi Rel)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis: Agus Bebeng&lt;br /&gt;Domisili: Bandung, Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1163328835#/profile.php?id=1163328835"&gt;http://www.facebook.com/profile.php?id=1163328835#/profile.php?id=1163328835&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada suatu waktu.&lt;br /&gt;senja tua kuning telanjang terpuruk di ujung rel yang mengkilat diterpa cahaya senja.&lt;br /&gt;ada gelisah yang menggeliat masuk berkeliaran, menelisik bilik-bilik jantung yang berlubang diterobos polutan yang semakin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tajam.&lt;br /&gt;batas ingatan yang telah kugunting kembali menyatu menjadi puzle yang menampilkan gambar hitam putih; dramatik.&lt;br /&gt;lebih dramatik daripada acara termehek-mehek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih jelas kentara dalam monitor ingatan.&lt;br /&gt;saat itu aku sering berlari sepanjang rel menerobos pekat asap kereta tua yang melenguh seperti kerbau tua yang lelah dipecut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak gembala. tentunya, demi mimpi mengejar pendidikan yang murah meriah dan bakti agung kepada ema dan bapak.&lt;br /&gt;kami selalu saja berlari kencang, ingin mengadu kecepatan hasil dari pembakaran tenaga mie instan dengan tenaga diesel tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari Jerman itu. namun tetap saja ular besi itu memiliki kecepatan yang tinggi. mie rebus campur telur goreng dan teh manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak mampu meredam kecepatan sang kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal dalam khayalanku saat itu aku tengah memerankan Zorro yang membebaskan tawanan dari kaum penindas dengan menunggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;si Tornado yang cepat seperti panah. namun kenyataannya tetap saja kami kalah berlari. tak ayal kekalahan kami lampiaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan melempari kereta itu dengan batu hamparan dampalan rel. dari sekian puluh kali melempar batu, kadang terdengar sumpah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serapah dari penumpang yang terkena lemparan kami. kami hanya bisa tertawa lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat ini aku kembali merindukan masa itu.&lt;br /&gt;masa dimana kami hanya berlari pagi dan siang hari. bermain di stasiun tua yang kumuh diisi pedagang asongan, dan gembel yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meramu kaki dengan lem kayu agar nampak terkelupas kulitnya. atau mengganggu anjing galak milik seorang tionghoa yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumahnya bersebelahan dengan stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagiku dan kami saat itu, sekitaran stasiun merupakan taman bermain yang tak pernah habis memanjakan kami. aku masih ingat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah berpagar tinggi, dengan kawat yang mengitari ujung besinya. rumah megah itu memiliki bel rumah yang terletak di ujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pintu. kadang kami sering memainkan bel itu sambil berlari membuat sang pemilik rumah yang sama galaknya dengan sang anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencak-mencak berteriak tak jelas. selama seminggu kami melakukan itu pada jam pulang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai suatu ketika salah satu temanku. mimijit bel itu dan langsung berteriak keras. kami terkejut luarbiasa.&lt;br /&gt;"Anjing nyetrum!" teriaknya sambil menjilat ujung jari.&lt;br /&gt;kami tak percaya.&lt;br /&gt;lalu salah satu teman memijitnya lagi.&lt;br /&gt;benar memang begitulah adanya.&lt;br /&gt;dari pintu tampak sang pemilik tersenyum puas.&lt;br /&gt;sejak saat itu kami tak lagi berani memijit bel rumah tionghoa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;stasiun kereta memang tak pernah sepi.&lt;br /&gt;bila malam beganti penghuni stasiun pun berubah.&lt;br /&gt;entah dari kedalaman gua mana mereka datang.&lt;br /&gt;tubuh mereka selalu serong kiri kanan seperti pasukan upacara bendera. di tangan mereka plastik hitam, berbungkus botol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minuman selalu nampak seperti para penjaga kerajaan yang membawa tumbak. sedang mulut tak pernah menghembuskan nafas naga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang demikian kental. untunglah saat itu belum ada konversi dari minyak ke gas. kalau ada dapat dipastikan banyak gas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meledak. satu lagi, jangan ditanya tentang bahasa yang keluar dari mulut mereka. pasti lebih kotor dari stasiun tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belum ditambah dengan para perempuan malam yang sering mangkal di jalan dekat rel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernah suatu ketika ada pemabuk dan pelacur yang tertabrak di rel.&lt;br /&gt;menurut warga sekitar korban ditutupi telinganya oleh jurig bonge (hantu tuli yang menutup telinga orang). selama seminggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;stasiun itu sepi dari para pemabuk karena konon hantu pemabuk dan pelacur sering mengganggu orang dengan shiluete yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;temaram dan sempoyongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entahlah saat itu aku pun demikian takut, tapi kalau dipikir sekarang masa mungkin waktu sadar alkohol demikian lama. atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan-jangan karena preman di stasiun sering menumpahkan arak ke rel untuk berbagi dengan hantu. entahlah. namun yang kuingat sampai sekarang mereka selalu saja mabuk di pinggir rel dengan wajah sangar dan menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meski kini aku tak lagi mengencingi stasiun aku masih ingat betul dengan mainan yang sering kami buat saat itu.&lt;br /&gt;sebentar.&lt;br /&gt;sebelum menjelaskan mainan kami. aku jelaskan terlebih dahulu ritus kami kencing.&lt;br /&gt;saat itu di tvri ada acara yang sangat aku senangi. acaranya bernama flora fauna. di acara itu sering kamu melihat anjing hutan yang mengencingi daerahnya. menurut sang narator itu adalah cara menguasai ruang dan memberi tanda pada anjing lain untuk tidak memasuki wilayahnya. maka kami pun sering mengencingi stasiun itu. ternyata memang berhasil mengencingi stasiun itu membuat masinis marah dan penjaga rel melempar kami dengan batu. karena kami memberik bau yang sangat kental di stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang kembali ke masalah mainan kami yang paling kreatif sedunia.&lt;br /&gt;saat itu, karena kami begitu miskin alias tidak mampu membeli mainan terpaksa kami membuat sendiri mainan kami. salah satu bahan mainan kami adalah paku. biasanya kami sering menggilas paku beton ukuran besar yang biasa kami beli atau curi dari orang yang membangun rumah. paku beton yang sudah tergilas itu biasa menjadi lempengan besi tipis yang sudah membentuk pisau. tinggalah kami mencari gerinda untuk menajamkan tiap sisi yang langsung berubah menjadi pisau. atau dengan usaha sedikit menjadi bekas sapu kami tinggal menyimpan besi di ujungnya dan jadilah tumbak yang bisa kami jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitulah kelakuan kami di sepanjang rel kereta.&lt;br /&gt;mungkin besok aku akan bercerita tentang mainan anak-anak kota yang tak berduit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-3979662908720066049?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/3979662908720066049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/diarel-diary-sisi-rel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3979662908720066049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3979662908720066049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/diarel-diary-sisi-rel.html' title='Diarel (Diary Sisi Rel)'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-747313261317028454</id><published>2009-04-27T01:49:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T02:04:54.389-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banten'/><title type='text'>YOGYAKARTA: BULAKSUMUR  –  MALIOBORO  –  GAMPINGAN (Meretas Jalan Ke “ Indonesia ”)</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis: Halim HD&lt;br /&gt;Domisili: Solo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;halimhade@yahoo.dom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kukirim catatan kecilku tentang kampung dan yogyakarta, agak panjang, 32 halaman 1,5 spasi, 67 karakter. mungjkin bisa untuk pengisi waktu senggang. sori kalou mengganggu. catatan ini akan dimuat dio majalah taman budaya yogyakarta, juni 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini di posting ulang di blog Diary Project 2009 atas seizin penulis.&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Memandang Yogyakarta Dari Kampung:&lt;/b&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tahun 1968 saya memasuki Yogyakarta . Suatu kota  yang selama hampir setahun menjadi bahan pembicaraan beberapa teman SMP, ketika kami memasuki kelas 3 SMPN III Serang, pada tahun 1967: mau ke mana setelah lulus. Saya tidak terlalu peduli. Bagi saya yang sebenarnya malas untuk sekolah, dan lebih senang mancing di tambak, sungai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau ke laut, adu jago, sesekali berjudi kiu-kiu dan rolet, mencuri buah-buahan terutama mangga di kebun orang di luar kota, maen layang-layang, di samping membantu ayah dan ibu saya. Membantu ayah saya, adalah kewajiban keluarga, kewajiban seorang anak untuk terlibat ke dalam kegiatan profesi orangtua, perdagangan. Dan yang terpenting bagi saya, dengan membantu itu saya mendapatkan uang. Dan dengan uang yang saya kumpulkan itu saya bisa jalan-jalan ke mana saja. Jalan-jalan ke luar kota adalah impian saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam bayangan dan impian saya, pergi ke Bandung dan Bogor, kedua kota besar yang selalu menjadi impian dan obrolan orang-orang Serang-Banten; sementara Jakarta, boleh dikatakan selalu saya kunjungi; setiap tahun minimal 3-4 kali saya ke ibukota - bergiliran dengan kakak saya sejak saya masih di Sekolah Rakyat (SR) Mardi Yuwana - mengantar beras atau bahan makanan dan uang untuk nenek. Jakarta membuat saya selalu antusias dengan bayangan melihat dunia hiburan dan naik trem dari Olimo (nama sebuah gedung di simpang tiga jalan Hayam Wuruk dengan jalan Mangga Besar), lalu ke Glodog, Kotta, Stasiun Beos, keliling ke Senen, Gunung Sahari, Pasar Baru, dan setelah puas kembali ke rumah nenek saya di Mangga Besar 3, (dulu namanya gang Areng, diganti jadi gang Rambutan dan terakhir Mangga Besar 3). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Walaupun suasana hati saya tidak berminat ke Yogyakarta, tapi hampir boleh dikatakan setiap minggu saya mendengar obrolan tentang Yogyakarta . Kota yang memiliki kraton, terkenal karena gudegnya, dianggap dan disebut “ kota  pelajar”. Dan ada sebuah nama yang juga selalu jadi bahan obrolan, “Affandi”, pelukis, yang konon bisa membuat lingkaran atau bulatan sama persis seperti kita membuatnya dari alat ukur yang disebut jangka. Affandi jadi buah bibir orang kampung di sebuah kota  kecil dan mitos yang tak lepas dari obrolan, yang sesungguhnya kami hanya mengetahui dari gambar-gambar di majalah atau kalender. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jika teman-teman saya bicara tentang Yogyakarta, saya mendengarkan tanpa minat yang besar, walaupun saya pernah pergi, mampir dari perjalanan ke Malang  bersama kakak saya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt; Malang  juga kota yang saya senangi karena cuaca dan banyak pepohonan yang besar-besar. Tapi aneh kenapa pula begitu banyak orang ingin ke Gunung Kawi berombongan, dan saya pernah ke sana  bersama rombongan kampung yang menyewa bis. Katanya di sana siapa saja bisa meminta “sesuatu”. Tapi,  Borobudur , menjadi favorit saya, juga beberapa candi lainnya seperti Prambanan. Dan aneh, kenapa orang senang gudeg, yang rasanya membuat saya cepat kenyang. Tapi, saya senang ayam goreng “mBok Berek” di Kalasan, yang saya cicipi dan makan dengan lahap ketika rombongan kami singgah sehabis dari Prambaban. Yaa, saya senang dengan candi-candi. Mungkin karena itu saya tertarik untuk ngobrol tentang Yogyakarta . &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tapi, yang membuat saya ke Yogyakarta sesungguhnya desakan kakak saya. Sebenarnya saya ingin melanjutkan SMA ke Jakarta . Jakarta  bagi saya kota  favorit. Pertama, karena nenek, ibu ayah memanjakan saya, selalu memberi uang. Dan Jakarta juga dekat dengan Serang, kota kelahiran saya, hanya sekitar 4 jam - waktu itu - dengan bis “Subur” atau “Damri”, atau naik &lt;i style=""&gt;Suberben&lt;/i&gt; lebih cepat lagi, dari Bungur atau Petekoan, di sekitar daerah Angke. Jadi, kalau kekurangan uang, dengan gampang saya bisa pulang kampung. Di samping itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya juga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengenal semua sopir bis dan suberben; dan mereka juga mengenal orangtua saya. Jadi kalau tidak ada uang untuk ongkos gampang saja, bayar di rumah. Saya senang Jakarta  juga karena banyak famili, kerabat kami, juga kenalan. Jadi saya bisa dolan ke mana saja. Yogyakarta ? Yaaah, saya tahu namanya dan banyak disebut sebagai “ kota  pelajar”, ini dan itu. Tapi, siapa yang saya kenal di kota itu, dan agak jauh juga. Jakarta , yaaa, Jakarta  menjadi impian saya untuk sekolah dan dolan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi, kakak saya tidak setuju, dan nampaknya dia membaca pikiran saya: Jakarta- Serang terlalu dekat. “Nanti terlalu sering pulang kampung”, tuding kakak saya. “Dan”, katanya, “ paling-paling di Jakarta cuma mau dolan, dan sekolahmu bisa terganggu”, tandasnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perdebatan itu berlangsung beberapa bulan, dan saya bersikukuh untuk ke Jakarta , kota impian semua warga di nusantara. Dan bagi saya, Jakarta untuk memuaskan mata saya, mata anak kampug di sebuah kota kecil yang ingin benar nonton &lt;i style=""&gt;pelem &lt;/i&gt;(film) yang kian bebas masuk dan beredar, setelah di jaman Bung Karno yang penuh dengan kontrol. Sementara teve hitam putih sudah kian membosankan; paling-paling film “Bonanza”; dan bioskop di kota kelahiran saya, “Merdeka” (nama semula “Royal” lalu diganti lagi menjadi “Tri Karya”) dan “Sampurna” (diganti menjadi “Trimurti” yang bersebelahan dengan bola sodok, biliar, dekat rumah dan toko rempah-rempah &lt;i style=""&gt;pakde &lt;/i&gt;saya di Gang Rendah) dan selalu mengulang film-film dari India . Saya memang masih senang nonton Charlie Chaplin, bintang favorit saya, dan sesekali nonton film nasional yang saya senangi seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Heboh” dan “Jenderal Kancil”, bintangnya Achmad Albar. Sementara itu di Jakarta  saya dengar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;banyak film dari Hong  Kong , film silat. Ingat, saya itu penggemar cerita silat Kho Ping Hoo dan terjemahan oleh Gan K.L., OKT, disamping komik silat roman Tiga Negeri seperti Sie Jin Kwie, Sie Teng San, Hwan Lee Hwa – kalau tidak salah goresan Siaw Tik kwie - dan komik serial Mahabhrata, Ramayana dan Sitti Gahara karangan R. A, Kosasih.. Tentu saja saya senang dengan buku sastera, tapi yang paling saya senangi biografi dan sejarah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan film yang ingin saya lihat adalah film-film Amerika! &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Amerika. Yaaa, Amerika dengan Elvis Presley yang selama ini hanya didengar lewat piringan hitam milik kakak saya, musiknya, Rock n Roll! Juga John Wayne. Sebenarnya di kota kelahiran saya juga film Amerika diputar. Tapi jarang, hanya sesekali. Dan menurut teman se kampung saya, Yan (Lie Hong Jun) yang berpengalaman di Kota (kami menyebut Jakarta dengan “Kota”, yang mungkin identik dengan “Kotta”, daerah stasiun Beos dan sekitarnya, pusat perkantoran dan perdagangan, dekat dengan Glodog) bisa memilih film apa saja, dan jangan khawatir batasan umur, bisa masuk asal bisa membayar penjaganya. Dan, di Jakarta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;filmnya pasti Cinemascope, layar lebar dan pasti full color. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kalau mendengar kata “cinemascope” dan “full color”, rasanya saya sudah seperti kena gegar, terguncang, dan adrenalin saya menjompak-jompak. Di kota kami jarang film berwarna dan layar lebar; hanya sesekali setelah tahun 1965.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt; Yogyakarta : Kiosk Koran dan Buku Loakan:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi Jakarta tinggal impian. Kakak saya dan ibu terutama, mendorong saya untuk ke Yogyakarta . Kata ibu saya, di Yogyakarta enak. Hidup murah dan orangnya ramah-ramah. Jadi, suatu sore ketika saya sedang main rolet telur di bawah pohon petai cina di lingkungan RT lain,&lt;i style=""&gt; ijen&lt;/i&gt; dengan bandar tua yang kepalanya botak ditutupi pecis, yang selalu gemetar melawan saya, tiba-tiba pundak saya digamit dan saya berpaling, kakak saya sudah berdiri di belakang saya, dan menyampaikan kabar dari ibu: “pulang, mamah menunggu”. Di teras rumah, ibu saya sedang ngobrol, dan lalu mengajak saya masuk ke dalam, dan di ruang tamu sebuah tas besar warna coklat telah tersedia dan nampak terisi penuh, dan sebuah map berisi ijasah, rapor, surat jalan, surat keterangan kelakuan baik. Ibu saya menyampaikan kepada saya, bahwa sore ini juga saya mesti ke Jakarta, lalu besoknya ke Yogyakarta untuk mendaftar di sebuah SMA. Sudah tersedia sebuah tiket bis malam &lt;i style=""&gt;Bumi Amqa&lt;/i&gt; (baca &lt;i style=""&gt;Bumi Amsya&lt;/i&gt;, perusahaan milik KKO, Korps Komando&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekarang marinir; sedangkan bis malama Pemuda Express dibawah naungan RPKAD, diganti jadi Kopassandha, sekarang Kopassus). Sore itu juga saya ke Jakarta dengan suberben (mungkin kata ini berasal dari “Sub(-)urban” sejenis kendaraan di Amerika yang sudah dimodifikasi untuk kendaraan umum; biasanya merek General Motor dan Chevrolet) dan bermalam di rumah nenek saya. Besoknya, menjelang makan siang teman lama saya, Hendra (Yo Tek Hoo),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;datang, juga dari Serang, ternyata dia juga mau ke Yogyakarta . Kami kongko tentang Yogyakarta yang lamat-lamat hanya sedikit saya ketahui ketika pergi ke Borobudur setahun lebih sebelumnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekitar jam 14.00 dengan becak kami ke kantor bis malam &lt;i style=""&gt;Bumi Amqa&lt;/i&gt; di pojokan antara jalan Gajah Mada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan jalan Alaydrus. Kantor bis malam ini tak jauh dari rumah nenek saya. Ternyata, beberapa teman lainnya juga sudah ada di kantor bis malam itu; kakaknya Hendra, Tek Hien, dan teman lama dari Cilegon, Seno (Syen Syen), juga teman saya se kampung tapi beda kelas sosial, Dodo (Ong Hian Jien), yang kakeknya punya rumah besar, kuno, megah di Senen dan di jalan Raden Saleh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Antara 13-14 jam perjalanan dari Jakarta , tibalah saya di Yogyakarta , di Selatan Tugu, jalan Pangeran Mangkubumi. Kantor bis malam berseberangan dengan kantor koran Kedaulatan Rakyat. Pagi itu, di kantor itu sudah menunggu 2 orang teman kakak saya, Thio Siong Hu dan Tan Tiong Han, menjemput, dan lalu kami naik becak menuju Bumijo Lor, melalui Gowongan Lor kearah Barat. Saya masuki rumah kontrakan teman-teman kakak saya dengan nomor &lt;i style=""&gt;DJ&lt;/i&gt;. 3/372-A yang nampak tua, kumuh, temaram, dan sumpek. &lt;i style=""&gt;DJ&lt;/i&gt;, singkatan dari &lt;i style=""&gt;Djetis&lt;/i&gt; dalam ejaan lama. Itulah wilayah di mana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya tinggal selama 20 bulan, lalu pindah ke rumah kost, dan lalu pindah lagi – ikut pemilik pengelola kost, Oom An - ke jalan Bumijo 14, depan DPU (Dinas Pekerjaan Umum) bersebelahan dengan percetakan Suyadi, dan terakhir pindah lagi mengikuti Oom An ke Penumping, sebelah Barat SD Kanisius.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di Bumijo yang membosankan itu, membuat saya lebih banyak pergi ke luar: nonton film, sehari bisa dua tiga kali, dan dolan ke syoping senter, dari kantor Pos Besar ke arah Timur, tempat buku loakan atau ke sekitar Purosani, dan Gondomanan seberang klenteng. Sebagai penggemar buku sejak di kampung, lingkungan itu membuat saya betah dan berusaha membeli satu dua buku setiap minggunya, terutama novel yang saya minati. Dalam setahun, diantara buku yang saya bawa dari kampung, terkumpul seratusan judul dan puluhan majalah kebudayaan dan sastera. Nah, bioskop dan lingkungan buku dan kiosk koran yang menghibur saya, diantara rasa bosan dengan jenis makanan, yang membuat saya harus mencari warung makan Padang  yang masih jarang di Yogyakarta . Kiosk koran dan kiosk buku loakan menjadi tempat saya bermain dan mencari bahan bacaan atas anjuran pak Rusdi, guru saya di SMA, yang memberitahu kepada saya, jika saya senang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cerpen dan kupasan sastera bacalah majalah Horison dan beberapa majalah lainnya yang pernah terbit seperti Sastera, Budaya, Indonesia, dan lalu saya mengenal juga Budaya Jaya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang paling menarik dari lingkungan kiosk koran dan buku loakan itu, saya selalu melihat beberapa sosok yang nampak rada kumal, ada juga yang agak lumayan rapi, dan yang paling jelas, rambutnya panjang, gondrong melintasi bahu. Saya pikir, mereka seniman atau sasterawan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan mereka juga sering saya lihat nongkrong di kiosk koran di sebuah taman sebelah Utara Hotel Garuda; kalau malam mereka nongkrong di bawah perpustakaan umum Yogyakarta , seberang Hotel Garuda. Rumah kontrakan yang kumuh dan teman-teman kakak saya lebih banyak main gitar dengan lagu-lagu pop, membuat saya bosan dan lebih banyak keluar malam, menyusuri malioboro dan mampir ke Seni Sono, melihat pameran lukisan atau pementasan drama, seperti yang dianjurkan oleh pak Rusdi, guru sastera dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Antropologi saya. Menonton drama bagi saya, menjadi hiburan dan sesuatu yang mengingatkan saya di kampung kami, Mangga Dua, yang selalu didatangi grup Lenong, Tanjidor dan Wayang Golek dari Tangerang, Bekasi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karawang dan Cikande. Saya tidak cukup mengerti dengan tontonan drama itu. Tapi, saya nonton saja. Dan itulah juga yang mengantarkan saya untuk sesekali nyelonong ke jalan Cikini, ke Taman Ismail Marzuki (TIM), jika saya pulang kampung mampir ke Jakarta dan diajak menginap di rumah kakek teman saya, Dodo dan Wiwiek (Ong Hian Wiek) yang kakeknya punya rumah di jalan Raden Saleh, Jakarta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dunia kesenian dan seniman menjadi tontonan dari jauh, dengan jarak sambil saya membayangkan, apa yang mereka kerjakan, dalam tanda tanya terus menerus. Tapi, satu hal yang menurut saya “merasa dekat” dengan mereka adalah dunia menulis. Mungkin karena saya senang membaca koran dan buku-buku sastera. Dan mulai dari situ, sesekali saya mencoba menulis “puisi” (diantara tanda petik!) yang saya kirimkan ke mading (majalah dinding) di sekolah saya. Dan saya agak bangga ketika “puisi” saya dua tiga kali dimuat di madding, dan sesekali menulis “cerpen”, yang juga dimuat. Ada keberanian untuk menulis, dan mulailah menulis terus. Tapi juga dengan penuh keraguan. Suasana hati seperti itu jika saya membaca puisi-puisi pada kumpulan buku puisi atau pada ruang puisi di koran atau majalah, rasanya “puisi” yang saya tulis seperti rengekan, cengeng, dangkal. Tapi, ada sesuatu yang membuat saya mulai dengan kontinyuitas yang rada ajeg, membuat catatan seperti yang dianjurkan oleh beberapa guru saya dan juga ayah saya, yang selalu bilang, “setiap orang bisa khilaf dan lupa, catat apa yang kamu pikirkan”. Saya mencatat apa saja setelah saya membaca buku, koran, majalah sebagai bagian dari kegiatan waktu luang, sama seperti saya mencatat yang saya lihat, saya tonton, misalnya sehabis menonton film atau drama, semuanya saya catat dalam sebuah buku yang saya bikin sendiri – sepertti yang dianjurkan oleh ayah saya - bundelan kertas buram ukuran kuarto yang saya potong dua dan saya jahit. Sejenis buku harian. Dan pekerjaan mencatat yang paling menarik adalah mencatat istilah-istilah yang saya dapatkan dari majalah, koran dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;buku yang saya anggap bisa digunakan, dipraktekan di depan teman-teman sekelas pada waktu ngobrol, khususnya untuk di kampung halaman, agar dianggap “anak sekolahan”, atau dalam korespondensi.Yaaa, sejenis snobisme dan ekshibisionis anak remaja. Dalam soal istilah-istilah itu, sesekali saya dapat sindiran dari orang-orang di kampung angkatan kakak saya yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menganggap saya sok. Tapi, saya nggak peduli. Soalnya, banyak juga yang kagum. Dan saya senang itu. Rupanya, sekolah ada gunanya juga, paling nggak untuk pamer istilah!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bulaksumur, Kampus Biru:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Waktu berlalu. Dan saya lulus dari SMA I Institut Indonesia , dan mendaftar ke beberapa perguruan tinggi: UGM, IKIP Sanata Dharma dan IKIP Negeri. Aneh bin ajaib, dan saya bingung karena saya lulus testing di beberapa fakultas dan jurusan. Padahal, saya lulus dari SMA dengan nilai pas-pasan, dan itupun lantaran ditolong oleh seorang-dua guru yang akrab, yang menganggap saya punya pengetahuan umum yang luas, sejarah yang bagus, sastera yang baik, antropologi yang bagus, dan jeblog di mata pelajaran lainnya. Saya agak bingung memilih. Akhirnya, saya memilih Fakultas Filsafat UGM, setelah berdebat dengan kakak saya yang - bukan hanya meminta – menyuruh saya masuk ke Fakultas Ekonomi atau Hukum. “Kalau kamu lulus dari Fakultas Hukum atau Ekonomi, gampang cari pekerjaan”, katanya. “Perusahaan tempat saya bekerja, siap menampung”, lanjutnya. Kakak saya bekerja di perusahaan pelayaran internasional; dia lulusan AMI (Akademi Maritim Indonesia) Jakarta, jurusan Administrasi Pelabuhan, generasi awal dari pendidikan sejenis dan dari akademi maritim pertama yang ada di Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tapi, saya sudah mengambil keputusan. Saya memilih Fakultas Filsafat mungkin karena pengaruh buku Mr. Pringgodigdo, “Dari Socrates Sampai Soekarno”, sebuah buku dengan sampul hijau pupus dan abu-abu, yang pertama kali saya baca ketika saya masih di Sekolah Rakyat Mardi Yuwana di Serang, dan saya bawa ke Yogyakarta . Dalam bayangan saya, waaah, kalau masuk ke Fakultas Filsafat, tentunya nanti saya bisa jadi “negarawan” atau “pemikir”. Bayangan seperti itu sebenarnya timbul tenggelam diantara keinginan untuk masuk ke salah satu fakultas di Universitas Indonesia (UI) di Jakarta , FISIP yang baru 1-2 tahun membuka jurusan “Kriminologi”. Saya pikir dengan naïf, jurusan ini menarik, dan saya membayangkan bisa menjadi detektip, seperti dalam novel serial detektip Sherlock Holmes atau Hercule Poirot karangan Agatha Christie koleksi kakak saya yang saya lahap ketika SR dan SMP. Dan tentu saja keinginan ke Jakarta selalu masih menggelitik saya. Dan kembali “proposal’ saya dengan asumsi bahwa saya bisa ikut membantu ayah pada waktu liburan ditolak oleh kakak saya; dan ibu saya menganjurkan untuk tetap di Yogyakarta . Karena kakak saya menolak “proposal” saya, maka saya menolak “instruksinya”, dan mengambil keputusan, yang sebelumnya saya minta restu kepada ibu saya. Dan ibu saya selalu bilang: “Soal sekolah urusan kamu, masa depan kamu. Saya cuma orang desa, dan cuma bisa kasih biaya”. Dana saya Tanya kepada ayah saya. Ayah saya balik bertanya, “menurtut mamahmu gimana?”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya sering merasa dalam hidup saya selalu diiringi oleh berkah terselubung: masuk ke Fakultas Filsafat UGM, dan saya berkenalan dengan beberapa orang yang membuat saya segan, hormat, dan juga perasaan minder: beberapa mahasiswa baru itu adalah penulis cerpen, penyair yang sering saya baca di koran Pelopor Yogya, diantaranya Kusuma Teja yang nama aslinya Lalu Kusumaningrat, dan satu lagi Emha Ainun Najib dalam daftar mahasiswa yang diterima, namun tidak mendaftar ulang. Kusumateja, berasal dari Lombok , &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menjadi teman akrab, dan ada beberapa senior saya yang juga selalu menulis. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Menjadi teman mereka, bagi saya, membuat saya betah dalam perbincangan tentang buku dan karya sastera. Lama kelamaan, kami membentuk kelompok penggemar sastera.; saling tukar pinjam buku dan juga membacakan karya sendiri, dan kegiatan sastera lainnya. Dan itu dimulai oleh Rizal Siregar, seorang aktivis pers kampus, yang memulai dengan pembacaan puisi di bawah 7 (tujuh) pohon cemara di halaman Selatan gedung pusat UGM. Rizal yang well organized dan dikepalanya banyak gagasan mendatangkan Darmanto Jt., Abdul Hadi WM, Umbu Landu Paranggi, Peter Hagul, Ashadi Siregar dan sejumlah penyair lainnya dan banyak orang-orang sastera, teater dan jurnalis datang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ke kampus UGM di Bulaksumur, serta ratusan mahasiswa. Hari itu, nampaknya menjadi hari penting di lingkungan UGM, dan 1-2 hari kemudian media lokal serta Jakarta  menulis kegiatan itu. Fakultas Filsafat jadi perbincangan. Dan dan beberapa bulan sebelumnya ketika POSMA (pekan orientasi studi mahasiswa) dengan tradisi karnaval keliling sebagian kota Yogyakarta , dan mahasiswa Fakultas Filsafat membuat “Keranda Demokrasi: Sudah Mati”. Lagi-lagi Rizal Siregar sebagai pencetus ide itu dibantu mahasiswa filsafat lainnya. Beberapa hari kemudian koran yang berpengaruh di Indonesia, Indonesia Raya yangb identik dengan Mochtar Lubis itu memuat berita dan fotonya, juga mingguan “Mahasiwa”, koran yang didirikan oleh Rachman Toleng, salah satu dedengkot PSI di Bandung memuat dua halaman penuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Fakultas Filsafat yang mahasiswanya hanya beberapa gelintir itu dalam tenggang waktu setahun-dua menjadi bahan pembicaraan dikalangan aktivis dan kesenian di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Jakarta, Semarang karena kegiatan sasteranya yang menurut koran Kedaulatan Rakyat dianggap “lebih sastera” ketimbang Fakultas Sastera karena kegiatan sastera yang setiap bulannya diadakan di bawah “Cemara Tujuh”. Di samping itu, hampir setiap dua minggu sekali ada diskusi yang diselenggarakan oleh “Forum Dialog” Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM dengan mengundang pembicara dosen-dosen kritis di lingkungan UGM, guru besar tamu seperti Prof. C. A. van Peursen, Prof. Verhaar, Prof. Jeuken, DR. Magnis Suseno – dengan tema kajian tentang filsafat, kebudayaan dan agama dalam konteks perkembangan masyarakat. Dan “Forum Dialog” yang didirikan oleh senior saya, mas Damarjati Supajar, mas Sunarto, bang Iwan Nussyirwan Jamal dan bang Husnan Aksa, lantaran kesibukan mereka menyerahkan kepada saya sebagai koordinator tim kerja penyelenggaraan forum itu. Fakultas Filsafat yang mahasiswanya hanya puluhan orang itu dan dengan berbagai media yang dibentuknya, seperti “Forum Dialog”, Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat (BPMFF) UGM, majalah “Universum”, dan jangan kaget, ada sekitar 4-5 mading dan bulletin!! Mading ini sebagai praktek menulis dan sejenis “dinding demokrasi”: siapa yang punya gagasan, dan tidak setuju&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan gagasan lainnya bisa membuat mading, dan juga buletin (lebih tepatnya selebaran atau pamflet yang setiap minggu beredar walaupun dalam tiras yang terbatas), dan fasilitasnya disediakan oleh BPMFF dan didukung oleh dekan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tentu saja kegiatan bukan hanya di Fakultas Filsafat. Fakultas Sastera misalnya walaupun hanya sesekali, menjadi wilayah pertemuan yang menarik, juga karena banyak yang cantik, sama seperti Fakultas Psikologi! Dolan dan diskusi di kedua fakultas itu membuat saya dan beberapa teman selalu bersemangat. Dan biasanya pertemuan, diskusi atau sekedar kongko menjadi wilayah pertukaran informasi, dan kami dari Fakultas Filsafat selalu ditanya oleh aktivis dari fakultas lain: “Apa lagi kegiatan kalian, jangan lupa mengundang kami”. Ada  sejenis rasa bangga, dan sekaligus menjadi tantangan bagi kami. Kegiatan sastera berjalan terus, dan melebar ke berbagai fakultas lainnya. Di antara itu, tentu saja Gelanggang Mahasiswa yang menjadi salah satu ruang yang enak untuk bertemu, diskusi dan menerima rekan-rekan mahasiswa dari kampus lainnya. Di samping itu, Gelanggang Mahasiswa juga menjadi markas Teater Gama. Di sini saya menikmati betul; menikmati sambil belajar bagaimana menonton melalui latihan mereka yang intensif, dan sekaligus sebagai upaya untuk memahami dunia teater dari pelaku utamanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang menarik dari Teater Gama ini adalah pembahasan naskah yang intensif sebelum latihan rutin dan pementasan. Dan sebuah lakon tidak cukup hanya dipanggungkan sekali, juga sebuah lakon tidak cukup hanya disutradarai oleh hanya seorang. Sebuah grup teater yang terbuka kepada gagasan, pendapat dan opini, dan di dalam proses selalu mengundang orang lain untuk melihat dan mendiskusikannya. Lakon “Aduh” Putu Wijaya misalnya, belasan kali dalam 3 tahun saya menyaksikannya di Yogyakarta, Semarang, Jakarta yang dipanggungkan oleh Teater Gama, dengan sutradara yang berbeda-beda: Suharyoso, Landung Rusyanto Simatupang, Abdul Wachid, dan tak bosan-bosannya lakon yang rasanya dekat dengan lingkungana kita, tentang orang-orang yang hanya bicara, bicara dan bicara sementara korban menjadi terlupakan. Dari Teater Gama, salah satu grup yang sampai sekarang yang memberikan inspirasi kepada saya di dalam memandang proses teater, di samping Bengkel Teater-nya Rendra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekretariat Dewan Mahasiswa (DEMA) UGM juga di Gelanggang Mahasiaswa. Saya sering ngobrol dengan mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin karena selalu bertemu dan mereka tahu saya punya kegiatan sastera, DEMA meminta saya membuat buku kumpulan puisi. Saya sodorkan proposal, dan mereka setuju untuk membuat kumpulan puisi penyair dari UGM dan luar-UGM. Jadilah Bulaksumur-Malioboro yang dieditori oleh Linus Suryadi Ag., Slamet Riyadi dan saya sendiri. Disain sampul oleh Sitti Adiyati (salah seorang perupa penanda tangan Black September, dan Gerakan Senirupa Baru  Indonesia ) dan dicetak offset di Gajah Mada University Press, yang membuat Pater Dick Hartoko memberi pujian: baru kali ini melihat buku puisi mahasiswa dicetak serius. Karena biasanya stensilan. Dan sekretaris majalah “Basis”, B Rahmanto, menulis resensi di majalahnya. Tahun berikutnya, kembali DEMA UGM meminta saya untuk menyelenggarakan penerbitan buku sastera, dan saya memilih salah seorang anggota PSK (Persada Studi Klub) yang kebetulan mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM, Bambang Indra Basuki (adiknya mas Kuntowijoyo), dan terbitlah “Perburuan” dengan disain sampul oleh Bonyong Munie Ardi, juga dari Gerakan Senirupa Baru Indonesia dan penanda tangan Black September. Tapi, ada gagasan saya yang tidak terwujud. Karena situasi di lingkungan DEMA UGM nampaknya buyar, dan sikon politik deras menggerus fokus rencana kerja sastera. Waktu itu saya menyusun proposal untuk menerbitkan kumpulan kritik sastera dan kesenian dari berbagai penulis, dan rektor UGM waktu itu, pak Sukaji Ranuwiharjo menyetujuinya, dan menyarankan sebagai konsultannnya pak Umar Kayam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di Gelanggang Mahasiswa juga saya mendapatkan pengalaman baik dalam pergaulan dengan sesama aktivis dan dunia kesenian dari lingkungan kampus UGM maupun kampus lainnya, yang pergaulannya demikian akrab, satu dengan lainnya saling mengenal, dan informasi demikian intensif melalui komunikasi personal. Sementara itu gagasan bisa ditimba melalui diskusi dan dialog. Dan karena kebutuhan untuk memahami situasi dan kondisi lingkungan yang lebih luas, sementara kondisi sosial politik semakin membuat rejim Orde Baru percaya diri untuk melakukan kontrol dan represi, pada sisi lainnya lembaga mahasiswa nampaknya setelah Malari 1974 masuk ke dalam sikap untuk kembali mengambil ancang-ancang dan menunggu momentum. Tapi DEMA UGM melempem. Untuk itu beberapa aktivis mengambil inisiatif membentuk “Kelompok Diskusi Sabtu” (KDS), seperti Hotman M. Siahaan, Toyibi, Saur Hutabarat, B. Aritonang,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Zulyaden, Riyadi Gunawan, Rizal Siregar, Amir Effendi Siregar, Slamet Riyadi, Achmad Luqman, Fanani, dan beberapa mahasiswa lainnya, yang setiap hari Sabtu jam 10.00-13.00 berkumpul dan mendiskusikan situasi dan kondisi sosial politik mutahir. Saya ditunjuk sebagai koordinator divisi kajian sosial budaya; sementara teman-teman lainnya pada divisi sosial ekonomi, sosial politik, sosial tehnologi. Setiap divisi berkaitan dengan kata kunci “sosial” dan beranggotakan sebanyak 4-5 orang. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;KDS dibentuk, karena para aktivis menganggap Dewan Mahasiswa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(DEMA) impoten, tidak lagi menampung aspirasi mahasiswa. Pada waktu itu ada kecurigaan di kalangan aktivis yang menganggap DEMA UGM mendapatkan tekanan dari militer, atau mereka memang “bermain mata” dengan serdadu.. KDS dengan inisiatif aktivis dan mendapat dukungan dari rektor UGM, memberikan kesempatan untuk dialog, diskusi, dan pada setiap acara rektorat KDS selalu diundang. Tapi yang paling menarik, kegiatan “mimbar bebas” di boulevard Bulaksumur: sebuah mimbar dengan sebuah megaphone yang sudah disediakan, siapa saja boleh ngomong apa saja. Dan dalam sekejap, biasanya ratusan, kadang mencapai seribu atau lebih mahasiswa berkumpul. Beberapa demonstrasi 1976-77-78 dimulai dari sini; berkumpulnya para mahasiswa dari berbagai kampus, seperti IAIN Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia dan IKIP Negeri bergabung dengan mahasiswa UGM. Tapi Gelanggang Mahasiswa juga bukan hanya markasnya Teater Gama, KDS dan sejumlah unit kegiatan mahasiswa, juga markasnya koran mahasiswa Gajah Mada, Gelora Mahasiswa (GEMA) yang dianggap kritis dan pernah tajuk rencananya “blok hitam” karena ada sensor atau tekanan dari luar kampus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Gelanggang Mahasiswa sudah pasti menjadi ruang bagi siapa saja yang punya gagasan untuk menyelenggarakan kegiatan. Di Gelanggang ini pula saya menyaksikan beberapa kali pameran senirupa – di samping pertunjukan teater, musik, pembacaan puisi, musikalisasi, woksyop sastera - dari rekan-rekan mahasiswa ASRI-Gampingan yang bekerjasama dengan mahasiswa Arsitektur. Dan beberapa kali pameran itu menambah jalinan yang kuat antara mahasiswa ASRI-Gampingan dengan UGM-Bulaksumur, diantara hubungan personal yang lebih dulu terjalin. Dan satu hal lagi yang juga perlu dicatat, seperti yang pernah dikerjakankan oleh pak Sudarso Sp, MA, dan saya pernah menyaksikannya, tentang pameran senirupa (tapi yang dominan senilukis) melalui kerjasama antara ASRI-Gampingan dengan perpustakaan UGM: setiap tahun dua kali pameran, masing-masing selama 5-6 bulan, lalu diganti dengan karya lainnya. Dan karya-karya itu dipajang di ruang-ruang baca perpustakaan UGM, gedung SEKIP IV, lantai 1-2.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Malioboro, Universitas Terbuka:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jalinan personal itulah yang selalu menciptakan beragam gagasan dan rancangan untuk membuat berbagai kegiatan di dalam maupun di luar kampus. Dan jalinan itu tentu saja bukan hanya di lingkungan Gelanggang Mahasiswa atau kampus UGM dan kampus-kampus lainnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jalinan itu juga dikarenakan ruang perkotaan yang masih enak untuk dilalui dengan jalan kaki dan sepeda, dan pada sisi lainnya populasi penghuni serta kendaraan bermotor di Yogyakarta yang tidak sepadat seperti sekarang ini, membuat siapa saja pada tahun 1970-an, merasa enak jika menyusuri jalan-jalan Yogyakarta yang masih dipenuhi oleh pepohonan asem, mahoni dan flamboyant. Dan salah satu ruas jalan yang paling menjadi bagian pembicaraan siapa saja jika bicara tentang Yogyakarta  adalah Malioboro. Akhirnya saya kesengsem dengan Malioboro setelah 1-2 tahun mukim di Yogyakarta , dan menjadi “warga Malioboro”, khususnya kehidupan malamnya. Saya memang senang dengan kehidupan malam, suasana yang membawa saya ke dalam berbagai kemungkinan, sambil mendengarkan obrolan berbagai warga dari lapisan dan profesi yang beragam. Di antara yang beragam itu, kalangan kesenian menjadi perhatian saya. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk mendengarkan pemikiran mereka membuat saya berusaha untuk menyapa mereka, dan satu persatu saya mengenal melalui “komunikasi rokok”, dan sesekali saya traktir di warung wedangan atau lesehan gudeg yang mulai saya senangi. Dalam keakraban dan tanpa beban tema, obrolan mengalir, dan perkenalan itu membawa saya ke dalam kegiatan sastera. Sebagai pembaca – itulah yang selalu saya sampaikan jika mereka bertanya, apakah saya menulis – dan mereka mulai mengajak saya ke dalam lingkaran diskusi PSK (Persada Studi Klub). Jaringan kehidupan personal kian meluas dan saya makin asyik, dan dari situ muncul keberanian untuk menulis artikel. Tapi tidak untuk media di Yogyakarta . Masih merasa minder. Jakarta ,  Bandung dan Surabaya yang saya jagjagi. Dan satu dua teman tahu saya menulis artikel, juga puisi (tanpa tanda petik!). Setelah agak lama mengenal mereka, barulah saya berani menulis di media Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat, Masa Kini, Berita nasional, Minggu Pagi dan sejumlah majalah dan koran kampus. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Saya menikmasti benar hubungan sosial itu, dan setiap minggu mengikuti kegiatan diskusi PSK dari satu rumah ke rumah lainnya; yang paling sering digunakan rumahnya Suwarno Pragolapati, seorang penyair-cerpenis seneior PSK yang sudah masuk tingkatan “Sabana”, di belakang pasar Sentul. Kadang-kadang pertemuan sesudah Isya di warung wedangan di dalam pasar Kranggan, yang tak jauh dari rumah kost saya di Bumijo, atau di halaman Seni Sono. Dari PSK jalinan sosial kian terbuka, dan satu dua mahasiswa senirupa saya kenal, dan saya mengunjungi kampus mereka di Gampingan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Malioboro, yaa, Malioboro, ruang publik yang menjadi “Universitas Terbuka” bagi kalangan seniman, akademisi, jurnalis atau siapa saja, adalah ruang yang terbuka untuk berbagai kemungkinan dalam proses berkenalan dan belajar dengan dan dari siapa saja, dari penulis sastera, perupa, musik serta teater, dan tentu saja menikmati kehidupan kaum perempuan yang ramah pada tengah malam terasa lebih nikmat. Lama kelamaan, saya merasa tidak betah tinggal di kamar pada malam hari sebelum saya menikmati malam di Malioboro; selalu saja ada sesuatu yang ingin saya dengar dan saya perbincangkan. Maka memilih ruang yang rentangnya sekitar satu kilo meter lebih itu untuk menemui seseorang, seperti saya memasuki “ruang kuliah” tanpa presensi dan tanpa SPP (Sumbangan Pembangunan Pendidikan); hanya dengan bekal uang ala kadarnya dan beberapa batang rokok, masuklah saya ke dalam arus pemikiran yang simpang siur. Dan saya, dengan sadar benar memasuki itu, dan berusaha untuk tidak sekedar mendengar tapi mendengarkan. Saya pikir, saya butuh benar fondasi, dan fondamen itu perlu saya gali melalui bahan bacaan, diskusi dan dialog, dan mencatat dan mencatat setelah saya mendengarkan apa saja yang menarik. Dan sebagian dari obrolan itu menjadi satu dua artikel dalam seminggu yang bisa saya kirim ke KR atau Berita Nasional atau Masa Kini yang kebetulan redakturnya saya kenal, mas Hajid Hamzah, Linus Suryadi Ag., dan Emha Ainun Najib, atau media lain di Jakarta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Mas Hajid Hamzah, redaktur KR - nama populer Kedaulatan Rakyat -&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;salah seorang yang selalu menanyakan kepada saya atau penulis lainnya yang baru menapak: apa yang sedang ditulis, dan kapan mau didkirim. Sosok yang selalu serius dan selalu memberikan dorongan, mendiskusikan setiap masalah kesenian, dan tentu saja rubrik senibudaya yang diasuhnya terbuka bagi penulis, yang merasa bangga ditawarkan kemungkinan untuk dimuat. Dan suatu hari, bersama Emha Ainun Najib, Rahini “Ray” Ridwan, Simon Hate dan Linus Suryadi Ag., kami berkunjung ke kantor mas Hajid. Kami ngobrol, dan membincangkan posisi dan kondisi Dewan Kesenian Yogyakarta (DKY) yang nampaknya “mati segan hidup tak mau”, yang sedang mengalami kekosongan kegiatan, dan terasa “ada sesuatu” yang tidak jelas. Dari perbincangan itu, lalu mas Hajid menyodorkan gagasan untuk polemik. “Bagaimana kalau kalian menulis dan saya akan beri ruang khusus”, katanya. Beberapa hari kemudian muncul tulisan Rahini, dan dibalas oleh Linus, dan lalu Emha, lalu saya dan bermunculan tulisan dari pak Bagong Kussudiarja, Bakdi Soemanto, dan beberapa dedengkot lainnya, yang selama 2-3 bulan “polemik rekayasa” mas Hajid itu menghiasai KR, dan disambut media lainnya, yang kesemuanya menggugat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;posisi dan kondisi DKY serta arah kehidupan kesenian dan kebudayaan di Yogyakarta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Hasil polemik ini berupa dialog terbuka dengan mengundang seniman dari berbagai disiplin, diantaranya datang pak Affandi, pak Sapto Hudoyo, mas Amri Yahya, Ibu Suliantoro Sulaiman, bang Ashadi Siregar, pak Bagong Kussudiarja, kritikus senirupa pak Sudarmaji dan duaratusan lebih seniman dan jurnalis memadati Seni Sono, diantaranya juga walikota Yogyakarta, Sujono AY. Dialog itu atas prakarsa Sanggarbambu. Konklusi yang diambil dari dialog itu, diantaranya membentuk tim untuk revitalisasi DKY. Saya diminta untuk masuk ke dalam DKY. Tapi saya mengelak, juga Emha. Saya pikir, saya lebih bebas dengan cara-cara “bergerilya” yang selama ini saya kerjakan, tanpa ikatan instsitusi. Dan saya masih nyantol-tol dan kesengsem dengan apa yang dikatakan oleh mas Willy dan bang Ashadi, “kantong-kantong kebudayaan” dan “subversif kebudayaan” membutuhklan praktek-praktek dalam bentuk komunitas alternatif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Berkaitan dengan Sanggarbambu itu saya punya cerita. Tahun 1974-75 Linus mengajak saya, Rahini dan Simon dolan ke Sanggarbambu yang memang sudah sering saya dengar, dan pernah sesekali dolan sekedar mampir ngombe. Kali ini Linus mengajak untuk bagaimana ikut membantu Sanggarbambu untuk menunjang kegiatan internalnya. Sanggarbambu sedang berusaha melakukan revitalisasi diri. Ketika saya sampai di sana ketemu mas Supono Pr. ngobrol sebentar, dan melihat Emha, Deded Er. Moerad, Untung Basuki dan beberapa remaja lainnya sedang merancang kegiatan musikalisasi puisi, juga di situ nongkrong Ebiet, santrinya Emha yang celingus mojok di sudut ruangan. Dan ada seorang remaja ramah dengan wajah campuran antara Korea-Jepang-Cina dan logatnya pesisir Utara, ternyata kelahiran Tegal, suka senyum, Dadang Christanto namanya, yang waktu itu nyantrik di Sanggarbambu, tapi lebih banyak tugasnya seperti “pak bon”, rajin bersih-bersih, dan sigap kalau diminta tolong untuk membeli rokok misalnya. Setelah latihan musikalisasi, kami mendiskusikan kemungkinan penerbitan majalah, dan beberapa agenda kegiatan rutin Sanggarbambu lainnya, seperti diskusi kesenian, latihan teater, latihan musikalisasi, dan tentu saja kegiatan senirupa yang menjadi kurikulum utama Sanggarbambu, dan silat Bangau Putih yang diberikan oleh mas Fajar Suharno dan Max Palar yang datang dua bulan sekali dari Bogor. Dan saya diminta untuk membantu penyelenggaraan diskusi mingguan sebagai usaha pengembangan wawasan cantrik Sanggarbambu, disamping ikut tim redaksi. Majalah terbit dengan stensilan dengan cara kerja keroyokan, dari redaksi sampai memutar mesin stensil, menjilid, memotong serta mengedarkannya. Modalnya sebuah mesin tik Brother milik Sanggarbambu dan kepunyaan Linus, ditambah beberapa rim kertas duplikator serta sekotak sheet. Bonyong ikut mengisi ilustrasi, dan beberapa perupa lainnya. Dan mendapatkan sambutan hangat. Berjalan sampai dengan 6 edisi. Setelah itu, mandek. Dari pertemuan rutin di Sanggarbambu itu, dan adanya polemik, ada lontaran gagasan, bagaimana kalau diselenggarakan dialog. Emha dan saya diminta sebagai moderator. Sound system kami dapat bantuan dari walikota, dan penganan-minuman dari mas Amrih Yahya, yang waktu itu sedang naik daun sebagai perupa batik, yang mondar mandir pameran ke Jakarta , Australia  dan tentu saja Timur Tengah dengan karyanya batik abstrak dan kaligrafi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kegiatan berjalan mulus, dan Sanggarbambu menjadi salah satu tempat ampiran bagi teman-teman, bukan hanya senirupa, tapi juga penyair, penulis, teater, musik dan jurnalis. Diskusi berjalan dengan intensitas yang bagus, dan bahan-bahan diambil dari artikel yang aktual di koran dan majalah. Kegiatan bukan hanya aktifitas internal Sanggarbambu saja, juga mengembangkan jaringan melalui kunjungan pertunjukan teater dan musikalisasi puisi ke Surabaya ,  Malang . Yang menarik, kegiatan itu juga nampaknya menggugah kalangan senior Sanggarbambu. Mas Danarto, mas Sunarto Pr dan beberapa dedengkot Sanggarbambu yang mukim di Jakarta dan kota-kota lainnya datang berkunjung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;setiap bulan silih berganti, dan kedatangan mereka dimanpaatkan untuk dialog dengan para cantrik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Yang menarik dari Sanggarbambu dalam konteks kehidupan kesenian di Yogyakarta , menurut saya, sebuah komunitas yang nampaknya berpijak dari sejarah sosial lingkungannya dengan pola padepokan-pesantren yang mendasarkan diri kepada pembentukan karakter cantriknya melalui proses pendidikan informal. Setiap cantrik mesti memahami lingkungan sosialnya, dan mesti pula piawai secara teknis. Dan gagasan dibentuk dari pengalaman keseharian. Dan Sanggarbambu dalam konteks sejarah sosial politik di Yogyakarta pada periode tahun 1950-an dan memasuki tahun 1960-an, diantara gemuruh pertumbuhan nasionalisme yang demikian kuat, ditambah pertarungan berbagai ideologi dengan latar belakang agama, sosialisme, komunisme dan nasionalisme, nampak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sanggarbambu berusaha “melepaskan diri” dari pengaruh itu. Saya membayangkan, pada dekade itu pastilah Sanggarbambu tenggelam diantara hiruk pikuk dan gemuruh aktifitas organisasi kebudayaan seperti Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, dekat dengan PKI), Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia, dekat dengan NU, Nahdlatul Ulama) dan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional, dekat dengan PNI). Dan ketenggelamannnya itu justeru membuat dirinya menelusupi relung-relung kehidupan yang membentuk karakter warga komunitasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Berbeda dengan PSK atau Persada (Persatuan Sasterawan Muda) dimana bang Umbu Landu Paranggi menjadi pengayom dan sesekali memberikan isyarat situasi dan kondisi sosial politik, Sanggarbambu nampaknya berusaha untuk menghindari. Diskusi kesenian di lingkungan Sanggarbambu yang lama kelamaan mau tidak mau mengaitkan masalah-masdalah sosial politik mutahir, nampaknya membuat beberapa senior yang ada di Jakarta  merasa gerah. Kabar itu saya dengar dari Emha, katanya, nanti Sanggarbambu jadi kelompok diskusi politik. Saya jadi rikuh juga. Sebagai penanggungjawab kegiatan diskusi, bagi saya jika kita bicara tentang kesenian, yaa mau nggak mau mesti bicara juga soal sejarah, masalah sosial, politik dan kondisi ekonomi. Kesenian bukan sesuatu yang lahir, tumbuh dan berkembang di dalam ruang kosong. Secara pribadi, saya berusahaa untuk memberikan materi yang sesuai dengan konteks jaman, makanya saya ambilkan artikel darin kora Kompas, jurnal Prisma, majalah kebudayaan Basis dan makalah-makalah yang saya anggap baik utnuk para cantrik Sanggarbambu. Kadang-kadang saya juga mengundang seseorang untuk bicara. Setahu saya, para cantriknya sendiri nggak merasa ada sesuatu yang kritis dan krisis. Semuanya berjalan lancar. Kecemasan dan kegerahan itu nampaknya, lagi-lagi saya dengar dari Emha dan Linus, ada kaitannya dengan posisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa senior Sanggarbambu yang punya proyek di Jakarta . Saya kurang tahu benar atau tidaknya. Yang jelas, dan agak pasti saya mengurangi kegiatan diskusi, dan saya menganjurkan kepada cantrik Sanggarbambu untuk mencari bahan sendiri dan belajar membentuk kelompok diskusi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Juga di Malioboro – bukan hanya di kampus - saya merasa perbincangan seputar situasi dan kondisi sosial politik dengan hangat saya dengar, dan bahkan lebih terasa aktual. Misalnya pertarungan antara Jenderal Sumitro “Gendut” yang didukung kelompok Bappenas dengan kelompok Ali Murtopo dengan CSIS menjelang Malari 1974. dan mereka nampak berusaha untuk meyakini kampus agar mahasiswa mendukung mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi yang terpenting lagi bukan hanya informasi tentang sosial politik yang terasa membuat pikiran jadi waswas. Lebih dari itu, Malioboro sebagai “Universitas Terbuka” membuat saya mendapatkan berbagai hal yang sangat inspiratif dari arus pemikiran yang dilontarkan misalnya oleh mas Willy (Rendra) tentang “Kantong-Kantong Kebudayaan” sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bentuk alternatif diantara arus formalisme dan institusionalisasi berbagai jenis kegiatan dan ritual politik yang diselenggarakan oleh rejim Orba. Seiring dengan apa yang dinyatakan dan secara konkrit dikerjakan oleh mas Willy bersama komunitas Bengkel Teater. Dan tulisan bang Ashadi Siregar di koran Sinar Harapan tentang “Perlunya Subversif Kebudayaan” membuat saya terus menerus berpikir dan mendapat isyarat, yang pada tahun-tahun berikutnya makin saya yakini sebagai bekal untuk menapak dan memetakan masalah di dalam berbagai kegiatan senibudaya. Ajaib rasanya, “Subversif”, kata itu memukau saya diantara penuh dengan tanda tanya dan juga waswas, dan dorongan sejenis heroisme: ada sesuatu yang perlu dikerjakan di luar kerangka institusi yang ada, dan ada sesuatu yang perlu terus menerus dirancanag dan dikerjakan dalam berbagai bentuk komunitas yang kecil-kecil dalam kapasitas yang dimiliki, tanpa ketergantungan, bersifat setara, dan menolak segala jenis tabu yang berbau tudingan politik dari rejim.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dari Malioboro sebagai “Universitas Terbuka” itu saya juga mengenal berbagai grup teater, seperti Stemka (Studi Teater Mahasiswa Katholik), Teater Alam, dan puluhan grup lainnya yang masing-masing berbasis di lingkungan kampung mereka. Tentu saja Bengkel Teater, yang memang identik dengan Yogyakarta . Dari pekenalan itulah saya berusaha untuk mengunjungi sanggar mereka, dan melihat latihannya. Dari kunjungan ke sanggar-sanggar teater itu lalu terpercik pikiran untuk membuat Arisan Teater. Gagasan ini terlontar ketika diskusi di SMA Santa Maria – B. Rahmanto mengajar di sana - &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan dilanjutkan ke sanggar Teater Alam, Azwar AN menampung gagasan itu, dan kami menunjuk Noor WA sebagai koordinator, dan Slamet Riyadi, Emha, Linus dan saya sebagai tim evaluasi. Dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jalanlah gagasan itu ke dalam bentuk di mana setiap minggu secara bergilir beberapa grup menyajikan apa yang menjadi prosesnya, dan pada sisi lain ada grup yang menjadi fasilitator. Menarik, proses kerja itu demikian sederhananya, tanpa proposal, semuanya didasarkan kepada saling kepercayaan, dan kampung demi kampung di mana sanggar atau kelompok teater memiliki basis sosialnya menyediakan diri. Intensitas pergaulan ini berjalan hampir setahun, dan media lokal mendukung dengan pemberitaan, dan yang menarik juga adalah banyak kalangan teater kampus juga ikut terlibat. Tapi anda jangan membayangkan bahwa pementasan itu sebagai sesuatu pemanggungan yang “utuh”, sajian yang “sudah jadi”. Semuanya dalam bentuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sajian pencarian. Jadi banyak sekali grup yang sedang proses menyajikan apa yang dikerjakan mereka, dan acara setelah 3-5 grup “manggung” diadakan diskusi. Pengalaman ini, bagi saya, memberikan inspirasi yang konkrit, di mana warga kampung terlibat, dan banyak warga kampung yang menyajikan teh, kopi, gorengan, rebusan dan sebagainya; dan ada yanag meminjami kursi, meja, tikar, tenda yang mereka miliki. Ibarat ikan dan laut, kegiatan itu menyatu padu ke dalam proses sosial kebudayaan melalui teater. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Berjalan hampir setahun, Arisan Teater yang setiap bulan di evaluasi, dan merancang kerja berikutnya. Pada suatu hari, saya mendengar bahwa Noor WA  “dicopot” oleh Azwar AN, dan digantikan oleh Merit Hindra tanpa kesepakatan jaringan kerja Arisan Teater. Saya datangi Noor WA , yang dengan emosional membeberkan, dan menyatakan diri mundur dari Arisan Teater. Dari obrolan sana  sini, lalu saya dapatkan informasi bahwa Azwar AN ingin “menggiring” Arisan Teater ke dalam Karsa (Koordinator Artis Safari) yang dekat dengan Golkar. Mendengar informasi itu, saya menulis di koran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bernas - &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;nama populer untuk Berita Nasional. Tulisan saya masuk, dan Azwar AN marah besar. Tapi banyak teman-teman setuju dan mendukung saya. Dari pertemuan berikutnya, saya dan teman-teman bersepakat untuk menolak Karsa, dan Arisan Teater tetap jalan, tanpa Azwar AN yang semula salah seorang inisiator, “dipecat” oleh teman-teman Arisan Teater. Seingat saya, rentetan kerja “Arisan Teater” mempunyai dampak positip berupa -&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kalau tidak salah namanya -&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Festival Teater Pelajar Yogyakarta yang disponsori oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dan dari situ lahirlah beberapa orang aktor handal, dan bermunculan demikian banyak grup teater, hampir-hampir setiap sekolah menengah lanjutan atas memiliki grup teater. Dan tentu saja, banyak orang teater yang terlibat di dalamnya sebagai pelatih atau sutradara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dari dunia menulis memasuki ruang teater sebagai partisipan dan organizer,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tapi sastera tetap saya ikuti secara intensif melalui kegiatan PSK yang diasuh oleh bang Umbu Landu Paranggi yang membuat saya terbuka, bahwa kegiatan sastera tidaklah sepenuhnya mesti berada di suatu ruangan resmi, dan justeru sastera mestilah memasuki ruang sosial yang longgar dan akrab, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di mana saja bisa diciptakan peristiwa sastera yang bersifat dialogis; dan sastera bukanlah sesuatu yang elitis. Ketika banyak orang berbicara tentang tiadanya apresiasi sastera di dalam masyarakat, PSK bersama bang Umbu Landu Paranggi menyusuri jalan dari kampung satu ke kampung lainnya, dari satu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kampus ke satu teras dan ruang tamu dalam acara pembacaan puisi, musikalisasi dan diskusi yang intim. Saya mendapatkan inspirasi: titik temu tema kerja antara sastera dan teater bersatu padu dalam ruang social yang memang mesti dibentuk oleh pelaku. Pengalaman ini memberikan inspirasi kepada saya pada langkah berikutnya dalam praktek-praktek kebudayaan selama bertahun-tahun, sampai saya pindah-pulang ke Banten dan lalu ke Solo.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Jika kita memasuki ruang “Universitas Terbuka” Malioboro, tentu bagi siapa saja yang mengenal dunia kesenian akan juga memasuki salah satu “Fakultasnya”, yakni Seni Sono, sebuah gedung tua yang masih rapijali, dan di situ pula banyak diselenggarakan pameran senirupa dan pertunjukan teater, di samping sesekali diskusi kesenian. Melalui “Fakultas” Seni Sono itulah saya banyak mengenal perupa, khususnya perupa muda, seperti Bonyong Munni Ardie, FX. Harsono, Narsen Afatara, Untung Murdiyanto, Hardi, Sitti Adiyati, Ronald Manulang, Haris Purnomo, Dede Eri Supria, Gendut Riyanto dan puluhan lainnya, yang sedang gelisah dalam pencarian jatidiri melalui karya mereka. Merekalah dan teman-temannya dari ITB Bandung yang masuk ke dalam Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) Indonesia dan PIPA (Seni Rupa Kepribadian Apa) yang menguncang jagat senirupa Indonesia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Saya merasa bahwa salah satu apresiasi saya terhadap masalah sosial, politik dan kebudayaan umumnya, rasanya sangat dibantu oleh dan melalui karya-karya perupa dan obrolan di “Universitas Terbuka” Malioboro dibandingkan dengan lingkungan kampus. Masalah-masalah aktual yang dinyatakan oleh kalangan perupa kerapkali membuat saya ter/di-guncang oleh sajian bentuk atau karya, yang membuat saya bukan hanya ketawa ngakak seperti karya Gendut Riyanto, “Kamar Seorang Remaja”, Ronald Manulang yang membuat “Kursi Miring”, juga permenungan yang membuat saya gelisah dan dicekam oleh sejumlah tanda tanya dan gugatan. Karya Haris Purnomo dengan bayi-bayi yang berserakan membuat saya jijik, takut dan prihatin. Sementara Bonyong yang karyanya monumental dengan mesin tik di atas sebuah meja yang diguyur cat hijau, rasanya membuat saya seperti dalam bayang-bayang – menurut tafsiran saya – tentang dunia jurnalisme, tulis-menulis dan mimbar akademis dalam cengkeraman militer. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dan Haris Purnomo dengan gerakan Seni Rupa Kepribadian Apa yang bagaikan suatu orkestrasi sosial-politik ditengah jalan, suatu pertunjukan yang bukan main dahsyaatnya. Baru kali itu saya menyaksikan senirupa berada di tengah jalan, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang biasanya saya merasa senirupa berada di dalam gedung, museum, galeri dan ruang tamu. Dunia visual yang kian kuat di dalam ruang perkotaan yang seiring dengan laju pembangunan ekonomi Repelita tahap kedua. Dunia disain lambat tapi pasti menjadi suatu profesi dan wilayah yang penuh dengan kemungkinan pembentukan citra yang dimanfaatkan oleh kekuatan politik ekonomi industri untuk menggiring warga atau siapa saja ke dalam berbagai pola konsumsi. Pada sisi lainnya sebagai daya ungkap citra politik melalui iklahn politis-ideologis pembangunan tentang sosok Suharto. Yang menarik, gugatan itu juga datang dari para perupa yang dengan bernas dalam gagasan serta perwujudan yang membuat saya memandang realitas keseharian menjadi tidak tunggal,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beragam perspektif, dan sangat impresif. Sisi lainnya yang saya alami dan hal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu menjebol dan membubarkan dinding pikiran saya tentang posisi senirupa: bukan sesuatu yang “adiluhung”, dan senirupa bukan hanya senilukis. De-sakralsiasi menjadi sangat menarik, seperti juga saya mendapatkan makna bahwa semua proses pembangunan dan kebudayaan bukanlah sesuatu yang tidak bisa digugat dan tidak hanya satu jalan. Ada beragam perspektif, pandangan yang bisa digunakan untuk meneropong dan menguak realitas dan wujud kebudayaan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan hal itu bisa dijasdikan sebagai bekal untuk memandang arus yang muncul dari “Barat” yang dalam beberapa tahun terakhir itu tentang “The End of Ideology”, dan di lingkungan Indonesia sedang menancapkan ideologi-tunggal yang dikendalikan oleh penguasa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Bayang-bayang pemahaman saya tentang senirupa yang semula dihantarkan senilukis Affandi, Basuki Abdullah, Dullah, Sudarso, Hendra Gunawan, Sujoyono melalui kalender dan majalah, kini berganti kepada perupa muda yang sedang menggelegak. Mungkin hal ini karena rasa sejamanv dan berbagai gugatana yang dil;ontarkan oleh para perupa yang sangat inspiratif; suatu jaman ketika rejim Orba memasuki periode kedua rencana politik pembangunannya yang terus menerus dengan yakin dan represif menggelontorkan berbagai tekanan atas nama stabilitas nasional, sementara kue pembangunan yang diharapkan bisa menciptakan kemakmuran, tak kunjung ter/di-bagi dalam prinsip keadilan sosial. Hanya segelintir orang saja yang menikmatinya. Kongkalikong antara konglomerat yang baru muncul dengan korporasi militer dan MNC (Multi National Corporation) berjalan dengan intensif, dan kota  berubah ke dalam berbagai bentuk tatanan yang lebih gemebyar akibat rangsangan ekonomi: iklan mulai bertebaran di mana-mana, seiring juga dengan slogan, iklan politik-ideologis pembangunan yanag menyatakan dirinya sukses, berhasil. Namun, semakin dinyatakan “sukses”, semakin banyak orang ragu kepada keberhasilan pembangunan. Sementara di pedesaan dengan massa  mengambang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(floating mass) – partai dan organaisasi sosial di luar pemerintah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak boleh ada di pedesaan, harus dan hanya di tingkat kecamatan atau khususnya perkotaan - yang berjalan memasuki sepuluh tahun dibanjiri oleh teve, hiburan kota , &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kontrol militer terhadap kegiatan sosial dan indoktrinasi politik dan ekonomi: konsumerisme ekonomi dan politik kian intensif memasuki wilayah akar kebudayaan nusantara. Semua ruang sosial dibentuk melalui indoktrinasi politik ekonomi, life style, gaya hidup dan pola konsumtif sebagai bagian dari pengalihan arus politik dan ideologis, agar warga lebih mementingkan tubuh dan selera perut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Perbincangan atau tepatnya gugatan terhadap kondisi itu juga banyak saya dengar di lingkungan Bengkel Teater. Ruang tamu rumah mas Willy menjadi ruang kuliah dan diskusi yang sangat menarik dengan kedatangan berbagai figur inspiratif, dari Rama Mangunwijaya, arsitek mas Robby Sularto, pak Umar Kayam, Arief Budiman dan puluhan lainnya yang setiap bulan dua kali diskusi yang membuat kepala saya penuh dengan informasi dan gagasan yang simpang siur, yang perlu saya catat, endapkan, dan mencari kemungkinan untuk peluang praktek secara mikro. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Begitu banyak masalah diantara gegap gempita pembangunan dan rasanya saya terguncang-guncang, terombang ambing seperti perahu yang terombang ambing oleh gelombang jaman, dan rasanya seperti menapakan kaki tapi mengambang. Saya berusaha bertanya-tanya ke dalam diri, kemana arah, dan apa yang akan saya kerjakan berikutnya. Tak ada jawaban yang pasti, seperti suatu “penyakit” yang tidak bisa saya diagnosa dan juga tak cukup jelas menduga apa “penyakit” yang saya derita, dan ada apa di dalam kepala saya, tubuh saya. Tak ada jawaban yang tuntas. Sementara itu desakan akibat suasana, tepatnya jaman yang begitu cepat melintas seperti juga informasi intrik politik yang membuat perut saya mual yang setiap hari saya dengar diberbagai ruang sosial, dan lagi-lagi jaman yang deras menderu membuat saya seperti oleng gemoleng, &lt;i style=""&gt;mendhem kahanan&lt;/i&gt;. Dan ruang kuliah makin membosankan karena hanya mencatat apa yang dikatakan oleh dosen, dan hanya seorang-dua dosen yang bisa diskusi dan dialog, sementara banyak dosen muda yang justeru angkuh hanya untuk menutupi ketidakpercayaan dirinya, dan secara formal juga nilai kuliah saya tidak terlalu baik; saya bukan mahasiswa yang lumayan baik untuk sebuah perkuliahan yang membutuhkan jawaban yang tepat atau persis seperti yang dikatakan oleh seorang dosen.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dan suatu hari, setelah beberapa hari tak pulang ke tempat kost, saya ngendon di “Sanggarbambu” dengan beberapa teman menyiapkan majalah, dan sebelum rampung kami sempat menghadiri – kalau tidak salah malam Minggu awal September 1977 - pembukaan pameran PIPA yang mengguncangkan itu, dan malam Senin pameran itu ditutup oleh polisi dengan alasan “pornografi” pada karya Gendut Riyanto yang menggambarkan ruang remaja dan di dalam laci mejanya terdapat sebuah majalah “porno”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Senin sore, ketika saya sedang mengetik di “Sanggarbambu” seorang teman kost, Andri, mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM, muncul dari lorong gang dengan Honda CB 100 warna merah, nongol di depan “Sanggarbambu”, dan mendekat kepada saya berbisik: “Oom An minta saya pulang ke tempat kost”. Saya agak kaget. Andri tak menjelaskan lebih lanjut pesan Oom An. Saya punya feeling jelek. Dan oom An sudah menunggu di depan kost, dan ketika saya turun dari boncengan motor, Oom An menggandeng, merangkul saya, mengajak ke dalam dan memberitahu, ibu saya meninggal beberapa hari yang lalu. Adik saya berusaha mencari ke fakultas, Gelanggang Mahasiswa, ke rumah mas Don, kakaknya Linus di jalan Sangaji, selain tempat kost, tapi tak bertemu. Adik saya meninggalkan surat , uang dan telegram yang sudah dibacanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sore itu juga saya di antar Eddy dan Nuryanto, ke stasiun mencari tiket. Dapat tiket kereta BIMA (Biru Malam), kembali ke tempat kost, menyiapkan pakaian ala kadarnya. Dan minta tolong Andri untuk menyampaikan kabar duka dan kepulangan saya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ke Serang kepada teman-teman di “Sanggarbambu”. Sekitar jam 20.00 di stasiun Emha dan mas Supono Pr sudah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menunggu, menemani saya di stasiun Tugu dan mengantar ke kereta BIMA. Tapi, kondektur BIMA yang rapijali dengan jas, dasi dan celana gelap, menolak saya sebelum kaki menapak tangga gerbong kereta yang nampak mewah itu, walaupun saya punya tiket, karena saya tidak pakai kemeja, sepatu, dan saya cuma pakai celana blue jin belel yang lusuh dan sebuah ransel kumal. Dengan ramah kondektur bilang, uang tiket akan dikembalikan, dan seorang staf perempuan kereta BIMA mengantar saya untuk mengambil uang. Tak ada pilihan lain, tak ada kereta lainnya menuju ke Jakarta , semuanya sudah berangkat, dan pilihan ke Bandung . Dari Bandung, Selasa pagi saya dengan bis “Merdeka”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke Serang, kota kelahiran saya, dan di kampung nampak terasa duka, para tetangga menyambut saya, mengantar saya ke rumah kami yang sudah penuh sesak oleh kerabat dari berbagai kota dan tetangga. Tak sempat saya melihat wajah ibu saya. Upacara penutupan peti jenazah sudah berlangsung sehari sebelumnya. Ayah saya menggamit, mengajak ke lantai dua. Bertanya kepada saya, “apakah saya mau mengikuti tata cara, adat? Ini hanya untuk ibumu”, katanya. Saya manggut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Post Scriptum:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Seingat saya tentang kampung kelahiran dan jika saya mengenangnya, rasanya saya harus beryukur, bahwa saya dilahirkan di sebuah kampung yang membuat saya bisa berpikir dengan cara yang lebih longgar – dan orangtua yang membebaskan saya untuk “meyakini” apa saja asal dipikir matang-matang - di antara berbagai upacara adat yang beragam serta “ke-tidak-taklid-an” sosial, moral dan kepercayaan yang saling berkelindan dengan toleransi, gotong royong yang tak pernah surut, serta berbagai hal. Diantara itu semuanya, satu cap yang ditabalkan kepada kami: orang-orang luar menyebut kampung kami “Mangga Dua kalinya kecil tapi banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;buayanya”. Setiap orang, apalagi yang tidak tinggal di kampung Mangga Dua tentu saja punya perspektif sendiri. Nenek saya yang tinggal di Jakarta sejak pos revolusi – sekitar 1948-49 - &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sudah lama tahu, katanya, “sejak sebelum jaman Jepang kampung Mangga Dua memang punya julukan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;banyak buayanya”. Dan warga kampung, jika ada orang luar yang menyebut itu, hanya ketawa ketiwi santai, senyum simpul dan bahkan cenderung merasa bangga. Itulah yang mereka miliki di antara tumpukan bon hutang, kreditan harian yang bertahun-tahun baru lunas, apalagi yang mesti dibanggakan, kecuali stempel sosial yang sementara kelompok sosial lain khususnya elite kota menganggap negatif, bagi penghuni kampung yang hidup dengan cara mereka, merupakan suatu legitimasi kehadiran mereka sebagai komunitas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dan saya, hidup diantara simpang siur tatanan nilai itu diantara anggota masyarakat yang beragam yang datang dari berbagai daerah yang membawa latar belakang sosial budaya dan bertemu serta bermukim di suatu wilayah tengah: antara stasiun, terminal bis dan pasar kota  Serang; wilayah pelintasan yang mempertemukan berbagai latar belakang kehidupan. Sebuah kampung yang dulunya lebih tepat dianggap “kebon luas”.yang dilintasi sebuah sungai kecil yang digunakan untuk membuang limbah rumah tangga, hajat besar, tapi juga tempat anak-anak bermain dan mancing lele dan belut. Dan satu persatu rumah hunian yang semula semi permanen menjadi kian baik, dan beberapa industri makanan yang dikelola beberapa keluarga; beberapa keluarga lainnya dikenal sebagai tukang kayu yang piawai, bengkel sepeda yang kondang, dan teknisi motor dan mobil yang waktu itu masih mewah. Dan, ini salah satu yang saya anggap penting: banyak senimannya, yaaa, seniman musik, jagoan kroncong, itulah salah satu kenapa kampung kami disebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tempat “buaya” berkumpul karena para “buaya kroncong” dari berbagai daerah, seperti Tangerang, Bekasi, Karawang dan bahkan Jakarta jika mau ketemu dengan rekan sesama profesinya, mereka datang ke Mangga Dua. Dan mereka, bukan hanya piawai dalam kroncong, juga &lt;i style=""&gt;Gambang Kromong&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;Cokek&lt;/i&gt;, dan semuanya berarti dekat dengan &lt;i style=""&gt;Lenong&lt;/i&gt;. Juga grup band, setelah tahun 1960-an, ketika “Koes Bersaudara” kondang, dan anak-anak muda memainkan gitar dengan senandung lagu-lagu pop jaman itu, seiring sebelumnya Rock n Roll dengan Elvis Presley yang juga membawa life style dalam bentuk celana &lt;i style=""&gt;jengki&lt;/i&gt; (yankee), rambut dan cara jalan serta senyum manis dan sepatu putih kulit sintetis dengan merek (bunyinya) &lt;i style=""&gt;Embisi, &lt;/i&gt;yang berujung lancip dan berhak agak tinggi.. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dalam soal pandang memandang wilayah budaya lain, orang kampung selalu punya lenso lidah yang lincah, entah dari mana kata-kata bisa meluncur menjadi semacam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;senjata bagi mereka untuk menyatakan diri, bahwa mereka “lebih baik” dari orang lain; atau sebagai “counter”. Itu yang penting bagi mereka diantara tekanan hidup yang pas-pasan dan sekaligus siaga diri untuk jor-joran jika rejeki nompok datang. Gaya hidup dengan cara menunjukan bahwa dirinya juga bisa dan mampu dilakukan oleh warga kampung, sama seperti mereka juga bisa menilai orang lain dengan tudingan “orang Jawa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;itu nggak taat, kurang Islam”, dan “pelit dan jorok”. “Perempuannya kalau kencing berdiri. Lihat saja itu yang jual jamu, kencing nggak cebok”, kata mereka. “Orang Batak itu suka makan orang”. “Hat-hati, mereka preman, apalagi dari Medan ”. “Orang Dayak suka motong kepala orang”, kata tetangga. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Aah, Cina Medan, pasti tukang cipoa!” Maksudnya tukang tipu. “Cina Medan itu spekulan, smokelan (penyelundup) barang-barang gelap”. “Dasar Arab lu!” itu umpatan untuk mereka yang kikir, dan memandang orang hanya dari kepentingannya saja. “Oo, perempuan Kuntien ( Pontianak ) yaa”. Ini sinisme untuk perempuan Cina dari Kalimantan Barat yang dianggap gampangan. Bisa dipanggil! “Hati-hati, Bugis tuuh, ditikem lu nanti”. Orang Serang-Banten tidak bisa membedakan mana Bugis, Makassar atau Mandar. Semua yang datang dari Sulawesi Selatan dianggap Bugis. “Betingkah lu, kayak Manado !” Artinya orang yang suka perlente tapi rumahnya berantakan. Di mata orang Serang, khususnya kampung kami, orang Manado itu cuma bisa pesta,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dansa dansi, berpakaian necis, walaupun di rumah nggak ada beras! “Sapa tuuh, dari Karawang atau Indramayu?” Tanya seorang anak muda kepada temannya yang membawa seorang perempuan muda. Itu artinya, “apa bisa dipake”. Di benak laki-laki di kampung kami, Karawang dan Indramayu adalah wilayah dimana seks bisa didapat dengan gampang, dibeli dengan murah meriah. Konstruksi sosial sejenis ini dan lainnya bukan ciptaan mereka. Mereka, atau tepatnya kami, juga dapat dari wilayah lain yang kami comot seperti pemulung, dan di kampung kami kumpulkan dan daur ulang melalui obrolan waktu senggang. Sesungguhnyalah warga kampung Mangga Dua adalah “pemulung budaya” yang dengan “kreatif” mengolah kembali apa yang kami comot dari sana sini dan menjadikan bahan bagi kami untuk “melihat” orang lain, sekaligus memperolok diri sendiri. Itulah makanya sinisme itu lebih banyak ditujukan kepada tetangga sendiri sambil santai dan &lt;i style=""&gt;ngakak bareng.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Streotipe memang selalu ada dan muncul dari lingkungan warga dan komunitas mana saja. Di kampung tempat kelahiran saya yang mempunyai perbendaharaan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lumayan kaya untuk menuding dan sekaligus memperolok orang lain berdasarkan sinisme etnis atau ras, betapapun “nasionalisme Bung Karno” sering jadi bahan pembicaraan di lingkungan kami. Tapi “nasionalisme” yang identik dengan Bung Karno itu tak ada kaitannya dengan apa yang ada diujung lidah yang perlu dan bisa disemburkan sebagai bagian dari hidup keseharian di lingkungann komunitas yang longgar dalam tatanan nilainya. “Nasionalisme Bung Karno” hanya menjadi sejenis stempel bagi warga kampung yang memang butuh benar sosok yang dibayangkan (imagined) sebagai bahan obrolan waktu ronda atau nongkrong di warung; sekedar diujung lidah, tanpa pengaruh apapun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Warga kampung Mangga Dua memang pengagum BK, begitu biasa mereka menyingkat nama Bung Karno yang dianggap “sakti”. “BK kan nggak mempan ditembak”, kata mereka mengenang peristiwa Cikini, Jakarta, dan dengan sejumlah tempelan “mitos”, “legenda” dan &lt;i style=""&gt;cem-macem&lt;/i&gt; pengkultusan lainnya. Dalam soal politik warga kampung memang tidak kalah dibandingkan dengan “orang sekolahan” atau warga komunitas lain yang selalu mengejek kami sebagai “warga kampung yang banyak buayanya”; kami &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;punya perspektif dan opini tersendiri, mengikuti perkembangan jaman melalui Koran dan radio, dan yang terpenting dari warung tempat nongkrong, dan dari situ kami &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;membangun citra diri sebagai warga. Dan juga, satu hal yang sering membuat kami disegani, karena banyak dedengkot politisi lokal sering datang ke kampung kami, seperti pak Antawijaya, muridnya Tan Malaka, punya pengikut, dan organisasi sosial Bapperki keluar masuk ke wilayah kami. Partai Murba dan PARI yang didirikan oleh Tan Malaka cabang Serang-Banten sekretariatnya di kampung kami. Dan ditambah lagi beberapa sosok yang dianggap kiyai-jawara atau jawara-kiyai kondang suka nongkrong di kampung kelahiran saya. Naah, soal ini yang sering membuat kampung kami disegani lantaran kunjungan dedengkot politisi dan kiyai-jawara atau sebaliknya yang hilir mudik. Dan banyak di antara mereka yang ngendon di kampung seberang sungai; punya isteri kedua. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Walaupun rata-rata warga kampung Mangga Dua bukan atau tidak masuk ke dalam kelas menengah atas, tapi seleranya bolehlah; minimal selera yang dibayangkan dan dicoba jika ada rejeki nomplok dan kerap dilampiaskan secara jor-joran sebagai usaha untuk mendongkrak citra dengan cara menikmati makanan dan sikap ekshibisionisme: sebut saja restoran mana yang kondang di Kotta, Glodog, Prinsen Park (Taman Sari), Pasar Baru, Senen, dan bahkan yang namanya “nasi goreng HI” (Hotel Indonesia) – semuanya di Jakarta - &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mereka rambah, seperti mereka juga menapak lantai demi lantai dan mencoba eskalator, tangga berjalan yang membuat kami senang dan bingung (karena pakai sandal jepit!) di “Sarinah” yang waktu itu menjadi idaman siapa saja kalau ke ibukota. Dan kami menambah perbendaharaan jtempat di Jakarta : jalan Thamrin!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Untuk mendongkrak citra sosial banyak cara: tanyakan kepada semua warga di seluruh kabupaten (sekarang propinsi) Banten di mana tempat nenggak alkohol yang paling bebas dan berkualitas. Semua orang akan menunjuk kampung Mangga Dua. Bukan karena di kampung itu ada pabrik minuman alkohol. Tapi, jenis dan kualitas apapun selalu beredar, datang dari pelabuhan, bisa Tanjung Priok, bisa juga dari Merak, dan bukan tidak mungkin dari Lampung, barang &lt;i style=""&gt;smokelan &lt;/i&gt;dari Singapura, seperti “Bols”, “Black &amp;amp; White”, “Johny Walker” dan belasan merek lainnya. Tentu saja bikinan lokal, seperti cap “Nori”, “Anoman”, dan sebagainya menjadi bagian keseharian. Ingat, itu semuanya di Mangga Dua Dalam! Yaaa, Mangga Dua Dalam!! Dan Mangga Dua Luar, adalah barisan rumah dan toko, kelas sosial yang lebih tinggi, yang selalu mencibir dengana sinisme sosial tetangganya yang hanya selemparan batu., hanya di batasi jalan Mangga Dua dengan deretan pepohonan Kedondong Lanang – yang kami ambil ghetahnya untuk lem - &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan pepohonan Mangga, yang dianggap cuma bisa bikin ribut dan foya-foya! Itulah juga kenapa kampung Mangga Dua identik dengan “buaya”: tukang minum, atau wilayah minum yang paling bebas di seluruh wilayah Banten yang kondang sebagai wilayah Islam. Dan jika bicara tentang Islam tentu orang bicara juga tentang puasa. Dan bulan puasa, jangan coba-coba makan di jalan di Serang atau seluruh wilayah Banten waktu itu. Kepala bisa &lt;i style=""&gt;bonyok &lt;/i&gt;dikeroyok! Minimal ditempeleng. Tapi, hanya di Mangga Dua Dalam yang bisa bebas. Dan pada bulan puasa jadilah Mangga Dua Dalam sebagai wilayah &lt;i style=""&gt;pasar ceplak&lt;/i&gt;, dengan ratusan warung yang datang dari mana saja memadati lorong-lorong dan ada juga rumah warga yang mendadak jadi rumah makan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yaaa, &lt;i style=""&gt;pasar ceplak&lt;/i&gt;, sebuah pasar yang hanya setahun sekali, dan nama pasar itu mungkin dari bunyi lidah ketika mengunyah, yang menjadi favorit bagi mereka yang kurang taat, tapi sekaligus juga sebagai persiapan tambahan ekonomi untuk lebaran bagi warga dan pedagang makanan. Dan pada bulan puasa juga perjudian nampak di hamper semua lahan terbuka, namun dalam kelas yanag lebih rendah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tidak lengkap rasanya jika bicara tentang sebutan kampung kami tanpa menyebut dunia perjudian. Mangga Dua jadi sejenis “enclave” khusus di daerah Banten dalam soal minum dan perjudian dari jenis permainan kartu &lt;i style=""&gt;ceki&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;cekiyan, kiu-kiu, domino&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;portiwan (forty one), bakarat (baccarat), capsah, rolet, dadu, sigolak, mahyong, adu jago, adu&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;jengkerik&lt;/i&gt;. Hidup, bagi warga kampung kami, semuanya bisa dijudikan, seperti perjudian nasib siapa saja yang hari ini punya sepeda atau arloji mentereng besok bisa lenyap digadaikan atau dijual; hari ini rumah memiliki mebel mewah yang nampak warnanya norak atau radio atau tape recorder, dan dalam dua hari kemudian bisa terbang entah ke mana. Segala sesuatu menjadi pertaruhan untuk mempertahankan dan melangsungkan kehidupan yang penuh dengan spekulasi. Maka watak yang terbentuk adalah bagaimana membaca cuaca hidup keseharian dengan cara mengamati siapa yang datang. “ Ada perkutut”, informasi itu beredar dengan cepat. Artinya ada “orang baru” yang mau mencari lawan judi, maka perangkap disiapkan, dan bila perlu modal digabungkan jika memang lawan judi itu membawa modal besar. Menarik, jika tiada lawan-luar, “orang baru”, mereka bertarung sesama mereka, dan jika ada “perkutut” mereka &lt;i style=""&gt;sapukan&lt;/i&gt;, mengikatkan diri ke dalam ‘persatuan” untuk menyembelih lawan yang hasilnya bisa dipakai untuk mengisi rumah, menyisihkan untuk modal berikutnya, dan sebagiannya untuk foya-foya selama semalam-dua sebagai bagian dari ritual kemenangan. Dan jenis perjudian ini bukan hanya itu saja. Olahraga seperti badminton, pingpong, sepakbola, basket, pokoknya segala sesuatun yang bisa membuat mereka masuk ke dalam sistuasi di mana adrenalin terus meninggi dan selalu dalam tegangan untuk memastikan, apakah dirinya menang atau kalah. Bukan soal menang atau kalah. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana masuk ke dalam ritual spekulatif yang membuat mereka merasa ada di dalam lingkungannya. Jadi, jangan heran kemarin seseorang berpakaian perlente, lusa kemudian hanya &lt;i style=""&gt;sarungan&lt;/i&gt;, dan nongkrong sambil menunggu jatah rokok atau makanan, atau mungkin ada orderan untuk sekedar menjadi &lt;i style=""&gt;tukang kocok&lt;/i&gt; kartu. Tentu saja sisi lain untuk menunjang hidup bukan hanya itu. Informasi peredaran barang yang datang dari pelabuhan, barang &lt;i style=""&gt;smokelan&lt;/i&gt;, salah satu bagian dari dunia spekulasi yang bisa membuat hidup terus bergairah. Dan hidup terus berputar dengan intensitas yang kian membumbung dan perputaran uang kian besar, dan bermunculan generasi berikutnya yang kian piawai dan besar modalnya.ditandai dengan cara berpakaian yang gonta ganti dan parfum yang bukan lagi aude cologne murahan, tapi sudah bermacam merek seiring dengan perkembangan industri pakaian dan dunia mode yang kian pesat selaju dengan pembangunan yang mereka lihat di teve, majalah dan show room toko.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dan di kepala saya begitu banyak ungkapan sinisme sosial dan gaya  hidup yang saya bawa ke Yogyakarta ketika lulus dari SMP, dan sekaligus juga mengemban sejenis chauvinisme lokal. Ingatan itu terus menggelayuti saya. Waktu dan pertemuan sosial nampaknya punya caranya sendiri memupus streotipe tentang berbagai etnis dan ras melalui pergaulan. Di Yogyakartalah saya bertemu dengan teman-teman Batak yang saya anggap “aneh”, kok lemah lembut, kok ada Dayak yang santun dan ramah, kenapa pula orang Bugis itu bisa kongko dengan intens, dan ada Arab yang juga suka nraktir, dan begitu banyak teman Jawa yang rajin sholad. Dalam pergaulan sehar-hari di lingkungan sekolah (dan juga kampus setelah lulus SMA) saya dibikin kagum oleh cara mereka, teman-temanku dari Bugis, Makassar, Dayak, Ambon, Padang-Minang, Batak, Lampung, Palembang , dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berbahasa Indonesia ! Sebagai warga kampung dengan multi bahasa - &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Melayu Cina, Sunda Banten dan Jawa Banten - walaupun suka membaca, praktek bahasa Indonesia boleh dikatakan jarang, bahkan di sekolah kami biasanya pakai saling silang bahasa lokal itu, yang selalu ditegur oleh guru saya di SR dan SMP. Kecuali tentu saja dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membosankan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Bahasa Indonesia merekalah yang membuat saya menjadi harus berpikir ulang, dan menilai kembali, memupus sedikit demi sedikit ingatan yang saya bawa dari kampung, di samping cara mereka ketika berhadapan dengan saya. Perkenalan dan pergaulan sosial di ruang-ruang publik Yogyakarta makin membuat saya – antara sadar atau tidak -&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ingatan yang dulu menjadi “senjata sosial” warga kampung, menjadi beban, dan kerap menjadi kecemasan sendiri: jangan-jangan saya hanya warga dari &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;komunitas yang “kalah” yang berusaha mempertahankan dan mempersenjatai diri melalui sinisme etnis dan ras. Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh ayah saya: hidupmu tergantung kepada lidahmu. Ayah yang rasional dan selalu mengajak saya untuk “jangan percayai dan katakan sesuatu sebelum kamu tahu” sesungguhnya bekal yang baik ketika saya tinggal di Yogyakarta.: saya bertemu langsung dengan berbagai warga dari berbagai suku, sub-tenis dan ras yang kesemuanya membuyarkan kerangka pikiran streotipe, prasangka yang saya serap ketika hidup di kampung kelahiran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tapi itu bukan berarti di Yogyakarta saya tidak menemukan dan mendapatkan cara berpikir atau perspektif yang sama dengan di kampung saya. Orang Yogyakarta umumnya yang begitu bangga dengan sejarah dan tradisinya, ditambah dengan kolonialisme yang membentuk mereka dalam anggapan “adiluhung” untuk dirinya sendiri, sejenis narsisme dan ekshibisionisme budaya, membuat saya jadi kikuk jika mencoba berbahasa Jawa (dan hal itu sampai sekarang!!). Banyak warung langganan saya selalu ketawa dan bilang “wagu” bahasa Jawa saya. Bisa jadi mereka benar. Ini soal dialek dan logat; lidah yang beda. Tapi ada juga yang “kagum” setelah mereka tahu saya dari Banten, dan menganggap saya “memiliki sesuatu”, sejenis “mejik”, yang kata mereka “wong mBanten” masih kuat “ begituannya”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Itulah juga streotipe yang ditabalkan kepada diri saya sebagai “wong mBanten”, yang juga datang dari kenalan atau teman kongko dadakan yang ketemu di warung dari etnis atau suku lain. Teman pergaulan saya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang beraneka latar belakang budaya dan sejarah sosial itu juga sesungguhnya punya beban seperti saya; mereka dan saya dan siapa saja adalah pewaris dari masa lampau yang tak bisa ditolak; dan hanya bisa ditelusuri mana yang memang pantas untuk disimpan, dan mana pula yang mesti dipendam dan tak diucapkan. Toleransi dibutuhkan diantara keberagaman budaya. Jika tidak, kita hanya saling tuding dan menganggap diri paling baik, yang bisa berujung kepada saling badik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt; Yogyakarta yang kian berkembang tentu saja seiring dengan pertumbuhan ekonomi cara rejim Orba yang sedang memompa pasar dan menjerat konsumen. Dan toko-toko di Yogyakarta kian padat dan meriah dan kunjungan konsumen kian meninggi dan itu membutuhkan benar wilayah parkir dan pengamaman toko dan warung. Disinilah soal yang kerap membuat Yogyakarta  tegang: ruang menjadi wilayah ekonomi dengan intensitas yang tinggi dan itu berkaitan dengan penguasaan oleh sekelompok warga, dan tak jarang kelompok itu saling bersitegang dan bertarung. Diantara itu, tentu saja pertarungan bisa merembet ke latar belakang etnis: Jawa tarung dengan Batak, Batak dengan Lampung, Lampung dengan Jawa, Medan  dengan Bugis-Makassar. Tak semua bentrok etnis itu karena rebutan ruang ekonomi. Bisa juga lantaran pacaran, ketersinggungan karena ucapan, salah paham. Tapi, yang jelas, ketika saya di Yogyakarta  saya mendengar dan menyaksikan konflik yang berulang kali yang entah dikarenakan apa, tapi berkembang kearah konflik suku. Ituilah resiko keberagaman tanpa pemahaman mendalam dan hanya membawa diri sendiri dan tiadanya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;toleransi. Konflik etnis bisa terjadi di mana saja. Itu sebuah resiko dari sebuah bangsa yang merangkum ribuan etnis dan sub-tenis dalam suatu rentang geografi yang hampir sama bentangannya dari London sampai Siberia, dan berusaha untuk memiliki cita-cita tentang “Indonesia” yang masih diraba-raba diantara belitan masalah yang tak pernah surut setiap harinya diantara himpitan iklan ekonomi dan iklan politik pembangunan yang bisa menggeser orientassi siapa saja demi mempertahankan hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dan Yogyakarta yang memiliki mosaik kehidupan sosial dan budaya yang beragam, seperti sebuah kolam besar pertemuan – melting pot - dengan keberagaman ikan yang datang dari berbagai penjuru nusantara dan antar bangsa yang saling seliwer dan pada sisi lainnya arus pemikiran demikian padat dan intensif, menjadi berkah bagi saya yang sedang menapak, mencari “sesuatu” yang saya sendiri belum terbayangkan, apa sesungguhnya yang ingin saya tuju dan raih.. Tapi, diantara mosaik yang semula hanya sebuah kampung yang satu dengan lainnya warga saling kenal dan tahu benar kocek dan “celana dalamnya” masing-masing warga, kini saya bukan hanya berhadapan tapi juga sekaligus “ngojai”, merenangi kolam pergaulan yang lebih luas yang kedalamannya serta arusnya terus menderas bersama topan perubahan yang di bawa oleh media massa cetakan dan elektronika teve yang makin intensif memasuki ruang-ruang tamu dan personal. Tapi, melalui hubungan personal yang beragam yang saya serap yang membawa latar belakang masing-masing etnis, sub-suku dan ras, dan dari situ saya berusaha memahami kedalaman kolam pertemuan makna arus serta keluasan “Indonesia-Yogyakarta” atau “Yogyakarta-Indonesia” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Mengingat apa yang pernah saya alami di Yogyakarta selalu menjadi sejenis berkah yang saya terima diantara berbagai jenis kerepotan hidup keseharian yang saya hadapi sebagai konsekuensi logis seorang perantau, pejalan yang merintis dan berusaha untuk meyakini, diantara keraguan dan skeptisisme yang terus menggelayuti diri tentang bentangan makna “Indonesia” melalui Yogyakarta. Dan kini, jika saya merenungi pengalaman pertemuan dan meresapkannya, diantara lintasan perjalanan-pertemuan saya dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;geografi budaya lainnya di bentangan nusantara, rasanya saya mesti bersyukur bahwa saya sempat singgah dan bermukim selama 9 tahun 8 bulan, dan sampai sekarang masih beberapa kali dalam setahun mengunjungi Yogyakarta – yang sudah tak nikmat lagi untuk jalan santai, dan Malioboro bukan lagi “Universitas Terbuka” tapi wilayah perdagangan yang sumpek dan impersonal - serta kontak yang masih berjalan dengan banyak teman lama dan baru, dan selalu saya mendapatkan isyarat tentang sebuah negeri yang terus berubah, dan saya berusaha&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memahami, betapapun ketidakjelasan makna “Indonesia” dalam perspektif saya. Dan untuk itulah, saya kira, pencarian memang mesti terus dilakukan; mengais dari yang lampau, menguak ruang kemungkinan masa yang akan datang.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Halim HD. – Networker Kebudayaan.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Solo, 17-22 April 2009&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-747313261317028454?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/747313261317028454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/yogyakarta-bulaksumur-malioboro.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/747313261317028454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/747313261317028454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/yogyakarta-bulaksumur-malioboro.html' title='YOGYAKARTA: BULAKSUMUR  –  MALIOBORO  –  GAMPINGAN (Meretas Jalan Ke “ Indonesia ”)'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-8139474552403486140</id><published>2009-04-22T19:36:00.000-07:00</published><updated>2009-04-22T19:47:51.152-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='USA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NYC'/><title type='text'>The NYC you don't know about (5) : Confidently (un)fashionable</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan oleh: Dydy Dyah&lt;br /&gt;Domisili: Bronx, NY, USA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dydy.multiply.com/"&gt;http://dydy.multiply.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang menurut saya sangat menarik dari New York(ers) adalah gaya berpakaian orang-orangnya. Oke lah, bukan cuma gaya berpakaiannya aja, tapi lebih tepatnya ke-pede-an berpakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini sangat mudah menemukan orang-orang yang cara berpakaiannya nggak biasa-biasa aja, dan terlihat sangat nyaman memakainya. Dalam artian, dia nggak peduli pendapat orang lain tentang gaya berpakaiannya itu. Ke-tidakbiasa-annya itu bisa modis, fashionable, tapi bisa juga kebalikannya. Saya pernah sampe susah nahan senyum satu waktu di subway, di depan saya ada cowok tinggi gede sangar, tapi pake kaos, topi dan tas serut kuning bergambar ....SpongeBob! Lucu! Hmmm...mungkin semacam statement yah...bahwa yang tinggi gede sangar juga boleh dengan pedenya berkostum SpongeBob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa gaya berpakaian yang khas dari golongan tertentu. Cowok-cowok bergaya hip-hop (biasanya African-American dan Hispanics), kostumnya begini : kaos gombrang, celana jeans super gombrang dan melorot (betul-betul melorot, sakunya ada di lutut! Apa nggak susah jalan ya?), ikat kepala atau topi baseball yang dipakai miring, plus bling-bling kalung-kalung rantai panjang. Cewek-cewek Hispanics, banyak yang ngikutin gayanya JLo. Beberapa taun yang lalu waktu JLo sering tampil dengan velour sweatsuit, semua ngikutin. Di mana-mana bajunya pada sama. Warnanya kalo nggak pink, coklat. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kepedean orang sini berpakaian memang beneran deh. Sepertinya nggak takut pake model apapun, warna apapun. Bahkan yang sepertinya nggak cocok sekalipun. Yang bikin perutnya menggelambir kemana-mana, yang bikin kalo duduk celana dalemnya keliatan, yang celananya saking ketatnya sampai susah nekuk kaki di subway, dll dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalo yang memang modis dan pinter mix and match, biarpun tumpuk-tumpuk model dan motif, kok keliatannya tetep bagus gitu ya. Pokonya salah satu pengusir bosan saya di subway, ya merhatiin cara berpakaian orang-orang. Menarik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini di posting ulang dari &lt;a href="http://dydy.multiply.com/journal/item/155/The_NYC_you_dont_know_about_5_Confidently_unfashionable"&gt;sini&lt;/a&gt; atas seizin penulisnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-8139474552403486140?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/8139474552403486140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/nyc-you-dont-know-about-5-confidently.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8139474552403486140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8139474552403486140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/nyc-you-dont-know-about-5-confidently.html' title='The NYC you don&apos;t know about (5) : Confidently (un)fashionable'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-4026001414419873660</id><published>2009-04-22T19:33:00.000-07:00</published><updated>2009-04-22T19:46:46.357-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='USA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NYC'/><title type='text'>The NYC you don't know about (4) : Masjid dan makanan halal</title><content type='html'>&lt;a href="http://smg.photobucket.com/albums/v192/dendidong/?action=view&amp;amp;current=mas2.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img style="width: 231px; height: 319px;" src="http://img.photobucket.com/albums/v192/dendidong/mas2.jpg" alt="Photobucket" align="left" border="0" hspace="3" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan oleh: Dydy Dyah&lt;br /&gt;Domisili: Bronx, NY, USA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dydy.multiply.com/"&gt;http://dydy.multiply.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tulisan yang ini spesial buat mamacat dan Yussi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya betul-betul bersyukur tinggal di New York City yang muslimnya banyak dan penduduknya sangat beragam. Karena saya nggak susah cari masjid, yang jualan makanan halal, dan keragaman penduduknya membuat toleransi beragama warga New York relatif tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang ditulis mbak Dian di reply pertanyaan Yussi "Ada masjidnya gak?", di NYC buanyak masjid. Jangan ngebayangin masjid-masjid di Indonesia yang kubah-kubah seng-nya bermunculan di antara atap genteng. Masjid-masjid ala NYC, terutama yang di Manhattan, seringnya cuma berupa satu ruangan yang menjadi bagian dari sebuah bangunan dengan fungsi umum. Misalnya mesjid Ar-Rahman, tempatnya di basement restoran Pakistan. Atau mesjid apa ya namanya yang di 55th street, letaknya di lantai 2. Bawahnya? Restoran juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau konsentrasi muslim di satu lingkungan itu cukup banyak dan kuat, mungkin masjidnya bisa lebih besar, atau lebih banyak. Di Harlem misalnya, bahkan ada satu jalan (kalo ga salah 116th street) di mana terdapat 2 masjid. Di Astoria yang banyak muslim Arab, ada beberapa masjid besar. Di Brooklyn juga ada satu daerah yang banyak banget muslimnya. Di Bronx ada juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://smg.photobucket.com/albums/v192/dendidong/?action=view&amp;amp;current=mas5-aqsa-1.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v192/dendidong/mas5-aqsa-1.jpg" alt="Photobucket" align="right" border="0" hspace="3" /&gt;&lt;/a&gt;Komunitas muslim yang mendirikan masjidnya juga beragam. Arab, Pakistan, Indonesia (mesjid Indonesia ada di Long Island City, Queens), African-American, Senegal, dll. Masing-masing jadinya unik dan bawa tradisi masing-masing juga. Saya pernah jumatan di masjid (lupa namanya) di Harlem, yang ternyata adalah masjid komunitas muslim Senegal. Khutbahnya diulang 3 kali dalam bahasa Arab, Perancis, dan Senegali. Kebayang nggak muka saya waktu itu? Blank. Udah mah lama, nggak ngerti pula bahasanya. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo Islamic Centre of New York-nya sendiri, ada di Upper East Side. Masjidnya buesar, halamannya luas, berapa lantai ya...mungkin 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo tentang restoran halal, mamacat, saya jarang ke restoran...hehehe...Tapi sebagian mungkin bisa diliat di&lt;a href="http://www.columbia.edu/cu/msa/community.shtml"&gt; daftar ini&lt;/a&gt;. Yang saya pernah paling ya &lt;a href="http://dydy.multiply.com/reviews/item/27"&gt;Chandni&lt;/a&gt;, atau beli kebab/gyro di kakilima terus dibawa pulang atau dimakan di Bryant Park. :D. Pokonya di tempat-tempat yang banyak muslimnya, pasti gampang juga nemuin restoran halal atau penjual halal meat. Oya, ada juga counter fried chicken chain yang halal. Ada beberapa sih, tapi yang saya tau Crown Chicken, soalnya dulu waktu tinggal di Harlem sering banget beli di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo supermarket besar yang menjual daging halal, saya cuma tau Trade Fair di Astoria, Queens (lagi-lagi Astoria, soalnya komunitas muslim Arabnya banyak di sana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah segitu dulu deh...udah jam 2...huhuy...&lt;br /&gt;bobo dulu ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..update...&lt;br /&gt;habis googling ternyata ketemu foto masjid Senegal di Harlem itu...namanya masjid Aqsa.&lt;br /&gt;foto yang atas, itu Islamic Center of New York, ternyata rancangan biro arsitek SOM (Skidmore, Owings and Merril)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oya, jadi inget juga, kalo di belokan dari Fifth Ave menuju mesjid ArRahman &amp;amp; resto Chandni itu ada sebuah gereja besar (cuma kehalang 1 toko lho...akur kan New Yorkers..). Saya sering sedih lewat gereja itu, soalnya di pagarnya terikat ribuan pita kuning, biru dan hijau yang mewakili tentara-tentara Amerika yang mati di Irak. Di setiap pita disebutkan nama, pangkat, dan umur. Aduuhh...masih muda-muda....18 taun, 22 taun...hiks...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini di posting ulang dari &lt;a href="http://dydy.multiply.com/journal/item/154"&gt;sini &lt;/a&gt;atas seizin penulisnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-4026001414419873660?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/4026001414419873660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/nyc-you-dont-know-about-4-masjid-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4026001414419873660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4026001414419873660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/nyc-you-dont-know-about-4-masjid-dan.html' title='The NYC you don&apos;t know about (4) : Masjid dan makanan halal'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-8293890915333434374</id><published>2009-04-22T18:48:00.000-07:00</published><updated>2009-04-22T19:30:08.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Canada'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Toronto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>REFRAIN DARI KOMPOSISI KORENSPONDENSI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Se_NUZ0IPQI/AAAAAAAAC9c/7nFEYNL7zfM/s1600-h/canadaIII+%2815%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Se_NUZ0IPQI/AAAAAAAAC9c/7nFEYNL7zfM/s320/canadaIII+%2815%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327702634613193986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;           &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis: Elida Tamalagi&lt;br /&gt;Domisili: Jogjakarta, Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kinokijogja.blogspot.com/"&gt;http://www.kinokijogja.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;Toronto, suatu sore Desember,  minus 15 derajat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin: 1ex;"&gt;&lt;div&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya membungkus diri rapatrapat,  di tikungan depan kami akan berhenti, membuka bagasi, sedikit kata dan  saya tidak akan pernah melihatnya lagi. Jangan sampai kulit kami bersentuhan.  Jangan sampai baunya menempel di tubuh saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Jadi, berpisahlah kami. Begitu  saja. Setelah pelukan singkat, saya tertawa dan bilang :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“Saya bohong  waktu bilang kamu salah satu alasan saya kesini.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Keningnya berkerut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“Yang benar,”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya melanjutkan kalimat saya  dengan bernyanyi:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“You’re  the reason I’m travelling on, but don’t think twice, it’s allright.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Dia tampak kikuk. Tak enak hati.  Tampak benar-benar tak tahu harus berkata apa. Akhirnya keluar juga  kalimat-kalimat klise yang membuat saya selalu membenci momen perpisahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“One day,  I’ll travel to asia again”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“Ssh…promise  didn’t make thing any good. Bye…”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Tukas saya cepat. Dia membalas:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“À bientôt.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“No! it’s  bye! I know I’m not gonna see you again”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Jawab saya ngotot&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“Ssh…promise  didn’t make thing any good.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Jawabnya. Dan kami tergelak bersama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Dua hari yang lalu, saya masih  saja mencari-cari hikmah dibalik semua kesusahan yang sudah saya tempuh  untuk perjalanan ini, juga kemudahan yang tiba-tiba hadir di penghujung  harapan saya. jika seluruh semesta terasa mendukungmu, tidak mungkin  untuk suatu hal yang biasa bukan? Tapi saya memang pembaca roman, pecinta  Ebiet G.Ade dan Pablo Neruda. Semua hal menjadi seolah-olah  punya  makna besar bagi diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Dan disinilah saya. di sebuah  penginapan murah di jantung kota Toronto. Dengan jatah tempat tidur  tingkat di kamar berpenghuni 6 orang ini, saya mencoba mengartikan segala  hal yang sudah terjadi pada saya sambil menunggu malam datang. Setiap  malam, dia akan menjemput saya. Tepatnya, dia akan mengontak saya untuk  bertemu di salah satu sudut jalan dengan halte &lt;i&gt;streetcar&lt;/i&gt;. Dia  sedang mempersiapkan ujian profesionalnya di bidang teknik informatika;  siangnya untuk Toronto Reference Library dan malamnya untuk berburu  restoran sushi murah supaya ada cukup sisa uang untuk segelas bir. Hanya  segelas, karena saya juga tidak punya cukup uang untuk berfoya-foya  di kota ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Tiket pesawat saya dari Paris  kenal cekal, karena rute perjalanan ini melewati Amerika, dan untuk  duduk di ruang transit selama 20 menit, sebagai orang Indonesia, saya  tidak punya visa mereka. Pertama kali mendengar itu, saya hanya bisa  melongo. Ketika kesadaran saya penuh kembali, saya hanya mendorong&lt;i&gt;  trolley&lt;/i&gt; saya menjauh dari petugas &lt;i&gt;check-in&lt;/i&gt;, mencari sudut  sepi untuk duduk diam sebentar. Kepala saya kosong dan hati saya meledak-ledak.  “Apalagi ini!”, maki saya dalam hati. “Taik kucing riset! Taik  kucing tesis! Taik kucing film! Taik kucing semua!saya hanya mau lihat  dia lagi!”. Setelah lima menit, tidak terjadi apa-apa. Saya masih  memberikan kesempatan diri saya untuk menangis atau memaki lagi. Tujuh  menit, saya bangkit, berjalan menuju maskapai berikutnya.&lt;/span&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“un ticket  d’aller-retour pour paris-toronto, aujourd’hui!”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Dan melanjutkan kalimat ini dalam  hati, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“selamat tinggal konser jazz!  Selamat tinggal bir!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya melihat sosok yang saya temui  di satu malam enam bulan yang lalu, tersenyum lebar saat pintu otomatis  bandara terbuka. Tetap saja aneh rasanya, bagaimana dia bisa langsung  mengenali saya diantara orang-orang. Mungkin dia &lt;i&gt;nyontek&lt;/i&gt; di &lt;i&gt; facebook&lt;/i&gt; dulu sebelum ke bandara, batin saya sambil berjalan menghampirinya.  Bahkan bagi saya, yang menyantap &lt;i&gt;slide show&lt;/i&gt; foto-fotonya demi  kualitas tidur yang prima, dia tampak sedikit asing. Mungkin karena  mantel panjang itu. Mungkin juga karena ia tampak lebih kurus. Dia memeluk  saya,akrab. Saya membalas sambil mencuri hirup baunya. &lt;/span&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“how’s thing  going, el? Wow! You are in Toronto!”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Dia memberondong dengan nada gembira  yang terdengar sangat tulus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“not a single  word untill first zip of beer!”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Jawab saya sambil tertawa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“kita lihat apa  kamu tahan ya. Bandara sama kota satu setengah jam lho!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Kami tertawa bersama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“oke! Kita bisa  mulai dengan cerita konyolku ke petugas imigrasi tadi. Waktu dia tanya,  alasan kunjungan, saya mulai ngoceh : personal. pacarku selama tiga  tahun akan menikah dengan orang lain dan saya kesini untuk menyanyi  di pesta pernikahannya......”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Dia tergelak-gelak. Cerita demi  cerita, mengalir lancar setelah itu dengan metode bilingual. Bahasa  Inggris saya meruap entah kemana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:85%;"  &gt;Festival kesenian yogyakarta,  malam terang bintang di bulan Juni&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Seseorang mencolek saya di pinggir  panggung rock klasik untuk meminjam korek, dan mengembalikannya dengan  senyum dan mulut yang membentuk ucapan “thanx”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya melambai memberi gestur “&lt;i&gt;you’re  welcome&lt;/i&gt;” dan membantin “manis eh! Kok gak pernah liat ya di  jogja?!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Tak sampai setengah lagu, si peminjam  korek mencolek saya :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“&lt;i&gt;you speak  english&lt;/i&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“&lt;i&gt;fluently&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“what do you  think of the band?”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;“i’m not  thinking, i’m watching! The boys are my neighbours! It’s  my social obligation”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Kami tertawa dan saya langsung  tahu ini akan jadi percakapan panjang. Saat dia tampak bosan dan mimik  muka saya sudah tak bisa diatur lagi untuk memberi semangat pada teman-teman  saya yang di panggung, saya menawarkannya untuk pergi dari sana. &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Kami melanjutkan malam itu di  warung kopi saya dengan terus bertukar kisah. Sebanyak yang bisa kami  kisahkan dalam semalam. Sebanyak kesamaan yang kami temukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Ini kisahnya. Hidup dengan cita-cita  menjadi pemain piano jazz di sebuah kota kecil berjarak dua jam dari  Toronto, ia tiba-tiba sadar bahwa cita-citanya itu hanya mampu memberinya  roti. Bukan keju apalagi makanan penutup yang manis. Kesadaran yang  datang ketika masa kelulusan SMA sudah sangat dekat. Kesadaran yang  membawanya pada kehidupan baru selama sepuluh tahun di depan monitor  komputer,hingga  bergabung dengan korporat raksasa dengan 3000 orang  pekerja. Pekerjaan yang membuatnya hanya bisa mengingat sepuluh nama  rekannya.Pekerjaan yang memakan banyak waktu dan menghasilkan banyak  uang sehingga sedikit waktu yang tersisa untuk membuang sedikit uang. &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Jadi ? dia berhenti. Begitu saja.  Pergi kemanapun. Kadangkadang membuka peta. Lebih sering lagi menghadang  loket apapun yang ada di depannya untuk membeli tiket perjalanan selanjutnya.  Pergi kemanapun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Tapi dia juga menghabiskan waktu  sedikit lebih lama di negara asalnya, Filipina. Komentar saya spontan: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“Kamu pasti merasa  seperti pedagang di cerita Alkemis yang ingin sekali naik haji.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Dia tertawa kecil. Ketika bercerita  bagian ini suaranya merendah, matanya melindap. Orang tuanya berimigrasi  ke Kanada, dan dalam rangka melindungi sang anak dari “serangan”  rasisme, mereka pun menolak mengajarinya bahasa asali. Ia menirukan  nada ibunya :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;You can’t  grow up as an asia kid speaking whatever language still with tagalog  dialect&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Sampai disini, dia tertawa. Katanya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“Bagaimana mungkin!  Dengar aja gak pernah! Orang tua saya bahkan memilih untuk berjuang  dengan&lt;i&gt; vocab&lt;/i&gt; inggris mereka yang terbatas daripada harus bertengkar  dalam bahasa Tagalog”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Sesuatu yang sangat visioner,  menurut saya, walau tetap saja, penerapannya tidak tepat. Siapa yang  bisa membayangkan bahwa rasisme sebenarnya semakin mengakar kuat dalam  usia peradaban manusia. Buat dia, tentu saja tetap terasa berbeda. Isu  identitas ini merasuk dalam dan dibawanya kemanapun dia pergi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya bertanya padanya, kali ini  dengan mimik serius:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“Bagaimana rasanya  menemukan perjalanan “pulang” setelah kondisi &lt;i&gt;half belonged&lt;/i&gt;  yang menahun seperti itu?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Jawabnya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;“Kamu baru saja  membantu saya merumuskan pertanyaan baru! Bagaimana rasanya untuk pertama  kalinya hidup tanpa berpikir akar dan muasal? Itu yang sedang saya alami  sekarang”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Perbincangan kami beralih dari  satu hal ke hal lain. Dari kisah anakanak yang tumbuh di tahun ‘80an  sampai konser jazz di Montreal. juga pada Sartre, dan di titik mana  dia gagal meyakinkan kami dan bagaimana Derrida hadir mengisi lubang  yang kosong itu. Sebanyak yang bisa kami kisahkan dalam semalam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Melihat api yang menyala di matanya  saat saya mengantarkan dia ke stasiun menuju perjalanan berikutnya,  saya merasa menjadi gadis penjual korek api. Tak lama setelah malam  itu, kesadaran saya datang. Dia telah menjadi kawah api yang bergemuruh  di dalam diri saya. Dan matahari pun seolah terbit dari kotak surat  elektronik saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Keputusan itu datang tiba-tiba.  Saya merasa sudah tidak bisa lagi bertingkah sebagai penasihat ajaib  atas turbulens hari-harinya belakangan ini. Depresi semacam itu, saya  kenal betul, dan merasa memiliki teman dengan jarak ribuan mil rasanya  tidak cukup ampuh untuk benar-benar menjalankan fungsi menemani. Saya  bukan hanya sedang mengikuti insting &lt;i&gt;god syndrome&lt;/i&gt;. Saya sadar  benar, di saat ini, sayalah yang sedang butuh diselamatkan. Melalui  korespondensi paling intens yang pernah saya punyai ini, saya merasa  sangat terbantu, kalau tidak mau mengakui, adiktif. Bukan saja pada  sensasi yang hadir setiap kali surat dengan ribuan kata itu tiba, terlebih  pula akan kejujuran saya padanya dan diri saya sendiri. pertanyaan dan  gugatannya sering membuka tingkap-tingkap kemarahan saya akan masa lalu.  Tingkap yang tertutup rapat dengan gembok besi dan debu tebal. Atas  semua hal yang sudah dia lakukan untuk menyelamatkan hidup saya, tanpa  pernah sadar atau bermaksud melakukannya, perjalanan ajaib ini saya  tempuh juga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Menyaksikan langsung bagaimana  dia hidup sekarang, membuat saya setengah bangga setengah miris. Dengan  semua kebiasaan dan fasilitas yang biasa dia punyai selama bertahun-tahun,  ia kini harus bisa menghidupi diri dengan sepuluh dolar sehari dengan  menumpang di &lt;i&gt;basement &lt;/i&gt;apartemen kawannya. Walau dia jelas semakin  kurus, untunglah api di matanya terjaga dengan baik. Kembali berlatih  piano intensif dan memperbaiki kamera foto yang sudah lama teronggok.  Sedikit receh dari &lt;i&gt;ebay&lt;/i&gt;, dan tenaga pengganti untuk dosen yang  berhalangan hadir. Streetcar dan sushi. Koleksi unduhan MP3 dan bukan  tumpukan CD. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Suatu malam, ketika ia harus menjenguk  ibunya yang sakit di kotanya, saya memaksakan diri sedikit berkeliling.  Itu bukan pilihan yang mudah dan rasional, bahkan buat pasangan muda  yang sedang mekar. Di tengah badai salju bertemperatur lima belas derajat  di bawah nol, saya berusaha mencari sedikit kesenangan dari lampu kota  dan jalanan Toronto. Nihil. Beberapa hari kemudian, saya menceritakan  pengalaman ini kepadanya. Bahwa saya mendapati diri saya yang bukan &lt;i&gt; true traveller&lt;/i&gt;, karena kesenangan itu ternyata tidak datang dari  mengunjungi tempat-tempat tertentu. Ia datang dari setiap perjumpaan  dan interaksi antar yang hidup. Bukan monumen apalagi etalase toko.  Saya tidak menceritakan padanya, bahwa malam itu, dengan salju yang  turun lebih kencang daripada malam-malam sebelumnya, saya pulang ke  penginapan sambil menangis tersedu-sedu. Sebuah kalimat dari film dokumenter  yang saya tonton malam itu, menampar saya keras. Kalimat yang dikutip  dari potongan surat antar kekasih&lt;i&gt;, i want to ended up loving you,  not needing you.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Kalimat yang membuat saya bisa  melihat relasi dengannya dalam cara pandang yang sama sekali berbeda.  Saya malu melihat diri saya yang begitu menuntut dan minta dihargai  karena segala hal yang sudah saya lakukan bagi dia. Kenyataannya, tidak  ada hal yang benarbenar saya lakukan bagi dia. Semuanya saya lakukan  bagi diri saya sendiri dalam rangka mengejar dia. Mengukuhkan eksistensi  saya di depan dia, membuat diri saya terlihat jelas. Saya, saya, dan  saya!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Pencerahan dan rasa malu yang  dalam inilah yang membawa saya bisa tidur lebih lama malam ini, tidur  yang paling panjang semenjak saya meninggalkan negeri.Saya merasa ditemukan  kawan, menemukan kawan dan memiliki cinta yang baru saja bertumbuh. &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya membungkus diri rapatrapat,  Dingin malam ini tidak ingin saya ingat lagi, sampai kapanpun.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya tidak perlu mengambil apapun  lagi dari dia, dia sudah ada di dalam diri saya. Seperti sejak kami  bertemu pertama kali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya membalik badan, melangkah  menjauhi  sedan hitam itu. Dia tergesa kembali ke balik kemudi, sambil  menerima telpon geram dari sang kakak.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Saya masih bisa mendengar:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;Yeah, I’ll  be there in 20 minutes! jesus mary joseph!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Dan dia kembali tertawa pada saya.  kami punya cerita dengan umpatan itu. umpatan yang memanggil seluruh  keluarga untuk mengumpat pada keluarga. Dengan tangan, saya memberinya  isyarat : menulislah. Dalam hati saya melanjutkan: jika sempat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;I want to ended up loving you,  not needing you.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;saya akan berjalan lagi, sebagai  saya yang tidak pernah sama dengan saya sebelum perjalanan ini. sebuah  dongeng yang dengan sadar tetap terjaga menjadi dongeng.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Di sebuah bar dekat terminal bis  sebelum melanjutkan perjalanan menuju Montreal, saya mampir untuk berdiam  diri. Menikmati &lt;i&gt;white russian&lt;/i&gt;, minuman yang sama yang kami nikmati  bersama malam tadi. Saya tahu, sayalah yang melangkah meninggalkan dia,  mengembalikan dia kepada kehidupan yang dia pilih. Hidup yang tidak  mudah, hidup yang diambil dengan sadar salah satunya setelah pertemuan  kami yang pertama. Hidup yang akan terus dia jalani justru setelah perbincanganperbincangan  panjang kami di pertemuan kedua ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Arial Narrow;font-size:100%;"  &gt;Hidup yang tidak memungkinkan  kami hidup sebagai: kami. &lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-8293890915333434374?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/8293890915333434374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/refrain-dari-komposisi-korenspondensi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8293890915333434374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/8293890915333434374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/refrain-dari-komposisi-korenspondensi.html' title='REFRAIN DARI KOMPOSISI KORENSPONDENSI'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/Se_NUZ0IPQI/AAAAAAAAC9c/7nFEYNL7zfM/s72-c/canadaIII+%2815%29.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-4905189782992753922</id><published>2009-04-14T21:01:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T21:19:49.046-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>BANDUNG: SEKELUMIT PETA KEHIDUPAN Sebuah catatan kecil</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis: Resti Nurfaidah, S.S.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Domisili: Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://nengresti_tea.blogspot.com/" target="_blank"&gt;www.nengresti_tea.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="mailto:neneng_resti@yahoo.co.id" target="_blank"&gt;neneng_resti@yahoo.co.id&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://mail.google.com/mail/?name=c6b03edda4e6b71e.jpg&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=vahi&amp;amp;view=att&amp;amp;th=120a348b5a7ac7c6"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 188px; height: 167px;" src="http://mail.google.com/mail/?name=c6b03edda4e6b71e.jpg&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=vahi&amp;amp;view=att&amp;amp;th=120a348b5a7ac7c6" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, Bandung merupakan sebuah hanparan sebuah peta yang memiliki wilayah yang berwarna-warni. Peta tersebut juga disertai dengan tanda jalanan, lembah, dan pegunungan. Kawasan yang berwarna warni bukan merupakan tanda yang membatasi luas wilayahnya itu. Tanda jalanan juga bukan merupakan tanda jalanan yang menyambung dari ujung wilayah yang satu ke wilayah yang lain. Lembah dan pegunungan juga bukan merupakan petunjuk bahwa kontur tanah dalam peta memiliki ketinggian yang berbeda dari permukaan laut. Bukan! Bukan sama sekali! Peta dalam pandanganku adalah &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://mail.google.com/mail/?name=f1ae0a78058c8a1d.jpg&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=vahi&amp;amp;view=att&amp;amp;th=120a348b5a7ac7c6"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 173px; height: 168px;" src="http://mail.google.com/mail/?name=f1ae0a78058c8a1d.jpg&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=vahi&amp;amp;view=att&amp;amp;th=120a348b5a7ac7c6" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;pertanda bahwa aku telah melampaui beberapa wilayah yang berbeda dalam setiap tahapan perkembanganku. Ya, dalam peta itu jelas tertera wilayah yang pernah kudiami selama sembilan bulan lamanya di dalam kandungan; wilayah yang pernah kudiami selama masa batita dan balita; wilayah yang kudiami selama masa sekolah, wilayah yang kudiami selama masa perkuliahan; wilayah yang kudiami selama masa kesendirianku; dan  wilayah yang kudiami selama masa perkawinanku (wilayah yang belum terukur perbatasannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Bandung benar-benar merupakan sebuah peta yang mampu berbicara denganku, dengan sejarah hidupku. Peta yang tidak mungkin kuhapus jejak keburukannya dan tidak mungkin kutambah jejak kebaikannya. Peta itu senantiasa terpampang di dinding imajinasiku yang tidak akan pernah terlihat oleh siapapun. Namun, peta itu hanya mampu menghembuskan nostalgi yang menyenangkan atau menyedihkan bagi lingkungan sekitar yang pernah sama-sama terlibat dalam penyusunan peta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://mail.google.com/mail/?name=a52dc9061f71e2af.jpg&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=vahi&amp;amp;view=att&amp;amp;th=120a348b5a7ac7c6"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 170px;" src="http://mail.google.com/mail/?name=a52dc9061f71e2af.jpg&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=vahi&amp;amp;view=att&amp;amp;th=120a348b5a7ac7c6" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Peta itu begitu melekat dalam kehidupanku, fisik maupun psikis. Berkaitan dengan fisik, peta itu senantiasa menawarkan lahan untuk menggambarkan jejak setiap hal yang kulakukan dan kualami sendiri. Peta itu selalu berbicara kepadaku bahwa aku masih memiliki lahan yang luas yang bisa kugambari dan kutandai selama hayat di kandung badan. Berkaitan dengan psikis, peta itu sangat berjasa sebagai ‘rememberance’ atas hal-hal yang pernah kulakukan dalam suka dan duka. Peta itu akan berbicara tentang dosa dan amalan yang pernah kutorehkan pada permukaannya. Selain itu, peta tersebut befungsi sebagai penanda tinggi-rendahnya volume alur kehidupanku. Gunung dan lembah dalam petaku menjadi saksi bisu atas frekuensi dosa dan amalanku. Jalanan panjang dalam peta itu merupakan pertanda bahwa sampai saat ini interval masa hidupku telah berjalan lebih dari seperempat abad dengan segala lika-liku, tanjakan dan turunan yang tiada putusnya. Pertemuan alur sungai merupakan pertanda bahwa selama kepingan hidup telah bertaut selama lebih dari tiga dasawarsa.Ya, kepingan kehidupanku yang sarat makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, laksana sebuah ukiran abadi yang tertera dalam batinku. Sebuah ukiran raksasa yang belum terselesaikan selama sukma masih bertahan dalam raga. Laksana lukisan panjang di sekeliling Candi Borobudur, ukiran itu pun mampu menyampaikan makna dan cerita dari setiap kepingan kisah hidupku.&lt;br /&gt;Bandung sangat melekat dalam batinku, meskipun aku masih memiliki kampung halaman yang hanya bisa menjejakkan kenangan yang dalam hanya kepada kedua orangtuaku. Kampung halaman hanya bisa kurindukan pada momen-momen tertentu saja, seperti lebaran atau peristiwa-peristiwa penting yang mengharuskan kehadiran diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung laksana sebuah biduk raksasa yang menghanyutkan diriku di sebuah samudera mahaluas dan tiada berujung. Begitu besarnya biduk itu hingga mampu menawanku dan tidak membiarkan aku untuk membagi rasa cintaku pada biduk yang lain. Betapa dalam makna Bandung itu untukku. Betapa ketatnya ia memeluk diriku hingga tidak membiarkanku lepas sedikit pun. Selain mahabesar, Bandung pun seolah bertindak sangat angkuh hingga tidak membiarkan diriku berselingkuh dengan pangeran yang lain. Bandung telah berperanan sebagai sebuah magnet bagiku yang berdaya cengkeram dengan kokoh. Ya, Bandung telah mengikatku erat-erat dengan manis. Bandung telah menjerat erat-erat jiwa dan ragakku. Begitu banyak hal yang ditawarkan sang biduk kepadaku, hingga aku tidak sempat melayangkan mata dan minat pada pasar yang lain. Bandung tidak pernah membiarkanku lahir di biduk dan samudera yang lain. Bandung tidak pernah membiarkanku menimba ilmu di kota lain, Ia berjuang keras menyediakan ribuan sarana pendidikan dengan faslitas yang beragam, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang sangat fantastis. Tentu saja, fasilitas yang ditawarkan itu harus dibayar sesuai dengan nilai nominal yang ditawarkan sarana pendidikan itu. Bandung tidak pernah membiarkan aku mengais rezeki di kota tetangga di muka bumi pertiwi. Bandung tidak pernah membiarkanku menggandeng pasangan hidup di luar daerah kekuasaannya. Bandung tidak membiarkan keturunanku  menyembul di tempat lain. Bandung tidak membiarkan keturunanku untuk menimba ilmu di  luar batas wilayahnya. Ia begitu mengikatku erat-erat hingga aku tidak mampu bergerak. Namun begitu, terkadang aku dilepaskan serdadunya jika ada hal penting yang mengharuskan kehadiranku. Aku diizinkannya untuk eksis di beberapa acara, pelatihan pada berbagai instansi, seminar, kongres, workshop, atau berbagai acara lainnya termasuk acara keluarga atau instansi. Dengan demikian, aku masih bisa menghirup udara bebas di seantero tempat di belahan nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi pengikatku, Bandung juga tidak kalah keras upayanya untuk menebarkan mantra dan medan magnet berkekuatan tinggi pada makhluk di berbagai penghujung dunia. Bandung yang dikenal sebagai kota bidadari menjadi kota tujuan utama pembelajaran seni selain Yogyakarta dan Bali. Bandung juga menjadi tempat serbuan peminat studi,, baik dari luar kota maupun mancanegara. Bandung menjadi kota tujuan utama belanja para “buyer” dari belahan penjuru dunia. Pasar Baru seakan menjadi  jantung pusat belanja di kota kembang ini. Outlet menjadi biji mata trend mode bagi kawula muda di nusantara dan mancanegara. Bagi para food hunter, Bandung memanjakan perut kita dengan jutaan ragam pangan yang jenisnya mampu menembus hingga ke ujung dunia. Bandung memanjakan nusantara dengan luasnya lahan pekerjaan hingga mampu mematahkan semangat pulang kampung para pelajar di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sedemikian besarnya jasa Bandung sebagai penebar mantera dan medan magnet di nusantara ini. Namun, upayanya itu ia lakukan dengan pengorbanan yang sangat besar. Rusaknya alam di kota ini dan sekitarnya adalah akibat yang salah satunya harus ditanggung dirinya. Namun, Bandung tidak ubahnya seorang autis yang keras kepala yang tak peduli lagi dengan dirinya dan orang lain. Ia tidak kapok untuk mengepulkan mantera dan medan magnetnya ke berbagai penjuru meskipun harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya yang kini ringkih digerus penyakit tidak ia hiraukan. Tulangnya yang mulai keropos tetap ia gunakan untuk menopang tubuhnya yang semakin tertimbun lemak usang. Wajahnya yang sudah berhiaskan gurat keriput di sana-sini, tetap ia hadapkan pada para pecintanya meskipun untuk itu ia harus menutupi kekurangannya itu dengan olesan bedak yang sangat tebal.&lt;br /&gt;Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tertatih-tatih berjalan bertumpu pada sebuah tongkat mendaki jalan terjal yang naik dan turun dengan curam. Tidak jarang ia terjatuh, terpeleset, terguling, terluka, tergerus ingatannya, dan terkapar …. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak peduli jika langkahnya semakin terseok-seok menyusuri jalan berliku dengan bertumpu pada sebilah tongkat. Tidak jarang ia harus menghentikan langkahnya karena deraan sakit yang luar biasa di setiap inci tubuhnya. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia didera gangguan jiwa yang cukup akut melihat para penghuni yang berbuat seenaknya. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tak sanggup membagi warisannya dengan adil karena hartanya dirampas makhluk tak beriman. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak mampu lagi menyusui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal,anak-anaknya belum lagi pantas ia sapih. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak lagi memiliki cadangan kolagen untuk membuat kenyal setiap mili kulitnya. Padahal, ia dituntut harus berpenampilan sebagai seorang bidadari yang sangat cantik jelita. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak mampu menahan beban sanggul di belakang kepalanya. Padahal, ia dituntut untuk tampil bak seorang pengantin tradisional yang dikenal dengan sanggul bersunggar-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada alat kosmetik yang mampu menutup wajah tuanya. Tak ada obat-obatan yang mampu memulihkan penyakitnya. Tak ada mode yang sanggup mengubah penampilannya. Tak ada sepatu yang berdaya menutupi kaki  ringkihnya. Tak ada perapian yang dapat menghangatkannya. Tak ada pendingin yang bisa mengompresnya. Tak ada makanan dan minuman yang terbukti mengenyangkannya dan menuntaskan rasa dahaganya.&lt;br /&gt;Ufff, Bandung memang tua … seiring menuanya diriku. Yaahhh, Bandung tidak ubahnya sebuah peta yang rapuh karena disetang binatang pengerat. Mmmmhhhh, Bandung tidak lebih dari seorang nenek tua yang tengah menanti ajalnya.****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-4905189782992753922?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/4905189782992753922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/bandung-sekelumit-peta-kehidupan-sebuah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4905189782992753922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4905189782992753922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/bandung-sekelumit-peta-kehidupan-sebuah.html' title='BANDUNG: SEKELUMIT PETA KEHIDUPAN Sebuah catatan kecil'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-2198138664244625681</id><published>2009-04-13T05:20:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T05:25:37.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Majalengka'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Maja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><title type='text'>MAJA, Beribu Ruang Bermainku (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Ditulis oleh Ana P. Dewiyana&lt;br /&gt;Domisili: Maja, Majalengka (1977-1996), Bandung (1996- ...)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://anapdewiyana.multiply.com/" target="_blank"&gt;http://anapdewiyana.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:anapdewiyana77@gmail.com" target="_blank"&gt;anapdewiyana77@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Harta Karun yang Tak Terpendam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Waktu kecil, bagiku Maja, Majalengka seperti tempat penyimpanan harta karun yang berkilauan. Menggodaku untuk selalu berlarian, berteriak, bernyanyi, menari, dan tertawa dalam gelimangan permainan, bahan-bahan untuk bermain, ruang bermain, dan teman-teman bermain. Semua itu seperti tak ada habis-habisnya menawarkan kegembiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat tersebut, aku dan teman-temanku dapat bebas bermain sepuasnya tanpa khawatir memikirkan untuk meminta uang pada orangtua guna membeli alat-alat untuk bermain atau minta dibelikan alat-alat permainannya. Sebab, semua bahan-bahan untuk bermain sudah tersedia di halaman rumah, pinggir jalan, kebun, sawah, kolam, sungai, hutan, pekuburan dan tempat lainnya. Hanya perlu sedikit sentuhan kreativitas untuk mengubah bahan-bahan itu jadi alat bermain sesuai yang kami butuhkan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sulit untuk menciptakan berbagai kreasi alat permainan yang kami perlukan, sebab aku dan teman-temanku akan saling berbagi keterampilan. Keterampilan itu biasanya didapat dari warisan turun temurun, satu generasi ke generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut permainan-permainan yang sering kami mainkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pasar-pasaran (Sate-satean (penjual sate), babasaoan (penjual baso), minyak-minyakan (penjual minyak goreng), surabi-surabian (penjual surabi). Semua bahan-bahannya dapat kami temukan di kebun dan halaman rumah. Alat tukarnnya berupa uang-uangan daun jambu atau bekas bungkus permen)&lt;br /&gt;2. Sorodot Gaplok (Alat permainannya batu berbentuk pipih)&lt;br /&gt;3. Engklek (Engklek Mati Beli, Engklek Sepuluh (terdiri dari sepuluh kotak), Engklek Tiga Belas (terdiri dari tiga belas kotak), Engklek Payung (bentuknya seperti payung). Alat bermainnya genting dengan diameter 4-6 cm)&lt;br /&gt;4. Entrengan (Alat permainannya: batu-batu kecil sebesar satu buku jari orang dewasa [kerikil])&lt;br /&gt;5. Kotokan (Alat permainannya batu-batu: kecil sebesar satu buku jari orang dewasa [kerikil])&lt;br /&gt;6. Lelempengan (Alat permainannya: batu-batu kecil [kerikil] dan potongan genting sebesar satu buku jari orang dewasa)&lt;br /&gt;7. Dam-daman (Alat permainannya: batu-batu kecil [kerikil] dan potongan genting sebesar satu buku jari orang dewasa masing-masing sebanyak 16 butir)&lt;br /&gt;8. Kasti (Alat permainannya: kayu dan bola kasti)&lt;br /&gt;9. Boy-boyan&lt;br /&gt;10. Sepak bola (Alat permainannya: bolanya pakai kantong plastik-plastik bekas yang dibentuk bundar)&lt;br /&gt;11. Mobil-mobilan (Bahan-bahan dari bambu, bola plastik yang tidak terpakai, kulit jeruk bali, kayu)&lt;br /&gt;12. Sekolah-sekolahan&lt;br /&gt;13. Perang-perangan (Pistol atau senapannya dari kayu, bambu, tulang daun pisang)&lt;br /&gt;14. Tampolong-tampolong&lt;br /&gt;Lagu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tampolong-tampolong &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kumis kucing kumis merak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; salah sahiji bray&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; 15. Paciwit-ciwit Lutung&lt;br /&gt;16. Pur Pur Sadapur&lt;br /&gt;17. Naik Kereta Api&lt;br /&gt;18. Oray-orayan (Ular-ularan)&lt;br /&gt;19. Kemping (Tendanya dari karung terigu atau dari kain samping)&lt;br /&gt;20. Kucing-kucingan&lt;br /&gt;21. Bebentengan&lt;br /&gt;22. Hayam-Heulang (Ayam-Elang)&lt;br /&gt;23. Ambil-ambilan&lt;br /&gt;24. Papangantenan&lt;br /&gt;25. Ayun-ayunan (Ayunannnya dibuat dari ban bekas mobil/kain samping/karung terigu)&lt;br /&gt;26. Ucing Sumput (Petak Umpet)&lt;br /&gt;27. Rumah-rumahan (Bahan-bahan: pecahan kaca, pecahan marmer, kardus, tanah, batu, genting, kertas)&lt;br /&gt;28. Anjang-anjangan&lt;br /&gt;29. Drama&lt;br /&gt;30. Boneka-bonekaan&lt;br /&gt;31. Bikin kolam ikan (Bahan-bahan: bambu, plastik, air, dan impun)&lt;br /&gt;32. Kincir (Bahan-bahannya dari daun nangka walanda [sirsak])&lt;br /&gt;33. Wayang&lt;br /&gt;34. Babajuan (Bahan-bahan: kain samping/sarung/kertas/kain perca)&lt;br /&gt;35. Renang tempatnya di Ciminggir, Ciawi, dan Cilongkrang&lt;br /&gt;36. Bola Voli&lt;br /&gt;37. Badminton (Raketnya pakai kayu/piring seng, koknya dari plastik yang dibentuk bundar)&lt;br /&gt;38. Tari tempurung (Bahan-bahan: batok kelapa yang berbentuk setengah lingkaran yang diberi rumbai-rumbai)&lt;br /&gt;39. Drumband (Alat permainan: dengan baskom dan bilah bambu)&lt;br /&gt;40. Lompat Tali: Simseu, Loncat Tinggi, Spintrong&lt;br /&gt;41. Parengkep-rengkep Jengkol&lt;br /&gt;42. Gagarudaan&lt;br /&gt;43. Tebak-tebakan&lt;br /&gt;44. Aja Pentrang Pentrung&lt;br /&gt;45. Bikin patung dari taneuh porang (clay/tanah liat)&lt;br /&gt;46. Bikin perahu: origami&lt;br /&gt;47. Ngala papatong (berburu capung) (Alat penangkap capung dibuat dari plastik yang diikatkan ke bilah bambu)&lt;br /&gt;48. Encrak&lt;br /&gt;49. Congklak&lt;br /&gt;50. Gatrik&lt;br /&gt;Lagu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Gatrik ala gatrik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Naga sari ri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Riwen nawen-nawen rokok bentul tul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Tulen nalen-nalen &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Jadi enten ten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Tena bako tena &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bako sedeng deng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Dengklak dengklik menjadi kodok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; 51. Dongeng&lt;br /&gt;52. Kolase dari jerami dan bulir padi atau biji saga&lt;br /&gt;53. Tulup&lt;br /&gt;54. Takol Kendi&lt;br /&gt;55. Balap Kerupuk&lt;br /&gt;56. Pacici Ccici Putri&lt;br /&gt;Lagu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pacici cici putri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Serelek kembang celempung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Oleh-oleh mamanisan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau mau kembang apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Ingin  kembang ... (tanpa dilagukan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bu Nyai Bu Nyai si ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Ingin kembang ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; 57. Pepeletokan (Bahan-bahan: baun kembang kertas)&lt;br /&gt;58. Teteleponan (Bahan-bahan: kaleng bekas susu cair dan benang untuk layangan)&lt;br /&gt;59. Ucing Tidur&lt;br /&gt;60. Menggambar di batu (Bahan-bahan: batu dan kapur berwarna)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-2198138664244625681?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/2198138664244625681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/maja-beribu-ruang-bermainku-bagian-2.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2198138664244625681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/2198138664244625681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/maja-beribu-ruang-bermainku-bagian-2.html' title='MAJA, Beribu Ruang Bermainku (Bagian 2)'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-4568367163076234071</id><published>2009-04-11T19:14:00.001-07:00</published><updated>2009-04-11T19:26:31.270-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Bandung masa kini = kombinasi antara vampire dan zombie</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto dan tulisan: Wiku Baskoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Domisili: Bandung, Jawab Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://wikupedia.co.cc/"&gt;http://wikupedia.co.cc &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://wikupedia.multiply.com/"&gt;http://wikupedia.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;a href="http://wikupedia.co.cc/" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://wikupedia.multiply.com/" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=fc7cf50a5e&amp;amp;view=att&amp;amp;th=120965f217d45c0f&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=inline&amp;amp;zw"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 449px; height: 405px;" src="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=fc7cf50a5e&amp;amp;view=att&amp;amp;th=120965f217d45c0f&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=inline&amp;amp;zw" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;bercerita tentang kota tempat saya tinggal, saya pasti akan memilih bercerita tentang bandung, kota kelahiran dan kota tempat tinggal saya seumur hidup, sampai sekarang.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;jika membaca nama saya, pasti orang akan menyangka saya berasal dari suku jawa, wiku baskoro, begitu bunyi nama saya. tidak salah memang karena ayah dan ibu saya jawa tulen, dan dirumah, mereka masih sering bercakap dengan bahasa daerah asal mereka, jawa tengah.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;namun jika mendengar saya berbicara tanpa mengetahui nama saya, pasti orang langsung berkata : “asli sunda kang?”  dan saya akan menjawab dengan jawaban paradoks: gelengan kepala dan ucapan mengiyakan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;saya lebih menyukai disebut sebagai penduduk asli bandung, ketimbang sunda yang merujuk pada jawab barat, bukan karena masalah rasial tetapi lebih karena masalah pengetahuan. kalau ditanya tentang jawa barat, paling saya hanya bisa mengucap “sumuhun”(iya dalam bahasa halus sunda), tanpa bisa menjelaskan apa-apa tentang asal-usul jawa barat, tokoh-tokohnya, cerita-cerita rakyatnya dan berbagai macam kebudayaan masyarakatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;saya lebih menyukai disebut sebagai orang bandung, karena bagi saya bandung adalah wilayah jawa barat yang punya kebudayaan sendiri, yang setiadaknya pernah saya kenal dekat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;dari awal terbentuknya daerah yang nantinya akan jadi kota bandung ini, sudah bisa dijelaskan bahwa bandung tidak memiliki budaya asli seperti budaya khas jawa barat dalam wayang golek misalnya, atau daerah tertentu jawa barat seperti cirebon dengan tari topeng cirebon.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;bandung yang awalnya dikuasai oleh orang belanda memang sangat kental budaya campur aduknya, ini bisa terlihat sampai sekarang. dahulu kala modernesisasi ala belanda masuk dalam wilayah hutan yang masih 'kampung'. kota bandung dan penduduknya kemudian saling berbaur dan menciptakan budayanya sendiri. bangunan khas belanda yang merespons tanah yang berbukit sebagai salah satunya, atau jalan dago yang tebentang lurus sebagai jalur utama menuju gudang kopi di daerah jalan merdeka adalah contoh lain, disamping budaya khas jawa barat seperti logat berucap dan penamaan-penamaan jalan yang khas.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;sampai kini bandung tetap menjadi kota dengan budaya campur aduk, kini bandung adalah campuran berbagai budaya, antara budaya jakarta yang metropolis, budaya jawa barat yang sunda pisan, antara budaya pendatang dari sumatra sampai budaya pendatang dari papua, bercampur menjadi budaya baru, budaya bandung.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;bagi saya, tidak aneh jika banyak orang yang berkreasi di bandung dengan hebatnya, selain wilyahnya yang nyaman (sampai tahun 2004-an) sampai dengan masyarakatnya yang permisif dengan segala kreatifitas yang dimiliki masyarakatnya, baik itu yang asli jawa barat, yang campuran maupun yang berasal dari luar jawa barat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;ketika wilayah jawa barat lain yang sering kali bersifat kolot atas budaya sunda, bandung berkembang menjadi kota dengan seribu budaya, yang pada satu sisi ini menjadi positif namun di sisi lain bisa menjadi negatif, bagi saya itu hal biasa, tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka semua hal positif tentu akan menyimpan hal negatif, &lt;i&gt;vice viersa&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;bandung yang nyaman bagi saya hanya sampai pada medio sekitar tahun 2004-2005, tiga tahun ke belakang bandung berubah menjadi kombinasi antara &lt;i&gt;vampire&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;zombie i&lt;/i&gt;yang menyedot semua darah masyarakatnya untuk menjadi &lt;i&gt;zombie-zombie&lt;/i&gt; khas modernitas. sebelum abad&lt;i&gt; zombie ini &lt;/i&gt;masyarakat bandung terkenal dengan gang &lt;i&gt;punten-&lt;/i&gt;nya, yang disatu sisi mengidikasikan bahwa itu daerah &lt;i&gt;preman&lt;/i&gt;, namun di sisi lain menyiratkan bahwa orang bandung itu sopan-sopan, kalau lewat kerumunan mereka akan bilang punten, dan kalau dijalan akan menyapa siapapun entah kenal atau tidak.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;sebelum masa &lt;i&gt;zombie&lt;/i&gt;, kenyamanan bandung bisa jadi tidak ada duanya, jalanan yang sejuk karena pohoh belum banyak yang ditebang, komplek perumahan yang belum menjamur, &lt;i&gt;mall&lt;/i&gt; yang masih terbatas, kendaraan yang masih dalam jumlah yang masuk akal, serta orang-orang yang masih bisa senyum dan tertawa meskin besok tidak tau mau makan apa.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;kini pohon di bandung sangat banyak yang ditebang, entah karena alasan sudah tua, atau memang pemkot bandung yang gak becus memelihara dan merevitalisasi pohon, tapi yang jelas, pohon-pohon di daerah yang tekenal dengan kesejukannya seperti jalan aceh, serta daerah gasibu sudah banyak yang ditebang. coba mampir di depan kantor perhutanan di daerah gasibu, coba hitung berapa banyak pohon yang ditebang di depan kantor itu, dan coba bandingkan dengan umur pohon penggantinya (jika ada). saya jamin pasti bakal geleng-geleng kapala.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;kota bandung yang penuh potensi ekonomi juga ternyata bisa menjadi pisau yang malah mematikan warga asli bandung, seperti saya. potensi wisata belanja yang diekspolitasi berlebihan malah menjadikan kota yang saya cintai dengan sangat ini menjadi amburadul. kesalahan bisa jadi milik pemerintah kota, tapi kalangan bisnis juga mungkin harus diberondong pertanyaaan, seperti mengapa membuat pusat belanja di belokan jalan riau (sebelah riau 11) dan membuat macet persimpangan di depannya karena pengaturan parkir yang gak beres. atau mungkin maysrakat kreatif a.k.a distro juga mesti diberi pertanyaan pertangungjawaban seperti, kenapa harus membuka distro di sepanjang jalan trunojoyo sehingga mengakibatkan jalur itu harus dijadikan satu arah karena kalau tidak macetnya bisa sampai sepanjang jalan riau. belum selesai dengan masalah macet dan konsumerisme ala &lt;i&gt;factory outlet&lt;/i&gt;, kini kaum konunitas yang menjuliki mereka kaum indie malah ikut-ikutan juga membuat bandung hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;saya hidup di bandung dari tahun 1981, ketika derah &lt;i&gt;margahayu raya &lt;/i&gt;masih bayak sawah, tepat ketika &lt;i&gt;galungung&lt;/i&gt; meletus. saya sd, smp, kuliah dan bekerja di kota bandung, ketika jalan tikus &lt;i&gt;parakan saat&lt;/i&gt; saat masih sangat sejuk dan sangat nyaman di lewati karena banyak sawah dan belum ada proyek-proyek rumah &lt;i&gt;kluster&lt;/i&gt; yang menjamur.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;saya hidup di jaman ketika pengendara motor tidak awut-awutan seperti sekarang dan angkot masih ramah pada pengemudi jalan lain. saya hidup ketika bangunan &lt;i&gt;sarinah&lt;/i&gt; di jalan &lt;i&gt;braga &lt;/i&gt;masih memajang produk dengan etalasenya yang khas, wayang-wayang serta beragam produk budaya indah yang begitu merasuk membuat imaji akan jalan &lt;i&gt;braga &lt;/i&gt;sebagai jalan 'budaya'.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;saya hidup ketika taman kota tidak dipagari dan digembok, ketika air bersih masih bisa didapat dengan sedikit bersabar menunggu pomap air bukan membeli di tukang air keliling. saya hidup ketika batagor masih murah dan rasanya begitu khas rakyat, bukan dengan harga tinggi dan rasa yang sangat kapital.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;saya hidup ketika komunitas begitu komunal tanpa &lt;i&gt;klaim-klaim&lt;/i&gt;khas pemilik modal yang serakah yang ingin mendapatkan legitimasi atas produk budaya yang mereka hasilkan, padahal tak ada yang bisa meng-&lt;i&gt;klaim&lt;/i&gt; memiliki kebudayaan publik selain publik itu sendiri. saya hidup ketika label independen itu adalah tatanan budaya paling keren sebelum kini berbuah menjadi mahkluk menjijikkan yang sangat opurtunis.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;saya tidak anti kapital, bagaimana mungkin, saya seorang pedagang, setiap pedagang pasti membutuhkan dan mencari kapital (dalam arti modal atau uang), tapi bukan berarti saya menjadi begitu tunduk pada kapital. masih banyak alternatif yang bisa ditempuh untuk menyinergikan antara komunitas dan modal. saya menyebutnya ekonomi berbasis komunitas.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;kini menjadi sangat sulit bagi saya untuk mengikuti perkembangan kota bandung yang mesti saya sebut dengan istilah perkembangan konsumerisme yang kebablasan ini. bandung kini tidak lagi dipandang sebagai daerah bersejarah yang merekam bagaimana masa sejarah bisa dilihat dan diteliti dari cerita dan makna bangunan-bangunannya yang sangat cantik, nama-mana jalanya yang unik serta berbagai budaya yang ada. Bandung, bagi saya, kini hanya dipandang sebagai objek kapaital yang mesti diperah terus-menerus samapi menunggu ia (bandung) kembali tenggelam dan menjadi danau purba kembali.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;terus terang, rasa cinta saya pada kota bandung tidak akan pernah punah, namun ditengah himpitan kemajuan yang salah kaprah ini, saya harus mulai berpikir untuk mencari tempat idaman lain. meski saya tau dengan pasti: tidak ada yang bisa menggantikan kota bandung.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-4568367163076234071?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/4568367163076234071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/bandung-masa-kini-kombinasi-antara.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4568367163076234071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/4568367163076234071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/bandung-masa-kini-kombinasi-antara.html' title='Bandung masa kini = kombinasi antara vampire dan zombie'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-3027361086494416024</id><published>2009-04-11T19:03:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T19:09:29.157-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cimahi'/><title type='text'>Dari Sebuah Tempat Bernama Gunung Bohong</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis: Wiwi Isnaeni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Domisili: Cimahi, Jawa Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://www.facebook.com/people/Wiwi-Isnaini/1622281830"&gt;http://www.facebook.com/people/Wiwi-Isnaini/1622281830&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini benar-benar ada, meskipun namanya Gunung Bohong. Sebuah segitiga kecil dalam peta Bandung, sebuah titik kecil dalam peta Jawa Barat dan sudah tak tampak bila kamu membuka peta Indonesia apalagi lewat google's earth. Aku adalah salah satu penduduknya yang sejak lahir tinggal disini. Di sebuah titik yang tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini, aku malu sekali bila harus menyebutkan alamat rumahku, tapi kalau tidak aku sebutkan, pasti tukang becak tidak akan bisa mengantarkanku pulang. Jika aku harus menyebutkan alamat lengkapku secara panjang lebar seperti ini, jalan Panembakan, Kampung Sukasari, Desa Padasuka yang mau ke Pondok Dustira setelah Warung Contong dekat jalan kereta api, maka tukang becak akan menjawab&lt;br /&gt;” Oh Gunung Bohong, bilang dong dari tadi, kan beres” ” seribu aja” ( Ini ongkos becak disaat kamu belum lahir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah ada yang tahu kenapa namanya Gunung Bohong, bahkan kakek-kakek tertuapun yang masih ada di kampungku pasti menggeleng-gelengkan kepalanya kalau ditanya kenapa kampung kami bernama Sukasari apalagi kalau ditanya asal-usul nama Gunung Bohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan betapa tidak enaknya orang mengaitkan nama tempat tinggal dengan sikap yang kita miliki atau perbuatan yang kita lakukan. Pernah sekali waktu aku bercerita pada temanku di sekolah tentang sebuah foto yang dibawa sepupuku dari Jakarta, Sepupuku seorang prajurit angkatan laut, Ia membawakan gambar yang tak pernah kulihat sebelumnya, gambar seekor ikan berkaki manusia yang terdampar di pinggir pantai, ketika kuceritakan pada teman-temanku, mereka langsung menuduhku berbohong, memang pasti banyak yang tidak akan percaya ada ikan berkaki manusia tapi aku janjikan besok hari aku akan perlihatkan fotonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang sekolah aku pun langsung kerumah uwaku dan ternyata sepupuku sudah kembali ke Jakarta, begitu pula foto aneh yang tadinya mau aku pinjam.. Ah, terlambat pikirku. Besok aku harus menerima tertawaan teman-temanku besok dan benar saja, ” Tuh kan udah dibilang pasti bohong, mana ada ikan berkaki manusia, ada-ada saja kamu dasar orang Gunung Bohong, bohongnya segunung!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah hari-hari yang berat ketika aku harus menyampaikan sesuatu, teman-temanku selalu curiga kalau-kalau perkataanku bohong. Padahal aku bukan orang yang suka berbohong, kadang-kadang kita bicara apa adanya namun apa yang akan dibicarakan harus kita pikirkan akibatnya. Kalau tadi pagi aku bilang makan nasi goreng, pasti mudah sekali untuk dipercaya meskipun sebenarnya tadi pagi aku tidak sarapan, tapi mengatakan sesuatu seperti ikan berkaki manusia meskipun kita benar-benar melihat gambarnya, maka terlalu bersusah payah mengatakan bahwa itu benar dan jadi hal yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal lain yang aku yakini bertahun-tahun bahwa itu benar adalah tentang ulat berteriak, nenekku pernah bercerita ketika ia masih sangat-sangat kecil, ia masuk ke hutan dan ia mendengar sebuah jeritan tinggi yang dikiranya suara monyet atau burung. Ternyata setelah didekati, suara itu berasal dari seekor ulat sebesar lengan yang sedang membuka mulutnya dan mengeluarkan suara melengking seakan berteriak. Aku sungguh terpukau dengan kisah itu meskipun disaat kuceritakan kembali pada temanku ia tertawa terbahak-bahak atau lebih tepatnya prihatin dan menyarankanku agar lebih cermat membaca ensiklopedi dan nonton Discovery Channel untuk memikirkan kembali tentang keberadaan ulat yang bersuara dan berteriak. Ia juga mengatakan bahwa nenekku pastinya seorang Ventriloquist yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kebohongan terkadang baru disadari setelah bertahun-tahun lamanya. Banyak sekali alasan dibalik kenapa seseorang berbohong. Aku adalah anak kecil yang sangat-sangat menjengkelkan, bagiku sendiri dan bagi orang lain, namun nenekku sayang padaku, karena kupikir, aku menerima cinta yang tidak kurang dari cinta yang diterima orang lain, terbukti ketika selama hampir tiga tahun aku tinggal bersama nenek, ia selalu peduli padaku. Karena aku sering bermain sendiri jauh hingga ke sungai yang tak pernah boleh aku sebrangi atau masuk ke tengah kebun karet yang jauh dan gelap. Terpaksa nenekku bercerita tentang ulat yang bersuara untuk membuatku takut dan tidak lagi main ke tempat yang jauh tanpa ditemani dan aku percaya karena nenekku yang bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Bohong bagiku adalah tempat yang selalu aku rindukan, seburuk apapun kesan yang ditimbulkan dari namanya. Tidak jarang orang penasaran bertanya ”apakah itu artinya tidak ada gunung?”&lt;br /&gt;” Tentu saja ada”&lt;br /&gt;”Apa mungkin dulunya pernah menghilang?”&lt;br /&gt; ”Nggak tahu juga”&lt;br /&gt;”Atau mungkin penduduknya tukang bohong ya?”. Pertanyaan ketiga tentunya paling berat untuk dijawab, meskipun perlu waktu lama untuk membuktikan bahwa banyak dari penduduk Gunung Bohong yang hidupnya berhasil karena kejujurannya.&lt;br /&gt;Harus aku catat dengan huruf besar bahwa bohong bukan perbuatan yang baik karena bohong artinya tidak jujur, menutupi kebenaran dan tidak disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak banyak sekali nama daerah yang terdengar tidak enak ditelinga, bahkan membuat warganya malu menyebut alamat rumahnya sama seperti aku karena takut dikaitkan dengan apa yang ada pada diriku. Bayangkanlah sebuah nama seperti ” Legok Hangseur yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah sebuah daerah cekungan semacam lembah yang berbau pesing. Kampung kacepet yang artinya kampung terjepit, entah apanya yang terjepit. Satu lagi daerah yang aku tahu adalah Kandang Babi yang katanya dulu ketika Belanda masih menduduki Indonesia, Cimahi adalah pusat kemiliteran dan ada seorang pengusaha Cina yang mempunyai peternakan babi untuk memasok kebutuhan daging para tentara Belanda dan kaum Tionghoa, selanjutnya tempat ini diidentifikasi oleh orang yang akan menuju dan kembali dari daerah itu sebagai Kandang Babi, meskipun bekas-bekas kandang babi itu tak tampak sama sekali. Kandang Babi adalah daerah yang berdampingan dengan Gunung Bohong. Siapa yang mau mengatakan rumahnya di kandang babi? Ada apa gerangan dengan leluhur kami yang menamakan daerah dengan nama yang menggelikan bahkan memalukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini di posting ulang dari note &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://www.facebook.com/people/Wiwi-Isnaini/1622281830"&gt;Wiwi Isnaeni di Facebook&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2460328662904637127-3027361086494416024?l=tobucildiaryproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/feeds/3027361086494416024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/dari-sebuah-tempat-bernama-gunung.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3027361086494416024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2460328662904637127/posts/default/3027361086494416024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tobucildiaryproject.blogspot.com/2009/04/dari-sebuah-tempat-bernama-gunung.html' title='Dari Sebuah Tempat Bernama Gunung Bohong'/><author><name>tobucil n Klabs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06632955908880027556</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2460328662904637127.post-1014799205509291645</id><published>2009-04-11T18:48:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T19:01:47.564-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Duri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Kota Duri</title><content type='html'>&lt;div id="attachment_903" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Penulis: &lt;/span&gt;&lt;span class="ik"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Jumria Rahman&lt;br /&gt;Domisili: Duri, Bengkalis, Riau&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ria.choosen.net/"&gt;http://ria.choosen.net/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="wp-caption-text"&gt;&lt;a href="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri1.jpg"&gt;&lt;img class="size-full wp-image-903" title="Duri1" src="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri1.jpg" alt="Jalan Utama Di Duri - Jln Hang Tuah" height="334" width="540" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="wp-caption-text"&gt;Jalan Utama Di Duri - Jln Hang Tuah&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang berjudul &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a title="Kota Duri" href="http://ria.choosen.net/2008/03/05/duri/" target="_blank"&gt;Kota Duri&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; ditulis kurang lebih setahun yang lalu. Banyak banget perkembangan yang pesat di Kota ini, ya…walaupun tetap tidak ada Mall dan tidak ada bioskop…tetapi udah ada Ramayana kok (sejenis Depart Store gitu…hihihihihi &lt;img src="http://ria.choosen.net/smilies/yahoo_bigsmile.gif" alt=":D" class="wp-smiley" title=":D" height="18" width="18" /&gt; ). Perkembangan yang paling mencolok di Duri adalah Jalan Utama yang dulunya seperti kubangan air dan lumpur sekarang berubah total menjadi ASPAL yang sangat mulus. Siapapun yang pernah bertandang ke Duri satu setengah tahun yang lalu (saat jalanan masih jelek2nya) pasti akan sangat kagum dengan perkembangan Kota Duri saat ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perjuangan warga Duri untuk mendapatkan jalan yang mulus itu tidaklah mudah, masih banyak warga yang mengaku belum di bayarkan uang ganti rugi dari pelebaran jalannya. Bahkan di satu dan dua ruas jalan masih ada warga yang menutup jalan dengan alasan, tanah mereka belum di bayar oleh pemerintah setempat. Mungkin dilema juga ya, di satu sisi pemerintah benar bahwa ini adalah untuk kepentingan umum, tetapi di satu sisi warga juga berhak meminta ganti rugi karena tanah mereka di gusur (Tapi sudahlah diriku saat ini mau bercerita tentang kota Duri dari setahun yang lalu dan bukan tentang penggusuran tanah).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri5.jpg"&gt;&lt;img class="alignnone size-full wp-image-907" title="duri5" src="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri5.jpg" alt="duri5" height="197" width="263" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri7.jpg"&gt;&lt;img class="alignnone size-full wp-image-908" title="duri7" src="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri7.jpg" alt="duri7" height="189" width="252" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri6.jpg"&gt;&lt;img class="alignnone size-full wp-image-905" title="duri6" src="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri6.jpg" alt="duri6" height="209" width="280" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri2.jpg"&gt;&lt;img class="alignnone size-full wp-image-904" title="duri2" src="http://ria.choosen.net/wp-content/uploads/2009/04/duri2.jpg" alt="duri2" height="211" width="235" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 128);"&gt;&lt;em&gt;Jalan Hang Tuah, Hotel Gran Zuri danHotel Enggriani&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perbaikan jalan di Duri diikuti pula dengan penambahan fasilitas misalnya, lampu jalan &lt;em&gt;*yang sumpah dulu gak ada…*&lt;/em&gt; dimana satu setengah tahun yang lalu apabila kita berjalan-jalan lebih dari jam 7 malah sepertinya sedang berjalan menyusuri kota mati. Tidak dipungkiri bahwa pemerintah setempat berhasil mengangkat taraf kehidupan warganya dengan simple yaitu &lt;strong&gt;perbaikan jalan raya&lt;/strong&gt;, karena dengan bagusnya jalan utama terutama Jl. Hang Tua warga yang tinggal dikanan kiri jalan tersebut kini bisa membuat kios dan warung2 untuk menambah penghasilan mereka dan tentunya lebih menyemarakkan Duri terutama di waktu malam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jalan Raya yang sangat terlihat perbedaannya adalah Jalan Hang Tuah setelah Simpang Pokok Jengkol &lt;em&gt;(pertigaan ini dinamakan Pokok Jengkol karena konon katanya di pertigaan ini dulu ada pohon jengkol yang sangat besar, sedangkan simpang adalah bahasa melayu yang apabila di bahasa indonesiakan artinya Tikungan).&lt;/em&gt; Sebelum jalan Hang Tuah ini di aspal (diperbaiki) dan di uruk, tidak kebayang berapa banyak Truk2 yang mengangkut kayu tertidur di jalanan ini&lt;em&gt; (baca miring dan akhirnya kayu tumpangannya berseleweran di jalan) &lt;/em&gt;membuat lalu lintas jalan raya ini macet total, terkadang macetnya bisa dari Sebanga sampai Hang tuah (kurang lebih 5 - 10 km). Dan pastinya ini tidak hanya membuat kesal para pengguna jalan di Duri tetapi juga membuat kesal Bus2 listas dari Jakarta dan dari arah Aceh &lt;em&gt;(Jalan Hang Tuah adalah salah satu jalan utama untuk lintas sumatera menuju Jakarta, Medan dan Aceh).&lt;/em&gt;&lt;span id="more-902"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain jalan Utama yaitu &lt;strong&gt;Hang Tuah&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Sudirman&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; (Jalan Sudirman ini adalah jalan yg ramai sekali, di pakai sebagai pusat kota, ada Pasar Mandau dan Ramayana yang sebelumnya diceritakan di atas…hehehehe… &lt;img src="http://ria.choosen.net/smilies/yahoo_tongue.gif" alt=":P" class="wp-smiley" title=":P" height="18" width="18" /&gt; )&lt;/em&gt; ada juga &lt;strong&gt;Jalan Mawar&lt;/strong&gt; tempat berbagai warung makanan &lt;em&gt;(baca surganya makanan Kota Duri)&lt;/em&gt;, di Jalan Mawar inilah ketika malam tiba banyak sekali warga yang hilir mudik, dari yang mulai hanya sekedar ngeceng &lt;em&gt;(untuk yang muda2)&lt;/em&gt;, mencari tempat makanan dan belanja. Beberapa tempat makan dan nongkrongnya warga antara lain; ada Bakmie Cah Eko, Steak Kampung, Jagung bakar Eling, Rumah makan Miroso, Sop Tunjang Champion dll.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kota Duri ini berada didalam sebuah kecamatan (catet ya &lt;strong&gt;KECAMATAN&lt;/strong&gt;) dan ajaibnya sangat luas sebagai kecamatan, dan berpenghasilan sangat besar di banding kecamatan-kecamaatan lain di wilayah Riau bahkan dibandingkan dengan kecamatan lain di Indonesia. Kecamatan Mandau Aka Kota Duri merupakan salah satu kecamatan terkaya di Indonesia, menghasilkan minyak bumi dan minyak sawit **Atas dan bawah Minyak…keren yak** . Duri juga merupakan kontributor pajak  yang paling menunjang untuk Kabupaten Bengkalis karena itulah Bengkalis menolak mentah2 ketika&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt; &lt;a title="Demo" href="http://ria.choosen.net/2008/06/16/demo-mandauduri-sebagai-kabupaten/" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;Kecamatan Mandau ini menginginkan berdiri sendiri&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, tidak hanya dari ribuan pegawai kontraktor Chevron dan pegawai Chevron sendiri tetapi terutama dari puluhan &lt;strong&gt;Expatria&lt;/strong&gt; yang bekerja di Duri. Saat ini pengeboran minyak bumi masih kerjasama antara &lt;strong&gt;PT. Chevron Pacific Indonesia&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;BP Migas&lt;/strong&gt;, serta ratusan kontraktor sebut saja; &lt;strong&gt;Tripatra-Fluor&lt;/strong&gt;, Slumberge, Haliburton, Truba Jaya, Adikarya, Multi Structure, BRE dan masih banyak lagi kontraktor serta sub kontraktor lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) sen
